Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Tuan Willy


__ADS_3

Makan malam itu terasa hangat di selingi obrolan dan candaan dari Devan dan Willy, namun Evelyn menjadi satu- satunya yang tak menikmati makan malam itu, bagaimana tidak, mata Willy yang beberapa kali menatapnya dengan tatapan lembut membuatnya tak nyaman, belum lagi Devan yang terus saja melingkarkan tangannya dengan posesif, terkadang di bahu dan di pinggang Evelyn.


Evelyn juga merasa tak nyaman dengan segala perhatian Devan yang mengusap sudut bibirnya bahkan menambahkan makanan ke piringnya, ada apa dengan Devan?.


Evelyn tahu Devan memang selalu melakukan itu jika mereka makan berdua, tapi bagaimana bisa pria itu melakukannya di depan orang lain, Devan bahkan terlihat sedang mengompori Willy dan menyatakan dengan bangga 'Lihat wanitaku memang cantik dan mempesona' dia tak tahu saja jika wanita yang di bicarakan Willy adalah Evelyn sendiri.


Bukan Evelyn tinggi hati, tapi beberapa kali Willy menceritakan kisah mereka selama tiga hari meski dengan bahasa halus, dan Evelyn ingat apa saja kegiatan mereka.


Evelyn mendengus dalam hati, apa- apaan ini kenapa dia ada di situasi seperti ini.


Persetan dengan mereka berdua Evelyn hanya ingin menarik nafas lega, lepas dari dua pria yang sejak tadi membuatnya tak nyaman.


Devan yang tak melepasnya sedetikpun seolah dirinya bisa di curi oleh Willy, dan Willy yang terus mencuri pandang seolah menunggu waktu yang tepat untuk menerkamnya.


Evelyn tahu kesalahannya di masa lalu tak akan hilang begitu saja, akan membekas begitu seumur hidup, dan ini baru Willy. Lalu bagaimana dengan pria- pria lain, yang bahkan mereka lebih ganas dari Willy dan bagaimana jika Evelyn bertemu dengan mereka satu persatu?.


Ancaman, atau lainnya mungkin tak bisa Evelyn hindari, apalagi jika dia menjadi seorang istri dari Devan, tantu saja mereka akan melihat keuntungan dari masa lalunya.


Ini juga yang menjadi alasan Evelyn tak ingin ada pernikahan dalam kehidupannya.


Dia tak ingin jika suatu saat bayangan masa lalunya hadir dan merusak kebahagiaan rumah tangganya, jadi lebih baik tidak ada drama suami istri sama sekali.

__ADS_1


Belum lagi jika dia memiliki anak, katakanlah suaminya menerima semua masa lalunya, lalu bagaimana dengan anaknya?, bagaimana dengan lingkungan sekitarnya..? Evelyn tak akan bisa membayangkan dimana seorang anak mendapat cacian sekitarnya hanya karena masa lalu ibunya yang buruk, mengingat itu hati Evelyn terasa tertusuk banyak duri.


Evelyn menghela nafasnya, kenapa pikirannya jadi melanglang buana seperti ini "Maaf, aku ingin ke toilet." Seruan Evelyn membuat Devan dan Willy menoleh.


Willy menepuk tangannya dan seorang pelayan yang sejak tadi ada di belakangnya dengan sigap menghampiri "Antarkan Nona ini ke toilet." sang pelayan mengangguk dan mempersilahkan Evelyn mengikutinya.


Vila Willy sangat mewah, tapi Evelyn sama sekali tak ingin menikmati bahkan sekedar mengagumi apa yang ada di sekitarnya, di benaknya hanya berharap ini segera berakhir dan tidur dengan nyenyak lalu melupakan semuanya.


Tapi bisakah itu terjadi setelah pertemuannya malam ini dengan Willy, dan poin terburuknya dia adalah rekan bisnis Devan, dan pertemuan antara Devan dan Willy tidak dapat di hindari.


Dan kenapa Evelyn menjadi takut, takut Devan akan mengetahuinya jika dulu Willy juga pernah menyewanya, lalu membencinya.


Pelayan tersebut membuka sebuah pintu yang lagi- lagi membuat tercengang, desain kamar mandi yang mewah menyambut dan akan membuat siapapun yang melihatnya terkagum- kagum, tapi sekali lagi itu tidak berlaku bagi Evelyn.


Dengan datar Evelyn memasuki pintu tersebut dan menutupnya rapat.


Evelyn bersandar di pintu dengan menghela nafa lega, tatapannya kini menerawang jauh ke depan dengan segala pikirannya yang rumit.


Berjalan ke arah wastafel lalu mencuci tangannya, Evelyn tak berniat bahkan hanya sekedar buang air kecil, dia hanya perlu bernafas dari suasana sesak di dalam sana, jadi toilet adalah satu- satunya alasan yang kuat, tanpa membuat Devan curiga.


Beberapa lama Evelyn berdiri dengan termenung, lalu menghela nafasnya dan keluar.

__ADS_1


Baru saja membuka pintu Evelyn dikejutkan dengan seseorang yang mendorongnya kembali masuk dan mengunci pintu.


"Kau.."


"Kamu mengejutkan ku Eve.." Evelyn berdecak bukankah Willy yang mengejutkannya, untuk apa pria itu mendorongnya. "Aku senang kamu sudah keluar dari dunia itu.."


"Aku bersyukur, siapapun yang bisa mengeluarkan kamu.." Willy lagi- lagi menatap Evelyn dengan tatapan lembutnya dan membuat Evelyn semakin tak nyaman.


Evelyn masih diam, bahkan saat Willy terus maju melangkah ke arahnya hingga kini Evelyn terpojok "Apa yang kau lakukan..?" Evelyn mencoba menyingkirkan rasa takutnya dan menatap Willy dengan datar, hingga apa yang Willy lakukan membuatnya tertegun.


"Aku merindukanmu.. Beberapa kali aku datang berharap bisa bertemu kamu, tapi Irene bilang kamu sudah tidak bekerja." Evelyn merasakan hangatnya dekapan Willy, ya pria itu memeluknya, bahkan sangat erat.


Evelyn bungkam, tak membalas bahkan juga tak mendorong Willy. "Apa Devan tahu?"


Degh..


Evelyn merasakan jantungnya berdebar kencang, lalu sekuat tenaga mendorong Willy "Apa maksudmu..?"


"Apa Devan tahu, jika kita pernah menghabiskan waktu bersama?."


"Bagaimana reaksinya jika dia tahu?."

__ADS_1


__ADS_2