
"Lihat aku Eve!. Terlepas dari kesalahanku, katakan bahwa perasaan kamu sudah tidak ada, katakan bahwa kamu tidak mencintaiku lagi.. "
"Aku tidak mencintaimu lagi, perasaan ku sudah lama hilang."
"Aku meminta kamu untuk melihatku, Eve. Tatap aku saat kamu mengatakannya." Devan menjepit dagu Evelyn dan membuat Evelyn melihat ke arahnya.
Evelyn masih menghindar matanya tak menatap Devan, dan melihat Evelyn yang menghindar Devan pun terkekeh "Kamu tidak sanggup mengatakannya, karena kamu masih mencintaiku."
"Tidak!."
"Jika begitu tatap aku, lihat aku Eve. Dan katakan kalau kamu tidak mencintaiku lagi!." Evelyn memejamkan matanya sesaat lalu menatap Devan.
Untuk sesaat Evelyn tertegun melihat mata Devan begitu sayu dan penuh harapan, namun Evelyn tak boleh gentar.
"Aku Tidak Mencintai Kamu Lagi." lima kata itu terdengar penuh penekanan dan membuat hati Devan seperti tertusuk ribuan pedang, menyakitkan.
Devan menunduk dengan tangan terkulai lemas, air matanya menetes lalu tergugu.
"Maaf."
Evelyn tertegun saat tangan Devan tak lagi memeluknya, tiba- tiba perasaan kosong merasuk di hatinya, begitu menyakitkan dan terasa perih.
Devan masih terdiam dan menunduk tangannya tergerak dan mendorong Evelyn. "Jika begitu yang kamu inginkan, baiklah. Jadi mulai sekarang aku hanya sekedar penyewa dan kamu wanita penghiburku." Evelyn tertegun, Devan menatapnya dengan sisa air mata menggenang di matanya yang merah, namun hanya itu yang tersisa selebihnya wajah Devan nampak datar tak tersentuh "Lalu tunggu apa lagi, lakukan tugasmu. Layani Aku.!"
Degh..
Evelyn menegang dengan suhu tubuhnya yang terasa dingin.
"Tunggu apa lagi, lakukanlah!." Evelyn masih menatap Devan lelaki itu sepertinya sudah kembali pada wajah aslinya.
Evelyn menunduk dan mulai melepas kancing kemeja Devan "Hanya seperti itu?." tangan Evelyn terhenti. "Dimana senyum menggodamu?, dimana gerakan gemulaimu?, tidakkah kau ingin menunjukkannya padaku untuk membuat aku tergoda dan bergai rah!."
Evelyn mendongak dan menemukan tatapan Devan yang amat datar "Lakukanlah!, kau harus memuaskan tuanmu bukan?." Evelyn menelan ludahnya kasar, ada apa dengannya, kata- kata Devan begitu menusuk hatinya, tapi bukankah ini keinginannya.
Menciptakan batasan antara dirinya dan Devan, tapi kenapa hatinya terasa sangat sakit.
Evelyn masih tergugu di tempatnya, dan terkejut saat Devan menggendongnya berjalan ke arah kamar dan menghempaskannya kasar ke arah ranjang. "Kenapa diam?."
__ADS_1
"Ini kan yang kau inginkan, tetaplah seperti itu Eve, tetap jadi pela curku, dan kamu tidak akan pernah lepas dengan mudah.!" Devan berkata dengan geraman, hingga lagi- lagi membuat Evelyn terkejut dengan perubahan Devan.
Akh..
Evelyn berjengit saat Devan merobek pakaiannya dengan sekali sentakan, entah tenaga dari mana hingga pria itu bisa merobek dan mengoyak kain yang lumayan tebal itu.
"Dev..Akh.." Evelyn kembali memekik namun kali ini dia sedikit meringis saat Devan menarik dengan kasar penutup gunung kembarnya, sepertinya punggungnya terluka akibat tarikan pengait br anya.
"Kenapa?, bukankah ini yang kamu inginkan di perlakukan seperti ja lang, seperti pela cur."
Degh..
Lagi- lagi hati Evelyn terasa sakit, dan pertanyaan itu lagi- lagi terlintas, Ada apa denganmu Eve, bukankah ini yang kau inginkan.
Evelyn tersentak saat Devan kembali menarik kasar penutup tubuh bawahnya hingga kini tubuh Evelyn polos sepenuhnya.
Devan menaiki tubuh Evelyn lalu melepas satu persatu kain di tubuhnya, kakinya menumpu di kedua sisi tubuh Evelyn, lalu kedua tangannya meremas kedua bulatan menggoda di hadapannya.
Evelyn meringis saat remasan kasar Devan berikan di dadanya, terasa menyakiti menembus hatinya, Devan meremasnya kasar dan keras namun bibir Evelyn tak bisa mengeluh atau meminta Devan menghentikannya, karena lagi- lagi bisikan itu datang, inikan yang kau inginkan.
"Katakan Eve, katakan kamu sakit dan minta aku untuk menghentikannya.." Devan menatap Evelyn dengan mata sayunya, namun Evelyn bergeming dan memalingkan wajahnya.
"Kamu begitu keras kepala Eve.." Devan terkekeh, "Baiklah.." Devan membalik tubuh Evelyn hingga kini punggung mulus Evelyn ada di hadapannya.
Devan mengecup bahu Evelyn lalu menjalar ke telinganya "Katakan kamu menyesal Eve.." Evelyn meremas tangannya masih menutup mulut lalu bibirnya menjerit kecil saat tiba- tiba Devan memasukinya tanpa aba- aba dan dengan sekali sentakan.
"Minta aku berhenti Eve!." Devan memacu dengan keras dan kasar dan membuat tubuh Evelyn terasa perih, namun Evelyn masih saja diam, dan meremas sprei menahan sakitnya hentakan demi hentakan yang Devan lakukan.
"Aku mohon minta aku berhenti Eve.." Devan meneteskan air matanya tubuhnya terus memacu kencang, namun bukannya berteriak kesakitan kini Evelyn justru mende sah, hingga Devan terkekeh pilu "Jadi kamu benar- benar suka di perlakukan selayaknya ja lang.." Devan menarik rambut Evelyn hingga kini wajahnya mendongak dan dengan rakus Devan melu mat bibirnya.
"Sial.." Tatapan Evelyn terlihat sayu dan menikmati apa yang Devan lakukan, gerakan kasar Devan semakin menggila, dengan amarah yang semakin membumbung, harga diri Devan seperti jatuh berkali- kali karena memohon namun Evelyn tetap pada pendiriannya.
Devan membalik tubuh Evelyn dan kembali memasukinya dengan kasar, bergerak brutal dan cepat.
Devan menggila, tubuh Evelyn terasa terkoyak, tapi juga nikmat sekaligus, Devan menatap Evelyn dengan tatapan tajam, namun Evelyn masih juga bergeming, dan memejam lalu sesekali mende sah.
"Sial, kamu masih tidak mau bicara Eve, kamu benar- benar *** ***." Devan tak menyangka Evelyn akan sekuat itu dan terus mempertahankan egonya. Yang Devan tak tahu adalah Evelyn berada di dunia gelap itu bukan hanya tiga atau empat hari melainkan empat tahun, dalam waktu empat tahun Evelyn sudah melayani puluhan bahkan ratusan 1pria yang berbeda, dari yang lemah dan mudah kalah, lalu yang kuat hingga bertahan dalam waktu dua jam, ada juga pria lembut yang memperlakukannya layaknya porselen yang mudah retak, namun tak jarang juga ada yang memperlakukannya kasar, bahkan lebih kasar dari apa yang Devan lakukan padanya saat ini, dengan kata lain Evelyn sudah terbiasa.
__ADS_1
Kata- kata Devan memang menyakitinya, dengan panggilan '*** ***' yang berkali- kali pria itu ucapkan, namun Evelyn sudah menekankan pada dirinya.
Ya, dia pela cur..
Dia ja lang, jadi untuk apa menyangkalnya.
Evelyn tersenyum menyeringai menggoda lalu menarik kepala Devan dan menciumnya dengan lembut seolah menyalurkan perasaanya, memberikan godaan agar Devan bisa menyelesaikan has ratnya dengan cepat.
Devan tersentak saat tubuhnya tak bisa lagi menahan diri untuk menyemburkan kepuasan, Devan menggeram tertahan dengan kepala menengadah menikmati pelepasannya.
Evelyn menghela nafasnya lega saat Devan berhenti bergerak karena pelepasan panjangnya, akhirnya penderitaannya berhenti tubuhnya terasa sakit di bawah sana.
Devan terengah, nafasnya memburu namun Devan tak berniat berhenti, beberapa helaan nafas Devan lakukan dan kembali bergerak.
Evelyn menelan ludahnya dia kira Devan sudah kalah, namun kini hentakan itu semakin cepat dia dapatkan, dan semakin keras, tubuhnya semakin perih dan sakit, namun Evelyn masih tak bisa bicara, dan lagi- lagi hanya mende sah seolah dia menikmatinya.
"Heh, kamu benar- benar murahan.. teruslah mende sah, nikmati ini.. Hum.. bagaimana apa kamu puas?" Evelyn menggigit bibir bawahnya menahan segala rasa sakit yang menerpanya, hati dan tubuhnya.
Devan melu mat kasar dan mengigit keras bibir Evelyn hingga Evelyn meringis perih, bibirnya terluka.
Mata Evelyn sudah terlihat lelah, namun Devan masih juga tidak berhenti, hingga beberapa detik kemudian Devan kembali mengerang dan selesai.
Evelyn memejamkan matanya, saat Devan melepas dirinya kasar dan pergi begitu saja meninggalkan Evelyn dengan sisa- sisa cairan kenikmatan berceceran di seluruh tubuhnya.
Evelyn menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku saat pintu kamar terbanting keras menelan Devan.
Memiringkan tubuhnya Evelyn memeluk dirinya meringkuk seperti janin dengan mata yang menutup rapat, lalu air mata yang tiba- tiba merebak di sela matanya yang terpejam.
Sakit sekali..
...
Hadeh.. jadi siapa yang salah.
Evelyn yang bertahan dengan egonya.
Atau Devan yang tak bisa konsisten dengan janjinya, yang katanya akan menerima semua kebencian Evelyn padanya, lalu meluapkan kemarahannya.
__ADS_1
Secepat itu Devan menyerah.. ck..ck..ck..