
Setelah sholat magrib, Aleeya kembali berjalan menuju kearah depan klinik. Pasien sudah ramai berdatangan dan mengantri di ruang tunggu. Jam habis magrib adalah jam-jam dimana saatnya pasien ramai berdatangan. Aleeya masuk ke ruang pemeriksaan, disana sudah ada Suci dan Nita. Sedangkan dibagian pendaftaran ada si Rila. Dan duduk di kursi pemeriksaan tersebut seorang Bidan senior si pemilik Klinik. Kami biasa memanggilnya Ibuk Ermi. Ibu Ermi yang sudah berumur itu tampak sedang melayani pasien yang berkonsultasi kepadanya. Ibu Ermi menjawab pertanyaan pasien dengan ramah dan bersahaja yang membuat raut wajah pasien itu sumringah dengan jawaban Ibu Ermi.
Sedangkan Suci dan Nita tampak sedangkan meracik obat disudut ruangan tersebut. Meskipun mereka Bidan, tapi di klinik ini mereka juga merangkap sebagai peracik obat. Karena memang di klinik ini tidak ada petugas Farmasinya. Setelah Aleeya siap memeriksa suhu seorang anak balita yang demam tinggi, ia berjalan menuju ketempat Nita Dan Suci. Melihat kedatangan Aleeya, entah kenapa Nita dan Suci langsung salah tingkah dan berhenti berbicara. Padahal dari kejauhan tadi Aleeya perhatikan mereka seperti sedang berbicara serius dengan sedikit-sedikit mencuri pandang kearah Aleeya. Aleeya jadi curiga dirinya yang sedang mereka bincangkan.
"Kok berhenti Ngomongnya..?" Tanya Lya kepada kedua temannya. Ditanya seperti itu Suci dan Nita hanya cengar-cendir. Apalagi Suci yang lalu memandang penuh arti ke Lya lalu mengulurkan tangannya kearah Lya.
"Selamat ya Kak.." Katanya dengan senyuman lebar. Aleeya yang belum mengerti maksud ucapan selamat dari Suci tidak langsung menyambut uluran tangan suci yang sudah menggantung di udara. Aleeya mengerutkan keningya tanda bingung. Tapi, Suci yang tau bahwa Aleeya belum paham langsung meraih tangan Aleeya dan menyalaminya. Aleeya tak menolaknya.
"Selamat apa emangnya??" Tanya Aleeya bingung.
"Yang tadi itu lo Lya..." Kini Nita berujar sambil memberikan kode melalui kedipan di mata nya. Aleeyapun akhirnya mengerti. Ini pasti ada kaitannya dengan apa yang Kak Sari bilang tadi sewaktu ia berjumpa Mereka di tangga.
"Oh.. Itu.." Kata Aleeya sambil menunduk kemudian pura-pura sibuk mengambil alih pekerjaan Suci dan Nita yang sudah setengah jalan. Aleeya merasa malas untuk membahasnya. Karena kalau bisa memilih ia lebih baik tidak tau tentang ini semua. Dan berharap apa yang dikatakan kak Sari itu tentang Bang Adriyan yang menyukai nya adalah sesuatu yang tidak benar. Aleeya hanya bisa berdoa dalam hati.
"Lya.. Mau jadi menantu ibuk ngak.." Tiba-tiba saja Ibuk Ermi mengeluarkan suara yang mengagetkan mereka bertiga yang ada di ruangan tersebut. Kebetulan pasien sudah tidak ada lagi di dalam ruangan pemeriksaan Itu. Ibuk Ermi Memandang Lya yang masih tertegun, sedangkan Nita dan Suci tampak menahan tawa.
"Maksudnya buk?" Tanya Lya dengan polos. Meskipun didalam hatinya merasa was-was.
__ADS_1
"Adrian sudah cerita sama ibuk.. Katanya dia suka sama Lya.. Ibu bilang Lya itu bukan seperti kebanyakan cewek-cewek. Dia ngak akan mau pacaran. Kalau Adrian ingin serius langsung lamar aja.." Ucap Ibuk Ermi yang membuat rasa was-was dihati Aleeya semakin menjadi-jadi. Bagaimana bisa Ibuk Ermi berpikiran seperti itu terhadap dirinya? Emangnya siapa yang mau menikah? Kok langsung main lamar-lamar aja? Kalau tentang dia tidak mau pacaran, IT's Ok itu memang benar. Tapi, kalau untuk dilamar ? Demi Allah belum terlintas didalam pikirannya. Aleeya hanya diam. Ia masih bergelut didalam pikirannya.
"Makanya malam ini ibuk suruh dia datang ke klinik. Biar bisa Mengutarakan langsung Ke Lya.." Lanjut Buk Ermi yang membuat perasaan Lya menjadi tak karuan.
"Jadi Bang Adrian mau ke sini ya buk?" Tanya Suci agak heboh.
"Iya.." jawab Buk Ermi yang langsung menoleh kearah Lya yang masih menunduk. Aleeya merasa galau. Ia bingung dalam bersikap, ia merasa tidak enak hati dengan kebaikan Buk Ermi yang mau menerimanya Menjadi seorang menantu. Hal itu yang menyiksanya... Aleeya berpikir bagaimana cara yang baik untuk menolak lamaran dadakan dari bang Adriyan nantinya.
***
Aleeya duduk termangu disebuah warung bakso yang terletak bersebelahan di Klinik tempat ia bekerja. Aleeya menundukkan pandangannya, ia lebih baik menatap gelas berisi es sirup yang ada didepannya ini dari pada harus mengalihkan pandangannya untuk menatap lurus kedepan. Karena bagi dirinya dengan menatap pemandangan didepan ini akan menjadikan sebuah tombak yang siap menghujamnya. Ada jarak yang harus dia jaga. Ada hati yang harus dia tata. Ada Iman yang harus dia pertahankan.
"Dinas Siang Bang.." Jawab Aleeya singkat. Aleeya sungguh mensesalkan apa yang barusan terjadi pada dirinya. Awalnya karena merasa tidak enak hati terhadap Buk Ermi, atasannya.. Ia mengiyakan ajakan Bang Adrian yang ingin berjumpa dan mengobrol langsung dengan dirinya. Tapi, bukan hanya dirinya sendiri yang duduk disini seharusnya. Seharusnya ia bersama Nita. Yah.. Temannya satu kerjanya itu memang sempat duduk bersamanya diwarung ini, tapi hanya sebentar setelah itu hp ia berdering, ada sebuah panggilan yang membuat ia harus kembali ke klinik.
"Lanjut aja dulu ya.. Aku kelinik sebentar" Katanya langsung bergegas meninggalkan Aleeya yang langsung berubah raut wajahnya. Ingin rasanya Aleeya juga berlari dan pergi meninggalkan Bang Adrian, tapi.. Diurungkan niatnya itU mengingat lagi-lagi merasa tidak enak hati terhadap Ibuk Ermi. Setidaknya Aleeya bisa bernapas lega ketika melihat sekeliling warung ini yang lumayan ramai pelanggannya yang makan ditempat. Setidaknya ini tidak termasuk khalwat. Aleeya berusaha menenangkan hatinya yang galau.
"Jadi gimana Lya, Buk Ermi dan Kak Sari sudah Ngasih tau Lya kan?" Ujarnya langsung to the point, langsung ke inti pembicaraan.
__ADS_1
"Ee.. Iya Bang.. Sudah.." Jawab Aleeya agak gugup. Ia berusaha mengatur degupan jantungnya yang mulai berdetak tak karuan.
"Lalu.. Respon Lya bagaimana?" Tanyanya lagi. Lya menarik nafas panjang. Sudah saatnya dia berbicara. Mengutarakan semuanya yang sebelumnya sudah diaturnya. Penolakan yang memang harus ia katakan.
"Begini bang, Maaf sebelumnya kalau apa yang akan Lya katakan ini bakal membuat bang Adrian kecewa. Tapi, balik lagi ini harus Lya katakan.. Bang Adrian pun ingin Mendapat jawaban dari Lya segera kan.." Ucap Lya. Adrian mengangguk seraya melemparkan seuntai senyuman manisnya kearah Lya.
"Mungkin Bang Adrian belum tau kalau Lya ini baru lulus PNS di Desa Terpencil.."
"Sudah Tau kok Ya.." potong Adrian.
"Oh.. Ya itu yang pertama masalahnya, Lya.. Belum kepikiran untuk segera menikah Bang, Lya.. Masih ingin melanjutkan karier Lya dulu, Sebagai BIdan Desa nantinya. Karena.. Sebagai anak pertama dalam keluarga Lya merasa juga ikut bertanggungjawab dalam hal kebutuhan adik-adik Lya Nantiknya.."
"Ngak masalah kalau Lya belum siap sekarang. Abang masih bisa menunggu. Berapa lama lagi, setahun.. Dua tahun..?" Potong Adrian lagi. Padahal Aleeya belum selesai mengutarakan semuanya.
"Ya ngak Bisa gitu Bang.." Jawab Lya langsung yang merasa sedikit geram dengan ucapan Adrian. Aleeya merasa Adrian tidak memahami maksudnya. Menunggu dirinya sampai setahun ataupun dua tahun apa namanya? Berarti sama saja dia membiarkan dirinya terjerumus kedalam hubungan yang tidak diridhoi olehNya. Aleeya beristigfar dalam hati.
"Lya ngak menyuruh abang harus tunggu Lya, ataupun berharap untuk ditunggu. Jika ada wanita lain yang sudah siap tuk abang nikahi, ya sudah nikahi saja bang.. Karena Antara kita kan tidak ada ikatan apapun..Jadi Lya harap abang Adrian mengerti.. " Ucap Lya dengan tegas.
__ADS_1
Adrian manggut-manggut mendengar penjelasan Aleeya. Antara bisa menerima dan juga sedikit kecewa. Adrian yang memang sudah lama menyimpan rasa ke Lya akhirnya hanya bisa menelan pil kekecewaan. Memang benar apa yang dikatakan buk Ermi Dan Sari tentang Lya. Lya bukan wanita biasa yang mudah ditaklukkan.
Bersambung...