
Setelah turun dari kapal, Aleeya terduduk disebuah kursi dekat warung. Tiba-tiba saja ia merasa mual dan pusing Semakin bertambah-tambah. Aleeya memijit kepalanya dengan kuat dan kemudian mencari sesuatu dari dalam tasnya. Ia mengambil sebuah obat sakit kepala dan langsung menelan obat tersebut.
"Masih sakit?" Andra datang dan duduk disebelah Aleeya. Sedangkan Fauzal berdiri didepan mereka.
"Iya, masih." Jawab Aleeya.
"Ya sudah kamu duduk aja dulu disitu, aku mau nelpon saudara Mama dulu, biar bisa jemput kita." Kata Andra akhirnya. Aleeya hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu gak apa-apa, Lya? Sudah minum obat?" Tanya Fauzal dan duduk disamping Aleeya. Sedangkan Andra sudah beranjak dari sana untuk mencari sinyal yang bagus agar bisa menelpon.
"Sudah agak mendingan." Jawab Aleey dan kembali meneguk minumannya yang sudah tinggal sedikit.
"Ini minum lagi," Kata Fauzal dnegan menyodorkan sebuah minuman yang masih bersegel.
"Terimakasih, tapi ini masih ada kok minum aku." Tolak Aleeya dengan halus.
"Kan sudah hampir habis, ambil aja Lya." Kata Fauzal setengah memaksa.
"Eh, minggir. Lebih baik kau minum sendiri aja air itu. Ayo, Lya. Kita tunggu disana aj.." Ajak Andra dengan menarik tas ransel Aleeya yang mau gak mau Aleeya mengikuti kemana Andra membawanya.
Beberapa saat kemudian, Fauzalpun berjalan mendekati mereka berdua.
"Aleeya nginap dimana?" Fauzal kembali bertanya. Aleeya menatap sekilas ke Fauzal namun merasa engan menjawabnya.
"Aleeya nginap dirumah kenalan Mama aku." Jawab Andra dengan ketus.
"Oh, kenapa tidak tinggal dirumah dinas aja Ya? Aku tinggal dirumah dinas juga soalnya, ada 2 rumah dinas yang masih kosong didekat Puskemas kabarnya." Kata Fauzal.
"Eh, Lo mau ngajak Aleeya tinggal bareng gitu?" Tanya Andra dengan garang. Fauzal yang merasa kesal karena sejak tadi Andralah menjawab pertanyaannya, lalu melirik tajam kearahnya.
"Kan tadi sudah aku bilang, rumah dinasnya ada dua. Jadi gak mungkinlah aku ngajak Aleeya tinggal berdua, aku masih punya otak tau tidak?" Kata Fauzal dengan marah sedangkan Andra hanya tersenyum getir karena sudah membuat Fauzal tersinggung.
"Sudahlah, jangan berisik. Kepala aku semakin pusing nih dengar suara kalian berdua." Akhirnya Aleeya mengeluarkan suaranya juga.
"Iya, maaf Aleeya.." Fauzal menyahut. Andra hanya mengangkat bahunya.
Beberapa saat kemudian, jemputan dari kenalan Mama Andrapun datang. Mereka datang dengan mengendarai dua motor.
Andra dan Aleeya langsung menuju kesana. Aleeya berboncengan dengan seorang ibuk-ibuk yang dikenalinya sebagai kenalan dari Mama Andra. Entah kenalan sudah lama atau gimana, Aleeyapun tidak banyak bertanya. Yang jelas, ia mendapatkan tumpangan untuk sementara saja sudah begitu senang.
Sebelum pergi, Aleeya sempat mengatakan sesuatu kepada Fauzal.
"Jadi besok jam berapa kita ke Puskesmasnya?" Tanya Aleeya.
"Kita disuruh apel dulu di kantor camat, Ya. Jam 7.30" Jawab Fauzal.
"Oh, oke." Jawab Aleeya lalu berlalu dari sana meninggalkan Fauzal yang diam terpaku melihat kepergian Aleeya dan Andra.
"Oya buk, kenalkan saya Aleeya. Maaf, dengan Ibu siapa ya?" Tanya Aleeya saat diperjalanan, karena dia baru ingat bahwa dirinya belum mengenalkan namanya ke ibuk yang memboncengknya saat ini.
__ADS_1
"Panggil saja Ibu Rodiah." Jawabnya dengan nada ketus. Nyali Aleeya langsung ciut mendengar jawaban dari Tante Rodiah tersebut.
"Buk Rodiah, terimakasih ya sudah mau menampung saya untuk beberapa hari kedepan. Saya minta maaf jika merepotkan." Kata Aleeya dengan suara yang lembut dan juga pelan. Entah saking lembutnya suara Aleeya tersebut, sehingga membuat Ibuk Rodiah tidak mendengarnya atau dia sebenarnya mendengar tapi memang tidak mau menanggapinya. Entahlah, Aleeya hanya bisa menduga-duga didalam hatinya. Sampai akhirnya, tidak membutuhkan waktu yang lama, merekpun sampai dirumah Buk Rodiah.
Rumah Buk Rodiah tidak terlalu besar, rumah papan berwarna hijau itu memiliki halaman yang sangat luas. Namun, tanah disana berwarna hitam pekat. Sepengetahuan Aleeya, bahwa didaerah kepulauan ini memang sebagian besar tanahnya tanah gambut.
Aleeya turun dari motor Buk Rodiah, ia berdiri disana dan menunggu Buk Rodiah mempersilahkan dia untuk masuk. Tapi, entah kenapa Buk Rodiah sangat cuek, sama sekali tidak mengajaknya masuk ataupun berbicara basa-basi yang lain. Perasaan Aleeya jadi gak enak, ditambah pula Andra belum sampai juga. Tadi Andra dan bapak itu masih jauh dibelakang, sepertinya bapak tersebut berhenti sebentar disebuah warung yang menyebabkan mereka lambat sampainya. Jadi, Aleeya putuskan untuk tetap berdiri disana sampai Andra datang.
Selang beberapa menit kemudian, AndrApun datang.
"Loh kok berdiri diluar saja, Nak Aleeya??" Tanya Bapak yang bersama Andra tadi yang Aleeya yakini suami dari ibuk Rodiah.
"Ee.. Sengaja mau tunggu bapak dan Andra sampai" Jawab Aleeya sedaanya, padahal dirinya sama sekali tidak disuruh masuk oleh Ibuk Rodiah.
"Ya sudah, ayuk masuk kedalam. Yuk Ndra.." Ajak Bapak yang bersama Safar itu dengan suara yang ramah.
Aleeya dan Andra masuk berbarengan kedalam. Setelah itu, Pak Safar mempersilahkan mereka untuk duduk diruang tamu sederhananya.
"Buk.. Buk.. Ini dibikinin dulu minum untuk Aleeya dan Andra," Kata Pak Safar dengan sedikit berteriak. Namun, tidak terdengar sahutan dari buk Rodiah dari belakang. Lalu Pak Safar memutuskan untuk kebelakang menghampiri buk Rodiah.
"Andra, kalau boleh tau yang kenalan Tante Murni buk Rodiah atau Pak Safar Ya?" Tanya Aleeya ke Andra setelah Pak Safar pamit ke belakang.
"Pak Safar." Jawab Andra singkat.
"Kenapa?" lanjutnya lagi dengan bertanya.
"Hhmm.. Gak, pantasan aja.." Lirih Aleeya dengan pelan namun tetap terdengar juga oleh Andra.
"Gak.. gak jadi," Jawab Aleeya dengan menggelengkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, BUK Rodiah keluar dari dapur dengan membawa minuman dan cemilan ke ruang tamu. Aleeya perhatikan raut wajah buk Rodiah yang sudah berubah. Dimana tadi wajahnya itu tampak cemberut namun kini.. Malah tampak ceria.
"Diminum dulu airnya, Andra dan Aleeya, dan dimakan juga gorengannya. Maaf cuman ada ini aja," Katanya dengan tersenyum hangat. Aleeya semakin heran, tapi setelah itu ia menepis rasa aneh tersebut dan menyakini bahwa buk Rodiah sebenarnya baik.
"Terimaksih buk" Jawab Aleeya dan Andra hampir berbarengan.
Setelah mereka berbincang-bincang, Aleeya izin sebentar kebelakang mau ambil wudhu karena ia belum melaksanakan sholat dzuhur. Buk Rodiah mengantarkan Aleeya ke kamar mandi yang ternyata terpisah dari rumah buk Rodiah. Kamar mandi dan WCnya ada diluar dan lumayan jauh juga dari rumah. Tiba-tiba terlintas dipikiran Aleeya, bagaimana jika malam hari mereka mau BUang air, apakah tidak ngeri harus menempuh jalan tanah dan samping kiri kanan masih semak belukar. Entahlah, mungkin mereka sudah biasa. Pikir Aleeya.
Setelah selesai ambil wudhu, Aleeya sholat diruang tengah. Selesai sholat, Aleeya langsung menuju dapur karena mereka semua sudah menunggu Aleeya untuk makan siang.
"Jadi, Nak Aleeya ini akan ditempatakn di desa Dedap ya?" Tanya pak Safar memulai perbincangan dimeja makan siang itu.
"Iya, Pak. Tapi, sebelumnya saya akan orientasi dulu Di Puskesamas kecamatan Tasik ini." Jawab Aleeya.
"Jadi berapa lama kamu orientasinya di Puskesmas Tasik ini??" Tanya Ibuk Rodiah dengan lembut namun sedikit menusuk menurut Aleeya. Bukan Aleeya ingin berprasangka buruk terhadap buk Rodiah, cuman Aleeya bisa merasakan bahwa sikap buk Rodiah tidak sehangat ini sebenarnya.
"Astaghfirullah," Aleeya langsung beristighfar didalam hatinya.
"Belum tau buk berapa lamanya, tapi.. besok pagi kami akan apel dulu dikantor camat sebelum ke Puskesmas." Jelas Aleeya Dengan sopan.
__ADS_1
"Lama juga gak apa-apa, biasanya yang bapak tahu orientasinya itu sekitar 2 atau 3 bulan sebelum kamu ditempatkan didesa. Gak langsung - langsung ditempatkan gitu aja, pasti di bimbing dulu sama kepala Puskesmasnya, karena jadi bidan desa itu gak gampang lo. Harus punya mental yang kuat, tinggal sendiri disana nantiknya, bekerja sendiri juga. Tapi, bapak Yakin Nak Aleeya ini wanita yang tangguh, pasti kuat menghadapi tantangan disana nantiknya. Benar kan Nak Andra??" Jelas Pak Safar dengan panjang lebar setelah itu menyenggol halus lengan Andra yan tengah mengunyah makanannya.
"Iya, benar Pak." Jawab Andra.
"Ya sudah, dilanjutin lagi makannya, ditambah nasinya, Lya dan juga Andra. Jangan malu-malu." Kata Pak Safar.
Saat sore hari, ketika Pak Safar dan Buk Rodiah keluar sebentar dari rumahnya. Sekarang tinggallah Aleeya dan Andra dirumah berdua saja. Awalnya Aleeya tidak tahu bahwa Buk Rodiah juga keluar, makanya ia santai saja berbaring didalam kamar yang sudah disediakan oleh Buk Rodiah.
Rumah Buk Rodiah ada 4 kamar, meskipun tidak begitu besar namun terdapat 4 kamar dirumah itu. Satu kamar buk Rodiah dan Pak Safar di paling depan dan 3 kamar lagi adalah kamar anak-anak mereka yang sudah berkeluarga semua dan saat ini sudah tinggal dirumah mereka masing-masing.
Aleeya keluar dari kamar dan melihat rumah buk Rodiah sepi. Ia mencari buk Rodiah ke dapur namun tidak ada. Setelah itu, Aleeya pergi keluar dan mendapati Andra tengah duduk di bawah pohon jambu sambil merokok.
"Buk Rodiah gak ada, dia keluar." Kata Andra agak berteriak.
"Terus kalau Pak Safar?" Tanya Aleeya lagi.
"Keluar juga." Jawab Andra.
"Jadi cuman kita berdua saja dirumah ini?" Tanya Aleeya dengan ekspresi tidak percaya.
"Menurut kamuu???" Andra balik bertanya.
"Ya.. Sepertinya gitu." Kata Aleeya kemudian duduk dikursi teras tersebut.
"Oya, besok pagi aku pulang ya. Tugas aku sudah selesai, memastikan kamu sampai dengan selamat dan tinggal disini. Jadi aku gak akan didesak-desak lagi oleh Mama" Ujar Andra tanpa memandang Aleeya.
"Ya, terimakasih sudah bersusah payah mengantarkan aku sampai disini ya. Maaf sudah banyak merepotkan kamu." Kata Aleeya.
"Ya sama-sama." Sahut Andra dengan cuek.
"Tapi, Ndra..." Aleeya menggantungkan kalimatnya seakan sedang berpikir keras. Aleeya menimbang - nimbang, apa perlu dia menceritakan ke Andra tentang firasatnya terhadap buk Rodiah itu. Tapi, setelah Aleeta berpikir keras akhirnya ia memutuskan untuk tidak bercerita kepada lelaki itu.
"Ngak jadi, Ndra." Kata Aleeya akhirnya.
"Lah kenapa gak jadi? padahal aku sudah tungguin lo apa yang mau kamu bilang itu." Kata Andra.
"Ngak, ngak jadi aja.. Bukan apa-apa kok." Lanjut Aleeya lagi.
"Ya suDan kalau gitu, aku gak akan maksa." Kata Andra akhirnya.
Untuk beberapa saat hening, Aleeya juga Andra masih duduk ditempat mereka masing-masing. Mereka Menunggu kepulangan tuan rumah yang entah pergi kemana. Aleeya merasa tidak enak harus menunggu didalam sedangkan tuan rumahnya tidak ada didalam. Ditambah lagi dia malah ditinggal berdua saja dengan Andra. Untung saja lelaki itu cukup tahu diri juga dengan tidak masuk kedalam rumah saat Aleeya ada didalam kamar tadi. Jika dia masuk, entahlah.. Dia sudah betkhalwat namanya. Meskipun tidak disengaja.
.
.
.
BERSAMBUNG..
__ADS_1
.