Kisah Aleeya

Kisah Aleeya
SEPULUH


__ADS_3

Tidak perlu mengantri lama akhirnya Aleeya selesai melakukan daftar ulang dilantai 2 bangunan tersebut. Aleeya memang sengaja datang lebih pagi, saat dia pertama datang tadi kebetulan orang masih sepi jadi dia bisa mendapatkan nomor antrian dibagian depan. Saat itu juga dia berkenalan dengan seorang wanita yang cukup ramah. Aleeya banyak juga bertanya-tanya pada si wanita itu mengenai proses pendaftaran ulangnya.


Wanita itu bernama Windy, ia berasal dari luar kota yang berbeda dari tempat kota kelahiran Aleeya, akan tetapi masih satu provinsi. Baru berkenalan saja mereka sudah terlihat akrab, karena memang bawaan Windy yang tenang namun supel membuat Aleeya betah berlama-lama mengobrol bersamanya.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, Aleeya dan Windy kini sudah dibawah dan bermaksud untuk mencari rumah makan terdekat Karena memang perut mereka sudah keroncongan sedari tadi.


“Kamu bawa motor ya?” Tanya Windy ke Aleeya.


“Kebetulan bawa, punya tante saya. Kalau kamu tadi kesininya pakai apa?” Aleeya balik bertanya.


“Pakai becak.” Jawab Windy singkat.


“Memang kamu tinggal dimana?” Aleeya bertanya lagi. Karena dia tahu Windy sama dnegan dirinya yang cuman pendatang di kabupaten kepulauan ini.


“Itu masalahnya, Lya. Sebenarnya aku ini belum ada tempat tinggal yang tetap untuk  3 hari kedepan. Aku juga bingung mau tinggal dimana, Karena habis ini kita kan ada jadwal test kesehatan juga kan?” Kata Windy dengan tiba-tiba saja wajahnya itu berubah menjadi murung.


“Iya, jadi maksudnya gimana? Sebelumnya kamu tinggal dimana emangnya?” Aleeya bertanya lagi.


“Ada dirumah seorang ibuk-ibuk, aku baru kenal dia kemarin saat baru sampai disini. Dia jualan di pelabuhan, saat itu aku membeli tisu dikedainya dia. Nah, saat itu dia tanya-tanya aku ini dari mana dan mau kemana. Aku rencananya mau nginap dihotel ni, cuman tiba-tiba saja ibuk itu malah nawarin aku  untuk nginap dirumahnya" Cerita Windy.


"Cuman itu tadi.. Aku merasa kurang nyaman aja tinggal disana.” Lanjut Windy lagi.

__ADS_1


“Kalau boleh aku tahu, gak nyaman kenapa ya, Win?” Aleeya bertanya penasaran.


“Hhmmm… Aku kurang nyaman aja dengan suami ibu itu, dia ngelihatin aku lain gitu Ya, aku jadi ngeri. Bukannya apa-apa sih, cuman ingin menjaga aja. Takut juga entar terjadi sesuatu yang aneh-aneh, maklumlah kita ini perempuan harus berhati-hati.” Jawab Windy.


Aleeya membenarkan apa yang dikatakan oleh teman barunya itu. Memang sebagai seorang perempuan apalagi masih gadis kita dituntut untuk lebih berhati-hati dimana pun itu, apalagi dilingkungan baru. Karena diakhir zaman sekarang ini tidak dipungkiri kejahatan itu semakin merajalela, bukan karena ada niat saja tapi ada kesempatan juga sehingga membuat mereka leluasa untuk berbuat hal-hal yang jahat.


Terkadang Aleeya juga merasa takut berada jauh dari lingkungan keluarganya, seperti saat ini. Dia yang merantau seorang diri. Dan..dia perempuan! Tentu saja rasa takut dan khawatir itu ada. Namun, balik lagi Aleeya tetap waspada dan juga tidak pernah lupa selalu meminta perlindungan kepada Allah disetiap perjalananya. Karena Aleeya tahu, tantangannya kedepan akan lebih berat lagi. Menjadi seorang Bidan didesa terpencil tidaklah mudah, pasti akan banyak kerikil-kerikil yang menjadi bumbu dalam perjalanannya. Tapi, Allah sudah memberikan jalan ini untuknya, Aleeya akan menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan apapun hasilnya nantik akan ia serahkan semuanya kepada Allah.


“Ya, kamu benar Windy. Bukan berarti kita berprasangka buruk dengan suami ibuk itu, cuman kita memang harus waspada dan sebisa mungkin menjaga jarak. Ya, maklumlah jaman sekarang ini… Orang lebih banyak memperturutkan hawa nafsunya ditimbang akalnya. Padahal kita diberikan akal oleh Allah agar bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bukan. Termasuk juga dengan halnya hawa nafsu, manusia memang diberi hawa nafsu. Cuman penempatannya harus dilihat dulu. Tepat atau tidak” Jelas Aleeya yang entah kenapa tiba-tiba saja ia berkata seperti memberi sebuah kajian. Jika mengingat kata kajian itu, membuat Aleeya kembali rindu dengan aktifitas pengajiannya. Tapi, apalah daya untuk sementara waktu ini dia off dulu. Namun demikian, ilmu yang pernah ia serap akan selalu menjadi penerang didalam setiap langkahnya. Akan ia tanamkan didalam jiwanya dan dijadikan sebagi tombak ataupun pegangan dalam kehidupannya. Yah.. ALeeya sudah memantapkan hatinya bahwa dia harus tetap istiqomah. Apapun rintangan dan halangan kedepannya, akan ia hadapi dengan hati yang terbuka. Karena ia yakin, ia punya Allah untuk tempat bersandar.


“Benar sekali, Ya. Makanya.. Aku mau mintak tolong sama kamu, bisa gak ya 3 hari kedepan ini aku nginap ditempat kamu menginap? Dirumah tante teman kamu yang kamu ceritakan tadi. Kalau bisa sih…” Kata Windy menawarkan dirinya.


Aleeya terdiam sejenak, seakan berpikir. Sebenaranya bukannya Aleeya tidak mau membawa Windy ikut tinggal bersamanya dirumah Tante Murni. Cuman masalahnya, Aleeya merasa segan saja dengan Tante Murni. Apakah pantas dia membawa teman sedangkan dirinya disana cuman menumpang?


“Hhhmmm… Begini Win, aku sebenarnya mau banget ngajak kamu tinggal bersama aku diruman tante temannya aku itu. Cuman, aku perlu mintak persetujuan dulu dengan tante MUrni. Ya..kamu pahamlah, aku disana cuman numpang juga Win, bukan aku ini keponakannya. Kami gak ada hubungan saudara malahan.” Ucap Aleeya dengan tersenyum simpul.


“Benar juga sih, Tapi.. Gak ada salah juga dicoba Lya. Mana tahu saja tante Murni itu mau menumpangkan aku dirumahnya, hehe…” Kata Windy dengan cengar cengir.


“Mudah-mudahan ya, nantik aku tanyakan deh!”


Setelah selesai makan, mereka berdua lalu menuju ke masjid untuk menunaikan sholat dzuhur. Kebetulan tidak jauh dari sana ada sebuah Mesjid yang lumayan besar dan juga cantik. ALeeya seakan terpana melihat keindahan masjid tersebut. Semenjak mengikuti kajian, Aleeya memang sangat mencintai Mesjid. Hatinya sudah terpaut dengan rumah Allah itu. Mesjid adalah rumah kedua bagi Aleeya, selain tempat beribadah Mesjid juga dijadikannya sebagai tempat menimba ilmu, tempat ia mencurahkan segala rasa yang bersemayam didalam hatinya. Di Mesjid jugalah banyak ide yang bermunculan dibenak Aleeya dan dituangkannya dalam bentuk tulisan.

__ADS_1


Aleeya senang menulis, menulis apapun itu. Baik novel, cerpen, puisi maupun curahan hatinya. Dan tempat Aleeya menulis kebanyakn ia lakukan di Mesjid, biasanya setelah ia selesai melaksankan sholat wajibnya. Aleeya akan menyempatkan diri untuk menuangkan sesuatu. Jadi, tidak heran kemanapun Aleeya selalu membawa notebook kesayangannya. Seperti saat inipun Aleeya juga membawa notebooknya.


“Kita punya waktu berapa jam lagi kira-kira, Wind?” Tanya Aleeya ke Windy, karena seperti yang diumumkan tadi bahwa setelah daftar ulang mereka disuruh datang lagi siangnya untuk melihat jadwal yang selanjutnya.


“Sekitar 1 jam lagi sepertinya, Kita kan disuruh datang jam 2” Kata Windy seraya melihat jam dipergelangan tangannya.


“Ooh, masih ada waktu ternyata. Bentar ya windy, aku buka notebook sebentar” Kata Aleeya sambil tersenyum setelah itu mengeluarkan notebook birunya.


"Mau ngapain, Ya?" Tanya Windy.


"Mau menulis" Jawab Aleeya dengan tersenyum simpul.


“Oke, Lanjut, Lya. Aku mau baring sebentar, hehe…” Kata Windy akhirnya.


Beberapa saat kemudian, jari jemari Aleeya pun sudah menari-nari diatas keyboard notebooknya. Kali ini dia ingin menyelesaikan tulisan cerpennya yang sempat dibuatnya dimalam sebelum dia berangkat..


`


`


`

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2