Kisah Aleeya

Kisah Aleeya
DUA BELAS


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, tidak terdengar lagi ocehan dari mulut Andra. Aleeya yakin dia pasti sudah masuk ke kamarnya. Maka karena sudah merasa aman, akhirnya Aleeya kembali keluar dari kamar dan menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Bagaimanapun kebiasaannya untuk melaksanakan sholat tahajud tidak boleh ditinggalkan.


Selesai melakasanakan sholat tahajud empat rakaat, Aleeya kembali mengistirahtkan matanya dengan tidur dengan sebelumnya tidak lupa ia menghidupkan alarm untuk bangun di jam 5 subuh agar bisa melaksanakan sholat subuh diawal waktu.


Keesokan harinya, Aleeya yang sudah mandi sholat dan berganti pakaian langsung menuju kedapur. Begitu juga dengan Windy, tanpa dipinta mereka langusng membantu Tante Murni yang sudah terlihat sibuk membuat sarapan untuk mereka.


“Tante masak apa? Biar kami bantu Tante..” Tawar Windy yang langsung menuju kedapur sedangkan Aleeya terlihat sedang mencuci piring.


“Ini cuman buat nasi goreng sama ayam goreng kesukaan Dika,” jawab Tante Murni sembari tersenyum ramah.


“Sudah jam berapa ya sekarang?” Tanya Tante Murni ke mereka berdua.


“Sudah jam setengah 6 tante” Jawab Aleeya dan Windy hampir berbarengan.


“Ya, Ampun.. Andra sama Dika belum bangun juga. Susah kali dibilangin, setiap hari mesti dibanguni untuk sholat subuh itu anak-anak” Gerutu Tante Murni lalu bergegas menuju kekamar anak bujangnya tersebut.


“Andra, Dika… BANGUN!!!” Sesampainya dikamar mereka, Tante Murni langsung menghidupkan lampu dan berteriak memanggil nama kedua anak bujangnya itu.


Andra dan Dika langsung menggeliat berbarengan dengan mengucek matanya yang silau karena cahaya lampu.


“Apaan sih ma, belum juga subuh…” Jawab Andra tanpa membuka matanya, malahan lelaki itu menutup wajahnya dengan bantalnya.


“Belum subuh apa sih ANdra, itu coba lihat jam.. Sudah jam setengah 6. Cepat bangun!! Sholat subuh lagi kalian berdua…” Suruh Tante Murni lalu menarik selimut serta bantal Andra. Sedangkan Dika sudah duduk dengan mata yang mengantuk.


“Ayok Dika, cuci muka kamu.. Ambil wudhu.. Sholat…” Tante Murni masih mengomel panjang lebar, Dika sudah berjalan gontai menuju kebelakang sedangkan Andra sama sekali belum beranjak dari tempat tidurnya yang membuat Tante Murni semakin kesal.


“Andra…. Kamu ini ya, susah kali dibilangin. Sudah dewasa juga, gak malu dengan anak gadis yang rajin dan sholeha itu. Melihat kelakuan kamu yang malas begini bakal ilfil perempuan sama kamu” Umpat Tante Murni.


“Iya, Iya Mama… Lima menit lagi…Andra masih ngantuk berat nih, malam tadi gak bisa tidur” Kata Andra masih memejamkan matanya.


“Gak bisa tidur kenapa kamu? Pasti bergadang ya? Main game, iya?” Tuduh Tante Murni anaknya tersebut.


“Bukaannn.. ada pengacau tadi malam makanya gak bisa tidur…” Jawab Andra dengan merayau tidak jelas.


“Jangan banyak alasan lagi kamu, Andra. Sudah cepat sana ambil wudhu…” Suruh Tante Murni, tapi.. Andra sama sekali tidak membuka matanya. Ia malah menelungkukpkan badannya.


“ANdra…!!!!” Jerit Tante Murni lagi. Aleeya dan Windy yang mendengar itu semua dari dapur, hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan-gelengkan kepala mereka.


...***...


Pagi itu Aleeya dan Windy pergi ke rumah sakit untuk melakukan test kesehatan sebagai salah satu syarat untuk pendafatran ulang. Aleeya dan Windy pergi berboncengan dan diantar oleh Tante Murni. Untung saja Tante Murni tidak ada jadwal mengawas pagi itu, kalau tidak mereka pasti berhadapan lagi dengan sikap Andra yang arogan jika lelaki itu yang mengantar mereka.


Sesampainya dirumah sakit, sudah lumayan ramai juga peserta daftar ulang yang datang untuk test kesehatan. Aleeya langusng mengambil 2 nomor antrian untuknya dan juga Windy. Kemudian mereka duduk dikursi tunggu sampai nama mereka dipanggil.


Sesaat kemudian Windy izin ke Aleeya untuk ke wc. Sepeninggalan Windy ke WC, tiba – tiba saja ada seorang lelaki menghampiri Aleeya dan duduk tepat disebelahnya.


“Assalamua’alaikum, ukhti.. Maaf mengganggu…” Katanya dengan mengucap salam dan memanggil dirinya Ukhti. Entah karena penampilannya yang tertutup atau entah karena yang lain, lelaki itu memanggil dirinya ‘ukhti’.


“Wa’alaikumusalam, Iya…” Aleeya menjawab dengan suara yang pelan dengan menggeserkan badannya sedikit dari si lelaki yang sudah duduk disebelah ini.


“Lagi tunggu antrian tes kesehatan juga kan?” Tebaknya dengan tersenyum hangat. Aleeya menatap sekilas wajah lelaki yang mengajaknya mengobrol ini.

__ADS_1


“Iya,” Jawab Arsyila dengan tersenyum tipis dan kemudian berpura-pura sibuk dengan hpnya.


“Oya, kalau boleh tau jurusan kamu apa ya?” Tanya lelaki itu lagi.


Aleeya memberhentikan sejenak kegiatan didunia mayanya lalu kembali melihat kearah samping kirinya.


“Saya kebidanan..” Jawab Aleeya yang kali ini tanpa senyuman.


“Ohh.. Ibu bidan ternyata, kalau saya keperawatan..” Katanya dengan mengenalkan jurusanya sendiri, padahal Aleeya tidak bertanya.


“Kamu Nomor antrian berapa?” Lelaki itu bertanya lagi yang membuat Aleeya manjadi risih. Ya.. begitulah Aleeya, dia sangat menjaga sekali perihal komunikasi dengan lawan jenis. Yang terkadang mungkin lelaki yang mengajaknya mengobrol akan beranggapan bahwa dia sombong padahal bukan begitu yang sebenarnya. Aleeya cuman ingin menjaga saja, ia ingin selalu berhati-hati. Tidak berlebihan dalam bersikap apalagi dengan lawan jenis.


Aleeya juga takut jika terlampau dilayani, dia akan ketagihan. Dulu pernah saat pertama kali dia mulai hijrah, godaan dari lawan jenis itu sangat sering menghampirinya. Itulah godaan terberat saat pertama kali dia mulai menatapkan diri untuk hijrah. Dimana, silih berganti teman lelakinya dimasa lalu itu datang mengajaknya untuk sekedar berbagi cerita baik itu melalui telpon ataupun smsan. Dulu mungkin Aleeya akan cepat tanggap karena memang kebanyakan teman Aleeya laki – laki dan ia merasa lebih nyaman bercerita dan berkumpul dengan teman lelakinya ditimbang temannya perempuan.


Namun, setelah ia tahu semuanya tentang pergaualan antara pria dan wanita didalam islam, ia yang mulai belajar dan mengkaji, akhirnya memnatapkan diri untuk benar-benar hijrah dari itu semua.


“Hai, kok melamun sih?” Tegur lelaki itu karena Aleeya tidak kunjung menjawab pertanyaanya. Aleeya yang tersentak kaget dengan teguran itu langsung merasa tidak enak hati.


“Maaf, Tanya apa tadi?” Ucap Aleeya.


“Kamu nomor antrian berapa?” lelaki itu mengulang kembali pertanyaannya.


“Nomor 35” Jawab Aleeya seadanya.


“Berarti dekat donk dengan nomor antrian saya. Nomor saya 36” Katanya.


“Oh, iya..” Kata Aleeya yang tidak tahu lagi mau berkata apa.


“Oh,, ya Boleh…” Jawab Aleeya lansung.


“Nomor hp kamu berapa? Biar aku simpan” Katanya lagi.


Aleeya langsung menatap lelaki itu dengan heran.


“Ya maksud aku kita saling tukar nomor gitu biar nantik senang kamu menghubungi akunya” Jelas laki-laki itu seakan sadar dengan kebingungan Aleeya.


“Maaf, bukan gimana-gimana, maksud saya.. Kenapa kamu gak mintak tolong dengan yang lain saja terutama laki-laki” Kata Aleeya dengan memberi saran.


“Loh kok gitu? Kamu merasa keberatan ya?”


“Kalau harus jujur, iya” Jawab Aleeya dengan mantap.


“Ooo.. oke dech.. kalau begitu, Maaf ya sudah mengganggu” Kata lelaki itu akhirnya dan lalu pergi meninggalkan Aleeya.


Beberapa saat kemudian, Windy yang dari WC tadi datang dan kembali duduk disamping Aleeya.


“Lya, tadi ngobrol dengan siapa?” Tanya Windy yang ternyata tadi melihat Aleeya yang tengah mengobrol dengan seorang lelaki.


“Ngak tau siapa, tadi dia nanya sama aku nomor antrian berapa” Jawab Aleeya.


“Ooh.. Oya, sudah nomor antrian berapa ni yang dipanggil?” Tanya Windy seraya melirik kebagian pendaftaran.

__ADS_1


“Gak lama lagi lah berarti” Jawab Windy setelah tahu nomor berapa yang ada didalam ruangan pemeriksaan tersebut.


Setelah setengah jam kemudian, akhirnya nomor antrian mereka dipanggil juga. Aleeya dan Windy masuk kedalam ruang pemeriksaan dengan bersamaan, sekali masuk kedalam itu dibatasi hanya 3 orang. Jadi, satu lagi orang yang masuk bersama mereka adalah laki-laki yang mengajak Aleeya ngobrol tadi. Lelaki itu melemparkan sebuah senyuman manis kearah Aleeya saat mata mereka beradu pandang. Aleeya terdiam dengan menelan salivanya.


***


Setelah selesai melakukan tes kesehatan, Aleeya dan Windy yang merasa haus langusng saja kekantin rumah sakit untuk membeli minuman.


“Lya, pesan makanan yuk? Lapar nih!” Ajak Windy dengan memegang perutnya.


“Ya, boleh lah” Jawab Aleeya.


Aleeya memesan nasi goreng sedangkan Windy memesan mie goreng. Selagi mereka menunggu pesanan mereka sampai, tiba-tiba saja ada seorang lelaki yang datang dan duduk didekat mereka. Aleeya dan Windy langsung menoleh serentak kearah lelaki itu yang ternayata.. Lelaki yang mengajak Aleeya mengobrol diruang tunggu tadi.


“Boleh gabung kan?” Tanyanya karena melihat tatapan heran yang diberikan oleh kedua wanita tersbeut.


“Kursi yang lain pada penuh, hanya disini doank yang kosong” Lanjutnya lagi. Aleeya melihat sekeliling kantin yang memang lagi ramai dan semua kursi sudah penuh kecuali tempat dia dan Windy.


“Oh, ya bolehlah.. siapa juga yang ngelarang” Windy menjawab dengan ramah. Sedangkan Aleeya hanya menunduk saja.


“Maaf ya, jika merasa risih aku disini” Ujarnya lagi seraya melirik ke Aleeya.


“Gak kok, sama sekali gak risih. Yak kan Lya?” TanYA Windy seraya menyenggol bahu wanita yang lagi menunduk itu. Aleeya hanya mengangguk.


“Oya, kalian ikut tes kesehatan juga kan tadi?” Laki – laki itu bertanya tapi kali ini pertanyaannya lansung tertuju ke Windy karena cuman hanya Windylah yang memandang wajah lelaki itu.


“Iya, kamu juga ya?” Tebak Windy


“Iya, Oya .. Kenalkan nama saya Fauzal..” Katanya dengan mengenalkan diri tapi tanpa mengulurkan tangannya.


“Saya Windy, dan teman saya ini Aleeya…” Ujar Windy.


“Ooo… Windy ya, dan siapa tadi yang disebelahnya?” Tanya Fauzal dengan melirik ALeeya dengan ujung matanya.


“Aleeya,” Jawab Aleeya akhirnya.


“Hhmm… Aleeya, nama yang bagus…” Desisnya dengan pelan tapi tetap terdengar jelas oleh Windy maupun Aleeya. Setelah itu, Fauzal berbincang-bincang ringan dengan Windy. Aleeya tidak ikut nimbrung dalam obrolan mereka. Ia lebih memilih untuk diam.


Beberapa saat kemudian, pesanan merekapun sampai. Mereka bertiga sibuk menikmati makanan mereka masing-masing tanpa berbicara sama sekali.


Aleeya makan dengan pelan dan merasa sedikit risih makan berhadapan dengan Fauzal. Meskipun laki-laki itu makan tanpa memandangnya, tetap saja Aleeya merasa tidak nyaman.


Aleeya melihat sekeliling kantin yang sudah mulai sepi. Aleeya berharap lelaki didepannya ini sadar diri dan langsung pindah, Aleeya pun menjadi tidak leluasa untuk mengobrol dengan Windy dibuatnya. Aleeya melirik sekilas kearah Fauzal yang lagi menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Tanpa diduga, lelaki itu malah membalas lirikan mata Aleeya.


“Kenapa Lya, lirik-lirik?” Tanyanya dengan tersenyum penuh arti. Aleeya tersentak dengan wajah yang sudah merah padam menahan malu.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2