
Aleeya memijit keningnya yang mulai berdenyut. Besok dia harus ke seberang dan bersama lelaki ini, entahlah... Aleeya merasa galau teramat dalam.
"Pelabuhannya dimana?" Aleeya bertanya lagi, karena dia pendatang disini. Dia tidak tahu tempat dan segala hal yang ada di kepulauan ini.
"Rumah kamu dimana? Biar aku jemput saja besok pagi" Kata Fauzal akhirnya.
"JANGAN. Aku naik becak aja atau aku bisa minta antar sama tante aku" Kata Aleeya yang langsung menolak ajakan dari Fauzal.
"Oke kalau begitu, yang penting ingat ya? Jangan terlambat. KArena tidak ada lagi kapal selain itu" Kata Fauzal mengingatkan. Aleeya hanya mengangguk lalu pamit pulang karena becak sewaannya sudah datang untuk menjemputnya.
Saat dirumah, Aleeya menceritakan semua kepada Tante Murni tentang dirinya yang harus ke desa seberang esok hari untuk orientasi disana.
"Desa mana tadi?" Tanya Tante Murni.
"Desa Dedap, Tante." Jawab Aleeya.
"Aduh, kalo gak salah desa itu terletak paling ujung di kepulauan ini, Lya. Jauh sekali itu." Kata Tante Murni dengan ke geleng ngel engkau kepalanya.
"Iya, kata kawan Lya gitu juga, Tante." Lirih Aleeya. Ia merasa galau juga dibuatnya, kenapa harus secepat ini dia orientasi ke sananya, kenapa dia tidak disini saja dulu. Tinggal bersama Tante Murni. Tapi, kembali lagi. Cepat ataupun lambat, dia memang harus kesana juga. Karena inilah jalan hidup yang sudah ia pilih dari awal. Mau tidak mau Aleeya harus menghadapinya.
"Jadi, kamu rencananya mau pergi dengan siapa kesananya?" Tanya Tante Murni.
"Ada sama teman Lya, Tante. tapi, cowok. Kebetulan penempatan diseberang sana cuman kami berdua saja." Jelas Aleeya.
"Gitu ya?? Hhmmm.. Tapi, setelah disana kamu akan tinggal dimana Lya?" Tante Murni kembali bertanya dengan nada risau.
"Itulah Lya belum tau tante mau tinggal dimana. Yang jelas setelah sampai disana, kami akan melapor dulu ke Puskesmas, sedangkan Aleeya nantinya akan ditempatkan di desa. Kalau di desa biasanya ada poskesdesnya, Tante. Jadi, Aleeya tinggal di Poskesdes kalau di Desa." Jelas Aleeya panjang lebar.
"Ya, itu kalau di desa. Tapi, kan kamu gak langsung di desa.. Harus orientasi dulu di Puskesmas. Sedangkan dari Puskesmas ke desa kamu itu kira-kira berapa jam lagi perjalanannya ?"
"Kata teman Lya itu sekitar 2-3 jam dengan menggunakan motor, itupun kalau jalannya gak hancur, biasanya jika musim hujan begini jalannya hancur Tante karena masih jalan tanah." Ujar Lya dengan menggigit bibIir bagian bawahnya ketika ia ingat dengan apa yang dikatakan Fauzal tadi bahwa jalan menuju kedesanya itu sangat buruk. Tidak terbayang olehnya bagaimana nantik dia makan menempuh jalan yang seperti itu. Aleeya yang biasa tinggal dikota dengan jalan yanhmg bagus pasti akan kenak mental jika dihadapkan dengan jalan yang buruk.
"Ya udah gini saja." Kata Tante Murni seakan mendapatkan ide yang cemerlang.
"Bagaimana jika Andra yang mengantar kamu, mengenai kamu nginap dimana nantik Tante tanya sama teman-teman Tante mana tau ada kenalan dia atau keluarga dia di dekat puskesmas itu." Kata Tante Murni dengan antusias.
"Hhmm.. Sebenarnya Aleeya gak enak harus merepotkan Tante dan Andra terus, gak apa-apa Aleeya pergi sendiri aja Tante." Ucap Aleeya.
"Iya Ma.. Biar ajalah dia pergi sendiri. Mama gak usah pening-pening mikirin dia mau pergi sama siapa." Andra menyahut dari kamarnya. posisi kamar Andra yang dekat dengan dapur jadi membuat ia mendengar apa yang dibicarakan oleh Mamanya dan Aleeya.
"Andra, sekali lagi kamu ngomong seperti itu Mama gak bakalan mau lagi berbicara sama kamu ya!" Ancam Tante Murni.
__ADS_1
"lah.. segitunya.." Ujar Andra setelah itu diapun terdiam.
"Iya lagian kamu itu bukannya ngasih semangat ataupun ide apa gitu. Ini tidak malah membuat mental Aleeya semakin down aja." Omel Tante Murni terhadap anaknya itu.
"Lagi pula apa susahnya sih kamu bersikap baik sekali aja dengan Aleeya. Dia ini sudah baik, shaliha, sopan, lembut.. Masak kamu selalu ketus dengan wanita nyaris sempurna ini sih, Ndra? Heran lah Mama sama kamu ini." Tante Murni masih meneruskan omelannya. Sedangkan Andra tidak lagi menanggapi omelan dari Mamanya itu.
***
Keesokan harinya, setelah selesai mandi dan sholat subuh, Aleeya langsung bersiap-siap. Setelah itu, ia pun melangkah ke dapur dan mendapati Tante Murni sudah berada disana bersama... Andra. Aleeya sedikit kaget melihat Andra yang sudah bangun sepagi ini.
"Eh, Aleeya sudah siap ya? Mari sarapan dulu." Ajak Tante Murni. Aleeya lalu duduk tepat disebelah Andra karena hanya kursi itulah yang kosong. Andra tampak sedang menyeruput kopinya dengan wajah yang datar.
"Lya, kamu pergi gak berdua saja sama teman kamu itu. Andra juga ikut mengantar kamu kesana." Kata Tante Murni yang membuat Mata Aleeya langsung terbelalak kaget.
"Gak usah kaget - kaget gitu, biasa ajalah.." Kata Andra lalu kembali meminum kopi hitamnya.
"Dan disana nantik ada rumah saudara Tante ternyata, kamu nginap disana saja. Sampai disana mereka yang akan jemput" Lanjut Tante Murni lagi.
"Aduh, Aleeya jadi gak enak karena Sudah terus-terusan merepotkan Tante dan juga.. Andra" Kata Aleeya merasa tidak enak hati.
"Gak apa-apa, Lya. Tante senang kok bisa membantu kamu. Begitu juga dengan Andra, IYA KAN ANDRA???" Tanya Tante Murni dengan menekankan kata-kata terakhirnya itu seraya melirik tajam juga kearah Andra.
"Hhhmmmm..." Gumam Andra malas-malasan.
Sesampainya di pelabuhan..
"Lya.." Seorang lelaki memanggil Aleeya. Mereka serentak langsung menoleh kebelakang.
"Eh, Aleeya diantar sama keluarganya ya? Kenalkan Tante, saya Fauzal. Temannya AleeyA yang kebetulan bertugas ditempat yang sama nantiknya." Ucap Fauzal mengenal kan dirinya.
"Oh, ini temannya Aleeya.." Kata Tante Murni dengan manggut - manggut tapi lirikan matanya terlihat agak lain.
"Aleeya akan diantar sama anak Tante, ini dia, Andra namanya." Kata Tante Murni dengan menarik tangan Andra agar lebih dekat dengan mereka semua.
"Oh, gitu ya.." Ucap Fauzal dengan tersenyum tipis namun didalam hatinya merasa tidak senang dengan kehadiran Andra yang juga ikut mengantar.
"Itu sudah disuruh naik. Cepetan Kalian naik keatas." Tunjuk Tante Murni kearah Kapal yang sudah mulai ramai dengan manusia yang berangkat saat itu.
Setelah itu, Aleeya pamit dengan Tante Murni dan tidak lupa menyalaminya dulu.
"Kamu hati-hati ya, Lya. Dan.. Andra, kamu jagain Aleeya ya. Kamu Pastikan Aleeya dapat tempat menginap yang bagus disana baru kamu boleh pulang." Pesan Tante Murni sebelum mereka naik keatas kapal tersebut.
__ADS_1
"Iya, Iya Ma. Oke." Kata Andra agak malas-malasan.
Setelah itu, mereka pun naik keatas kapal. Aleeya duduk di kursi kosong dekat jendela, sedangkan Andra duduk dibagian belakang. Fauzal yang masuk belakangan, berhenti sebentar dan matanya melihat ke sekeliling, mencari kursi yang masih kosong sampai akhirnya dia malah duduk disamping Aleeya.
"Aku disini ya?" Tanya Fauzal, tanpa menunggu jawaban dari Aleeya, laki-laki malah langsung duduk disana.
"Masih banyak tempat duduk yang masih kosong, ngapain disini?" Aleeya langsung protes. Padahal dia sengaja pengen duduk sendiri. Tapi, si lelaki bawel itu malah menawarkan diri untuk duduk disampingnya.
"Sengaja aja, Lya. Kalau duduk disini kan aku bisa ngobrol sama kamu. Perjalanannya lumayan jauh juga lah.. Apa gak bosan tu duduk diam tanpa mengobrol." Kata Fauzal dengan senyum kengengesannya.
"Aku sedang gak ingin ngobrol. Maaf, jadi percuma saja Kalau kamu duduk disini tidak akan aku tanggapi obrolan yang akan kamu berikan itu." Kata Aleeya dengan suara yang pelan agar lelaki itu tidak tersinggung dan segera pergi dari sana.
"Oke kalau kamu gak mau ngobrol juga gak apa-apa. Tapi, aku akan tetap duduk disini. Malas aku pindah - pindah lagi." Katanya lagi yang membuat wajah Aleeya langsung berubah kesal.
"Eehmmm... Minggir, aku yang duluan duduk disini tadi." Tiba-tiba Andra datang dan mengusir Fauzal. Fauzal langsung memandang Andra dengan wajah yang bingung.
"Lah sejak kapan? Setahu aku disamping Aleeya sejak tadi kosong." Kata Fauzal merasa tidak terima karena diusir tiba-tiba oleh Andra.
"Sedari tadi aku disini. Cuman ada panggilan menadadak makanya aku kebelakang" Jawab Andra tidak mau kalah.
"Salah sendiri kenapa pindah kebelakang tadi?" Sambung Fauzal lagi yang membuat wajah Andra langsung berubah marah.
"Eh, aku suruh pindah ya pindah. Jangan banyak komentar lagi." Kata Andra Dengan melototkan matanya. Fauzal yang tidak ingin ribut akhirnya pindah juga dari sana. Sedangkan Aleeya hanya diam mendengar perdebatan Antara mereka berdua dalam merebut posisi tempat duduk disamping Aleeya.
"Berterima kasih lah dengan aku karena sudah berhasil mengusir lelaki itu dari sini" Kata Andra setelah Fauzal pergi dari sana. Tapi, lelako ittu berakta tanpa memandang wajah Aleeya sedikitpun.
Aleeya masih bungkam, memang iya merasa bersyukur tidak lagi di ganggu dengan kebawelan si Fauzal namun saat ini sama saja jika ia harus duduk bersebelahan lagi sama lawan jenisnya. Padahal dia hanya ingin sendiri.. Dia sangat risih berada didekat lelaki yang bukan mahramnya.
"Kamu tetap duduk disini?" Tanya Aleeya dengan menaikkan satu alisnya. Saat itu kapal sudah berangkat meninggalkan pelabuhan.
"Emang kenapa ? Kamu mau usir aku ya?" Tanya Andra yang kali ini langsung menoleh kearahnya.
"Hhmmm... " ALeeya hanya bergumam lalu mengalihkan pandangannya ke jendela. Ia melihat hamparan laut biru yang terbentang dengan indah. Hati dan pikirannya menjadi lebih sejuk dan tenang melihat laut tersebut. Aleeya tersenyum puas melihat keindahan yang ada disampingnya.
Setelah itu, mereka saling diam. Andra tampak memasang headset ditelinganya. Aleeya yakin dia pasti sedang mendengarkan musik. Lalu dia menutup wajahnya dengan topi dan detik kemudian Aleeya mendengar suara dekuran dari lelaki disebelahnya ini. Ternyata lelaki itu sudah tertidur dengan pulas. Aleeya menguap. Rasa kantuk entak mengapa tiba-tiba menghampirinya dan akhirnya ia pun tertidur juga. . .
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG..
***