Kisah Aleeya

Kisah Aleeya
TIGA PULUH DUA


__ADS_3

Tidak lama kemudian, masuklah Bang Ojik, Fauzal dan juga Bang Boby kedalam rumah tersebut. Tanpa sungkan mereka mengambil posisi masing-masing di meja makan. Aleeya hanya bisa terpana melihat mereka semua.


"Hai, Aleeya.. Sudah pindah disini ya?" Sapa Fauzal yang melihat Aleeya berdiri mematung didapur.


"Iya, sudah." Jawab Aleeya dengan singkat.


"Yuk Aleeya gabung sama kami. Kata kak Yuli kita makan duluan aja, dia ada keperluan sebentar kewarung." Jelas Bang Ojik lagi.


Mendengar itu membuat Aleeya kembali merasa serba segalanya, rasa canggung juga risih kembali menguasainya. Hal itu dikarenakan dia berada diruangan kecil ini bersama 3 lelaki asing.


Maka Aleeya memutuskan untuk keluar dari rumah. Lebih baik ia diteras saja, dari pada disini. Gak enak dipandanh orang. pikir Aleeya didalam hati.


"Aleeya gak makan??" Fauzal bertanya kepada Aleeua yang menjawabnya dengan celengan kepala. Kemudian wanita itu langsung menuju halamab rumah Raihan yang luas. Ia bermaksud akan menunggu kak Yuli diluar situ saja.


Tidak lama kemudian, kak Yulipun pulang. Lalu kak Yuli menarik tangan Aleeya untuk kembali masuk kedalam rumah dan duduk diruang makan untuk makan siang bersama - sama dengan mereka semua. Aleeya duduk tepat Disebelah Fauzal yang sangat bawel tersebut. Sepanjang ia makan, tidak hentinya ia mengajak Aleeya untuk mengobrol sehingga membuat selera makan wanita itu menjadi hilang.


"Kami biasa seperti ini Lya, jadi jangan kaget ya!" Kata Bang Oji yang melihat ekspresi Aleeya yang penuh tanya.


"Iya benar, kakak emang senang masak cuman gak hobby makan. Yang makan ya mereka-mereka ini" Kak Ovi menyahut.


"Dan untungnya makanan kak Ovi ini sedap Aleeya, bikin nagih.." Kata Boby yang ikut juga menimpali.


"Benar itu, aku aja sampai nambah berkali-kali kalau sudah makan masakan kak Ovi. Gak ada duanya lah, juara pokonya." Kini giliran Fauzal yang memuji sehingga membuat kak Ovi menjadi tersipu malau sedangkan Aleeya hanya tersenyum menanggapi pembicaraan mereka semua.


###


Keesokan harinya, Aleeya mendapat kabar dari salah satu teman di Puskesmas bahwa Kepala Puskesmas menugaskan Aleeya untuk mengikuti kegiatan pelatihan di kabupaten. Otomatis Aleeya akan berangkat lagi kesana lebih kurang 1 minggu.


"Siapa aja yang pergi Ra?" Tanya Aleeya kepada Ira, yang berprofesi sebagai bidan juga di Puskesmas tersebut.


"Ada 5 orang perwakilan setiap desa. Jadi bidan desanya saja yang pergi." Jelas Ira.


"Kamu gak ikut ya?" Tanya Aleeya yang berharap Ira ikut juga karena dia belum kenal dengan 5 Bidan desa yang di desa lainnya.

__ADS_1


"Gak Lya, ini pelatihannya khusus untuk bidan desa aja." Jawab Ira.


"Besok kamu berangkatnya pakai jalur laut aja, berangkat pagi jam 7. Jam 10an sudah sampai di kabupaten. Nantik kalian nginap do hotel." Jelas Ira panjang lebar.


"Ketemuan dengan bidan desa yang lainnya nantik pas di kapal aja." Lanjut Ira lagi. Aleeta hanya manggut-manggut menanggapi penjelasan dari temannya itu.


Saat dirumah, Aleeya menghubungi Tante Murni dan memberitahu ke wanita tersebut bahwa dirinya akan berangkat kekabupaten untuk mengikuti pelatihan.


Tante Murni begitu senang mendengar kabar dari Aleeya tersebut karena dia yang sudah rindu juga dengan Aleeya.


"Besok kalau sudah sampai kamu kabari tante ya? Biar Andra yang jemput kamu." Ucap Tante Murni dengan antusias.


"Ee.. Maaf Tante, gak usah dijemput. AleeYa sama teman-teman yang lain nantik langsung ke hotel karena siang itu juga pelatihannya  dimulai" Kata Aleeya dengan menolak halus tawaran dari Tante Murni.


"Oo.. Begitu ya, jadi kamu gak kerumah Tante donk." Ujar Tante Murni dengan nada kecewa.


"InshAllah kalau sudah selesai pelatihannya, Aleeya akan sempatkan mampir kerumah Tante. Karena Aleeya juga rindu sama Tante." Kata Aleeya dengan lembutnya.


"Iya, Tante.." Sahut Aleeya.


"Andra juga sudah rindu berat sama kamu" Celetuk Tante Murni tiba-tiba yang membuat Aleeya langsung tersentak kaget.


"Apa Tante?" Tanya Aleeya yang pura-pura tidak mendengar yang padahal sudah begitu jelas terdengar ditelinganya apa yang diucapkan oleh Tante Murni.


"Gak ada apa-apa Lya, hehe.." Imbuh Tante dengan tertawa kecil.


Aleeya tidak lagi bertanya. Setelah itu, telepon singkat Aleeya dengan Tante Murnipun berakhir.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Aleeya sudah perge ke pelabuhan diantar oleh Kka Ovi. Kak Ovi menunggu Aleeya sampai berangkat, setelah memastikan Aleeta berangkat barulah kak Ovi pulang kembali kerumah.


Saat didalam speed boat tersebut, belum begitu ramai penumpangnya. Aleeya duduk seorang diri di dekat jendela. Aleeya melemparkan pandangannya kearah laut biru yang luas.


"Hai, kamu bidan desa baru itu kan?" Seseorang menyapa Aleeya dan berpindah tempat duduk disampingnya.

__ADS_1


"Hai juga, iya benar. Nama Saya Aleeya." Sahut Aleeya seraya mengenalkan dirinya kepada wanita yang ia yakini pasti salah satu bidan desa lima orang yang ikut pelatihan tersebut.


"Kenalkan nama saya Sarah, saya bidan desa delima. Sebelahan dengan desa dedap." Katanya seraya mengulurkan tangan kearah Aleeya. Aleeya menyambut uluran tangan dari Sarah tersebut dengan hangat.


"Saya Aleeya, yang akan ditempatkan di desa dedap kak" Tutur Aleeya dengan ramah.


"Gak usah panggil kakak donk, sepertinya kita seumuran. Umur aku masih 24 tahun, kalau kamu?" Tanyanya lagi.


"Sama, masih 24 tahun juga." Jawab Aleeya lalu tersenyum lebar.


Setelah itu, mereka saling mengobrol satu sama lain. Baru sebentar saja, Aleeya sudah akrab dengan Sarah. Bawaan Sarah yang supel dan juga ramah sehingga membuat Aleeya merasa nyaman mengobrol dengan wanita tersebut.


Tidak terasa perjalanan 3 jam itu terasa singkat karena saking asyiknya mereka mengobrol sedari tadi.


Lalu mereka turun dari speed dan kemudian mencari becak untuk langsung menuju hotel yang sudah ditetapkan oleh panitia.


Semsampainya dihotel tepad pada saat makan siang. Maka Aleeya dan Sarah memutuskan untuk makan dulu dibawah dan setela itu mereka keatas untuk melaksanakan sholat, karena siang itu juga mereka akan mengikuti pelatihan langsung.


Aleeya sekamar dengan Sarah. Saat Sarah dikamar mandi, hp yang ada didalam tas Aleega berdering kencang. Aleeya langsung saja memeriksa siapa yang nelpon. Dan mata Aleeya seakan terbelalak kaget setelah tahu siapa yang menelponnya yang bukan lain adalah Andra.


"Kamu sombong ya, tidak ngasih tahu aku kalau kamu sekarang ada disini" Sodor lelaki itu langsung, tanpa memberi salam. Aleeya pun belum sempat untuk mengucapkan salam sudah langsung ditodong dengan kalmat seperti itu.


"Maaf, saya sudah mengabari tante Murni kok" Jawan Aleeya dengan wajahnha yang polos.


"Ya beda donk, itukan bilang sama mama aku. Sama aku pasti bedalah. Rasa kangennya juga beda." Kata Andra dan kalimat yang terakhir sengaja ia pelan kan agar tidak terdnegar jelas oleh Aleeya..


#


#


#


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2