
Saat sudah sampai dirumah kepala desa, Aleeya memberanikan diri untuk bertanya mengenai Pustu tadi kepada kak Zubaidah.
"Iya, Aleeya. Disini memang ada Pustu, dan yang tinggal disana perawat laki-laki namanya Pak Khairul. Tapi..." Kak Zubaidah menggantungkan kalimat sejenak dan melihat ke sekeliling mereka yang kebetulan tidak ada lagi orang didekat tersebut.
"Tapi, kenapa kak?" Akhirnya AleeYa bertanya dengan penasaran.
"Masyarakat di desa ini banyak komplain dengan dia karena dia itu suka nolak pasien, sombong juga." Kata Kak Zubaidah.
"Makanya, masyarakat di desa senang sekali mendengar kabar kalau ada bidan baru yang masuk kesini, Ya." Lanjut kak Zubaidah lagi.
"Ya kak harap kamu jangan mengecewakan masyarakat didesa ini yang memiliki harapan lebih ke kamu, Aleeya. Yang jelas jangan tiru sikap dan perilakunya bang Khairul yang suka pilih - pilih pasien," Kata kak Zubaidah yang memberikan peringatan kepada Aleeya.
"InshaAllah, kak. Aleeya akan berusaha tidak akan mengecewakan masyarakat didesa ini. Tapi, Aleeya mohon bimbingan kak Zubaidah juha nantiknya ya. Karena kak Zubaidah kan asli orang sini, mungkin untuk diawal - awal Aleeya merasa agak canggung ataupun agak lama bersosialisasi dengan masyarakat disini. Aleeya mohon di bimbing dan ditemanin aja kak sampai Aleeya benar-benar bisa menyesuaikan diri nantiknya." Kata Aleeya dengan tetap rendah hati.
"Oke, Aleeya. Aku kasih tau aja nantik jika ada problem atau ada hal yang diperlukan, sebisa mungkin kak bantu."
"Terimakasih banyak ya kak" Sahut Aleeta seraya tersenyum manis. Kak Zubaidah membalas senyuman Aleeya. Dan setelah itu, barulah mereka berdua masuk kembali kedaalm rumah kepala desa..
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, akhirnya mereka berpamitan untuk kembali pulanh kerumah masing - masing.
Cuaca siang menjelang sore itu mendadak mending, seperti akan turun huja. Maka, mereka memutuskan untuk segera pulan.
Diperjalanan, dua motor didepan Aleeya berlaLu dengan kecepatan lumayan tinggi sehingga membuat Aleeya ketinggalan jauh dibelakang. Perasaan Aleeyapun menjadi tidak karuan, ditambah lagi jalanan yang mereka lewati saat itu sepi dan jauh dari kediaman warga.
RiNtik - rintik air hujan tiba - tiba membasahi bumi, dan lama kelamaan menjadi deras. Aleeya tak bergeming, Namun hatinya tetap merasa was-was. Apalgi saat ia melihat 2 motor didepannya sudah hilang dari pandangannya.
__ADS_1
Hujan semakin lebat, baju Aleeya sudah basah kuyup. Mau bertedupun dia tidak tahu harus dimana? karena disekelilingnya yanh ada hanya pohon dan kebun juga ada 0beberapa gubuk kecil tempat orang - orang berteduh saat melihat kebunnya.
Aleeya tetap menjalankan motornya, hingga akhirnya nasib naas menimpa dirinya. Aleeya sampai dijalan yang tidak bagus itu. Jalanan tanah itu menjadi becek akibat guyuran hujan.
Aleeya menelan ludahnya melihat pemandangan dihadapannya yanh begitu memprihatinkan. Aleeya menelan ludahnya yang terasa pahit. Rasa takut, risau dan segala macamnya mengusik hatinya. Tidak ada sesiapapum yang bisa menolongnya.
"Ya, Allah.. Tolonglah HambaMu ini, semoga saja ada seseorang yang menolong aku untuk keluar dari jalan yang hancur Ini." Lirih Aleeya dengan berdoa pelan.
Syukur saja doa Arsyila langsung diijabah oleh Allah. Sejurus kemudian, ada sebuah motor Dari arah belakang. Dan berhenti juga didepan jalan yang buruk itu. Mereka berboncengan. Salah satu dari mereka turun dan berjalan menghampiri Aleeya.
"Hai, kamu kok berhenti?" Tanyanya lelaki itu dengan sedikit berteriak karena derasnya hujan membuat suara tidak terdengar dengan jelas.
Aleeya menoleh ke lelaki yang masih bethelm iti sehinga Aleeya tidak bisa melihat Wajah dibalik Helm tersebut.
"Kamu cewek yang waktu itu kan??" Tanya lagi seraya membuka helmnya itu. Dan saat telah terbuka, seraut wajah yang tidak asing langsung tertangkap oleh mata Aleeya. Ternyata laki- laki yang ada dihadapannya iru adalah Dafri. Untuk kesekian kalinya, Dafri datang sebagai penyelamat dirinya. Alerya merasa sangat bersyukur sekali.
"Iya, aku Aleeya.." Jawab Aleeya dengan lirih.
"Kamu dari mana? Kok bisa sampai disini?" Tanya Dafri masih dengan berteriak agar suaranya bisa didengar oleh Aleeya.
"Ya sudah, nantik saja ceritanya. Kamu gak berani lewat jalan ini kan? Biar aku bantu bawa motor kamu. Bentar aku ngomong sama kawan aku dulu." Ucapnya lagi lalu menoleh kekawannya. Ia tampak berbincang dengan kawannya beberapa saat sampai akhirnya ia kembali lagi kearah Aleeya.
"Biar aku bonceng kamu ya." Tuturnya yang langsung saja mengambil alih motor Aleeya. Sedangkan Aleeya, diam terpaku ditempatnya berdiri. Tidak tahu harus berbuat apa, apakah dia harus naik keatas motor bersama lelaki yang buka muhrimnya itu? Ataukah dia harus menolaknya dan tetal tinggal disana entah sampai kapan? Aleeya benar-benar bingung dan dilema keputusan apa yang harus ia ambil.
Ternyata Dafri mengerti akan kebimbangan Aleeya, lalu dengan lantangnya dia ngomong.
__ADS_1
"Aleeya, kamu gak akan berdosa jika berboncengan sama aku saat ini. Karena keadaan saat ini darurat. Dari pada kamu jatuh kecelakaan nantiknya jika pulang sendiri, mending kamu pulang sama kamu. InshaAallah aku akan antar kamu pulang dengan selamat. Kamu gak usah Risau. Allah Maha Tahu. Kamu terpaksa melakukan ini, keadaan lah yang membuat kamu mengambil keputusan ini. Jadi, ayuklah naik sebelum hari semakin gelap." Ajak Dafri lagi.
Entah mengapa mendengar perkataan dari lelaki itu membuat hati Aleeya sejuk. Perkataannya ada benarnya juga, ini darurat. Bukan karena keinginannya semata. Aleeya harus yakin bahwa Allah Maha TahU atas segalanya. Dan Allah juga Tahu apa yang ia rasakan didalam hati, jauh didalam lubuk hatinya yang terdalam, Aleeya selalu ingin menjaga ke istiqomahannya. Namun, kali ini Harus ia simpan dulu demi keselamatan dirinya sampai dirumah. Dengan membaca basmallah, akhirnya Aleeya naik keatas motor. Berboncengan dengan lelaki yang sudah ketiga kalinya menolong Aleeya. Lelaki yang tidak ia kenali sebelumnya tapi Allah Mempertemukan mereka beberapa kali di kondisi yang tidak menguntungkan bagi Aleeya dan di salah sebagi penyelamatnya.
Aleeya merasa sangat bersyukur dan sangat berhutang budi dengan lelaki itu.
"Aku saranin kamu pegangannya, ya. Pegang ujung baju aku aja gak apa-apa, karena kalau tidak aku khawatir kamunya gak seimbang lalu jatuh." Jelas Dafri sebelum menjalankan motornya dengan pelan ke jalanan yang licin itu.
"Iya," Sahut Aleeya dengan singkat.
Beberapa saat kemudian, motor yang dikendarai oleh Dari melaju pelan menyelusuri jalan yang hancur itu dan diikuti oleh teman Dafri dari belakang.
Aleeya tidak berhenti mengucap istighfar dan dzikir didalam hatinga, perasaan sangat takut sekali melihat pemandangan dikiri dan kanannya. Tapi dia menyakinkan diringa bahwa Dafri pasti akan berhati - hati. Jangan sampai mereka jatuh dijalan yang licin itu.
#
#
#
#
Bersambung..
*
__ADS_1