Kisah Aleeya

Kisah Aleeya
EMPAT BELAS


__ADS_3

Akhirnya jam istirahatpun tiba, mereka diberi waktu istirahat untuk makan dan sholat selama 1 jam setengah. Aleeya lalu keluar dari ruangan tersebut dan bermaksud untuk mencari Windy. Namun, baru selangkah kakinya berjalan keluar.. Tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya.


“Aleeya, Tunggu..!!” Jerit seseorang tersebut yang membuat Aleeya langsung menoleh kesumber suara`


“Kamu mau kemana?” Tanya orang tersebut yang ternyata adalah Fauzal. Aleeya seakan terganggu dengan kehadiran cowok satu ini yang menurutnya sikapnya itu terlalu berlebihan. Padahal sudah berbagai cara yang Aleeya lakukan demi menghindar untuk mengobrol dengannya, tapi sepertinya dia tidak paham juga. Buktinya, Dia masih tetap saja memulai pembicaraan dengan Aleeya.


“Kenapa emangnya?” Tanya Aleeya sedikit ketus.


“Mau ikut aku gak? Kita ke mesjid bareng setelah itu makan,” Katanya dengan tersenyum lebar.


“Maaf, aku gak bisa.” Aleeya langsung menjawab dengan cepat setelah itu membalikkan badannya untuk menghindar dari perkataan selanjutnya dari lelaki itu.


“Kenapa gak bisa?” Fauzal tidak menyerah dan malah mengikuti Aleeya dari belakang.


“Kamu sepertinya dari kemarin menghindar terus ya dari aku, emang ada yang salah ya? Padahal kan aku cuman ingin berteman” Katanya yang terus mengoceh.


“Maaf, ada batasan bagi aku untuk berteman dengan lawan jenis. Aku harap kamu memakluminya, permisi” Tegas Aleeya lalu pergi menjauh dari sana meninggalkan Fauzal yang terdiam mematung dengan perkataan Aleeya barusan.


Aleeya pergi keruangan lain tempat dimana Windy berorientasi. Setelah didepan pintu ruangan, Aleeya sama sekali tidak mendapati Windy ada disana. Kemudian Aleeya berinisiatif menelpon temannya itu.


“Halo, Assalamu’alaikum,.. Windy, Kamu dimana?”  Tanya Aleeya.


“Wa’alaikumusalam.. Aleeya, aduh maaf banget ya? Aku tadi diajak sama teman baru aku ni kerumahnya dia, jadi kami isomanya dirumahnya dia. Ini baru sampai” Ucap Windy merasa tidak enak hati telah meninggalkan Aleeya.


Mendengar penuturan dari Windy tersebut, membuat Aleeya seakan tertegun sesaat. Padahal.. Ah, biar saja lah.. Pikir Aleeya dalam hatinya.


“Ya gak apa-apa Wind, Aku nantik sholat dan makan didekat sini saja” Kata Aleeya akhirnya.


“Oohh.. Sekali maaf ya, Ya. Oya, sudah dulu ya, aku sudah ditungguin teman aku itu diruang makan. Bye Aleeya” Kata Windy lalu mengakhiri panggilan mereka tersebut.


Setelah telepon itu berakhir, Aleeya menarik nafas panjang. Sebenarnya ada sedikit kekecewaan dihatinya lantaran Windy yang pergi begitu saja meninggalkannya yang padahal sejak awalkan mereka selalu berbarengan. Seharusnya Windy memberitahu Aleeya sebelumnya jika ia ingin pergi dengan teman barunya itu ataupun kalau tidak seharusnya dia mengajak Aleeya juga bersamanya. Ini jangan kan diajak, diberitahu saja tidak. Aleeya tiba-tiba merasa sedih.


“Ya Allah, Astaghfirullah…” Kemudian Aleeya mengucap beberapa kali, tidak seharusnya dia terlalu terbawa perasaan begini. Mana tahu saja, Windy emang lupa untuk memberitahunya, ya bisa saja. Pikir Aleeya didalam hatinya.


Setelah itu, Aleeya menuju ke mesjid yang tidak begitu jauh dari Dinas Kesehatan tersebut` Aleeya sholat disana sendirian. Selang beberapa menit kemudian, ia langsung mencari tempat makan, rasanya perut Aleeya sudah sangat lapar. Aleeya mencari rumah makan disepanjang jalan tersebut, namun sudah 10 menit ia berjalan, Ia belum kunjung juga menjumpai apa yang ia cari/


“Aduuh... Gak ada rumah makan dekat sini ternyata, jadi makan apa ni ya? Perut sudah lapar sekali ni, ya Allah..” Aleeya berbicara pada dirinya sendiri.


Lalu Aleeya kembali berjalan, beberapa saat kemudian sebuah motor tiba-tiba saja berhenti tepat disebelah Aleeya yang sebelumnya motor itu telah mengklakson dirinya sebanyak 2 kali. Sontak saja Aleeya dibuat kaget dengan bunyi klakson yang tiba-tiba tersebut..


Aleeya berhenti dan melihat seseorang yang mengendarai motor tersebut sudah berhenti disampingnya, orang itu memakai kaca helm yang gelap sehingga Aleeya tidak bisa melihat wajahnya.


Awalnya Aleeya berpikir bahwa orang ini hanya kebetulan saja ingin berhenti disitu, maka Aleeya kembali melanjutkan berjalan dengan cuek. Namun, langkah kakinya seakan terhenti saat sebuah suara memanggil namanya. Suara milik si pengendara motor tadi.


“Hei, Aleeya…” Panggilnya dengan sedikit berteriak.


Aleeya langsung saja menoleh kebelakang dan melihat seraut wajah jutek sudah menyambutnya disana.


“Sombong sekali kamu ya, main pergi aja!” Umpat lelaki itu dengan marah.


“Ee.. ANdra, Maaf.. Aku gak tau itu kamu. Soalnya gak kelihatan tadi wajahnya” Jawab Aleeya merasa serba salah.


“Kok bisa gak tahu? Apa gak kenal dengan motor aku?” Tanyanya lagi, Aleeya hanya menggelengkan kepalanya. Aleeya merasa tidak penting juga dia harus sampai mengenal ke motor-motornya ANdra segala/

__ADS_1


“Ngapain kamu disini” Tanya ANdra.


“Aku mau cari tempat makan, tapi belum ketemu” Jawab Aleeya.


“Mana ada tempat makan disini, kalau mau cari tempat makan tu disana, ada banyak” Kata Andra seraya menunjung kearah persimpangan empat yang lumayan jauh dari tempat Aleeya berdiri.


“Oh, jauh juga ya…” Ucap Aleeya. Dalam hati ia berpikir, tidak mungkin dia berjalan sejauh itu. Apa dia perlu menghubungi nomor becak tadi ya?


“Kamu belum makan?” ANdra kembali bertanya. Kali ini dengan suara yang terdengar tidak ketus. Aleeya seakan tidak percaya dibuatnya, biasanya lelaki itu mana pernah bicara baik dengan dirinya.


“Iya,” Jawab ALeeya dengan singkat.


“Mau aku antar kesana atau aku bungkuskan ke kamu dan antar kesni lagi?” Tiba-tiba saja Andra memberikan sebuah tawaran kepadanya. Tentu saja Aleeya menerima tawaran yang kedua.


“Dibungkus saja, nantik aku makannya didalam Dinas saja. Itupun, kalau gak merepotkan kamu” Kata Aleeya dengan menggigit bagian bawah lidahnya.


“Ya jelas merepotkan donk. Tapi, ya sudah… Lauknya mau apa?”


“Ayam rendang” Jawab Aleeya dengan cepat.


“Oke, tunggu disni sebentar” Katanya lalu berlalu dari sana.


Selang beberapa menit kemudian, Andra datang kembali dengan membawakan nasi bungkus untuk Aleeya.


“Nih, nasi kamu…” Kata Andra dengan menyodorkan nasi bungkus tersebut kepada Aleeya.


“Berapa ni harganya?” Aleeya bertanya seraya mengambil dompet dari dalam tasnya.


“Sudah ambil aja dulu ni, cepatan! Aku ada keperluan lain lagi ni” Katanya. Aleeya langsung mengambil nasi tersebut.


“Hei, Andra… Aduuh… Kok langsung pergi sih? Aku belum bayar dan belum bilang terimakasih juga..” Kata Aleeya pada dirinya sendiri.


“Terimaksih banyak ya” Lirih Aleeya akhirnya meskipun tidak didengar oleh lelaki itu pastinya.


Setelah itu, dengan rasa bingung yang masih melandanya Aleeya pun kembali menuju ke Dinas Kesehatan dan sesampainya disana Ia langsung masuk kedalam ruangan tempat dirinya orientasi tadi dan makan disana.


Setelah selesai makan, Aleeya lalu keluar dari ruangan. Diluar sudah ramai teman-teman yang lain berdatangan. Dari kejauhan Aleeya melihat Windy sedang berboncengan dengan seorang lelaki memasuki halaman dinas kesehtaan. Aleeya langsung saja menuju kesana.


“Windy….” Aleeya memanggil Windy yang terlihat sedang berbicara dengan silelaki yang memboncengnya tadi.


“Hai, Aleeya..” Windy bersorak seraya berjalan mendekati Aleeya dan diikuti oleh lelaki itu.


“Ini kenalkan teman baru yang aku ceritakan tadi, Ya. Namanya Rama. Dan Rama.. Ini Aleeya teman aku, kami tinggal bareng disini” Kata Windy mengenalkan cowok itu ke Aleeya.


Cowok bernama Rama itu langsung mengulurkan tangannya kearah Aleeya, namun Aleeya tidak menerima uluran tangan darinya. Aleeya malah mengatupkan kedua tangannya ke dada. Wajah si cowok langsung berubah karena merasa Aleeya terlalu sombong yang tidak mau bersalaman dengannya.


"Ngak mau salaman ya? Oke, gak masalah. Win, aku duluan kedalam ya. Sampai nantik"


"Oke Rama" Jawab Windy.


"Windy, tadi itu siapa ya?" Aleeya bertanya setelah Rama pergi dari sana.


"Rama, tadi kan sudah kenalan." Jawab Windy karena merasa heran Aleeya malah bertanya lagi.

__ADS_1


"Iya, maksud aku.. Kamu baru kenal dia hari ini kan?"


"Iya, baru kenal tadi karena kami satu kelompok"


"Oh, gitu ya.." Kata Aleeya.


"Kenapa sih, Ya? Aku lihat, kamu kok seperti agak kaku gitu ya dengan cowok. Biasa aja donk, Ya. Kemarin juga gitu dengan si Fauzal, sekarang dengan Rama kamu juga seperti takut-takut gitu, kenapa Ya? Apa kamu punya trauma dengan cowok ya?" Selidik Windy dengan rasa curiga.


Aleeya terdiam, hatinya berkecamuk hebat saat mendengar kata trauma. Ya.. Mungkin saja yang dibilang Windy itu benar, karena dia memang agak kaku atau bisa dibilang seperti takut berbicara dengan lelaki, merasa canggung dan sebagainya.


Selain Aleeya yang ingin menjaga hati dan pergaulannya, sebenarnya ada sesuatu juga yang membuat dirinya seperti itu. Sesuatu yang terjadi di masa lalu, sebelum ia memutuskan untuk hijrah..


"Halo, Aleeya? Yee... malah melamun." Kata Windy dengan kesal.


"Oya, pulang nantik kamu duluan aja ya. AKu ada janji sama Rama, mau jalan dulu" Ucap Windy dengan tersenyum centil.


"Ha? Mau jalan kemana, Win?" Tanya Aleeya yang tidak menduga Windy akan secepat ini dekat dengan cowok, padahal baru kenal tadi tapi sudah mau diajak pergi jalan-jalan.


"Ngak tau juga, palingan makan atau mutar-mutar aja, hihihi..." Jawab Windy dengan cengir.


"Wind, Hmmm... Bukan maksud apa-apa sih, cuman aku mau beri saran nih ke kamu. Kalau bisa kamu jangan mudah terlau dekat dengan orang yang baru dikenal apalagi cowok" Kata Aleeya dengan hati-hati.


"Tenanglah Aleeya, dia baik kok. Aku yakin" Jawab Windy dengan keyakinan penuh.


"Kok kamu bisa seyakin gitu?" Tanya Aleeya dengan bingung.


"Ya, yakin. Tadi itu aku diajak kerumahnya dan bertemu dengan keluarganya. Dan disana itu aku bisa menilai bahwa dia dari lingkungan yang baik," Jawab Windy lagi-lagi dengan sangat yakin. Aleeya hanya tbisa terpana mendengar jawaban Windy barusan itu.


Setelah itu, mereka masuk berbarengan kedalam Dinas. Dan disalah satu tempat, tepatnya didekat mading terlihat begitu ramai orang yang berdesakan yang seperti sedang melihat sesuatu disana.


Aleeya dan Windy yang merasa penasaran langsung saja menghampiri kerumunan orang-orang tersebut.


"Sedang lihat apaan sih?" Tanya Windy kepada mereka semua.


"Pengumuman" Sahut seorang lelaki.


"Pengumuman apa?" Windy bertanya lagi.


"Tempat tugas kita dan tanggal kapan mulai kesananya" Sahut yang lainnya


"Oya, sudah keluar ya? Lya, yuk kita lihat. Aku penasaran ditempatkan dimana. Semoga saja masih dekat-dekat kota, jangan sampailah ke pelosok desa" Kata Windy dengan penuh harap.


Lalu Aleeya dan Windy menyelip diantara mereka semua, dari jarak yang lumayan dekat Aleeya mencari namanya. Dan.. tidak butuh lama ia mencari namanya yang ternyata tertulis dengan berdasarkan abjad. Kemudian Aleeya membaca dengan lirih nama sebuah tempat dimana dirinya akan mengabdi.


"Bidan Desa di Desa Dedap..."


`


`


`


`

__ADS_1


`


BERSAMBUNG..


__ADS_2