
Beberapa menit kemudian, Aleeya menguap beberapa kali. Matanya sudah sangat ngantuk. Jam pun sudah menunjukkan pukul 10 malam. Mustahil juga rasanya Windy akan pulang, maka Aleeya putuskan untuk masuk kekamar dan berisitirahat, sebelum itu ia ke kamar mandi dulu untuk mengambil wudhu. Aleeya melakukan sholat witir 3 rakaat dulu sebelum tidur, kebiasaan yang sudah lama ia lakukan dan sudah menjadi kebutuhan baginya. Sama halnya dengan badah sholat sunnah yang lainnya.
Selesai Sholat, Aleeya tidak lupa berdoa untuk kebaikan dan keselamatan temannya, Windy. Meskipun mereka baru kenal, namun Aleeya merasa bertanggung jawab juga untuk melindungi temannya itu agar tidak terjerumus pada hal – hal haram. Semoga apa yang ditakutkannya dan juga Tante Murni tidak terjadi. Ya.. Aleeya sangat-sangat berharap didalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, Aleeya membaringkan tubuhnya ketempat tidur. Dan dengan membaca doa tidur sebelumnya, setelah itu barulah ia memejamkan matanya dan iapun tidur dengan pulas dan sebelum itu ia kembali berharap esok hari Windy pulang dengan selamat.
.Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Windy sudah pulang. Aleeya lagi mandi saat temannya pulang, sayup-sayup dari dalam kamar mandi ia mendengar Tante Murni mengomel panjang lebar. Aleeya penasaran, maka dia buru- buru menyelesaikan mandinya.
Setelah itu, ia keluar dari kamar mandi dengan sudah brepakaian lengkap. Aleeya langsung ke depan dan seketika itu juga mendapati Tante Murni berdiri disana dengan berdecak pinggang, begitu juga Andra dengan wajah yang jengkel.
"Tante, ada apa?" Tanya Aleeya dengan bingung.
"Itu teman kamu memang gak ada sopan santunnya, Lya. Main pergi aja." Ujar Tante Murni dengan marah sambil menunjuk kearah luar
"Gak tahu diri tu cewek, sudah ditumpangi malah pergi begitu saja, bilang terimakasih pun tidak" Andra ikut menimpali.
"Windy sudah pulang Tante?" Tanya Aleeya untuk lebih menyakinkan lagi.
"Iya, dia pulang cuman ambil pakaiannya aj. Habis itu pergi lagi sama seorang cowok. Tante Panggil-panggil, tapi dia tidak menyahut." Jelas Tante MUrni dengan nada kesal.
"Ya, Allah.. Windy kenapa sih," Aleeya langsung kekamar dan mengambil Hpnya. Ia coba menghubungi Windy, namun nomornya tidak aktif.
"Sudah lah Lya, gak ada gunanya kamu hubungi dia lagi." Kata Tante Murni.
"Iya, Tante. Lya minta maaf ya Tante, Lya juga gak nyangka Windy akan seperti ini" Kata Aleeya semakin merasa tidak enak hati terhadap Tante MUrni.
"Kamu gak perlu minta maaf, gak salah kamu juga. Sedangkan yang benaran salah saja gak mau mintak maaf" Sahutnya.
"Ya tetap saja Tante, kan Aleeya yang bawa Windy kesini." Lanjut Aleeya lagi.
"Yadah Tante Maafin, tapi lain kali kamu harus berhati-hati dalam memilih teman, Lya. Terkadang dari luar kelihatan baik tapi kita gak tahu gimana dalamnya, Tante gak mau saja kamu salah bergaul" Nasihatnya.
"Iya, Tante. InshaAllah.." Jawab Aleeya dengan menundukkan kepalanya, karena sungguh ia merasa tidak enak dengan Tante MUrni yang sudah memberikan tumpangan kepada Windy tapi wanita itu malah bersikap tidak sopan terhadap Tante Murni.
"Ya sudah, Lupakan saja dia. Oya, apa kegiatan kamu hari ini?" Tanya Tante MUrni.
"Hhmm... Masih orientasi hari terakhir Tante" Jawab Aleeya.
"Kamu hari ini pergi pakai apa? pakai becak lagi?" Tanya Tante Murni.
"Iya, rencana sih gitu Tante" Jawab Aleeya.
"Bagaimana jika Andra saja yang antar kamu, Lya." Usul Tante Murni. Belum sempat Aleeya menjawab, Andra malah menyahut dari kamarnya.
"AKU GAK MAU, MA..!!!" Teriak Andra dengan suara yang menggelegar.
"Dasar, belum apa-apa sudah nolak aja tu anak" Umpat Tante Murni.
"Gak usah Tante, Aleeya pakai becak saja" Kata Aleeya akhirnya.
__ADS_1
"Kamu yakin? Gak takut naik becak sendirian? Semalam kan sama Windy" Tante Murni bertanya dengan pandangan tidak lepas dari Aleeya.
"Gak, InshaAllah gak takut kok Tante, lagi pula Bapak tukang becaknya baik kok, ramah juga" Jelas Aleeya.
"Biar saja dia naik becak Ma, jangan dimanjain" Andra masih menyahut dari kamarnya.
"ANdra, kamu keluar gih dari kamar. Anak cowok kok mainnya dikamar aja sih" Tante Murni mengomeli Andra.
"Malas keluar, ada pemandangan yang tidak enak. Bikin sakit mata aja" Kata Andra yang Aleeya yakini itu sindiran untuknya.
"Jangan didengarin, Aleeya. Dia memang gitu" Katanya
"Oh, yadah kalau gitu. Kamu hat-hati ya, maaf tante gak bisa antarin kamu karena masih sibuk ngawas ujian" Lanjut Tante Murni lagi.
"Ya gak apa-apa tante, Aleeya maklum kok" Jawab Aleeya dengan tersenyum ramah.
Setelah itu, mereka sarapan sama-sama. Kecuali Andra tentunya, lelaki itu memilih sarapan dikamar ditimbang bareng sama Aleeya. Aleeya bingung dan juga heran, entah apa salah dirinya dengan lelaki itu sehingga ia selalu ketus terhadapnya.
Beberapa menit kemudian, Becak yang akan membawa Aleeya ke dinas pun tiba.
Aleeya lalu berangkat, dengan sebelumnya ia berpamitan dengan Tante Murni dan juga Dika. Sepanjang perjalanan, Aleeya tidak berhenti menghubungi Windy namun nomornya masih tidak aktif juga.. Sesampainya didinas, mata Aleeya tidak berhenti menelusuri sekelilingnya, mencari keberadaan Windy. Namun, Aleeya sama seklai tidak melihat Windy ada disana, didruangan tempat orientasinya pun tidak ada.
"Hai, lagi cari siapa?" Sebuah suara nyaring tiba-tiba menyapa Aleeya. Suara siapa lagi selain Fauzal.
"Aku sedang mencari Windy, kamu ada lihat Windy gak?" Tanya Aleeya.
"Windy, Hmm.. gak ada lihat, bukannya kalian tinggal serumah."Tanya Fauzal dengan heran.
Kemudian, Aleeya masuk kedalam ruangannya. Selang beberapa menit kemudian, beberapa staf Dinas masuk dan memulai kegiatan pada hari itu.
Aleeya tidak begitu konsentrasi menyimak materi yang disampaikan oleh staf dinas tersebut, pikirannya masih melayang-layang ke Windy. Persaan risau itu pasti ada, apalagi dia tidak melihat Windy pagi ini. Apa dia memang tidak datang? Aleeya hanya bisa bertanya-tanya didalam hatinya.
Setelah selesai materi pertama, Aleeya izin sebentar keluar. Aleeya pergi keruangan tempat Windy orientasi, ia bertanya kepada salah satu orang disana dimana keberadan Windy akan tetapi satu pun dari mereka tidak ada yang tahu, hal ini membuat perasaan Aleeya semakin cemas dan tidak karuan. Pikiran burukpun mulai hinggap dibenaknya.
"Lya, sudah ketemu Windynya?" Lagi dan Lagi Aleeya bertemu Fauzal, entah laki-laki itu mengikuti atau kebetulan, Aleeya tidak pun tahu. Yang jelas ia merasa sangat terganggu dengan sikap sok akrabnya Fauzal itu. Yang selalu memulai pembicaraan kepadanya.
"Belum, mungkin dia tidak datang" Jawa Aleeya seadanya.
"Ohh. Oya, mulai besok kita sudah disuruh ketempat kita masing-masing lo" Kat Fauzal memberitahu Aleeya.
"Oya? siapa yang bilang begitu?" Tanya Aleeya
"Tadi kakak-kakak diruangan kita yang bilang, kita disuruh untuk melapor ditempat masing-masing besok" Jelas Fauzal.
"Kamu tadikan keluar duluan, makanya gak tau" Sambungnnya lagi.
"Besok ya?" LIrih Aleeya dengan pelan. Fauzal hanya mengangguk dengan mantap.
"Tempat kita itu satu kecamatan, kamu kan didesanya sedangkan aku di Puskesmas. Tapi, kamu gak mungkin kan langsung ke desa nya, pasti ke Puskesmas dulu setidaknya jumpa dengan kepala puskesmasnya dulu" Kata Fauzal.
__ADS_1
"Ya, memang iya sih" Gumam Aleeya.
"Jadi, kamu sudah tau mau pergi pakai apa?" Fauzal kembali bertanya.
"Ya belum tahu, emangnya jauh ya?" Tanya Aleeya karena dia memang sama sekali tidak tahu dimana tempatnya.
"Jauh banget Aleeya, tempat kita itu kecamatan paling ujung dan terjauh di kepulauan ini." Jawab Fauzal dengan terkekeh-kekeh. Aleeya langsung menelan ludahnya.
"Bisa ditempuh dengan jalan darat da juga kapal, kalau jalan darat sekitar 5-6 jam kalau naik kapal sekita 3-4 jam." Jelas Fauzal.
"Jadi kamu mau yang mana, hayo??" Tanya Fauzal dengan melirik Aleeya sambil senyum-senyum.
"Nantik aku pikirkan" Sahut Aleeya lalu berlalu dari sana.
"Eh, Aleeya... Mau kemana? Aku belum selesai ngomong" Fauzal mengejar Aleeya yang sudah berjalan dengan cepat.
Saat pulang, Aleeya bermaksud untuk mencari keberadaan Windy tapi dia bingung mau cari Windy kemana. Nomor hpnya tidak aktif-aktif juga.
"Apa Windy ganti nomor ya?" Aleeya menduga-duga didalam hatinya.
Sesaat kemudian, Aleeya yang sedang berdiri didepan dinas untuk menunggu becak tiba-tiba dikaget kan lagi dengan kedatangan Fauzal.
"Lya, besok mau bareng sama aku tidak naik kapal Ke puskesmasnya ?" Tanya Fauzal yang menawarkan Aleeya untuk naik kapal bersamanya.
"Hhhmmm... Gak usah, aku naik kapal yang lain saja" Jawab Aleeya. Fauzal langsung tertawa mendengar jawaban dari Aleeya tersebut.
"Aleeya, kapal yang lain mana? Kapan menuju kesitu itu cuman satu dan di jam pagi saja" Kaya Fauzal dengan tersenyum simpul,.
"Oh, gitu ya" Kata Aleeya dengan menggit lidah bagian bawahnya.
"Iya, makanya aku ngajak kamu pergi bareng karena aku sudah tanya ke semua nakes yang lainnya gak ada ditempatkan daerah sana selain kita berdua." Lanjut Fauzal lagi.
"Cuman kita berdua daerah situ?" Tanya Aleeya seakan tidak percaya. Kedua alisnya menjadi beradu dibuatnya.
"Iya, Lya" Fauzal mengangguk mantap.
"Jam berapa berangkatnya?" Aleeya bertanya lagi.
"Jam 7 pagi sudah berangkat katanya, jadi sebelum jam 7 kita sudah disana lah. Takutnya entar telat dan ketinggalan motor pulak" Lanjutnya lagi.
Aleeya memijit keningnya yang mulai berdenyut. Besok dia harus ke seberang dan bersama lelaki ini, entahlah... Aleeya merasa galau teramat dalam.
"Pelabuhannya dimana?" Aleeya bertanya lagi, karena dia pendatang disini. Dia tidak tahu tempat dan segala hal yang ada di kepulauan ini.
"Rumah kamu dimana? Biar aku jemput saja besok pagi" Kata Fauzal akhirnya.
"JANGAN. Aku naik becak aja atau aku bisa minta antar sama tante aku" Kata Aleeya yang langsung menolak ajakan dari Fauzal.
"Oke kalau begitu, yang penting ingat ya? Jangan terlambat. KArena tidak ada lagi kapal selain itu" Kata Fauzal mengingatkan. Aleeya hanya mengangguk lalu pamit pulang karena becak sewaannya sudah datang untuk menjemputnya.
__ADS_1
***