Kisah Aleeya

Kisah Aleeya
DUA


__ADS_3

Aleeya yang sudah turun dari angkot lalu mempercepat langkah kakinya memasuki jalan menuju rumah orang tuanya yang teletak di ujung persimpangan jalan. Dari kejauhan terlihat sebuah rumah sederhana berwarna pink salem, Rumah tanpa pagar tersebut adalah rumah orang tua Aleeya.


Aleeya tidak lagi tinggal dirumah orang tuanya semenjak ia bekerja di klinik Bersalin yang mengharuskan dia untuk tinggal disana. Hanya dihari libur saja Aleeya bisa pulang dan menginap dirumah orang tuanya.


Aleeya merupakan anak sulung dari 4 bersaudara dan dari ketiga adik-adiknya hanya Aleeya yang saat ini sudah bekerja. Yang lain masih kuliah dan bersekolah, bahkan sibungsu saja masih kelas 6 SD. Oleh karena itu, Aleeya sangat bersyukur setelah tamat kuliah 2 tahun yang lalu ia bisa langsung mendapatkan pekerjaan di Klinik Bersalin yang cukup terkenal karena ramainya pasien yang berobat dan melahirkan disana. Karena dengan begitu dia bisa meringankan beban orang tuanya dan juga membantu kebutuhan adik-adiknya.


Aleeya sadar sekali akan posisinya saat ini sebagai anak sulung yang mewajibkan dirinya untuk mengambil andil dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Karena Aleeya bukanlah berasal dari keluarga yang berada. Bapak Aleeya bekerja sebagai seorang Petugas Keamanan disebuah Kantor Dinas Perdagangan di Kota tersebut sedangkan Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang membuka warung kecil-kecilan di depan rumah mereka untuk membantu ekonomi suaminya.


Meskipun dengan keadaan serba kekurangan, Orang Tua Aleeya masih bisa memberikan kesempatan bagi Aleeya untuk berkuliah di Akademi Kebidanan yang mana semua orang tahu bahwa kuliah di Bidang Kesehatan itu tidaklah murah, pasti membutuhkan biaya yang mahal. Namun, Saat itu Aleeya yang masih dengan kekerasan hatinya tidak mempedulikan hal itu, karena rasa gengsi dan tuntutan gaya hidupnya saat itu membuat orang tua Aleeya tidak dapat berkutik dan pasrah memasukkan Aleeya berkuliah di Kebidanan. Yah..Aleeya yang dulu bukanlah seperti Aleeya yang sekarang. Dulu… jauh sebelum Aleeya melangkahkan kakinya untuk Hijrah dan kenal dengan Islam yang sesungguhnya…Aleeya terkenal sebagai seoarang anak yang keras hati, egois dan kurang peka terhadap lingkungannya. Aleeya yang tidak sabaran… Aleeya yang mudah marah dan emosi…


Saat itu, Aleeya tidak pernah memikirkan bagaimana sulitnya orang tuanya mencari uang untuk membiayai kuliahnya yang mahal tersebut. Orang tuanya tahan berhutang kiri kanan dan menahan diri untuk tidak membeli makanan yang enak ataupun barang barang yang lainnya. Mereka focus untuk membiayai kuliah Aleeya sampai selesai. Karena meraka menaruh harapan lebih kepada Aleeya dan berharap Aleeya bisa berubah dan menjadi tumpuan hidup mereka dan adik-adiknya kelak. Yah… Harapan dan Doa orang tua untuk Aleeya, meskipun mereka tahu bagaimana sifat Aleeya saat itu… Tapi, Tetap Doa dan harapan itu tidak pernah putus..selalu mengalir…


***


“Alhamdulillah…. Ya Allah, Lya… Benar ini nak? Kamu lulus…?” Mama Aleeya seakan tak percaya ketika Aleeya melihatkan namanya yang tertera didalam daftar kelulusan yang ada di situs internet. Mata Mama Aleeya berkaca-kaca, tak henti-hentinya ia mengucap syukur dan memeluk erat anaknya. Begitu juga Papa Aleeya yang berdiri mematung dihadapannya dengan wajah tanpa ekspresi, tapi Aleeya yakin Papanya juga sama seperti Mamanya pasti merasa sangat bahagia.

__ADS_1


“Iya Ma, Alhamdulillah… Allah memberi rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka untuk kita..” Ucap Aleeya.


“Kamu Hebat Lya, dari dulu Papa yakin dengan kemampuan kamu. Kamu memang anak Papa yang pintar, bisa lulus dengan murni… luar biasa… padahal saingan mu banyak kan? Papa bangga sama kamu Lya” Kata Papa Aleeya sembari merangkul bahunya Lya dengan lembut.


“Terus untuk selanjutnya apa yang mau diurus… cepat kamu urus Lya, jangan lengah lagi Nak…”Ucap Papa Aleeya berapi-api.


“Iya Pa, habis ini Lya akan menyelesaikan administrasi yang diminta…. syarat-syarat yang harus dilengkapi… Karena waktu ngak banyak Pa, Ma, cuman dikasih 2 hari…” Ucap Lya.


“Ya sudah… kamu selesaikan segera Lya..” Suruh Mamanya. Aleeya mengangguk mantap.


Sedangkan adik kedua Aleeya adalah laki-laki yang bernama Aleezar yang saat ini masih kuliah semester 3 jurusan Sastra di Universitas Negeri di Kota tersebut. Aleezar yang satu-satunya saudara Lelaki Aleeya yang membuat Aleeya menjadi begitu dekat dengannya. Ditambah lagi Jarak umur mereka yang tidak begitu jauh terpaut 3 tahun sehingga mereka merasa nyambung untuk saling bercerita ataupun curhat satu sama lain. Kebetulan Aleezar juga tidak ada dirumah saat itu, akan tetapi sebelumnya Aleeya sudah memberikan kabar gembira atas kelulusannya lewat pesan WA. Ketika menerima kabar bahagia dari pesan WA dari kakaknya itu, Aleezar langsung menelpon Aleeya.


“Kak Ya? benar ne ka… kakak bercanda ya?” Tanya Aleezar dengan rasa tak yakin.


“Tidak dek, kak Serius..” Jawab Aleeya.

__ADS_1


“Alhamdulillah…. MasyaAllah… Senang Ali dengarnya kak, Murah rezeki kakak…” Sama dengan kedua orang tuanya, Aleezar juga tak henti-hentinya mengucap rasa syukur dan mengucapkan selamat untuk Aleeya. Aleeya merasa sangat beruntung karena bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarganya. Dan terakhir si bungsu dalam keluarga ini bernama Aleesya, Gadis mungil yang imut-imut itu masih berumur 12 tahun dan masih duduk dikelas 6 SD. Aleesya yang belum begitu paham dengan kebahagian orang tua dan kakaknya hanya diam dan kembali sibuk mengerjakan aktifitas menggambar yang merupakan hobbynya.


Aleeya kembali membaca pengumuman dan persyaratan apa-apa saja yang harus disiapkan untuk pendaftaran ulang setelah kelulusannya ini. Ia membaca dengan sangat serius dan hati-hati agar tidak ada satu persyaratanpun yang tertinggal ataupun terlupa. Saat ia sibuk mengelist daftar persyaratan yang akan disiapkan, tiba-tiba Hpnya berdering. Sebuah nomor tak dikenal menelponnya.


“Hallo, Assalamu’alaikum…” Sapa Aleeya dengan sedikit mengerutkan keningnya karena penasaran dengan nomor baru yang menelponnya.


“Wa’alaikumusalam, Lya…Lagi apa? ” Jawab sebuah suara lembut dari seberang sana. Suara khas seorang laki-laki. Kening Aleeya semakin berkerut dan kali ini alisnya sampai beradu karena berusaha mengenali suara lelaki yang menelponya. Tapi Aleeya menyerah, dia sama sekali tidak mengenali suara itu milik siapa.


“Ini siapa ya?” Tanya Aleeya.


“Aku.. Pengagum Rahasiamu….” Jawabnya langsung dengan mantap. Aleeya terdiam. Ia berusaha mengatur getaran aneh yang mulai merasuki hatinya mendengar penuturan dari orang yang tak diketahuinya itu.


Bersambung...


"Jangan Lupa tinggalakan komentarnya ya, terimakasih..."

__ADS_1


__ADS_2