Kisah Aleeya

Kisah Aleeya
TIGA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Hari masih pagI sekali, tapi Aleeya sudah rapi dengan menggunakan baju kerjanya. Ya.. Pagi itu Aleeya akan pergi ke desa Dedap. Ia pergi bersama Kepala Puskesmas dan juga salah satu staf bagian TU, kak Sinta namanya.


Kepala Puskesmas dan juga Kaj Sinta membawa suami mereka masing - masing untuk membonceng mereka ke desa tersebut. sedangkan Aleeya?? Hanya seorang diri, tidak ada yang bisa ikut dengannya. Kak Yuli sibuk di KIA yang kebetulan tidak ada orang hari itu begitupun kak Ovi yang memiliki kesibukan yang lain.


"Kapus sama kak Sinta pergi sama suami mereka, Ya. kamu gak apa-apa bawa motor sendiri? Apa mau aku temanin?" Saat diparkiran, Aleeya bertemu dengan Fauzal. dan lelaki iti menawarkan hal tersebut kepada Aleeya.


"Gak usah Fauzal, gak apa-apa aku sendiri aja. Untung saka beberapa hari ini gak ada hujan, jadi mudah-mudahan jalannya kering dan gak becek seperti kemarin." Kata Aleeya seraya tersenyum tipis.


Fauzal hanya manggut - manggut menanggapi penolakan dari Aleeya tersebut. Dan beberapa saat kemudian, mereka akhirnya berangkat.


Aleeya berada di paling belakang mengikuti Kapus dan kak Sinta. Untuk setengah jam pertama, perjalanan lancar tanpa ada hambatan. Namun, setelah semakin jauh mereka meninggalkan Puskesams, semakin lain perasaan Aleeya. Entah mengapa perasaannya tidak enak setelah memikirkan bagaimana jalan buruk kemarin itu saat ini? Apakah masih tetap buruk jalanannya atau malah sebaliknya, sudah bagus.


Beberapa saat kemudian, motor merekapun melewati jalanan yang hancur jika dihari hujan. Namun, kali ini jalan tersebut tampak kering meskipun ada juga becek sedikit - sedikit namun tidak separah dulunya. Aleeya bersyukur didalam hati Karena doa dan harapannya terkabul.


Aleeya masih mengikutI mereka  dari belakang, sampai akhirnya Aleeya melihat tulisan selamat datang di desa Dedap, yang berarti mereka sudah memasuki Desa dedap.


Sepanjang perjalanan, Mata Aleeya menyelusuri kearah kiri dan kanan, yang belum terlihat keberadaan rumah penduduknya. Yang ada hanya pohon - pohin sagu dan juga pohon karet.


Tidak lama kemudian, setelah kebun tersebuat barulah Aleeya melihat rumah warga satu persatu yang semakin lama semakin banyak.


Beberapa saat kemudian, kedua motor didepan Aleeya berhenti disebuah rumah kayu berwarna hijau daun dengan halaman yang luas.


Mereka memarkirkan motor didepan rumah tersebut. Dan kapus berujar bahwa ini adalah rumah kepala desa.

__ADS_1


Dengan mengucapkan salam sebelumnya, mereka bertiga masuk kedalam rumah sederhana tersebut. Sedangkan para suami senior Aleeya tersebut menunggu diluar.


Sosok suami istri sudah menunggu mereka didepan pintu. Rumah tersebut berbentuk rumah panggung jadi untuk menuju kedalam mereka menggunakan anak tangga sebanyak 3 buah anak tangga.


Suami istri yang menyambut mereka itu terlihat sedang tersenyum ramah dan menyuruh mereka masuk dengan sopan.


Mereka bertiga masuk kemudian duduk dikursi ruang tamu yang sudah disediakan. Dimeja ruang tamu pun sudah ada minuman dan berbagai cemilan yang menggugah selera. Makan khas didesa yang jarang sekali Aleeya jumpai di desa.


Setelah berbasa - basi dan mencicipi minuman serta makanan yang sudah disediakan oleh tuan Rumah, maka Pembicaraan mereka langsung difokuskan ke tujuan mereka datang kesana.


Kepala Puskesmas langsung memperkenalkan Aleeya kepada Kepala Desa dan juga ibu kepala desa.


"Kenalkan ini Aleeya, Pak.. Buk.." Ucap kepala puskesmas tersebut.


Aleeya lalu memperkenalkan dirinya dengan ramah. Perbincangan mereka terus berlanjut, ada banyak hal yang ditanya oleh kepala desa kepada Aleeya.


"Jadi kapan Buk Bidan Aleeya mulai masuk bertugas ke Desa?" Tanya Pak Kepala Desa tiba-tiba. Mendengar pertanyaan dari Kades tersebut, membuat Aleeya langsung menoleh kearah Kapus.


"Secepatnya pak, sebelum itu kami mau lihat polindes dulu. Bisa kan pak?" Jawab Kapus tersebut yang dijawab dengan anggukan oleh Kades.


"Bisa.. Bisa buk, kebetulan Polindesnya sudah dibersihkan oleh Buk Ina yang kebetulan tinggal disebelah Polindes. Buk Bidan bisa lihat - lihat dulu kondisinya bagaimana, jika ada sesuatu yang tidak mengenakkan bisa kita bicarakan sama-sama." Jelas Kepala desa tersebut dengan suara yang lembut.


Beberapa saat kemudian, merekapun pergi bersama - sama ke Polindes tempat dimana nantinya Aleeya akan tinggal.

__ADS_1


Polindes tersebut tidak jauh dari kediaman pak Kades cuman agak masuk kedalam gang kecil. Disamping kanan polindes terdapat sebuah sekolah MTS dan didepannya ada sebuah rumah warga yang katanya itu rumah buk Ina yang sudah membantu membersihkan polindes. Sedangkan disamping sebelah kiri, hanya ada semak belukar dan ada jalan kecil menuju ke kebun karetnya warga sekitar.


Mereka langsung masuk kedalam gang dan berhenti didepan bangunan yang menurut Aleeya sudah tua dengan cat yang sudah memudar. Aleeya menelan ludah saat melihat kondisi Polindes yang jauh dari ekspektasinya. Tidak seperto polindes yang ia lihat saat di kabupaten kemarin.


Namun, Aleeya tetap bersyukur tempatnga sudah lumayan bersih dengan rumput yang tampak baru beberapa hari di potong. Kemudian, pak kades membuka pintu polindes dan merekapun masuk berbarengan kedalam.


Didalam ruangan pertama yang mereka masuki adalah tempat pelayanan. Disana ada kursi panjang untuk pasien duduk mengantri yang kondisinya agak rusak. Kemudian ada 4 pintu yang tertutup. Mereka melihat satu persatu ruangan didalam pintu yang tertutup tersebut yang dimulai dari pintu didepan Kursi panjang tadi.


Didalam ruangan tersebut ada sebuah bed pasien yang masih lumayan bagus. Ada sebuah meja kerja dan juga kursi besar. Ada lemari. Tempatnya tidak begitu besar cuman tertata dengan rapi.


Setelah itu, lanjut lagi keruangan yang lain. Ada didepan pintu masuk yang saling bergandengan. Ruangan tersebut masih kosong melompong. Kata Kak Zubaidah yang kebetulan asli orang sana dan kebetulan juga datang menyusul mereka, bahwa ruangan itu memang tidak digunakan. Yang sebenarnya bisa digunakan untuk tempat bersalin. Namun, karena masyarakat disana tidak maU bersalin di Polindes melainkan bersalin dirumah masing-masing. Oleh karena itulah, tempat tersebut tidak digunakan.


Kemudian mereka beralih ke pintu dibelakang kursi tunggu. Ruangan itu adalah tempat obat. Ada lemari kaca 2 pintu disana yang biasa digunakan oleh bidan yang sebelumnya untuk menyimpan obat-obatan.


Cukup sampai disitulah mereka melihat - melihat isi tempat pelayanan di Polindes. Belum lagi mereka akan melihat kesbelahnya. Yaitu rumah tempat Aleeya tinggal yang masih satu bangunan dengan tempat pelayanan tadi. Tapi, sebelum menuju kesebalah, mereka duduk sebentar dikursi panjang tersebut. Kepala Desa dan Kepala Puskesmas tampak sedang berbincang - bincang mengenai barang didalam Polindes yang banyak yang tidak layak dipakai lagi. Mereka mencari solusi untuk kenyamanan Aleeta nantiknya saat tinggal disana. Aleeta belum banyak menuntut apa - apa, ia hanya menyerahkan dan mempasrahkan seutuhnya kepada Kapus karena ia yakin Kapus akan memberikan yang terbaik untuknya.


#


#


#


#

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2