Kisah Aleeya

Kisah Aleeya
SEMBILAN BELAS


__ADS_3

Aleeya masih bungkam, memang benar ia merasa bersyukur tidak lagi di ganggu dengan kebawelan si Fauzal namun saat ini sama saja jika ia harus duduk bersebelahan lagi sama lawan jenisnya. Padahal dia hanya ingin sendiri.. Dia sangat risih berada didekat lelaki yang bukan mahramnya.


"Kamu tetap duduk disini?" Tanya Aleeya dengan menaikkan satu alisnya. Saat itu kapal sudah berangkat meninggalkan pelabuhan.


"Emang kenapa ? Kamu mau usir aku ya?" Tanya Andra yang kali ini langsung menoleh kearahnya.


"Hhmmm... " ALeeya hanya bergumam lalu mengalihkan pandangannya ke jendela. Ia melihat hamparan laut biru yang terbentang dengan indah. Hati dan pikirannya menjadi lebih sejuk dan tenang melihat laut tersebut. Aleeya tersenyum puas melihat keindahan yang ada disampingnya.


Setelah itu, mereka saling diam. Andra tampak memasang headset ditelinganya. Aleeya yakin dia pasti sedang mendengarkan musik. Lalu dia menutup wajahnya dengan topi dan detik kemudian Aleeya mendengar suara dekuran dari lelaki disebelahnya ini. Ternyata lelaki itu sudah tertidur dengan pulas. Aleeya menguap. Rasa kantuk entah mengapa tiba-tiba menghampirinya dan akhirnya ia pun tertidur juga.


Aleeya terbangun saat kapal berhenti, Aleeya pikir mereka telah sampai maka ia langsung membangunkan Andra. Aleeya memanggil Andra, namun lelaki itu tidak mendengar panggilan Aleeya tersebut karena saking pulasnya ia tertidur. Aleeya bingung harus membangunkannya bagaimana, tidak mungkin kan dirinya menyentuh lelaki itu. Aleeya menggelengkan kepalanya, maka ia putuskan untuk lebih membesarkan suaranya dan memanggil Andra.


"Andra, hai.. Bangun.. Kita sudah sampai belum nih? Kapal nya sudah berhenti." Kata Aleeya tapi lagi-lagi belum ada jawaban apa-apa dari Andra. Aleeya melirik ke telinga Andra yang terkadang headset.


"Hhmm.. Pantasan.." Lalu Aleeya melihat kebelakang, ditempat Fauzal duduk. Ternyata sama saja lelaki itu juga tertidur. Lalu sebuah idepum muncul dibenak Aleeya, ia mengambil sebuah pena dari dalam tas ranselnya, dan kemudian membuka tutup pena tersebut dan setelah itu menusuk kan ujung pena ke tangan Andra dengan sedikit kuat. Alhasil usaha Aleeya tersebut berhasil. Andra akhirnya terbangun.


"Aduh, sakit.. Apaan tu tadi..?" Tanya Andra dengan memegang tangannya yang ditusuk dengan pena oleh Aleeya.


"Karena ini," Ujar Aleeya seraya menunjukkan pena miliknya didepan wajah Andra.


"Apa - apaan kamu ha? Tusuk-tusuk tangan aku pakai pena itu," Kata Andra dengan kesal.


"Aku bangunin kamu, panggil-panggil kamu tapi kamunya gak dengar. Nyenyak kali tidurnya makanya aku inisiatif menusukkan ujung pena ini ke kulit tangan kamu. Maaf ya kalau sakit." Jelas Aleeya dengan merasa sedikit gak enak.


"Ya jelas sakitlah," Jawab Andra dengan garang.


"Ngapain bangunin aku?" Andra lanjut bertanya.


"Kapal berhenti, apa kita turun disini?" Kata Aleeya seraya tangannya menunjuk kearah luar.


"Belum Aleeya, masih jauh lagi. Kan sudah aku bilang sejak awal perjalanan laut sekitar 3-4 jam. Ini baru 1 jam kita jalan." Jelas Andra.


"Iya, maaf aku lupa." Jawab AlEeya seadanya.


"Yadah kamu tidur aja lagi, maaf sudah mengganggu." Kata Aleeya merasa tidak enak hati karena sudah membangunkan Andra yang tengah tidur.


"Gak bisa lagi. Sudah hilang ngantuknya." Jawab Andra dengan ketus. Aleeya hanya diam.


Setelah itu, hening. Andra terlihat sibuk dnegan handphonenya. Sedangkan Aleeya mengisi kesuntukannya dengan membaca Mushaf kecilnya yang selalu ia bawa kemanapun dia pergi. Mushaf berwarna biru muda itu adalah Mushaf kesayangannya karena benda itu adalah pemberian seseorang yang istimewa baginya. Tiba-tiba saja pikiran Aleeya membawa dia untuk ingat ke lelaki yang sudah memberikan ia benda tersebut.


"Anggap saja Mushaf ini adalah Hadiah untuk tulang rusuk spesial, semoga Tetap istiqomah, Aleeya."


Itulah salah satu pesan yang selalu menyemangati Aleeya dalam proses hijrahnya. Tapi, setelah dirinya berhasil hijrah dan belajar bersama wanita-wanita shaliha lainnya, lelaki itu malah menjauh dan malahan ia mengganti nomer hpnya tanpa mengabari Aleeya. Dua tahun sudah Aleeya tidak lagi mendapat kabar dari Aal, mau minta nomor hpnya yang baru dari kak Hilma, Aleeya tidak berani. Rasa malu yang menghalanginya, lebih baik ia memendam rasa ini dalam hatinya, rasa dalam diam.


"Uuiii... Malah melamun.." Tiba-tiba Andra membuyarkan lamunan Aleeya tentang Aal. Aleeya langsung menatap lelaki yang ada disebelahnya ini dengan bingung.


"Kenapa?" Aleeya bertanya.


"Teman kamu yang satu itu nginap dimana dia ?" Andra bertanya serambi menunjuk Fauzal dengan ujung dagunya.


"Aku gak tau. Kenapa kamu gak tanya aja langsung sama dia." Kata Aleeya dengan mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Malas. Kamu kan temannya masak dia gak cerita apa-apa sama kamu." Kata Andra.


"Ya dia memang gak ada cerita apa-apa," Jawab Aleeya.


"Yasudah.." Kata Andra lalu kembali menutup wajahnya dengan topi, sepertinya lelaki ini akan kembali tidur lagi. Setelah itu, Aleeya kembali melanjutkan membaca Mushafnya dengan suara yang pelan.


Beberapa saat kemudian, Andra terbangun dan melirik ke sebelah Aleeya yang masih betah dengan lantunan Ayat Al-Quran yang terdengar Merdu ditelinga.


"Suara kamu bagus baca Al-Quran, kenapa gak ikut lomba baca Al-Quran aj,  Pasti juara satu" Entah ada angin apa tiba-tiba saja lelaki yang selalu bersikap ketus Aleeya malah memujinya seperti itu. Aleeya langsung memberhentikan sejenak bacaannya.


"Terimakasih atas pujiannya, tapi aku belum ada kepikiran untuk ikut lomba" Jawab Aleeya dengan tersenyum tipis namun sedikitpun tidak memandang kearah Andra.


"Kenapa? Kurang Percaya diri ya? Padahal bagus Lo." Andra kembali memuji.


"Ngak kenapa-napa, aku gak mau saja. Memang bagus seni Membaca Al-quran ini dilombanya tapi alangkah bagusnya lagi jika bacaan Alquran ini ditadabbur atau dipelajari untuk pedoman hidup" Jawab Aleeya.


"Ya.. Ya.. Ya.. Tapi itu bagi yang mau, tapi kebanyakan manusia sekarang kan malas mempelajari Al-Quran." Celetuk Andra dengan cuek.


"Itulah pentingnya dakwah, kalau banyak seruan dan ajakan untuk mengkaji Al-Quran Inshaallah banyak yang mau kok apalagi jika mereka sudah tahu besarnya pahala dalam belajar Al-Quran." Jawab Aleeya yang seakan gatal lisannya untuk mendakwahi Andra. Namun, hati kecilnya langsung berkata.


'Ingat Aleeya, ikhwan mengkajinya dengan Ikhwan juga, begitu juga dengan akhwat'


"Kamu kok betah berpakaian seperti ini? Apa gak panas tuh? Belum cuaca yang panas beberapa hari belakangan ini, apa gak tambah gerah tu." Kata Andra yang tiba-tiba malah mengalihkan pembicaraan mereka dengan bertanya mengenai pakaian yang Aleeya pakai.


Aleeya terdiam untuk sekian detik, dalam hati ia menimbang-nimbang, apakah pantas dirinya menjelaskan mengenai cara berpakaian yang benar dalam islam ke Andra?? Tak perlu bertanya lagi, Aleeya sudah tau jawabannya.


"Kamu benaran ingin tahu jawabannya apa??" Tanya Aleeya lagi.


"Hhhmmm... Andra, kamu akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan kamu itu, tapi tidak dari aku. Nantik aku kasih kontak seOrang ustad ke kamu, dan kamu bisa bertanya Sepuasnya dengan ustad tersebut." Kata Aleeya akhirnya. Andra langsung bingung.


"Aneh kamu ini, ngapain bertanya dengan ustad segala. Gak jadilah.. gak usah lagi." Kata Andra lalu kembali menutup telinganya dengan headset. Aleeya pun tidak lagi menanggapinya dan kembali meresapi bacaan Al-Quran nya.


Akhirnya sudah 4 jam perjalanan menggunakan kapal yang kecil itu, mereka sampai disebuah kecamatan yang terletak paling ujung dan terjauh dari ibu kotanya.


Semua penumpang turun dari kapal dengan perlahan-lahan, gelombang pada saat itu agak kuat. Sehingga saat mereka berdiri kapal kecil tersebut terasa bergoyang - goyang yang membuat penumpang yang sudah berdiri menjadi terombang-ambing kekiri dan kekanan.


Begitu juga dengan Aleeya, gelombang yang kuat tersebut membuat kepalanya sedikit pusing sehingga saat berdiri dirinya tidak bisa menyeimbangkan badannya sehingga membuat Aleeya malah ambruk kearah belakang. Dibelakang sudah ada Andra yang siap menangkap tubuh Aleeya yang mulai ambruk.


"Eh.. Eh.. Ngapa kamu Aleeya??" Tanya Andra yang sudah menahan tas ransel Aleeya yang ia sandang.


"Astaghfirullah.. Maaf, maaf.. Aku sedikit pusing karena goyang - goyang gini kapalnya." Jawab Aleeya, beruntung Aleeya sudah menyandang ranselnya jadi Andra tidak menyentuh badannya saat hampir terjatuh tadi melainkan ia memegang bagian tasnya Aleeya.


"Kalau pusing, duduk aja dulu. Jangan dipaksain untuk turun. Entar aja kalau gelombangnya sudah agak lumayan." Kata Andra memberi saran. Aleeya mengiyakan saran tersebut, lalu ia pun duduk dikursinya tadi.


Setelah semua orang turun, yang tinggal hanya dirinya, Andra dan juga Fauzal.


"Gimana masih pusing ya??" Tanya Andra. Fauzal yang mendengar pertanyaan dari Andra tersebut langsung menuju ketempat duduknya mereka.


"Aleeya kenapa ? Sakit?" Tanya Fauzal dengan risau.


"Cuman pusing dia karena gelombang tadi." Andra yang menjawab.

__ADS_1


"Sekarang masih pusing?" Fauzal yang bawel itu kembali bertanya.


"Ngak lagi kayaknya." Andra menjawabnya lagi.


"Aku bertanya dengan Aleeya, bukan dengan kamu ya!" Kata Fauzal dengan kesal karena sejak tadi ia bertanya malah Andra yang menjawabnya.


"Ya suka-suka aku kalau mau menjawab. Emang masalah sama kamu, ha?" kata Andra dengan ketus.


"Mending kamu turun, ngapain lagi disini?" Lanjut Andra lagi kali ini dengan setengah mengusir.


"Ya suka suka akulah, aku mau turun barengan sama Aleeya." Sahut Fauzal dengan matanya yang melotot.


"Gak lihat Aleeya masih pusing, biar saja dia istirahat dulu." Kata Andra lagi.


"Oke kalau begitu aku tunggu Aleeya sampai dia  gak Pusing lagi" Kata Fauzal masih dengan kekerasan hatinya itu lalu duduk dikursi kapal. Aleeya yang mendengar perdebatan tersebut langsung berdiri.


"Permisi.." Ujar Aleeya lalu mekangkahkan kakinya menuju keluar.


"Eh, mau kemana?" Andra bertanya seraya menyusul Aleeya yang sudah turun dari kapal.


Fauzal juga melakukan hal yang sama.


Setelah turun dari kapal, Aleeya terduduk disebuah kursi dekat warung. Tiba-tiba saja ia merasa mual dan pusing Semakin bertambah-tambah. Aleeya memijit kepalanya dengan kuat dan kemudian mencari sesuatu dari dalam tasnya. Ia mengambil sebuah obat sakit kepala dan langsung menelan obat tersebut.


"Masih sakit?" Andra datang dan duduk disebelah Aleeya. Sedangkan Fauzal berdiri didepan mereka.


"Iya, masih." Jawab Aleeya.


"Ya sudah kamu duduk aja dulu disitu, aku mau nelpon saudara Mama dulu, biar bisa jemput kita." Kata Andra akhirnya. Aleeya hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu gak apa-apa, Lya? Sudah minum obat?" Tanya Fauzal dan duduk disamping Aleeya. Sedangkan Andra sudah beranjak dari sana untuk mencari sinyal yang bagus agar bisa menelpon.


"Sudah agak mendingan." Jawab Aleeya dan kembali meneguk minumannya yang sudah tinggal sedikit.


"Ini minum lagi," Kata Fauzal dnegan menyodorkan sebuah minuman yang masih bersegel.


"Terimakasih, tapi ini masih ada kok minum aku." Tolak Aleeya dengan halus.


"Kan sudah hampir habis, ambil aja Lya." Kata Fauzal setengah memaksa.


"Eh, minggir. Lebih baik kau minum sendiri aja air itu. Ayo, Lya. Kita tunggu disana aj.." Ajak Andra dengan menarik tas ransel Aleeya yang mau gak mau Aleeya mengikuti kemana Andra membawanya..


.


.


.


.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2