
"Maafkan aku untuk beberapa waktu lalu, tuan. Aku terlalu larut dengan masa laluku, tapi aku jamin setelah ini tidak akan ada lagi kekecewaan anda untuk menyewa saya.."
"Saya akan melakukannya secara profesional, dan mari mulai sekarang bekerja sama seperti penyewa dan pemuas pada umumnya.."
Devan tertegun..
"Eve..."
"Mulai sekarang jika anda menginginkannya datang padaku, atau panggil aku, selama masa kontrak masih berjalan aku akan siap sedia, kecuali di masa datang bulanku.. aku harap anda mengerti untuk yang satu itu.."
"Hentikan Eve!." Devan mengepalkan tangannya. "Aku tidak hanya akan menjadikanmu pemuas nafsuku saja, aku sungguh menyesal dan ingin kita kembali.. Aku mohon Eve, beri aku kesempatan.."
"Aku benar- benar mencintaimu Eve.." Devan mendekat dan akan meraih tangan Evelyn, namun Evelyn mundur.
Evelyn menghela nafasnya "Dengar tuan Devan, aku sedang berusaha menekan kebencianku padamu demi kontrak kita, dan jika anda ingin ini berjalan lancar aku harap anda juga melupakan masa lalu kita, dan anda tahu persis apa yang akan aku jawab atas pertanyaanmu. Tidak ada kesempatan kedua." cinta persetan dengan itu semua, Evelyn tidak percaya.
Devan memejamkan matanya, dia tak boleh gegabah jika tidak Evelyn benar- benar akan meninggalkannya "Baiklah, aku tidak akan bicara apapun tentang masa lalu kita.." Devan berjalan mendekat dan kali ini Evelyn tak lagi menghindar.
Devan meraih pinggang Evelyn "Tapi aku akan menunjukan bagaimana aku bisa meraihmu kembali dengan cara yang benar."
"Aku tidak akan tergoda."
Evelyn menahan nafasnya saat wajah Devan mendekat dan menunduk seolah akan meraih bibirnya.
Evelyn menyiapkan hati dan tubuhnya agar tidak terlena namun yang terjadi justru kecupan Devan mendarat di dahi Evelyn dan menekan disana lama, seolah menyalurkan perasaannya Devan memejam.
"Kamu masih sakit, istirahatlah! setelah keadaanmu baik jangan harap kamu bisa tidur nyenyak." Devan melepas dekapannya "Masuklah disini sangat dingin."
Devan melepas jasnya lalu menyampirkannya di bahu Evelyn "Jangan terlalu berpakaian terbuka, di sini banyak laki- laki.. dan aku tidak suka kamu menjadi perhatian mereka" Devan meninggalkan Evelyn yang tertegun menatap punggung tegap itu berjalan menjauh.
__ADS_1
Evelyn mengerjapkan matanya, kenapa rasanya seperti deja vu Devan juga selalu berhasil membuat Evelyn meluluh dulu, saat pria itu bermanis- manis padanya, dan kini perlakuan Devan yang manis kembali mengembalikan kilasan masa lalu tentang hubungan mereka. tidak! jangan sampai dia terjerat lagi.
Evelyn mengepalkan tangannya kuat berharap hal itu bisa membentengi hatinya.
"Baiklah, semuanya tidak akan mudah.." keluhnya, lalu masuk ke dalam rumah.
...
Setelah hari itu Devan tidak datang lagi bahkan hampir satu minggu pria itu tidak juga muncul, entah karena apa? Evelyn tak perduli. Evelyn masih diam di dalam rumah tanpa bisa keluar dengan leluasa, Evelyn juga tak ingin banyak bicara dengan para pelayan bahkan untuk sekedar bertanya apa menu makan hari ini.
Meski Evelyn akui semuanya terasa nikmat, tapi Evelyn sudah mulai bosan.
Menghela nafasnya Evelyn membuka lemari dan melihat pakaian yang tergantung meraih salah satunya dan mengenakannya.
Evelyn memutuskan akan keluar rumah, dan terserah meski dengan pengawalan dia tetap akan pergi, meski tidak yakin tapi Evelyn ingin menjejaki kota ini kota yang dulu pernah menjadi tempatnya berpijak, bahkan sebagian besar hidupnya dia habiskan di sini.
Meski ada banyak luka berawal dari sini, tapi banyak kebahagiaan juga tercipta disini.
Evelyn menipiskan bibirnya tangannya mengepal erat meyakinkan diri bahwa dia bisa menghadapi ini, meski dari jauh Evelyn juga ingin melihat orang tuannya.
Evelyn menatap sebuah rumah sederhana di depannya yang sudah berbeda dari terakhir kali dia tinggalkan, mereka merubah dekorasinya..?
Pohon buah kesukaan Evelyn juga sudah tidak ada berganti dengan garasi, garasi yang awalnya menjadi tempat mobil ayahnya sepertinya di buat menjadi ruang tamu, terlihat dari dinding kaca yang menampilkan pemandangan di dalamnya berupa sofa yang minimalis dan indah.
Semua sudah berubah..
Evelyn menepiskan perasaannya yang berprasangka jika itu untuk melupakan dan mengenyahkan kenangannya, tidak mungkin orang tua nya sekejam itu bukan, mereka benar- benar menyingkirkan Evelyn dari hidup mereka.
Apa sudah tidak ada maaf baginya..
__ADS_1
Sudah hampir satu jam Evelyn diam dan menatap rumah itu dari dalam mobil, dengan para bodyguard yang mengisi kursi depan.
Semakin lama, hati Evelyn terasa terpelintir saat mengingat kenangan- kenangan nya di rumah itu.
Dahi Evelyn mengeryit ketika melihat dua orang yang keluar dari rumah itu bukan orang yang dia kenali sebagai orang tuanya, melainkan sepasang suami istri muda dengan bayi di gendongannya.
Evelyn mengerjapkan matanya, apa dia salah rumah?, Tidak, Evelyn tidak salah meski ada beberapa yang di rubah tapi Evelyn masih mengenali rumahnya.
Tapi kemana orang tuanya?..
Sekelebat pikiran buruk menyapanya, apa orang tuanya sudah tiada dan rumah itu terjual..
Tidak!.
Evelyn membuka pintu menjejakkan kaki berbalut high heels nya, dan berjalan ke arah rumahnya dulu, tak peduli di belakangnya dua bodyguard langsung ikut turun mengikutinya Evelyn hanya menyapa.
"Permisi, apa kalian pemilik rumah ini?"
...
Devan menutup ponselnya dia baru saja menerima laporan jika Evelyn pergi ke rumah keluarganya dulu, dan setelah pulang dari sana Evelyn kembali mengurung diri di kamar.
Dan seperti yang Devan lihat dari layar cctvnya Evelyn sedang berbaring menelungkupkan wajahnya pada bantal, dan seperti perkiraannya mungkin Evelyn mengetahui jika orang tuanya sudah tidak tinggal di sana lagi.
Devan hari ini akan pergi ke vila, setelah hampir satu minggu tak datang menemui Evelyn karena kesibukannya, hari ini memutuskan untuk datang, apalagi melihat Evelyn yang sedang bersedih Devan ingin bisa menjadi penghiburnya.
Belum sampai Devan pada pintu sebuah suara terdengar dan pintu pun terbuka, menampakkan seorang wanita cantik tersenyum ceria "Hay, sayang.."
Tanpa sempat mengelak bibir Devan sudah dilu mat secara brutal oleh wanita tersebut.
__ADS_1
...