Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Ketakutan Evelyn


__ADS_3

Willy menggeram dalam hati, bagaimana bisa Evelyn kembali menerima Devan setelah apa yang dilakukan pria itu.


Masa lalu mereka terlalu rumit, dan setelah Evelyn merasakan kehidupan yang pedih, kenapa Evelyn masih kembali pada Devan, dimana pria itu awal dari masalahnya.


Willy menggenggam tangannya kuat seolah telah merasakan sakit hati Evelyn, di jadikan pemuas nafsu, dan terusir dari keluarganya, karena kehamilannya.


Cinta?.


Persetan dengan cinta, Devan tak pantas mendapatkan Evelyn.


Dan akan dia buktikan jika dia lebih baik dari Devan, tentu saja dia bisa memberikan kebahagiaan nyata untuk Evelyn, bukan hanya sekedar perjuangan yang tidak akan berhasil.


Willy memejamkan matanya saat melihat ponselnya berdering, tanpa menunggu lama Willy segera mengangkat panggilan tersebut "Holla Dad.."


"Yess Boy?"


"Kau sudah mendapatkan ibu untukku?" Willy memutar matanya malas saat mendengar kata- kata Daren.


"Mencari Ibu untukmu sangat sulit, aku sekarang akan meyakinkan seseorang untuk menjadi ibumu."


"Sungguh?"


"Ya, dan tutup teleponnya karena aku sedang berusaha membujuknya."


"Oke katakan perkembangannya padaku setiap hari, dan jika kau tidak juga berhasil, aku yang akan mencarinya sendiri.." Willy mendesah lelah bocah itu terus saja meminta ibu, tapi mencari ibu untuk Daren sangat sulit, mungkin jika hanya mencari istri untuknya akan mudah, banyak wanita yang mendekat pada Willy bahkan tanpa malu menawarkan diri, tapi mencari ibu yang tulus menyayangi Daren, Willy tak yakin semua wanita itu mampu melakukannya.


Tapi jika itu Evelyn, Willy yakin dia bisa. Apalagi setelah tahu wanita itu juga pernah menjadi seorang ibu.


"Apa yang sedang Devan lakukan sekarang?" Willy menatap Astra yang masih tegak berdiri di belakangnya, dari pria itu juga Willy mengetahui semua informasi tentang Devan dan Evelyn.


"Tuan Devan sudah mengalihkan semua saham miliknya atas nama Nona Evelyn."


Willy mengangguk sebenarnya dia cukup salut akan usaha Devan, pria itu ternyata tak main- main dalam mempertahankan Evelyn di sisinya, tapi Willy tak yakin Devan bisa berhasil dengan rencananya dan berakhir kembali menyakiti Evelyn, bukankah itu buruk.


Willy menyeringai, informasi yang dia dapatkan sangat akurat, bahkan untuk Devan yang sengaja menyembunyikan fakta bahwa dia memberikan semua sahamnya atas nama Evelyn secara diam- diam, tapi Willy dia bisa mengetahuinya dengan mudah.


"Namun mengenai dokumen pernikahan saya rasa nona Evelyn tidak mengetahuinya" Astra menambahkan informasi yang membuat Willy mengerutkan keningnya.


"Bagaimana bisa?"

__ADS_1


....


Devan melihat Evelyn duduk di kursi santai dengan melamun, sejak makan malam kemarin Evelyn lebih banyak diam.


Wanita itu seolah menghindar darinya,ada apa dengan Evelyn?.


"Kamu melamun?" Evelyn mendongak dan tersenyum.


"Sudah selesai mandinya?."


"Hmm.." Devan memang baru saja keluar dari kamar mandi menyelesaikan kegiatan mandinya. "Ada yang ingin kamu bicarakan?" Devan duduk di sebelah Evelyn, lalu menggenggam tangannya. "Sejak tadi kamu terlihat gelisah.."


Evelyn menggigit bibir bawahnya. "Apa tuan Willy adalah klien penting?"


Devan mengerutkan keningnya "Bukan klien, lebih tepatnya tuan Willy adalah investor perusahaanku." dan tentu saja dia penting, karena Devan membutuhkan Willy untuk menyingkirkan Daddy Diana.


"Apa kau akan bangkrut jika dia menarik investasinya?"


"Tidak begitu juga, perusahaanku cukup stabil, dan sebenarnya ada alasan lain aku membutuhkan Tuan Willy." Evelyn bernafas lega, setidaknya jika Willy menarik investasinya, Devan tidak akan merugi.


"Jika begitu, apa tidak masalah kamu membatalkan kerja samanya?" Devan terkekeh.


"Tidak, bukan seperti itu.."


Evelyn menelan ludahnya, benar bukankah harusnya dia tidak peduli. Tapi kenapa rasa tidak nyaman ini terus menggelayutinya, dan kenapa Evelyn takut jika Devan mengetahui jika dulu dia pernah berhubungan dengan Willy, meski hanya sebatas penyewanya saja.


Devan tahu pekerjaannya dulu, jadi untuk apa dia takut?, bukan hanya Willy, tapi banyak pria lain lagi yang mungkin tiba- tiba muncul di kehidupannya.


Tiba- tiba bayangan raut wajah Devan yang terlihat kecewa menghampirinya, hati Evelyn semakin kacau, kenapa perasaan ini muncul tiba- tiba.


Bukankah bagus jika Devan marah lalu membuangnya..? Dirinya yang memang jallang, tentu saja masa lalu kelam akan mengikutinya, dan semakin lama Devan tidak akan bertahan dengan kenyataan itu.


Evelyn sudah mempersiapkan semuanya, dia sungguh akan pergi saat masa kontraknya dengan Devan berakhir, tapi kenapa mengingat jalan yang terbuka membuat Evelyn takut.


Rasa takut apa yang dia rasakan sekarang?.


Evelyn ingin menyangkal jika dia takut kehilangan Devan, itu tidak mungkin, kan?.


"Kamu melamun lagi?."

__ADS_1


Evelyn menggeleng "Aku ingin pulang.. Bisakah kita pulang besok?" Evelyn tidak ingin bertemu lagi dengan Willy,meski mungkin Devan tidak peduli dengan kenyataanya. Tapi, Evelyn merasakan Willy tak akan melepaskannya dengan mudah.


"Kau yakin?, ini baru hari ke empat.."


"Aku ingin pulang.." Devan menghela nafasnya, tak bisa mempertanyakan lagi apa maksud Evelyn, "Baiklah, tapi besok kita harus mengunjungi seseorang dulu." Evelyn tidak banyak bertanya siapa yang harus mereka temui, yang ada di pikirannya adalah Devan sudah setuju untuk pulang.


Bahkan Evelyn melupakan niatnya untuk memberanikan diri bertemu orang tuannya, biarlah Evelyn melakukan itu kelak jika dia sudah tak terikat dengan Devan.


"Sekarang kita tidur, ini sudah malam.. Atau kau mau melakukannya sekali saja?" Devan mengedipkan matanya hingga Evelyn terkekeh. "Atau dua kali aku masih kuat, bahkan tiga kali." Ya, Evelyn percaya itu, Evelyn sudah tahu stamina Devan memang bagus. Entah kenapa Devan tak kenal lelah, bahkan Evelyn tak pernah melihat pria itu olah raga, lalu bagaimana dia bisa sangat kuat dalam mengerjainya.


.


.


Apa yang dikatakan Devan hanya bualan, nyatanya mereka hanya tidur dengan saling berpelukan, Evelyn bahkan nampak nyaman tidur dalam dekapan Devan, hingga pajar terbit dan menampakkan bias cahaya yang merambati jendela kamar mereka, dan seketika membuat Evelyn terbangun dan mengerjapkan matanya. Evelyn tersenyum sedih bagaimana dia bisa sangat nyaman dalam dekapan Devan dia bahkan tidur dengan sangat nyenyak, bagaimana jika dia terbiasa dan enggan untuk pergi, Inilah yang dia hindari dan Evelyn takutkan selama ini, merasa nyaman lalu enggan untuk pergi.


"Selamat pagi." Evelyn mendongak lalu Devan mengecup dahinya. "Sudah siap bertemu seseorang.."


Evelyn bangun mendudukkan dirinya "Kita akan bertemu siapa?" Evelyn menatap Devan dengan kerutan di dahinya.


Devan tersenyum lembut. "Bersiaplah kita akan berangkat sekarang juga."


Evelyn ingin bertanya lebih, namun Devan mendorong punggungnya agar dia segera pergi ke kamar mandi.


.


.


.


Devan terus menggenggam tangan Evelyn sepanjang perjalanan, dan sesekali mengecupinya.


Evelyn menoleh sekilas pada jalanan, lalu menoleh kembali ke arah Devan "Kemana kita sebenarnya?" Jantung Evelyn berdebar kencang, jelas.. meski Evelyn baru sekali melewati jalanan ini Evelyn tahu jalanan ini menuju kemana, karena memang dia berniat menyimpannya dalam memori ingatan sekuat mungkin, agar suatu saat bisa kembali untuk melihat kedua orang tuanya.


Devan hanya tersenyum hingga mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan rumah orang tua Evelyn.


Evelyn menatap tak percaya pada Devan, bagaimana dia bisa tahu tentang ini.. Lalu Evelyn teringat Devan mungkin mengikutinya waktu itu.. Apa yang akan Devan lakukan.


"Aku tidak mengikuti kamu, jika kamu ingin tahu.. Tapi aku mencari tahu kemana kamu pergi waktu itu, berkat kekuatan uang aku bisa mencari supir taksi yang membawamu, dan mencari tahu kemana kamu pergi." Evelyn tak bisa berkata- kata saat Devan membuka pintu dan menariknya keluar.

__ADS_1


"Kita hadapi ini, aku akan membuat kamu di terima kembali." Devan berkata dengan yakin, lalu menarik Evelyn memasuki pelataran rumah kedua orang tuanya.


__ADS_2