
Aleeya menginap satu malam dirumah tante Murni, dan esok pagi ia akan kembali lagi ke desa.
Malam itu, Aleeya tengah mengobrol berdua dengan Tante Murni di ruang keluarga. Awalnya mereka mengobrol santai tentang lingkungan puskesmas dan desa tempat Aleeya ditempatkan nantiknya.
Namun, dipertengahan obrolan mereka.. Wajah Tante Murni tiba-tiba berubah serius. Ia bertanya sesuatu hal yang tak pernah Aleeya duga.
"Lya, kamu belum ada niat mau menikah?" Tanya Tante Murni dengan tatapan tajam.
"Kenapa tiba-tiba tanya tentang nikah tante?" Aleeya balik bertanya dengan tersenyum kecil.
"Iya, tante kasihan saja sama kamu nantik ditempatkan di desa terpencil sendirian. Kan kalau sudah nikah suami kamu bisa nemani kamu disana. Agar lebih aman, karena maklum saja kita tidak tahu lingkungan di desa kamU besok itu bagaimana. Masyarakat dan orang - orang sekitar itu baik atau gak nya, kita kan tidak tahu." Jelas Tante Murni.
"Dan, jika kamu bersedia. Tante ingin sekali menjodohkan kamu dengan anak tante, Andra. Cuman tante jadi sanksi karena mengingat sikap Andra yang selalu ketus sama kamu. Tante juga heran kenapa lah tu anak bisa secuek dan seketus gitu dengan gadis cantik dan lembut seperti kamu, Aleeya." Lanjut Tante Murni lagi yang membuat Aleeya benar-benar tersentak.
Ternyata memang benar adanya firasat Aleeya selama ini. Gelagat Tante Murni yang sangat baiK kepadanya ternyata punya niat selubung Atas itu semua.
Aleeya hanya diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Yang jelas jika ditanya apakah ia mau dijodohkan dengan Andra. Pasti Aleeya bisa langsung menjawabnya bahwa ia tidak akan mau dijodohkan dengan Andra. Karena selain Andra bukan termasuk tipe lelaki idamannya, Andra juga selalu bersikap ketus terhadapnya yang membuat Aleeya yakin bahwa Andra pasti tidak menyukainya dan pasti juga menolak Jika tahu dia mau dijodohkan dengan Hana.
Keesokan harinya, Aleeya kembali lagi berangkat ke desa. Pagi-pagi tante Murni mengantarkan Aleeya ke pelabuhan. Aleeya berangkat dari rumah Tante Murni tanpa bertemu dengan Andra. Aleeya yakin, pasti laki-laki itu masih tidur.
Tante Murni sudah Paham dengan prinsip hidup Aleeya sehingga tidak lagi menyuruh-nyuruh Andra untuk mengantarkannya. Meskipun demikian, Tante Murni sempat bertanya juga kepada Aleeya. Apakah wanita itu sudah memiliki lelaki impian yang lain dan jika suatu hari sikap Andra berubah terhadapnya apakah Aleeya mau menerima Andra sebagai calon lelaki impiannya itu.
"Aleeya gak bisa menjawabnya Tante. Biarlah waktu dan Allah yang akan menjawab nantiknya. Yang jelas, setiap wanita pasti menginginkan calon suami yang sholeh dan mampu membimbing mereka ke jalan yang diridhoi oleh Allah" Jawab Aleeta saat itu yang disambut dengan senyuman oleh Tante Murni.
"Tante akan berusaha membuat Andra berubah, bantu doanya yan Aleeya." Imbuh Tante Murni. Aleeya hanya menganggukkan kepalanya lalu tersenyum tipis.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Speed yang biasa membawa Aleeya ke desa akhirnya datang. Aleeya lalu pamit ke Tante Murni dengan sebelumnya mencium tangan wanita itu dengan sopan.
Saat didalam kapal, Aleeya sempat tertidur beberapa menit. Entah kenapa rasa kantuk begitu menguasainya hingga ia tidak sadar sudah sampai ke tujuan nya.
Aleeya berdiri dari tempatnya duduk dengan kepala yang masih oyong, kesadarannya belum begitu pulih. Pandangannya pun masih samar-samar, namun tetap dipaksakan badannya untuk bergerak.
Saat dia hendak melangkahkan kakinya turun Dari kapal menuju ke pelabuhan desa tersebut, tiba-tiba saja gelombang datang dengan kencang yang membuat tubuh Aleeya yang oyong semakin oyong dan mengakibatkan ia tidak lagi bisa menyeimbangkan badannya sendiri hingga akhirnya badan Aleeya hampir terjatuh kearah kanan laut, namun.. Nasib baik masih berada di Aleeya. Sebuah tangan langsung menyambut tubuh Aleeya dan menariknya hingga sampai didasar pelabuhan.
"Hay, kamu gak apa-apa?" Tanya sang penolong tersebut. Tapi, Aleeya tidak langsung menjawab. Rasa panik dan syok masih ia rasakan, gak terbayang oleh Aleeya bagaimana jadinya jika tidak ada si penolong itu yang dengan sigap menarik tubuhnya. Jika tidak, pasti Aleeya sudah masuk ke laut. Aleeya sangat bersyukur karena dirinya sama sekali tidak bisa berenang. Dan dapat dipastikan bahwa ia langsung tenggelam jika tidak ditolong oleh si penolong itu.
"Terimakasih ya," Ucap Aleeya yang akhirnya setelah bisa menata hatinya yang panik dan syok tadi.
"Iya, sama-sama. Lain kali hati-hati ya." Katanya dengan mengingatkan Aleeya.
"Tapi, sepertinya saya pernah lihat kamu deh." Ujarnya lagi dengan menatap Aleeya erat seraya menyipitkan kedua bola matanya itu. Begitupun dengan Aleeya yang merasakan hal yang sama. Ia merasa pernah bertemu dengan lelaki dihadapannya ini, tapi dimana ya..??
"Iya, kamu yang nolongin aku kemarin kan? Dan hari ini, kamu juga sudah nolongin aku. Aku benar-benar mengucapkan terimakasih sama kamu." Kata Aleeya. Karena memang sudah dua kali lelaki itu menolongnya, Aleeya merasa lelaki ini sangat berjasa sekali. Kemarin dia sudah rela bercapek - capek mendorong motor Aleeya sampai ke bengkel nya dan sama sekali tidak mau menerima bayaran dan sekarang ia sudah menyelamatkan Aleeya yang hampir jatuh kelaut. Aleeya bukan saja berhutang jasa dengan dia melainkan berhutang nyawa juga.
"Iya, benar sekali. Oya, Kamu dari mana emangnya??" Tanya lelaki itu.
"Aku dari kabupaten, ada pelatihan 3 hari kemarin disana." Jawab Aleeya.
"Ooh.. Oya, lain kali hati-hati ya kalau mau turun. Sepertinya kamu lagi gak sehat ya? Jalannya kok sempoyongan gitu aku lihat." ujarnya.
"Cuman agak pusing aja." Jawab Aleeya seraya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Hhmm... Pantasan, lain kali kalau terasa pusing jangan buru-buri turun. Duduk aja dulu sebentar sampai gelombang agak reda baru turun." Ucapnya dengan tersenyum lebar.
Aleeya hanya mengangguk menanggapinya.
"Oya, namanya siapa ya kemarin? Saya lupa?" Lelaki itu bertanya padahal Aleeya sudah siap-siap beranjak dari sana.
"Aleeya." lirih Aleeya.
"Oya, Aleeya. Aku Dafri. Masih ingat nama aku kan?" Tanyanya lagi. Aleeya hanya menganggukkan kepalanya.
"Saya permisi dulu ya, sekali lagi terima Kasih banyak atas pertolongannya tuk kedua kalinya." Ucap Aleeya.
"Oke, sama-sama AlEeya. Aku juga mau melanjutkan tugas aku. Kamu hati-hati ya, Assalamualaikum," Tuturnya lalu pergi duluan meninggalkan Aleeya.
Aleeya membalikkan badannya dan melihat Dafri yang kembali bertugas didepan kapal ya ha baru saja berlabuh.
Aleeya membaca lambang dikostum yang dipakai oleh Dafri.
"Dishub.." lirih Aleeya yang menimbulkan keyakinan dihatinya bahwa laki-laki itu berprofesi sebagai petugas di dinas perhubungan.
Setelah itu, Aleeya menghubungi kak Ovi untuk menjemput dirinya..
#
#
__ADS_1
#
Bersambung..