
Kantor Devan tak semengerikan yang Evelyn bayangkan, dia bahkan dengan lancar bisa naik ke lantai dimana ruangan Devan berada, sebab ada Tina. Evelyn bahkan tak bertemu keluarga Devan seperti yang ia takutkan.
Ya, saat Evelyn akan memasuki lobi dia melihat Tina sudah berada di depan pintu dan menyambutnya, dan dari yang Evelyn perkirakan Tina sudah tahu kedatangannya dari supir sekaligus bodyguard yang mengantarnya.
Sekertaris Devan itu mengangguk tersenyum lalu dan menggiringnya masuk ke dalam kantor, melewati lobi, memasuki lift dan keluar di lantai 28 dimana ruangan Devan berada.
"Tuan Devan sudah tahu, anda akan datang namun beliau sedang rapat sebentar, jadi anda bisa tunggu di ruangannya." Tina membuka pintu dan Evelyn langsung melihat ruangan Devan yang kosong, karena memang tak ada Devan disana.
"Apakah rapatnya masih lama?" tanya Evelyn, dia tak mungkin mengganggu waktu Devan, tapi tetap saja Evelyn ingin bertemu dengan pria itu.
Rindu?.
Ya, dan Evelyn merasakannya, hatinya yang terbuka membuat Evelyn lebih mudah mengekspresikan hatinya, satu minggu tidak bersua tentu saja Evelyn merindukan Devan.
Evelyn duduk di sofa dan meneliti setiap sudut ruangan, ruangan yang di dominasi dengan warna putih dan coklat itu nampak rapi dan tertata, hanya di bagian meja kerja Devan saja yang terlihat berantakan, menunjukan jika pria itu benar- benar bekerja dan sangat sibuk.
Apa sebegitu sibuknya sampai meja kerja pun di biarkan berantakan.
Evelyn berjalan ke arah meja kerja Devan untuk merapikan berkas yang berserakan, namun saat tangannya akan menyentuh berkas tersebut Evelyn kembali berpikir, ini adalah pekerjaan Devan dan Evelyn tak tahu apa yang harus di pilah dan di rapikan jika tidak di satukan dengan bagiannya bukankah Devan harus memeriksanya lagi dan malah semakin kerepotan.
Jadi Evelyn memilih mengabaikan dan hanya melihat- lihat saja, hingga tatapannya jatuh pada sebuah bingkai, Evelyn tersenyum melihat bingkai fotonya di meja Devan, dan yang membuatnya terharu, ini adalah foto dulu saat Devan pertama kali mengajaknya ke apartemen.
Ternyata pria itu masih menyimpan kenangan mereka dulu. Dan bukankah itu menunjukkan jika Devan memang tidak pernah melupakannya, dan seperti kata Devan bahwa sebenarnya dia hanya tak menyadari jika dia sudah jatuh cinta pada Evelyn sejak awal.
"Kamu sudah datang.." Evelyn mendongak dan melihat Devan masuk lalu menutup pintu kembali.
Evelyn tersenyum melihat Devan berjalan cepat ke arahnya lalu memeluknya sangat erat "Aku rindu sekali.." Suara Devan sangat serak, dan Evelyn menyadari ada yang tak baik dari Devan, suhu tubuhnya terasa panas.
Evelyn mendorong Devan lalu mengeryit melihat mata Devan terlihat lelah dan wajahnya sangat pucat "Kamu sakit?."
Devan menggeleng "Tidak, aku baik- baik saja, hanya tenggorokan ku terasa sakit, mungkin terlalu banyak bergadang."
__ADS_1
Evelyn menarik Devan lalu mendudukannya di sofa, Evelyn memeriksa suhu tubuh Devan dengan punggung tangannya "Badan kamu panas, apakah begitu sibuknya hingga tidak mementingkan kesehatan, apa yang kamu lakukan jika sakit lalu mati, apa pekerjaan akan terus mengejarmu!" Evelyn menggerutu lalu membuka kotak bekalnya, "Kamu harus makan, aku akan minta Tina untuk membawakan obat, lalu beristirahat." Evelyn akan beranjak namun Devan menahannya.
"Kamu mengkhawatirkan aku..?" Evelyn mengeryit melihat Devan tersenyum lebar padanya.
"Apa ini lucu?, tentu saja aku khawatir!, satu minggu tidak bertemu dan saat bertemu keadaan kamu sungguh buruk." Devan semakin melebarkan senyumnya, mengetahui Evelyn mengkhawatirkannya membuat Devan sungguh bahagia.
"Maaf membuat kamu khawatir" Devan meraih Evelyn dan memeluknya menenggelamkan dirinya di perut Evelyn yang kini berdiri di hadapannya.
"Kenapa harus minta maaf, tapi Dev.. Setidaknya kamu ingat kesehatanmu sendiri, bagaimana bisa kamu bekerja dengan kondisi seperti ini." Evelyn mengusap rambut Devan.
Devan menghela nafasnya namun hanya diam, dia juga sungguh lelah dan ingin pulang lalu tidur dan menghabiskan waktu dengan Evelyn, namun hingga saat ini Devan harus mencari investor untuk menggantikan Willy, jika tidak orang tuanya akan kembali mengungkit keputusannya dalam menyingkirkan Diana, belum lagi kini sedang ada petisi untuk menurunkannya dari jabatannya, tentu saja itu akan semakin membuat orang tua Devan marah.
Terlebih kini mereka telah mengetahui tentang Evelyn,maka akan semakin sulit untuk bisa hidup bersama Evelyn.
Tuan Willy sendiri entah mengapa sangat sulit di hubungi, bahkan hingga sekarang tak ada kepastian dari pria itu, kenapa tiba- tiba ingin memutus kerja sama yang telah mereka sepakati, sedangkan sudah jelas jika dalam kerja sama ini Willy juga sangat di untungkan.
Lalu apa alasan pria itu menarik investasinya?.
.
.
"Tidurlah!" Evelyn mengusap rambut Devan, membuat Devan semakin mengantuk.
"Hmm.. Bangunkan aku dua jam kemudian."
"Ya.." Evelyn mengecup dahi Devan. Devan tersenyum lalu memejamkan matanya.
Tubuhnya memang butuh istirahat sepertinya, jadi Devan memutuskan untuk tidur sebentar saja, hanya dua jam sebab Devan harus kembali bekerja.
Devan baru saja terlelap saat terdengar suara ketukan pintu, lalu Roger pun memasuki ruangan.
__ADS_1
Evelyn menunjuk jarinya memberi isyarat agar Roger tidak mengganggu.
"Saya akan kembali lagi nanti." bisiknya. Evelyn mengangguk, dan Roger pun kembali menutup pintu.
Evelyn masih mengusap rambut Devan saat tiba- tiba terdengar teriakan dari luar pintu, dan membuat Evelyn mengeryit, siapa yang berlaku tidak sopan begitu.
Saat dirasa Devan sudah terlelap, Evelyn mengganti pahanya dengan bantalan sofa, lalu dia beranjak ke pintu untuk melihat siapa yang membuat keributan tersebut.
Saat Evelyn membuka pintu, Evelyn melihat Tina dan Roger sedang menghalangi seorang wanita dia sendiri tak bisa melihat wajah wanita itu karena terhalang punggung Roger dan Tina, hingga Evelyn memiringkan wajahnya.
"Kalian akan merasakan akibatnya jika menghalangiku!" Diana meronta kedua tangannya di tahan dua bodyguard Devan.
"Mohon tenang nona, tuan Devan saat ini sedang istirahat, anda bisa kembali lagi nanti."
"Aku tidak peduli. Jika kalian tidak membiarkan aku bertemu dengan Devan, akan aku hancurkan seluruh kantor ini." Lalu tatapan Diana jatuh pada Evelyn yang baru saja membuka pintu "Oh, jadi ini dia wanita jallang sialan itu.."
"Berani sekali kau muncul di hadapanku, kemari akan ku cakar wajahmu sampai Devan merasa jijik padamu!" Diana meronta, semakin tak terkendali saat melihat Evelyn, ternyata wanita itu jauh dari perkiraannya.
Evelyn nampak berdiri anggun dan cantik di depan sana, pantas saja Devan tergila- gila hingga memutuskan pertunangan mereka demi Evelyn, yang baru dia ketahui sebagai wanita yang Devan perjuangkan, Diana sendiri datang untuk memastikan kebenarannya, tapi tak disangka dia sungguh bertemu dengan Evelyn.
"Kau tidak berhak merebut Devan dariku!"
Evelyn mendatarkan raut wajahnya, Evelyn tahu dia adalah Diana, tunangan Devan, wanita yang katanya punya kekuasaan untuk menghancurkannya, namun mengingat itu bukanya takut Evelyn justru mendengus "Ro, sudah ku bilang Jangan mengganggu, kau jelas tahu jika Dev sedang istirahat."
"Maafkan saya Nona" Roger hanya tak bisa gegabah bagaimana pun posisi Devan sedang terancam sekarang.
"Bawa dia pergi dari sini, dia sudah seperti penjual ikan di pasar, berisik sekali." Mata Diana terbelalak mendengar kata- kata Evelyn.
"Berani sekali kau bicara begitu.. Apa hak mu!" Diana menunjuk Evelyn.. "Kau tidak berhak mengusirku, siapa kau.. Dasar wanita jallang."
Evelyn menaikan alisnya menatap Diana. "Tentu saja aku berhak, aku adalah kekasih Devan, jadi aku harus memastikan kekasihku nyaman saat beristirahat." lalu tatapannya tertuju pada dua orang bodyguard yang masih memegangi tangan Diana.
__ADS_1
"Apa yang kalian tunggu, bawa dia pergi!." Dua bodyguard Devan mengangguk.
Diana menggertakkan giginya dan menatap Evelyn dengan pandangan membunuh "Aku tidak akan membiarkanmu.."