Kisah Aleeya

Kisah Aleeya
TIGA PULUH


__ADS_3

Jadi kamu pergi dengan Dokter Tina dan Oji ke Desa Dedap pagi ini, Lya?" Tanya Kak Yuli saat mereka sudah diperjalanan menuju ke Puskesmas. Semalam Aleeya sudah cerita ke Kak Yuli perihal dirinya yang diajak oleh Dokter Tina untuk pergi ke Desa Dedap.


"Belum tau juga jadi atau gaknya kak, karena Dokter Tina belum ada kabari Aleeya." Jawab Aleeya.


"Hhmm.. Berarti gak jadi tu, Ya. Kalau jadi seharusnya dokter Tina ngabarin kamu sejak tadi malam." Kata Kak Yuli. Aleeya hanya manggut-manggut menanggapinya.


Sesampainya di Puskesmas...


"Nah, itu kak Ovi sudah masuk.." Kata Kak Yuli seraya menunjuk kearah depan Puskesmas. Disitu ada seorang wanita berkulit hitam manis dengan seorang laki-laki yang tidak begitu tinggi, mereka terlihat sedang berbincang - bincang. Melihat Kak Yuli dan Aleeya yang datang berjalan menuju mereka, merekapu berhenti berbincang.


"Hai, Ovi.. Kiraian kamu belum masuk hari ini" Kata Kak Yuli seraya menyapanya.


"Sudah lah Yuli, kan memang semalam terakhir masuknya." Jawab Kak Ovi.


"Oya, ini kenalkan Aleeya. Pegawai baru yanh akan ditempatkan di desa dedap." Kata Kka Yuli dengan memperkenalkan Aleeya.  Aleeya langsung menyodorkan tangannya kearah kak Ovi seraya tersenyum ramah.


"Kenalkan kak, nama saya Aleeya. Biasa dipanggil Lya." Kata Aleeya. Kak Ovi menyambut uluran tangan dari Aleeya. SeTelah itu, Aleeya menoleh ke lelaki disamping kak Yuli yang sudah tersenyum ramah sedari tadi. Ketika Aleeya melihat kearahnya, lelakk itu langsung saja menyodorkan tangannya namun Aleeya langsung mengapit tangannya didepan dadanya.


"Saya Oji.." Katanya dengan mengikuti gerak tangan Aleeya. Didalam hati Aleeya berguman, 'Ternyata.. Ini yang namanya Oji.'


"Oya, Seperti yang aku bilang kemarin kalau Aleeya akan tinggal dirumah dinas bersama kamu Ovi." Kata Kak Yuli.


"Iya, kak.. kalau kak Ovi tidak keberatan." Ucap Aleeya dengan suara yang pelan.


"Ya gak keberatan donk Lya, malahan kak senang ada kawannya karena selama ini kak cuman sendiri saja dirumah yang besar itu, ya gak Ji?" kata Kak Ovi seraya menyenggol bahu Oji.


"Benar sekali donk. Kita bertetanggan Lya, karena saya tinggal dirumah dinas juga. Disebelah rumah kamu, bertiga sama Boby dan juga Fauzal."


Aleeya hanya menaggapi perkataan Oji dengan senyuman.


Beberapa saat kemudian, Dokter Tina datang menghAmpiri mereka bersama suaminya.


"Hai, buk... Rapi banget pagi ini?" Sapa kak Yuli yang melihat penampilan Buk Tina lebih rapi dari biasanya.

__ADS_1


"Iya donk, kami kan mau pergi ke desa Dedap ada kegiatan." Jawabnya.


"Oh, berarti jadi ya perginya?" Kak Yuli bertanya lagi.


"Jadi kak, gak bisa ditunda karena sudah janji sama kepala desanya." Jawab Oji.


"Kamu jadi ikut kan Aleeya?" Tanya Dokter Tina seraya menoleh ke Aleeya yang sejak tadi hanya diam saja.


"Ee.. Iya, ikut" Jawab Aleeya terlihat ragu-ragu. Ia menoleh sejenak kearah Kak Yuli yang juga menatapnya dengan bingung.


"Aleeya kalau masih ragu untuk ikut bilang aja, Ya. Mana tahu kamu belum siap pergi kesana." Kata Kak Yuli.


"Kan gak masalah kan bu, jika Aleeya gak ikut?" Sambung kak YuLi lagi dengan bertanya ke Dokter Tina.


"Ya.. Terserah Dia aja lagi, mau ikut atau tidak." Jawab Dokter Tina dengan cuek.


"Bagaimana, Lya? Kamu mau ikut? Jauh lo temptanya dan jalannya juga kurang bagus." Jelas Kak Yuli.


"Biar aja Lya ikut Yul, biar terbiasa menghadapi medan perjalanan kesana itu. Biar besok gak kaget." Kini kak Ovi yang menimpali.


"Ya, kebetulan sendiri." Oji langsung menjawabnya. Aleeya masih diam. Ada banyak hal yang dipertimbangkannya. Salah satunya yang penting adalah tentang ia yang selalu dihadapkan dengan lelaki yang harus dituntut untuk berboncengan dengan dirinya.


Jelas Aleeya tidak ingin itu terjadi, ia sudah bersusah payah menjaga dirinya agar tidak duduk berdua dan berdekatan dengan lelaki yanh bukan muhrimnya. Dan tidak mungkin gara-gara ini semua dia pertaruhkan ke istiqomahannya.


"Bagaimana kalau Aleeya boncengan sama buk Tina saja" Kak Yuli memberi usul karena dia tahu apa yang Aleeya rasakan saat ini.


"Ngak, aku sama suami aku." Buk Tina langsung menolaknya mentah-mentah.


"Kenapa gak sama Oji aja? Kan lebih bagus sama cowok" Kak Ovi menimpali lagi. Aleeya masih diam. Ia kembali memandang kak Yuli. Kak Yuli yang paham arti dari pandangan Aleeya tersebut langsung saja memberi sebuah solusi yang baik.


"Ya sudah, Aleeya kamu bawa motor kakak aja. Nantik kak pulang nebeng sama yang lain aja yang satu arah." Kata kak Yuli akhirnya.


"Gak apa-apa kak? Aleeya jadi gak enak sama kakak." Kata Aleeya yang merasa segan atas kebaikan kak Yuli, yang mengerti kondisi dan situasi yang ada padanya saat itu.

__ADS_1


"Ya gak apa-apa, Ya. Tapi, kamu hati-hati ya. Pelan-pelan aja karena jalannya gak datar. Banyak lubang dan licin juga karen hujan." Ucap kak Yuli memberikan peringatan.


"Iya, kak. Oke." Jawab Aleeya.


Beberapa menit kemudian, mereka berempat pum berangkat. Dokter Tina dan suaminya berada di paling depan, Oji dibelakang Dokter Tina sedangkan Aleeya berada dibagian belakang sekali.


Aleeya mengendarai motor dengan pelan. Karena ia yang belum sama sekali hafal dneham seluk beluk jalan yang akan ia lalui.


Beberapa menit kemudian, mereka samlai dijalanan yanh tidak beraspal dengan kata lain masih tanah. Karena malam tadi hujan, jadi jalanan agak becek dan juga licin.


Melihat jalan yang hancur seperti itu, membuat  Aleeya langsung panik seketika. Aleeya ragu dengan dirinya sendiri dan tidak yakin ia bisa melewati jalanan itu dengan mulus. Maka Aleeyapun memberhentikan motornya diujung jalan antara jalan yang bagus dengan yang tidak bagus.


Bang Oji melihat Aleeya berhenti dari kaca spionnya. Maka ia pun ikut berhenti juga. Dan berbalik arah untuk menghampiri Aleeya. Sedangkan buk Tina dan suaminya sudah melewati setengah jalanan yang lumayan hancur tersebut.


"Kenala Aleeya, kok berhenti ?" Tanya Bang Oji saat dirinya sudah berada ditempat Aleeya berhenti.


"Saya gak berani melewati jalan itu bang." Jawab Aleeya dengan wajah takut.


"Oh.. Iya ya, abang maklum pasti kamu belum terbiasa melewati jalan seperti ini. Karena dikota jalannya bagus-bagus kan?" Kata Bang Oji dengan tersenyum manis. Aleeya hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Hhhmmm... Gimana ya, atau gini saja. Motor kak Yuli kamu titip kan saja diwarung ibuk itu dulu.." Kata Bang Oji seraya menunjuk ke sebuah warung yang ada tak jauh dari mereka berdiri.


"Lalu Aleeya biar sama Abang saja, kita boncengan. Desa Dedapnya gak jauh lagi kok. Bagaimana??" Tanya Bang Oji. Aleeya terdiam dengan segala rasa yang bersemayam dihatinya. Lagi dan Lagi.. Dirinya terus diuji dengan hal yang sama...


.


.


.


.


BERSMABUNG..

__ADS_1


.


.


__ADS_2