
Setelah kepergian kak Yuli, dengan langkah ragu Aleeya masuk kedalam rumahnya. Namun, ia tidak jadi melangkah saat terdengar deringan Hpnya dari dalam tas. Aleeya langsung mengambil hpnga dan melihat siapa yang menelponnya. Ternyata Andra.
"Assalamualaikum,.." Kata Aleeya memulainya dengan mengucapkan salam.
"Wa'alaikumusalam, Aleeya.. Bagaimana sudah pulang dari Puskesmas?" Tanya Andra tiba-tiba yang membuat kening Aleeya langsung berkerut bingung.
"Iya, sudah. Ink baru sampai dirumah pak Safar. Ada apa ya Ndra?" Tanya Aleeya.
"Gak ada apa-apa. Sudah dulu ya. Bye." Ujarnya lalu memutuskan panggilan tersebut. Aleeya benar-benar terheran-heran dibuatnya dengan gelagat anehnya Andra. Lelaki itu terkadang bersikap dingin dan ada juga beberapa kali bersikap seperti perhatian kepadanya. Entahlah.. Aleeya langsung menepis pikirannya tentang itu semua.
Kemudian, Aleeya masuk kedalam rumah dengan sebelumnya mengucap salam. Pintu rumah terbuka, dan seraut wajah langsung nongol didepan pintu. Wajah sangar, dingin dan Cemberut langsung menyambut kedatangan Aleeya.
"Sudah pulang kamu?" Tanya Buk Rodiah dengan ketus.
"Sudah, buk." Jawab Aleeya dan kemudian mengulurkan tangannya hendak menyalami buk Rodiah, namun Buk Rodiah menepis Tangan Aleeya dan kemudian masuk kedalam rumahnya.
"Itu cucian piring dan gelas menumpuk. Kamu cuci semuanya. Setelah itu, kamu pindahkan barang-barang kamu ke kamar belakang, yang paling kecil itu. Jangan dikamar ini." Kata Buj Rodiaj dengan suara yang lantang. Aleeya sampai terkaget - kaget dibuatnya.
"Iya, Buk." Kendatipun demikian, ia tetap mengiyakan apa yang disuruh Buk Rodiah. Aleeya memindahkan kopernya kekamar kecil didekat dapur. Setelah itu, ia mencuci piring.
"Sapu dan pel juga semua ruangan ya. Harus bersih, jangan ada debu sedikitpun yang tertinggal" Sambung Buk Rodiaj lagi dengan suara yang ketus.
Aleeya hanya diam. Padahal dia baru pulang, belum sholat dan juga belum makan siang. Perutnya sudah sangat keroncongan. Lalu Aleeya iseng membuka tudung dan didalamnya tidak terdapat makanan apapun. Mau tanya Buk Rodiah bahwa dia makan apa, Tapi Aleeya sama sekali tidak berani.
'Ya, Allah.. Beginilah rasanya numpang hidup dengan orang lain. Sungguh tidak mengenakkan' Rintih Aleeya didalam hatinya. Tiba-tiba ia teringat Tante Murni. Kalau dirumah Tante Murni, saat pulang kerja pasti disambut dengan ramah dan antusia.
"Aleeya, sudah pulang? Tukar baju setelah itu makan ya? Tante sudah masak makanan yang enak nih untuk kamu" Kata-kata Tante Murni itu malah terniang-niang didalam benaknya. Ia sangat merindukan Tante Murni yang baim hati itu.
"Eh, kok melamun kamu? Cepat kerjakan yang saya suruh tadi." Kata Buk Rodiah dengan kasar dan menatap Aleeya dengan garang.
"Iya, Maaf buk. Tapi, saya boleh makan dulu gak buk?" Tanya Aleeya seraya memegang perutnya yang sudah keroncongan.
"Makan kamu bilang? Kerja saja belum selesai malah mintak makan." Jawabnya dengan melotot.
"Gak ada makanan, saya gak masak." Lanjut Buk Rodiah lagi.
"Kalai begitu, apa ada rumah makan didekat sini buk? Biar saya bisa beli makanan dulu." Kata Aleeya lagi.
__ADS_1
"Kamu pikir ini dimana, ada rumah makan? Ini dikampung, jangan manja lah. Dasar anak kota, semuanya sama saja. Pengen yang instan, gak mau usaha. Kamu masak sendiri sana kalau mau makan." Omel Buk Rodiah setelah itu pergi dari sana. Aleeya terdiam dengan perasaan tidak menentu.
Kemudian, Aleeya melanjutkan mencuci piring dulu setelah itu barulah ia memasak sesuatu untuk bisa dimakannya.
Setelah selesai masak dan makan, Aleeya masuk kedalam kamanya. Kamar yang Aleeya tempatkan saat ini berukuran sangat kecil dan banyak barang-barang didalamnya. Tempat ini tidak pantas dibilang kamar, layaknya dikatakan gudang meskipun ada sebuah tempat tidur kecil didalamnya.
Aleeya sebenarnya sangat lelah dan ingin membaringkan badannya keatas kasur. Namun, matanya seakan risih melihat debu dan benda-benda berantakan di sekeliling sana. Maka, Aleeya putuskan untuk mengambil sapu dan kain pel. Ia Putuskan untuk membersihkan kamar kecil tersebut.
Setelah bersih, barulah Aleeya bisa nyaman membaringkan tubuhnya keatas kasur. Dalam sekejap saja Aleeya langsung memejamkan matanya dan sesaat kemudian ia pun tertidur dengan pulas.
***
Aleeya dibangunkan oleh suara teriakan dari luar kamarnya. Suara itu milik Bum Rodiah. Aleeya langsung terduduk. Ia mencoba memasang telinganya baik-baik agar bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh bum Rodiah. Ternyata bum Rodiah tengah bertengkar hebat dengan Pak Safar. Mereka saling berdebat dan sahut-sahutan. Dari mulut mereka terdengar nama Aleeya yang disebut-sebut. Aleeyapun seakan tersadar bahwa dirinya yang menjadi penyebab Pak Safar dan Buk Rodiah bertengkar.
Aleeya semakin merasa tidak enak gara-gara membela dirinya tetap tinggal disini, Pak Safar dan Buk Rodiah jadi bertengkar hebat.
"Ya, Allah.. Aku bakalan gak betah tinggal disini." Lirih Aleeya.
Saat itu, pikiran Aleeya langsung teringat pada kebaikan Tante Murni yang dengan ikhlas mau menampungnya. Tapi, kini.. Aleeya harus siap menumpang dengan orang yang tidak menyukainya.
"Hei, Anak Manja. Keluar kamu." Tiba-tiba Buk Rodiah datang dan mengedor-ngedor pintu kamar Aleeya. Aleeya yang kaget langsung bergegas Membuka pintu dengan sebelumnya memakai hijabnya.
"Kamu sudah manja, malas lagi ya. Tadi saya suruh apa?" Kata Buk Rodiah dengan membesarkan matanya.
"Maaf buk, saya sudah mengerjakan apa yanh ibuk suruh. Memang ada lagi yang bjsa bantu buk?" Tanya Aleeya dengan lembut.
"Ya iya donk. Lihat itu diluar. Kamu sapu halaman." Suruh Buk Rodiah setengah membentak
Pak Safar yang ada diruang tengah langsung kebelakang karena mendengar istri nya membentak Aleeya.
"Kamu apa-apaan sih buk? Baru juga satu hari Aleeya tinggal disini, sudah disuruh yang macam-macam." Protes Pak Safar dengan nada kesal.
"Ya namanya juga numpang, harus sadar diri donk." Jawab Buk Rodiah dengan suara yang keras.
"Ngak apa-apa Pak, jika untuk menyapu halaman saja saya mau kok Pak. Gak masalah sama sekali." Kata Aleeya dan berusaha tersenyum meskipun berat.
"Nah, dengarkan Pak? Anak manja ini saja gak keberatan. Ya sudah.. Cepatan kedepan, bersihkan halamannya sebersih-bersihnya. Jangan ada satupun daun yang masih berserakan di sana." Imbuh Buk Rodiah dan setelah itu ia pun pergi dari sana.
__ADS_1
"Nak Aleeya, bapak jadi tidak enak sama kamu. Jangan dimasukkan ke hati ya sikap ibuk tadi, ibu terkadang suka gitu tapi nantik tidak lagi kok. Bapak akan coba nasihati dia. Maaf sekali lagi yan nak Aleeya." Ucap pak Safar merasa tidak enak hati.
" Ya gak apa-apa kok pak, Aleeya memang salah. Aleeya disinikam cuman numpang jadi gak sepatutnya Aleeha malas-malasan." Jawab Aleeya dengan tersenyum tipis.
"MasyaAllah, akhlak kamu memang luar biaaa baiknya. Semoga Allah melindungi kamu Nak Aleeya, diberkahi setiap jalan hidup kamu." Ucap Pak Safar dengan mendoakan kebaikan untuk Aleeya.
"Aamiin.. Terimaksih pak, atas doanya." Hatur Aleeya dengan tersenyum lebar.
***
Saat malam hari, didalam kamar. Aleeya ditelpon oleh Tante Murni. Semenjak Aleeya disini, Tante Murni belum ada menelponnya. Aleeyalun tidak ada niat untuk menghubungi tantenya itu karena ia takut jika Tante Murni tahu apa yang terjadi sbenerany disini.
Yang mana, Tante Murni berharap Aleega mendapatkan tempat tinggal yang layak dan juga tuan rumah yang mau menerima Aleeya dengan baik sebagaimana Tante Murni yang memperlakukan Aleeya dengaN baik juga.
Tapi, kenyataannya tidak lah demikina. Baru sehari Aleeya tinggal disini, dirinya sudah disuruh yang macam-macam oleh Buk Rodiah. Padahal itu bukan tugas dia sampai melakukan itu semua. Aleeya tidak habis pikir, sebenarnya apa yang membuat BuK Rodiah tidak menyukainya bahkan terlihat sangat membencinya. Padahal mereka baru pertama ketemu tapi seperti sudah sering bertemu.
"Aleeya, bagaimana tinggal di rumah pak Safar? Kamu betah gak disana? Pak Safar dan buk Rodiah memperlakukan kamu dengan baik kan??" Pertanyaan dari Tante Murni itu membuat Aleeya langsung tersentak. Ia tidak tahu harus jawab apa, apakah dia harus berterus terang atau tidak? Jika ia mengarang cerita dengan mengatakan betah dan perlakuan mereka baik meskipun sebenarnya pak Safar baik dengannya akan tetapi tetap saja kenyataan berkata lain bahwa Buk Rodiah tidak menerima dengan baik.
"Hai, Aleeya. Kok diam??" Panggil Tante Murni lagi karena mnedapati Aleeya yang masih diam.
"Hhmm.. Tante, sebenatnya Aleeya merasa agak canggung saja tinggal disini. Aleeya merasa gak enak Tante, segan juga karena Aleeya ini bukan siapa-siapanya mereka. Jadi, Aleeha rasa bagaimana jika Aleeya tinggal di rumah dinas dekat Puskesmas saja seperti teman Aleeya yang cowok itu." Ucap Aleeya dengan suara yang hati-hati.
"Lah, memang kenapa merasa gak enak sih Aleeya? Pak Safar itu teman baik suami Tante. Sudah sangat dekat kami, ya meskipun Tante kurang dekat sama istrinya. Tapi, tunggu-tunggu.. Apa buk Rodiah bersikap tidak baik dengan kamu, Ya?" Tanya Tante Murni tiba-tiba yang membuat Aleeya langsung menelan ludahnya.
"Ee.. itu, Tante.." Aleeya terlihat ragu-ragu untuk meneruskan kalimatnya. Aleeya tidak biasa melakukan sebuah kebohongan, karena prinsipnya jika sekali saja ia berbuat suatu kebohongan pasti dia akan membuat kebohongan yang lain lagi untuk menutupi kebohongan yang pertama tadi. Dan Aleeya tidak mau hal itu menimpanya. Maka Aleeya putuskan untuk jujur saja. Tentang semua perlakuan Buk Rodiah terhadapnya.
Aleeua yakin, ini bukan sebuah aduan. Aleeya bukan wanita pengadu dan lemah. Lagi pula Tante Murni sendiri yang sudah menebaknya. Mungkin saja dari gelagat bicaranya bisa membuat Tante Murni merasakan akan sesuatu yang terjadi pada Aleeha disini.
"Ya Allah, Lya. maafkan tante kamu jadi disuruh-suruh seperti itu. Emang keterlaluan sekali buk Rodiah itu." Omel Tante Murni dan kemudian dia memutuskan panggilannya dengan Aleeya. Dia bilang Ingin berbicara empat mata dengan Pak Safar.
EnTah apa yang akan disampiakan oleh Tante Murni. Aleeha hanya bisa pasrah dengan apa Yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya. Entah dirinya malah diberi tumpangan disana atau malah sebaliknya. Aleeya belum tau jawabannya. Aleeya menunggu Tante Murni selesai berbicara lewat telpon dengan hati was-was.
.
.
.
__ADS_1
BERAAMBUNG.