
"Jadi, kapan Aleeya berangkat?" Tanya Kak Widi. Saat ini Aleeya sedang berada di rumah Kak Widi. Setelah pamit dan mengucapkan kata perpisahan kepada temannya di Klinik semalam, Keesokan harinya Aleeya bermaksud untuk mengatur waktu agar bisa berpamitan juga dengan Teman pengajiannya.
Tapi, Sebelum itu Aleeya datang kerumah Kak Widi. Kak Widi yang belum tahu tentang kelulusan Aleeya sungguh kaget sekaligus bahagia mendengarnya. Kak Widi yang juga seorang Bidan PNS di sebuah Puskesmas itu mengucapkan selamat kepada Aleeya dengan raut wajah yang berbinar-binar. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya karena Aleeya bisa mengikuti jejak dirinya menjadi seorang PNS.
"InshaAllah kalau enggak ada halangan 2 hari lagi kak.." Jawab Aleeya.
"Dua hari lagi..?" Ulang Kak Widi dengan ekspresi yang kaget. Aleeya mengangguk.
"Aduh.. Mendadak banget ya Lya, itu.. Apakah langsung bekerja disana ? Atau cuman daftar ulang aja terus balek lagi kesini?" Tanya Kak Widi.
"Itu yang belum Lya tau ka.. Yang jelas Lya memang harus berangkat dulu kak selain untuk daftar ulang juga untuk mencari informasi selanjutnya.." Jawab Aleeya.
"Ooh.. Gitu.. Tapi, untuk selanjutnya jika kamu pindah bekerja disana.. Bagaimana dengan pengajian kamu Ya? Maaf.. Ini harus kak tanyakan.. Karena setahu kakak ditempat kamu bekerja itu belum ada Kelompok jamaah dari pengajian kita." Jelas Kak Widi dengan hati-hati.
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Lya tertegun Untuk beberapa detik. Hal inilah sebenarnya yang ia galaukan. Perasaannya seakan berkecamuk jika dihadapkan dengan pertanyaan ini. Bagaimana dengan Pengajian mu Lia? Apakah akan berlanjut atau malah berhenti ?
"Lya belum tau kak harus bagaimana. Lya bingung." Jawab Lya akhirnya.
"Iya, kak paham.. Tapi mau tidak mau kamu harus ada jawaban Lya. Atau gini saja, Kak hanya bisa kasih saran.. Nantik kamu pikir kan lagi dirumah.. Kak sangat berharap kamu tidak meninggalkan pengajian ini Ya. Karena sayang banget kalau kamu berenti setelah bersusah payah sampai dittik ini. Jadi, saat kerja disana nantinya kamu usahakan dalam sebulan itu untuk pulang ke kota. Ikut kajian sebulan sekali tapi dalam 1 hari itu full Kamu kajiannya. Karena ada juga beberapa akhwat di pengajian kita yang bekerja diluar daerah Tapi dia masih tetap konsisten sebulan sekali pulang dan ikut kajian disini. Semuanya tergantung niat dan usaha Lya. Kak yakin kalau kita punya niat yang baik Allah pasti akan memberikan jalan yang terbaik juga. Semuanya tergantung akan keistiqomahan kita lagi untuk tetap berada dalam majelis dakwah ini.." Ucap kak Widi panjang Lebar.
Aleeya mendengar dengan seksama setiap kata yang keluar dari lisannya Kak Widi. Sesungguhnya jauh dari lubuk hatinya terdalam ia masih sangat berharap untuk tetap berada di jalan dakwah ini. Tapi saat ia jauh nantinya dari para teman akhiratnya ini.. Apakah dia mampu untuk bertahan dalam ketaatan? Aleeya malah merasa ragu terhadap dirinya sendiri.
***
__ADS_1
Tidak Puas sampai disitu saja Aleeya Dalam mencari saran terkait kegalauan hatinya. Masih dihari yang sama dan setelah dari rumah kak Widi lalu Aleeya bergerak langsung menuju kerumah Kak Hilmi. Kak Hilmi adalah sosok Muslimah pertama yang sangat berperan dalam proses hijrahnya dulu. Dari tangan Beliaulah Aleeya bisa ikut kajian-kajian hingga sampai saat ini.
Aleeya merasa perlu bercerita mengenai ini kepadanya. Sudah lumayan lama juga Aleeya tidak bersuaa dengan Kak Hilmi, semenjak Ia diserahkan ke Kak Widi Aleeya jadi jarang berkunjung kerumahnya. Tapi komunikasi mereka melalui telpon ataupun melalui pesan tetap terjaga.
Akhirnya sampailah Aleeya di rumah kak Hilmi. Kak Hilmi tinggal disebuah rumah kontrakan yang sangat sederhana. Berbeda dengan Kak Widi yang tinggal di rumah Miliknya sendiri yang lumayan besar. Kak HilmI juga seorang PNS. Ia tinggal bersama suaminya yang bekerja sebagai pedagang Di pasar.
Aleeya mengetuk pintu rumah kak Hilmi yang tertutup rapat. Ia juga mengucapkan salam beberapa kali namun belum ada jawaban. Lalu Aleeya mencoba menelpon kak Hilma tapi sayang nomor hpnya pun tidak aktif. Aleeya menghela nafas dengan lemah. Padahal ia sangat berharap bisa berjumpa dengan kak Hilmi hari ini.
"Walaikumusalam..." Sebuah suara muncul dari dalam. Aleeya tersenyum lebar. Ternyata kak Hilmi ada dirumahnya.
"Dik Lya.." Ucapnya ketika membuka pintu dan melihat Lya sudah berdiri mematung didepan pintu rumahnya.
"Kakak apa kabar?" Tanya Lya seraya menyalami dan mencium tangan kak Hilmi.
"Alhamdulilah sehat juga ka.." Jawab Aleeya dengan tersenyum.
"Alhamdulilah.. Oiya, Maaf ya tadi kak lagi di WC. Makanya enggak jawab salam Lya. Oh ya.. Kamu dari mana ? Kok enggak ngabari kakak dulu kalo mau kerumah?" Tanya Kak Hilmi, karena biasanya Aleeya selalu mengabari kak Hilmi sebelum kerumahnya.
"Lya dari rumah kak Widi ka.. Iya Lya lupa mau ngabari ka.. Jadi langsung aja kesini,hehe.."
"Ya sudah kak bikinin minum dulu ya.."
"Enggak usah repot-repot kak.. Sebenarnya Lya kesini mau menceritakan sesuatu ke kakak." Ucap Lya dengan langsung memasang wajah sedihnya. Kak Hilmi yang tadinya mau berdiri langsung mengurungkan niatnya. Ia menatap Lya yang menunduk sedih.
__ADS_1
"Ada apa dik?" Tanya kak Hilmi dengan rasa penasaran.
Aleeya menceritakan semuanya ke Kak Hilmi. Dari Ia lulus PNS sampai saran yang disampaikan kak Widi tadi mengenai pengajiannya. Sama dengan Kak Widi. kak HilmI merasa bahagia mendengar kabar kelulusan Aleeya. Ia mengucapkan selamat dan mendoakan kesuksesan untuk Aleeya. Dan mengenai bagaimana pengajiannya nantik kedepan, sesuatu yang sangat digalaukannya saat ini. Kak Hilmi berpendapat sama dengan Kak Widi. Ia memberikan saran yang sama. Tapi bedanya kak Hilmi lebih bisa menyakinkan Lya dengan kalimat indah yang terurai dari Lisannya.
"Dik.. Kita tidak pernah tahu nantinya akan seperti apa jalan hidup kita. Tapi yakinlah Rencana Allah itu Pastilah yang paling sempurna. Mungkin saja Allah memberikan keberkahan tuk Dik Lya saat ini dengan Tujuan untuk menguji keimanan Lya.. Apakah bisa bertahan dalam ketaatan atau malah mundur kembali pada kesesatan. Yang harus Lya lakukan saat ini adalah tetap Istiqomah dik.. Karena Dibalik kata Istiqomah Ada perjuangan yang kuat, pengorbanan yang banyak dan doa yang tiada henti.." Jelas Kak Hilmi dengan tutur katanya yang lembut.
"Dan kak rasa saran dari kak Widi itu adalah yang terbaik. Lya harus bisa menyempatkan sebulan sekali untuk berkumpul bersama majelis ilmu. Karena bersama-sama teman akhirat yang selalu mentautkan hati mereka kepada Allahlah yang akan semakin memperkuat keistiqomhan kita dalam berjuang.. " lanjut kak Hilmi.
"Kak Yakin Lya sudah cukup bijak untuk memilih jalan hidup yang seperti apa yang akan Lya perjuangkan." Imbuhannya lagi.
"InshaAllah kak.. Bismillah.. Lya akan terus berjuang kak.. Lya akan tetap istiqomah. Doain Lya selalu ya ka.." Ucap Lya dengan mata berkaca-kaca.
"InshaAllah.. Kak akan selalu doain Lya kok.."
Katanya seraya tersenyum lebar.
Aleeya bisa bernapas lega. Setidaknya hatinya yang galau tadi mulai perlahan-lahan menjadi tenang. Kak Hilmi pamit sebentar ke dapur untuk membuatkan minuman. Beberapa saat kemudian kak Hilma muncul dengan membawa 2 gelas Yang berisi minuman teh hangat.
"Oh ya Lya.. Aal Baru aja selesai wisuda 2 hari yang lalu. Dan kalau enggak ada halangan minggu depan dia akan balik ke sini.." Ujar Kak Hilmi yang setiba saja membicarakan tentang adiknya itu. Sosok lelaki yang dulu pernah ia kagumi dan mendengar nama itu seperti memunculkan kembali sebuah rasa yang mengetarkan jiwanya. Aleeya beristigfar dalam hati.
"Kamu enggak mau ketemu dengan Aal?" Tanya kak Hilmi yang membuat Aleeya yang tengah minum agak tersedak. Ia tidak mengerti kenapa kak Hilma bertanya seperti itu dan ia pun merasa malu untuk menjawab iya ataupun sekedar bertanya maksud dari pertanyaan tersebut. Aleeya lebih memilih diam sambil tersenyum tipis. Kak Hilmi seakan memaklumi akan kecanggungan Aleeya dan tidak mengharapkan jawaban darinya.
Bersambung...
__ADS_1