Kisah Aleeya

Kisah Aleeya
DUA PULUH ENAM


__ADS_3

"Emangnya gak boleh aku nelpon kamu?" Andra malah balik bertanya masih dengan suara yang ketus.


"Aku gak ada bilang gak boleh Kok" Sahut Aleeya.


"Jadi ya sudah jangan tanya-tanya." Katanya lagi. Kini Aleeya yang kembali terdiam.


"Kenapa diam?" Tegur Andra yang mendapati Aleeya tidak menanggapi perkataannya barusan.


"Ya, aku juga gak tau mau ngomong apa." Jawab Aleeya. Karena dia masih merasa heran dan juga bingung Andra sebenarnya mau ngapain, apa maksud dirinya menelpon Aleeya.


"Ya sudah kalau gak ada yang diomongin. Aku matikan, bye." Ucap Andra akhirnya lalu memutuskan panggilannya sehingga membuat Aleeya sangat terheran - heran.


***


Keesokan harinya..


Aleeya dan kak Yuli sampai ke Puskesmas tepat jam 8 pagi. Aleeya langsung menuju keruang KIA karena sudah ada beberapa pasien yang telah menunggunya, sedangkan kak Yuli ada keperluan sebentar keruang bendahara.


Setelah melayani pasien, seseorang masuk kedalam ruangan Aleeya.


"lya, besok kamu mau ikut kami gak ke desa Dedap?" Tanya seseorang itu yang ternyata adalah Buk Tina. Ia adalah seorang Dokter umum di Puskesmas tersebut.


"Ada acara apa Dok disana??" Tanya Aleeya.


"Ada kegiatan didesa sana dan mengundang tim dari Puskesmas. Kamu Kan mau ditempatkan disana jadi sebelum itu kamu bisa berbaur dulu dengan masyarakAt ataupun kepala desanya." Kata Dokter tersebut.


"Bolehlah dok, emang siapa aja yang pergi?" Tanya Aleeya.


"Saya dan juga bang Oji, kalau kamu ikut berarti kita bertiga yang pergi." Jawabnya.


"Oo.. Jam berapa ya dok?" Aleeya bertanya lagi.


"Besok saya kabari lagi Kak ya. Mintak nomor hp nya donk biar senang saya hubungi kakaka besok." Katanya. Lalu Aleeya memberi nomornya, mereka saling bertukaran nomor.


Setelah itu, Aleeya kembali melanjutkan melakukan pelayanan kepada pasien yang lumayan banyak juga hari itu. Kebetulan Aleeya masih sendiri, Kak Yuli masih sibuk diruang bendahara sedangkan 2 orang bidan yang lain Aleeya tidak tahu keberadaannya dimana.


Beberapa saat kemudian, Kak Yuli pun masuk dengan wajah yang suntuk.


"Ada apa kak?" Tanya Aleeya penasaran karena melihat wajah kak Yuli yang tiba-tiba kusut seperti itu.

__ADS_1


"Anak kak tiba-tiba sakit, Lya. Jadi kak mau pulang sekarang ni." Kata kak Yuli dengan wajah yang panik.


"Sakit apa kak?" Tanya Aleeya.


"Demam Ya, panas tinggi. Oya, kamu gimana ya.. Gak apa kak tinggal sendiri disini? Karena yang lain seperti nya pada gak ke Puskesmas, karena  mereka ada kegiatan posyandu" Kata kak Yuli.


"Ya gak apa-apa kak, biar Aleeya yang jaga hari ini." Sahut Aleeya langsung.


"Tapi, nantik kamu pulangnya bagaimana Lya?" Pertanyaan dari kak Yuli seakan menyadarkan Aleeya.


"Iya ya kak, Aleeya kan tadi bareng sama kakak."


"Hhhmm..." Kak Yuli tampak berfikir panjang.


"Entar kak mintak tolong Oji yang antarkan kamu pulang ya." Kata Kak Yuli akhirnya


"Maaf kak, bang Oji itu yang mana ya kak?" Tanya Aleeya yang memang belum pernah bertemu dengan yang namanya Oji.


"Oh.. Kamu belum pernah ketemu Oji ya? Oji itu petugas gizi di Puskesmas ini, kebetulan dia kemarin ada pertemuan di dinas 3 hari. Dan hari ini baru masuk. Dia ada Diruang gizi sekarang." Jelas Kak Yuli.


"Gak apa-apa kan kamu pulang sama dia aja?" Lanjut Kak Yuli lagi.


"Ee.. gimana ya kak.." Aleeya merasa kesulitan untuk menolak usulan dari Kak Yuli barusan.


"Hhmm.. Kalau bisa, Aleeya pulangnya nebeng sama yang cewek aja kak. Jangan yang cowok." Jawab Aleeya akhirnya.


"Hhmm.. Gtu ya.." Kak Yuli hanya manggut-manggut seakan mengerti posisi Aleeya yang tidak ingin berdekatan dengan cowok.


"Tapi, siapa ya? Hhhmm.." Ujar Kak Yuli. Beberapa saat, orang tua kak Yuli menelpon lagi dan mengabari anaknya rewel dan tidak berhenti menangis.


"Aduh, kak pulang dulu ya. Anak kak rewel banget nih.." Kata kka Yuli.


" Ya kak, kak pulang aja. Nantik gampang tu Aleeya pulangnya dengan siapa.." Kata Aleeya. Setelah itu, kak Yulipun bergegas pulang.


Sampai akhirnya, jam pulang pun datang. Aleeya keluar dari ruangan nya menuju kedepan puskesamas.


Suasana didalam Puskesmas sudah terlihat sepi, tidak ada lagi staf yang tinggal. Memang di Puskesmas ini tidak terlalu ramai petugasnya.


Perasaan Aleeya tiba-tiba menjadi tidak enak, karena ia tidak tahu harus pulang dengan siapa. Sedangkan teman dan kakak yang lain sudah tidak terlihat lagi di Puskesmas. Mau telpon kak Yulipun, Aleeya merasa tidak enak

__ADS_1


Karena ia takut akan mengganggu Kak Yuli yang tengah mengurus anaknya yang sakit.


"Assalamualaikum, Aleeya.." Ada sebuah sapaan dari belakang yang membuat Aleeya kaget. Aleeya langsung saja membalikkan badannya dan mendapati Fauzal sudah berdiri tepat dibelakang Aleeya.


"Kamu.. bikin kaget aja," Desis Aleeya terdengar agak kesal.


"Maaf.. maaf..." Kata Fauzal dengan senyum kengengesan.


"Kenapa belum pulang?" Fauzal bertanya.


"Hhhmm... Ni mau pulang." Jawab Aleeya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan lelaki itu.


"Pulang pakai apa? Bukannya kak Yuli sudah pulang duluan." Ujar Fauzal yang mengikuti langkah kaki Aleeya.


"Jalan kaki." Sahut Aleeya yang tetap berjalan.


"Ha? Jalan kaki? yang benar aja kamu Lya, rumah kak yuli jauh dari Puskesmas. Pakai honda aja makan waktu 15 menit masak kamu mau jalan." Kata Fauzal dengan heran. Aleeya hanya diam dan tetap berjalan. Fauzal masih mengikutinya.


"Hai.. Kamu serius mau jalan kaki nih??" Fauzal bertanya lagi. Aleeya langsung berhenti.


"Ada motor yang bisa dipinjam gak?" Tanya Aleeya kepada lelaki itu.


"Motor..? Hhmm...Kenapa emangnya??" Tanya Fauzal.


"Kalau ada, aku mau pinjam.." Jawab Aleeya.


"Kalau untuk dibawa pulang ya gak ada lah Lya. tapi, kalau kamu mau diantar pulang.. Aku bisa antarkan kamu pulang kok.." Kata Fauzal dengan menawarkan dirinya.


"Gak usah Fauzal, terimakasih.. Aku jalan kaki aja." Kata Aleeya menolak tawaran dari Fauzal.


"Kenapa ya Lya ? Aku ngerasa kamu ini terkesan sombong gitu, padahal maksud aku baik. Mau membantu kamu, tapi gak pernah kamu hargai." Kata Fauzal terlihat agak kesal.


"Maaf Fauzal, bukan aku gak mau menghargai. Cuman aku gak mau berboncengan dengan lelaki yang bukan muhrim aku. Maaf.. ini sudah prinsip hidup aku, aku harap kamu mengerti dan tidak merasa tersinggung. Permisi ya.." Kata Aleeya lalu bergegas meninggalkan Fauzal yang masih berdiri mematung disana. Ia tidak lagi mengikuti Aleeya.


Aleeya akhirnya jalan kaki, tapi untungnya Baru 10 menit ia berjalan, ada seorang ibu-ibu yang memberi tumpangan kepada Aleeya. Ibuk tersebut ternyata tetangganya kak Yuli. Arsyila merasa bersyukur, dan keyakinan didalam hatinya pun bertambah bahwa pertolongan dari Allah itu akan tetap datang jika ia bisa mempertahankan keistiqomahannya.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2