
Akhirnya tibalah dihari keberangkatan Aleeya. Pagi-pagi sekali Aleeya sudah siap dan rapi dengan pakaian gamis dan Kerudung panjang berwarna biru muda yang menutupi lekuk tubuhnya. Selesai sarapan, Aleeya berpamitan ke Orang tuanya dan adik-adiknya untuk langsung menuju ke pelabuhan. Aleeya berangkat ke pelabuhan diantar oleh Aleezar. Sebelum berangkat, Mama Aleeya banyak memberikan pesan ke Aleeya. Karena memang Aleeya yang belum pernah berada dikota yang berbeda dari orang tuanya, yang membuat orang tua Aleeya merasa agak berat melepaskan kepergian anak sulungnya itu. Begitu juga dengan Papa Aleeya yang terlihat Agak murung dan tidak banyak bicara. Akan tetapi mereka yakin Aleeya akan baik-baik saja disana.
Disepanjang perjalanan ke pelabuhan, Aleeya lebih banyak diam dan melamun. Pikirannya bercabang - cabang. Ada banyak hal yang ia bayangkan dan juga ia khawatirkan. Aleeya merasa agak ragu karena kepergiannya kali kini ke daerah kepulauan itu hanya seorang diri, tidak seperti tahun lalu bersama Delfi dan 3 orang teman kuliahnya yang lain. Awal mula Aleeya bisa ikut test disana adalah karena ajakan Delfi. Aleeya mengenal Delfi sejak SMA. Mereka bersekolah di SMA yang sama dan lumayan dekat pada saat itu. Dan Dulu saat SMA kelas 1 Delfi sempat berpacaran dengan Aal yang padahal Aleeya juga menyimpan rasa terhadap lelaki itu. Semenjak itulah kedekatan Aleeya dan Delfi agak renggang hingga akhirnya mereka melanjutkan kuliah kebidanan dan dikampus yang sama juga.
Meskipun berada dikampus yang sama Saat itu, Aleeya dan Delfi selalu bersikap dingin satu sama yang lain. Mereka berbicara dan bertegur sapa seperlunya saja. Padahal dulunya hubungan pertemanan mereka sangat dekat. Akan tetapi Aleeya tidak terlalu mengambil pusing akan hal itu, saat itu ia berprinsip jika orang bersikap dingin dan cuek terhadapnya maka dia akan lebih bersikap dingin dan cuek terhadapnya orang tersebut. Egonya sangat tinggi ketika itu, malahan Ia tahan tidak bertegur sapa dengan siapapun yang mengusiknya. Ia tidak akan memulai duluan untuk sekedar menyapa ataupun berbicara. Yah.. Begitulah Aleeya yang dulu. Aleeya yang Arogan dan keras kepala.
Setelah tamat kuliah, mereka sibuk dengan jalan kehidupan masing-masing. Mereka lama tak berkabar hingga akhirnya Aleeya mulai menemukan jalan hijrahnya. Dan setahun yang lalu tanpa sengaja Aleeya berjumpa Delfi di sebuah toko buku. Mereka terlihat girang dan langsung bertukar nomor Hp tanpa memperdulikan apa yang pernah terjadi diantara mereka. Dan kebetulan saat itu ada pembukaan test PNS di daerah Kabupaten yang baru berkembang. Delfi mengajak Aleeya untuk mengikuti test di sana yang kebetulan ada keluarga Delfi yang tinggal disana. Aleeya langsung menerima ajakan Delfi. Mereka menginap dirumah keluarga Delfi selama tiga hari..
Kemudian beberapa hari yang lalu, Delfi mengabari Aleeya bahwa dirinya lulus sedangkan DelfI sendiri tidak lulus. Awalnya Aleeya merasa tidak enak hati karena dia yang menumpang di rumah keluarga Delfi, malahan dirinya yang lulus sedangkan Delfi tidak. Tapi, Delfi sedikitpun tidak iri dan mempermasalahkan hal itu. Malahan ia ikut senang dan bahkan menawarkan Aleeya untuk tinggal sementara dirumah keluarganya yang disana saat daftar ulang nantik.
"Rezeki itu sudah ada takarannya, Ya. Enggak pernah tertukar. Dan ini memang rezeki kamu. Jadi kenapa aku harus marah ataupun dengki cuman gara-gara aku yang ngajak kamu dan tinggal dirumah keluarga aku." Ucapnya saat itu di sambungan telepon.
"Kamu jangan risau, Ya. Ada keluarga aku disana. Tante aku itu orangnya baik banget, suka menolong dan sangat peka, Ya. Jadi, aku sarankan besok kamu nginap disana aja lagi. Nantik aku kasih tau tante aku, pasti dia senang. Apalagi dia enggak ada anak perempuan, anaknya kan 4 orang laki-laki semua." Lanjut Delfi saat itu menyakinkan Lya untuk mau tinggal dirumah tantenya. Aleeya yang memang tak ada pilihan yang lain akhirnya mau menerima tawaran Delfi tersebut.
Lebih kurang setengah jam perjalanan akhirnya sampailah Aleeya dan Aleezar di Pelabuhan. Aleezar memarkikan motornya setelah itu lalu membantu Aleeya membawa kopornya kedalam. Masih ada waktu 10 menit lagi sebelum kapal berangkat. Aleeya dan Aleezar duduk di kursi tunggu. Aleezar memperhatikan kakaknya yang terlihat murung.
"Kak Ya.. Kenapa?" Tanya Aleezar.
"Ngak kenapa-napa Li.." Jawab Aleeya.
"Ngak kenapa-napa tapi kok Ali Perhatikan sejak tadi diam aja. Wajah kak juga murung. Bukannya beberapa hari kemaren kak bahagia sekali." Ucap Ali. Aleeya menarik nafas panjang. Memang benar apa yang dikatakan Ali. Kemaren dirinya sungguh bahagia karena kelulusannya tapi kali ini ia Perasaannya agak lain. Sulit untuk diungkapkan.
"Kak.. Maaf Ali ngak bisa temanin kakak. Kalau lah Ali tidak lagi ujian semester pasti Ali ikut kakak." Ujar Ali.
"Iya Ali kak paham kamu kan memang lagi ujian akhir. Kamu fokus aja ujiannya. Jangan risau. Kak baik-baik aja kok." Ucap Aleeya seraya tersenyum.
"Tapi kalau ada apa-apa atau kak butuh bantuan Ali.. Kabari Ali cepat ya ka.. Kalau keadaan darurat Ali pasti akan menyusul kakak." Aleeya kembali tersenyum mendengar penuturan adik lelaki satu-satunya ini.
"Oke, Siap" Jawab Aleeya kemudian.
Teeeetttt.........
Bunyi sirene kapal mengagetkan mereka berdua. Tanda kapal akan segera berangkat. Sudah saatnya Aleeya untuk pergi. Aleezar menyalami tangan Aleeya. Kemudian Aleeya merangkul adiknya itu. Dan sesaat kemudian dengan langkah kaki yang berat Aleeya masuk kedalam kapal.
__ADS_1
***
Didalam kapal, Aleeya duduk ditepi dekat jendela. Ia duduk sesuai urutan nomor tiket yang ia pesan. Aleeya melemparkan pandangannya keluar jendela, memandangi hamparan laut berwarna kecoklatan. Kapal sudah bergerak jauh meninggalkan pelabuhan, tapi hati dan pikiran Aleeya masih tertinggal disana. Ia seperti tidak menikmati perjalanannya saat itu. Sedetik kemudian Aleeya mengalihkan pandangan kesamping kirinya. Yang ada hanya kursi kosong. Dalam hati Aleeya berfikir mungkin saja memang tidak ada orang yang duduk disebelahnya. Atau mungkin orangnya terlambat datang dan ketinggalan kapal. Entahlah..
Aleeya memejamkan matanya sejenak. Tiba-tiba saja Rasa kantuk mulai menguasai dirinya. Mungkin karena tadi malam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sebentar-bentar terjaga dan terpikir akan keberangkatannya. Aleeya kembali menguap beberapa kali. Ia berusaha menahan diri agar tidak tertidur tapi sayang sekali matanya tidak bisa diajak kompromi lagi dan akhirnya ia tertidur. Sangat lelap sekali.
Ketika Aleeya sudah berada didunia mimpi. Tiba-tiba seseorang datang dan duduk disampingnya. Seorang lelaki Berjaket hitam dan Bertopi itu menghempaskan badannya di kursi samping Aleeya dengan agak kasar. Sontak saja membuat Aleeya terbangun dan sedikit kaget dengan gesekan dari arah sebelahnya. Aleeya membuka matanya dan mendapati sudah ada sosok lelaki disampingnya. Spontan saja Aleeya langsung bergeser berlawanan arah dari sosok lelaki itu. Aleeya terlihat begitu kaget seraya mengucapkan Istigfar.
"Biasa aja donk, Usah kaget gitu. Kayak ngelihat hantu aja!" Ucap Lelaki asing tersebut ketika mendapati Aleeya yang terkaget-kaget. Aleeya memperbaiki posisi duduknya. Ia mulai merasa tidak nyaman. Bagaimana mungkin dia bisa duduk di satu kursi bersama seorang lelaki dan yang naasnya dirinya malah berada dibagian dekat jendela yang membuatnya seperti terkurung. Aleeya menyesali dirinya yang tidak bisa membaca situasi. Seharusnya ia tidak duduk didekat jendela. Kenapa tidak terpikirkan olehnya akan hal ini. Kemudian Aleeya berdiri, melihat sekeliling dan berharap ada kursi kosong tapi sayang sekali tidak ada. Semua kursi terisi penuh Oleh penumpang.
Aleeya semakin menjaga jaraknya. Tapi posisnya yang sudah terkurung didalam membuatnya susah untuk bergeser lagi. Sedangkan si lelaki itu duduk sesuka hatinya. Ia semakin bergeser kearah Aleeya dan malahan mengangkat kakinya Keatas kursi dengan posisi bersela yang otomatis mengenai lutut Aleeya. Aleeya melototi gusar kearahnya, akan tetapi tak dihiraukan lelaki itu.
"Maaf, bisa saya saja yang duduk dibagian luar. Dan Anda yang didekat jendela." Ucap Aleeya memberanikan diri untuk Berbicara kepada lelaki yang dianggapnya kurang sopan itu.
"Hah.. Apa.. ?? Lagi bicara sama saya ya..?" Katanya yang langsung mencopot handsfree yang terpasang ditelinganya.
"Bisa pindah posisi. Saya dibagian luar dan kamu duduk dekat jendela" Ulang Aleeya lagi yang ia yakin lelaki itu pasti tidak mendengar perkataan Aleeya tadi.
"Aku enggak suka duduk dekat jendela. Biasanya kan perempuan yang suka duduk dekat jendela" Jawabnya cuek dan kembali memasang handsfree ke telinga nya.
"Kalau gitu.. Bisa tolong kakinya diturunkan kebawah. Karena mengenai saya dan membuat tempat duduk saya jadi semakin sempit" Kata Aleeya lagi.
"What...??? Beraninya Kamu ngatur-ngatur saya. Suka-suka saya mau meletakkan kaki saya dimana. Lagi pula kamunya aja yang membuat tempat duduk mu semakin sempit, sejak tadi asyik bergeser geser aja. Emang apa yang kamu pikirkan tentang saya? Emang saya mau ngapain? Melihat penampilan kamu saja Saya tidak berselera. Kampungan.." Ucapnya dengan kasar. Aleeya mengelus dadanya mendengar hinaan yang keluar dari mulut laki-laki kurang ajar itu. Aleeya tidak lagi membalas perkataannya. Ia lebih memilih tetap menjaga jarak dan mengalihkan pandangannya kearah laut. Memandangi laut Lebih baik dari pada memandang kearah berlawanan yang membuat hatinya semakin dongkol.
***
Perjalanan lebih kurang 4 jam itu akhirnya berakhir. Aleeya bisa bernapas lega karena sejak tadi hati dan pikirannya tidak baik-baik saja. Ia merasa risih dan ingin segera beranjak dari kursi dan meninggal lelaki sombong yang ada disampingnya itu.
Kapal akhirnya merapat di pelabuhan daerah kepulauan itu. Aleeya sudah siap-siap untuk berdiri dan keluar dari kapal namun lelaki asing itu tidak beranjak dari kursinya. Ia malah sibuk bermain game dari hpnya.
"Tolong geser saya mau lewat." Ucap Aleeya dengan kesal. Lelaki yang memakai handsfree ditelinganya itu sepertinya tidak mendengar ucapan Aleeya. Dia tampak fokus mengerakkan jarinya pada hp yang ada di genggamannya.
"Hai.. Haloo.. Tolong berdiri kita sudah sampai" Ucap Aleeya yang kini sudah berdiri dan melambai-lambaikan tangannya kearah wajah si lelaki itu. Lelaki itu akhirnya tersadar dari fokusnya dan langsung melepas handsfreenya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanyanya dengan suara yang lumayan besar. Tepatnya seperti membentak. Aleeya hanya mengelus-elus dadanya.
"Minggir.. Saya mau lewat. Kapal sudah sampai." Jawab Aleeya tanpa memandangnya. Lelaki itu akhirnya berdiri dan membiarkan Aleeya melewatinya. Saat melewatinya sayup-sayup Aleeya mendengar celotehan lelakinya itu kepadanya.
"Dasar cewek kampungan.." Katanya. Namun Aleeya tidak mempedulikan ucapannya, Ia langsung bergegas keluar dari kapal.
Sesampainya diluar pelabuhan, Aleeya langsung menghubungi Tantenya Delfi. Karena Delfi bilang tadi bahwa tantenya yang akan menjemput dirinya di pelabuhan. Selang beberapa menit kemudian seorang wanita paruh baya datang menghampiri Aleeya dari arah belakang.
"Hai Aleeya..." Katanya dengan ramah. Ternyata wanita itu tantenya Delfi. Tante Murni namanya. Aleeya tersenyum lepas dan langsung menyalami tangan tante Murni.
"Aleeya baru saja mau menelpon tante.." Kata Aleeya dengan ramah.
"Tante sudah di pelabuhan dari 10 menit yang lalu lah.. Kebetulan anak tante yang dari kota juga datang hari ini Lya.."
"Ooh.. Iya ya.. "
"Iya.. Dia baru selesai kuliah di Kota. Bulan depan wisudanya jadi menjelang menunggu bulan depan, dia pulang dulu kerumah." Jelas Tante Murni. Aleeya hanya manggut-manggut.
"Tapi, dimana ya dia.. Bentar tante telpon dulu ya.." Aleeya hanya mengangguk.
"Lah.. Itu dia.." Tunjuk Tante Murni kearah belakang Lya. Seketika reflesk saja Aleeya menoleh kebelakang mengikuti arah tunjukkan tante Murni.
Untuk sesaat Aleeya tertegun. Matanya seakan terbelakak melihat sosok yang ditunjuk oleh Tante Murni. Seorang lelaki berjaket hitam dengan langkah tegap berjalan mendekati mereka. Lelaki asing yang menyebalkan dan yang mengatakan dirinya kampungan. Apakah benar lelaki itu yang di maksud tante Murni anaknya?
"Ya Allah.." Desis Aleeya pelan sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Aleeya membalikkan badannya. Lelaki itu kini sudah ada tepat di samping Tante Murni dan detik kemudian menyalami tangan tante Murni. Aleeya hanya diam terpaku disana. Kali ini bukan saja dia telah satu kapal dengan lelaki itu. Tapi dia akan satu rumah dengan lelaki sengak itu. Aleeya Hanya bisa banyak-banyak beristigfar didalam hatinya.
`
`
`
BERSAMBUNG...
__ADS_1