Kisah Aleeya

Kisah Aleeya
LIMA


__ADS_3

Waktu terus berjalan dan tidak terasa sudah sampailah hari dimna Aleeya harus berpisah dengan teman-teman di klinik. Karena lusa ia harus berangkat ke Kepulauan tempat ia mengabdi nantiknya untuk mendaftar ulang. Dan hari ini Aleeya bermaksud untuk berpamitan dengan Buk Ermi dan juga Kak Sari. Dan saat ini Aleeya sudah berada dilantai dua dirumah Buk Ermi. Lya duduk disofa bersama Kak Sari menunggu Buk Ermi yang belum selesai sholat Dzuhur. Aleeya berbincang-bincang sejenak dengan Kak Sari. Kak Sari merasa sangat kehilangan sosok Aleeya nantinya karena di klinik Aleeya termasuk pegawai yang rajin dan disukai oleh pasien karena keramahannya.


"Lya, semoga sukses ya ditempat yang baru. Dan jangan lupakan kami disini." Ucap Kak Sari dengan nada sedih.


"Aamiin... Terimakasih ya Kak Sari, InshaAllah Lya enggak bakalan lupa dengan kakak dan yang lainnya. Apalagi selama di Klinik ini lah Lya banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman berharga." Ucap Lya.


Beberapa saat kemudian Ibuk Ermipun datang. Buk Ermi keluar dari kamarnya masih dengan menggunakan Mukena berwarna biru. Melihat Lya yang sudah duduk manis di sofa bersama Sari, Anaknya.. Membuat iBuk Ermi tersenyum lebar. Aleeya membalas senyuman buk Ermi yang tulus itu. Dalam hati sebenarnya Aleeya masih merasa tidak enak karena sudah menolak mentah-mentah lamaran dari Bang Adrian, Keponakan kontan dari Buk Ermi. Tapi, syukurlah sikap Buk Ermi tidak berubah setelah hal ini. Aleeya berharap hubungan dirinya dengan Buk Ermi akan baik-baik saja meskipun ia tidak menerima tawaran Buk Ermi untuk dijadikan menantunya.


"Sudah Lama ya Lya.. Nunggu Ibuk.." Tanyanya.


"Belum lama kok Buk," Jawab Lya sambil menggelengkan kepalanya. Lalu Buk Ermi duduk diseberang Lya dan Kak Sari. Buk Ermi menarik nafas panjang sebelum ia mengeluarkan suaranya yang agak parau.


"Sayang sekali ya Ibuk harus kehilangan pegawai seperti kamu Lya. Jujur saja dari semua teman-temannya mu yang lain, kamu lah yang paling ibuk senangi. Skill kamu bagus, pembawaan kamu ke pasien juga bagus.. Dan yang paling penting jiwa kamu sangat bagus.." Puji Buk Ermi. Mendapat pujian tersebut tidak langsung membuat Aleeya berbesar hati, Ia hanya tertunduk diam.


"Cuman satu pesan ibuk Lya, Kalau nantik kamu sudah berada dilingkungan kerja yang baru.. Tetaplah menjadi Lya yang seperti saat ini. Menjadi baik itu memang tidak mudah tapi untuk mempertahankan kebaikan itu jauh lebih tidak mudah lagi. Makanya perlu adanya keistiqomahan didalam hidup agar kita bisa mengontrol diri kita tetap berada di jalan yang benar.." Nasihat BUk Ermi.

__ADS_1


"Hal lain yang ibuk sukai dari kamu adalah keistiqomahan kamu dalam mengerjakan sholat dengan tepat waktu, Ibuk selalu perhatikan itu.. Meskipun ramai pasien tapi jika sudah masuk waktu sholat pasti kamu langsung bergegas untuk sholat kan.. Kamu selalu konsisten, tidak suka menunda-nunda. Beda dengan teman-teman mu yang lain.." Lanjut Buk Ermi. Aleeya dan Kak Sari masih diam mendengar penuturan Buk Ermi.


"Dan.. Semoga sukses ya Lya dilingkungan baru nantik. Apalagi kamu ditempatkan didesakan? Wah.. Itu sebenarnya lebih berat lagi tantangannya Lya. Tapi, Ibuk yakin kamu pasti bisa menghadapinya.."


"InshaAllah buk, mudah-mudahan.. Lya mintak doanya ya buk, semoga Lya diberi kemampuan dan kemudahan Nantinya. Dan terimakasih banyak Lya ucapkan kepada ibuk juga kak Sari.. Yang selama ini sudah baik dan sabar mengajari Lya. Banyak ilmu yang Lya dapati selama bekerja disini. Lya ngak akan melupakan semua jasa Ibuk dan Kak Sari. Dan.. Maaf juga apabila selama Lya bekerja disini ada tingkah laku ataupun perbuatan Lya yang tak menyenangkan. Ataupun kata-kata Lya yang tidak baik. Mohon dimaafkan ya Buk..Kak.." Ucap Lya dengan rendah hati.


" Iya Lya.. Jauh sebelum kamu meminta maaf kami berdua sudah maafin kok.. Tapi sebenarnya ngak ada yang perlu di perbaiki karena kamu nyaris sempurna dimata kami, ya kan Ma?" Kata Kak Sari seraya mengalihkan pandangan ke Buk Ermi.


"Betul sekali Sari, Apalagi jika kamu Mau menerima lamaran Adriyan Kemaren, Pasti sangat sempurna sekali kamu di mata kami, heheh..." Kata Buk Ermi sambil terkekeh. Lya tersentak. Ia hanya bisa menelan ludahnya mendengar ucapan Buk Ermi.


Sore harinya, Didalam kamar Aleeya mulai berkemas dan memasukkan bajunya yang tidak begitu banyak kedalam koper yang telah ia siapkan. Tadi malam adalah malam terakhir dirinya tidur diklinik dan sore ini dia akan berpamitan dengan semua teman-temannya di klinik. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, masih ada sisa waktu 1 jam lagi baginya untuk bersama teman-temannya sebelum Aleezar datang untuk menjemputnya.


"Kak.. Kenapa harus pergi sekarang sech, kak kan berangkat masih beberapa hari lagi kesananya.. Tetap tinggal disini dulu aja lah ka.." Ucap Pipit dengan suara yang memelas. Ia tampak Sangat sedih dan merasa kehilangan akan kepergian Aleeya. Selain Siska, Pipit juga begitu dekat dengan Aleeya. Bahkan dari semua temannya di klinik hanya PIpit lah yang bersedia ikut jejak dirinya dalam aktifitas pengajian yang telah ia geluti lebih kurang dalam 2 tahunan ini. Pipit selalu mau diajak untuk ikut kajian dan acara-acara keagaman lainnya. Ia sangat antusias dan semangat dalam menyerap ilmu baru yang Aleeya sampaikan ke dirinya.


"Banyak yang harus kakak siapkan Pit, jadi kak butuh waktu dirumah untuk menyelesaikan semuanya. Karena kak ngak tau juga nantik apakah cuman daftar ulang saja atau malah kak langsung kerja disana." Ucap Aleeya.

__ADS_1


"Iya sech kak, tapi.. Pit merasa kehilangan kak, ngak ada lagi sosok kak Lya yang selalu menasihati Pit, yang selalu mengingatkan Iipit.." Ucapnya masih dengan suara yang memelas.


"Ipit.. Meskipun kita tidak berada dikota yang sama lagi tapi InshaAllah kak akan selalu menyempatkan diri untuk menghubungi kamu.. Dan oh ya.. Lepas kepergian kakak, kamu jangan pulak malas ikut kajian Ya.  Nanti kamu lanjut kajiannya dengan kak Widi ya. Kak akan kasih tau kak Widi nantik."


"Itu yang sulit kak.. Ipit jadi ragu apakah bisa tetap lanjut kajiannya atau tidak.. ngak  ada kakak jadi Ipit merasa ngak semangat lagi. Karena kak Lya lah Yang menjadi penyemangat Ipit dalam mengikuti kajian ini.."


"Ya Allah, Ipit.. Enggak boleh berpikiran seperti itu. Kamu harus memperbaiki niat kamu dalam mengkaji Islam. Bukan karena kakak atau yang lain.. Tapi karena Allah.  Jadi meskipun kak jauh kamu harus tetap semangat ikut kajiannya. Okey..?"


Pipit hanya menganggukkan kepalanya sambil menyeka butiran air mata yang sudah tergenang dipelupuk matanya.


Beberapa saat kemudian Aleezar menelpon dan memberitahu bahwa dia telah berada di didepan klinik. Ternyata Aleezar datang setengah jam lebih awal. Aleeya yang sudah siap berkemas langsung turun kebawah diikuti Oleh Pipit. Dibawah sudah ada Siska, Nita dan Suci yang kebetulan lagi dinas sore itu. Melihat Aleeya turun dengan sebuah koper membuat mereka langsung memasang wajah sedih. Mereka menghampiri Aleeya dan bergantian memeluk Aleeya.


Aleeya menahan diri. Dia tidak mau larut terbawa suasana kesedihan yang diberikan oleh teman-teman satu kerjanya. Karena ia yakin ini bukanlah akhir dari segalanya. Perpisahan ini hanya sementara. Suatu saat nantik Ia pasti akan kembali lagi ke kota ini. Ke kota kelahirannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2