Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Apartemen Lama


__ADS_3

Devan mengajak Evelyn pergi untuk melihat apartemen untuk mereka tinggali, tak perlu membeli karena Devan sudah memiliki beberapa unit di beberapa kota, Devan sengaja memilih satu unit yang dekat dengan kantornya, dan yang membuat Evelyn terperangah adalah Apartemen itu adalah apartemen 4 tahun lalu yang di jadikan tempat tinggal oleh pria itu sekaligus tempat mereka selalu menghabiskan waktu bersama dan bercinta.


Evelyn meremas tangannya yang terasa basah, apa Devan sengaja melakukan ini padanya, apa Devan ingin mengingatkan kenangan buruknya saat melihat pria itu bahkan bercinta di ranjang yang memang selalu mereka gunakan?.


"Ada apa? ayo.." Evelyn bergeming bahkan saat tangan Devan menggenggam tangannya dan menariknya masuk.


Evelyn tersenyum dan berjalan mengikuti Devan, "Kamu ingat apartemen ini..?"


Tentu saja..


"Password nya masih sama, tanggal ulang tahunmu."


Aku tidak peduli..


Devan menekan beberapa angka lalu pintu terbuka, menampilkan interior apartemen yang Evelyn rasa tidak banyak berubah, hanya terlihat sofa yang sudah diganti mungkin karena sudah empat tahun.


Evelyn masih mengikuti langkah Devan yang masuk ke dalam apartemen dan membuka semua pintu, Apartemen ini terdiri dari satu lantai yang luas dengan dua kamar masing- masing ada kamar mandi, ruang tamu, ruang televisi dan dapur dengan meja bar, ada kamar mandi tamu di sebelahnya.


Evelyn melihat kearah balkon tirai tipis itu bergerak tertiup angin karena jendela sedikit terbuka.


Tidak ada yang berubah, semua masih sama hanya ada beberapa furniture saja yang di ganti.


"Hanya apartemen ini yang dekat dengan kantor pusat, jadi aku akan lebih sering pulang."


Evelyn mengangguk, Devan masih meneliti wajah Evelyn yang tidak berubah sejak dia memarkirkan mobilnya di parkiran apartemenya, wajah Evelyn sangat datar.


Devan tahu Evelyn tidak akan suka tinggal disini, tapi Devan ingin menunjukkan bahwa Evelyn tak pernah hilang disini.


"Ayo ke kamar kita." Devan menarik tangan Evelyn ke arah kamar utama, tempat dirinya dan Devan dulu memadu kasih, tapi kemudian Devan menodainya dengan membawa wanita lain dan bercinta di dalamnya.


Mengingat itu membuat Evelyn melepaskan tangan Devan..


"Aku ingin di kamar itu." Evelyn menunjuk kamar di sebelah ruang televisi.


"Kamar itu kecil sayang."


"Tidak masalah, kamu tidak perlu tidur disana jika tak mau, cukup datang saat kamu membutuhkan aku, tapi jangan ajak aku ke kamar itu." Evelyn memalingkan wajahnya dia bahkan tak ingin melihat pintu kamar utama.


Devan menghela nafasnya "Baiklah kita tidur disana." Devan mengalah dan membawa Evelyn ke kamar satunya yang tak seluas kamar utama.


"Besok, pelayan akan membawa semua barangmu kesini.." Evelyn mengangguk, tatapan matanya menelusuri seisi kamar yang memang tak seluas kamar utama tapi kamar itu cukup luas bagi Evelyn, yang hanya memiliki rumah sederhana.


"Kenapa harus apartemen ini?, kau sengaja ingin mengorek luka lamaku." Evelyn ingin menanyakan itu, tapi mulutnya sengaja ia kunci rapat, tak ingin peduli dengan sikap dan apa yang pria itu lakukan, hanya dua tahun, batin Evelyn terus bergumam.


"Kamu lapar, aku akan pesan makanan." Devan menekan layar ponselnya hendak melakukan pesan antar, namun Evelyn mencegahnya.

__ADS_1


"Biar aku yang memasak."


Devan mengeryit "Sungguh, kamu bisa memasak?."


"Kamu meremehkan aku, aku hidup sendiri sejak 4 tahun lalu, pengalaman mengajarkan aku segalanya." Devan tersenyum menggenggam tangan Evelyn, hatinya merasa bersalah karena tak ada di saat tersulit Evelyn.


"Tapi kita harus belanja lebih dulu."


"Tidak apa, aku suka belanja." Evelyn menggerlingkan matanya ke arah Devan.


Devan terkekeh "Oke, ayo kita belanja."


Evelyn melingkarkan tangannya di pinggang Devan dan mereka keluar dari apartemen untuk pergi berbelanja.


Membeli sayuran, buah- buahan juga camilan, Devan mendorong troli belanja mereka sedangkan Evelyn memilih apa saja yang akan dia masukan kedalam keranjang.


Mereka seperti pasangan yang baru saja menikah, terlihat manis dengan Evelyn yang bergelayut di tangan Devan.


Lagi- lagi Devan di buat tak henti tersenyum karena kebahagiaannya hari ini, dagunya ia sandarkan di pucuk kepala Evelyn dan sesekali mengecupnya, orang yang melihat tingkah keduanya, beberapa kali mencuri pandang dan tersenyum penuh kagum, melihat pasangan romantis ini, terlihat sangat bahagia dan serasi.


"Oh, bir.." Evelyn menunjuk ke arah bir dalam kaleng yang berjajar di lemari pendingin.


Evelyn membuka lemari pendingin dan memasukkan beberapa kaleng kedalam troli. "Jika kamu mabuk, aku akan kerepotan menahan hasratku.." Evelyn terkekeh.


"Tidak akan.."


"Di rumah kami ada banyak, bahkan Daddy menyediakan gudang khusus untuk minuman."


Evelyn mengangguk tentu saja, mereka kan memang kaya. "Aku biasa membeli minuman murah dengan Boni lalu mabuk bersama."


"Baiklah kamu boleh ambil semaumu, tapi hanya boleh meminumnya apartemen, dan jangan berlebihan!."


"Sungguh?" Evelyn kembali memasukkan kaleng bir ke dalam troli.


"Apa sudah cukup?" tanya Devan.


Evelyn mengangguk "Ini sudah cukup untuk beberapa hari."


"Baiklah ayo kita bayar, aku tidak sabar menikmati masakanmu," Evelyn melepaskan tangan Devan.


"Kamu yang bayar aku menunggu di sana.." Evelyn menunjuk kursi di luar super market tersebut.


"Tapi Eve.." Devan menghela nafasnya saat melihat Evelyn sudah berjalan pergi.


Akhirnya Devan mendorong sendiri troli penuh itu ke arah kasir.

__ADS_1


Devan mengantri untuk membayar, sesekali matanya menatap Evelyn yang duduk di kursi di luar sana, Evelyn tampak memainkan ponselnya lalu sesekali tersenyum, di dekatnya berdiri dua bodyguardnya yang menatap waspada sekelilingnya.


Devan mengerutkan keningnya dia sedang berkirim pesan dengan siapa?, hingga bibirnya terus tersenyum seperti itu membuat iri saja.


Tiba- tiba hati Devan terasa panas mengingat dulu banyak lelaki yang menjadi penyewa Evelyn, mungkinkah itu salah satunya?, apa Evelyn mempunyai hubungan khusus dengan salah satu pria itu, apakah ini juga alasannya Evelyn terus menolaknya untuk kembali?.


Devan menggeleng, tidak. Tidak mungkin Evelyn memiliki pria lain, selain karena hutangnya dan Evelyn juga tidak mungkin melakukan pekerjaannya jika dia memiliki kekasih, dan juga semua data yang dia dapatkan tak menunjukan jika Evelyn tak memiliki hubungan khusus dengan siapapun.


Devan merasa tenang sekarang, lalu matanya menatap kembali Evelyn yang justru sedang menempelkan ponselnya di telinga, lalu tertawa.


Sial, bicara dengan siapa dia..


"Nyonya, bisakah aku membayar lebih dulu?" tanya Devan pada Wanita paruh baya di depannya.


"Kau tidak lihat aku juga mengantri sejak tadi.. enak saja mentang- mentang tampan bisa seenaknya." Wanita paruh baya itu menggerutu.


Devan menipiskan bibirnya..


Diluar sana Evelyn sedang berkirim pesan dengan Boni menanyakan bagaimana kabarnya setelah satu bulan lebih menjadi seorang simpanan.


[Kau sudah membeli perhiasan, tas branded, atau pakaian mahal?.] Evelyn tersenyum.


-Bagaimana ini aku lupa dengan itu..-


[Tidak masalah, yang penting keruk uangnya.]


Evelyn kembali mengetik..


-Astaga, aku rasa dia juga pelit aku bahkan belum di beri uang jajan- Evelyn tertawa saat pesannya tidak berbalas dan malah menampilkan nama Boni sebagai pemanggil.


Evelyn pun segera menempelkan ponsel di telinganya dan langsung mendengar suara Boni berteriak..


"Kau bodoh, jika dia begitu pelit tinggalkan saja dia.. memangnya kau akan kenyang hanya bercinta, ingat Eve minta kartu hitam padanya dan belikan perhiasan untuk investasi, jika dia tidak memberikannya jangan beri dia jatah"


Evelyn tertawa saat mendengar suara Boni yang heboh, setidaknya itu sedikit menghiburnya di sela kekesalan hatinya terhadap Devan yang tak bisa dia ungkapkan.


.


.


.


Devan melihat belanjaan wanita paruh baya di depannya sangat banyak berapa lama dia harus menunggu untuk menghitung belanjaannya, belum lagi masih ada satu orang di depan mereka, yang sedang menghitung belanjaannya.


Devan kembali melihat ke arah Evelyn yang masih bicara dengan ponselnya, membuat khawatir saja.

__ADS_1


"Nyonya bagaimana jika sebagai gantinya aku membayar semua belanjaanmu."


__ADS_2