Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Perubahan Evelyn


__ADS_3

Devan di buat terperangah dengan perlakuan Evelyn setelah dari toilet, perempuan ini berubah lebih ceria dan manis, apa ini karena perkataannya tentang masa lalu, dan Evelyn sedang menyangkal jika perkataannya berpengaruh pada hatinya, atau Evelyn sungguh sudah bisa menerimanya kembali.


Devan akui dia merasa senang dengan perubahan Evelyn, dia jadi seperti kekasih yang manis dan manja, dan Devan suka saat Evelyn bergantung padanya.


"Kau benar ini enak, aku suka.. udangnya gurih saus nya juga sangat enak." Evelyn mengunyah dengan ceria, hingga Devan melihat saus di sudut bibir Evelyn.


Devan tersenyum dan mengusap sudut bibir Evelyn. "Maaf, apa aku membuatmu malu.. bukankah harusnya aku melakukan table manner disini.." pipi Evelyn menggembung dan melihat sekitarnya, banyak pengunjung yang curi- curi pandang pada mereka, bahkan ada beberapa wanita yang seperti memekik saat Devan mengusap sudut bibirnya dengan jari seolah itu hal yang langka yang akan Devan lakukan.


Devan menggeleng dan tersenyum "Tidak, hanya sudah aku bilang, jangan makan seperti ini di depan orang lain.. kau tahu pipimu yang menggembung ini.. membuatku ingin mengurungmu didalam kamar." Devan mencubit pipi Evelyn yang mendesis.


"Sakit.." keluhnya mengelus pipinya.


"Apakah sakit?, maaf aku hanya gemas." Devan menjadi khawatir, dia melihat pipi Evelyn merubah merah.


Evelyn kembali tersenyum, "Tidak masalah karena makanannya enak aku ampuni.." Evelyn kembali makan, sedangkan Devan dibuat tertegun.


Ada apa dengan Evelyn?, senyum Evelyn terlihat tulus dan ceria tak seperti beberapa waktu lalu, yang terlihat terpaksa seolah menunjukkan bahwa dirinya adalah wanita penggoda, Devan tahu Evelyn sengaja mengajaknya belanja hanya untuk membuatnya jengah lalu menganggap Evelyn matre dan mata duitan, namun Devan sama sekali tak peduli dia akan terus mengikuti kemauan Evelyn dalam bersandiwara, Devan tahu Evelyn tidak seperti itu, dan meskipun begitu dia tetap tak peduli dan akan tetap mencintai Evelyn.


Tapi kali ini trik apa yang akan Evelyn lakukan padanya. Meski Devan merasa senang dengan perubahan sikap Evelyn yang seolah kembali ke masa lalu, ceria, lugu dan manis.. tapi Devan dibuat berdebar akan perubahan apalagi yang akan Evelyn tunjukan nanti.


Dia seperti harus selalu bersiap dengan segala apapun yang Evelyn tunjukan padanya, dan dengan lapang dada harus menerimanya.


Ini keinginannya, mengikat Evelyn dan menjadikannya miliknya jadi dia harus selalu menerima apapun yang dilakukan Evelyn selama itu masih dalam batas wajar.


"Emh Dev..?" ragu- ragu Evelyn bertanya.


"Ya..?"


"Bolehkah.. nanti malam aku ke club." Devan mengeryit tak suka "Tidak boleh ya.." Evelyn tersenyum kaku "Ya sudah tidak apa- apa.." Evelyn menunduk dan menyeruput jus lemon di depannya.


Devan di buat semakin bingung, "Tentu, hanya kamu harus pergi denganku." Evelyn tersenyum.


"Sungguh, tidak masalah.. terimakasih."


Evelyn mencondongkan tubuhnya dan mengecup bibir Devan.

__ADS_1


Devan mengerjapkan matanya, apa yang baru saja Evelyn lakukan, tidak.. ini bukan tingkah manis dan lugu milik Evelyn dulu, dia tidak akan berani menciumnya di depan umum, Devan semakin dibuat berdebar dengan apa yang akan Evelyn lakukan selanjutnya.


Astaga dia harus menyiapkan diri.


"Baiklah selesaikan makanmu.." Evelyn mengangguk.


.


.


.


Dimalam hari Devan benar- benar membawa Evelyn ke club malam, namun Evelyn dibuat terperangah dengan keadaan yang ada di dalamnya.


Jika biasanya akan ada banyak orang yang memenuhi dance floor kali ini Evelyn tak melihat satu orangpun disini, apa- apaan ini?, apa club ini sedang libur.


"Apa yang terjadi disini.. apa semua orang sudah bertobat?" Evelyn memicingkan matanya.


Devan terkekeh "Aku tidak suka wanitaku yang seksii di lihat banyak orang."


Evelyn dibuat menganga tak percaya dengan apa yang Devan katakan "Jadi kau menyewa satu club ini untuk kita?" Devan mengangguk "Kau gila.."


Devan mulai menari dan mengangkat tangan Evelyn yang malas untuk mengajaknya menari, Devan tertawa melihat ekspresi Evelyn yang mendengus padanya.


"Ayolah sayang, ini seru bukan?"


Seru kepalamu!, Evelyn mendengus dalam hati, Evelyn tersenyum dan mulai menggoyangkan pinggulnya. Sudahlah, lagi pula mau bagaimana lagi terima saja keposesifan pria ini.


Evelyn merapatkan tubuhnya dengan Devan dan menari berdua, hanya berdua. Meski mereka di temani para bodyguard namun mereka menjaga dari jarak aman, hingga Devan bisa bebas menari dengan Evelyn di lantai dansa yang luas.


Satu club yang Devan sewa hanya berisi seorang Dj, dua pelayan dan seorang bartender, itupun mereka tak boleh mendekat pada Evelyn dan dirinya.


Devan benar- benar hanya ingin melihat keindahan Evelyn untuk dirinya saja.


"Kamu suka?" Devan berteriak di telinga Evelyn, musik yang menghentak membuat pendengaran mereka terasa teredam.

__ADS_1


Evelyn tersenyum "Tidak ada pilihan bukan..?" Devan menggeleng "Ya, bagaimana lagi, aku harus menikmatinya."


Devan tersenyum lalu mengecup pipi Evelyn "Bagus, jadilah patuh."


"Ini aneh sekali, padahal aku ingin keramaian." Evelyn mengeluh dan menelungkupkan wajahnya di dada Devan.


Devan terkekeh lalu mengecup pucuk kepala Evelyn yang bersandar padanya "Sudah kau tidak bosan terus menciumiku!" Evelyn menjauhkan wajah Devan.


"Baru aku mencium dua kali itu pun hanya di pipi dan di dahi.. belum di bibir.." Devan memberi jeda dan menggerlingkan matanya.


Evelyn mencebik lalu mencium bibir Devan "Seperti itu..?" Evelyn merangkul Devan mendekatkan wajahnya "Lagi.." Evelyn kembali memberi ciuman.


"Lagi.. ?" cup, Evelyn tertawa


"Sekali lagi..?" cup..


Evelyn terus memberikan ciuman pada Devan, hingga Devan mengerang "Astaga.. Eve.." Devan mengeratkan sebelah tangannya di pinggang Evelyn dan sebelah tangannya naik ke tengkuk Evelyn mendorongnya mendekat dan memperdalam ciuman mereka.


"Haruskah kita pesan kamar sekarang?" Evelyn mengedipkan sebelah matanya, Devan tertawa.. "Tapi tunggu aku belum mendapat minumanku.." Evelyn menarik Devan ke arah meja bar dan meminta minuman dari bartender.


Evelyn mengeryit saat melihat bartender itu justru menyodorkan jus jeruk, Evelyn memicingkan matanya menatap Devan, sedangkan Devan hanya tersenyum "Ayolah, apalagi ini Dev.." Evelyn mengeluh "Tidak mau, setidaknya beri aku satu gelas bir paling murah juga tidak masalah.." Evelyn menunjuk angka satu dengan jarinya memberi Devan tatapan penuh permohonan.


"Kamu tidak boleh mabuk, sayang.."


"Tapi aku sedang denganmu.." Devan menghela nafasnya.


"Baiklah hanya satu gelas kecil, berikan kami yang terbaik." katanya pada bartender yang mengangguk patuh lalu meracik minuman.


Evelyn tersenyum senang, nyaris seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiah permen, Devan terkekeh.


Dalam lubuk hati Devan meringis, meski ini kepalsuan Evelyn, dia ingin menikmatinya, meski dalam hati Devan merasa di permainkan tapi tidak apa..


Asalkan Evelyn tetap bersamanya.


'Tetap sembunyikan kemarahanmu Evelyn, dan aku akan terus mengungkit masa lalu agar kamu tahu aku tulus sejak awal..' Devan melihat Evelyn menyesap pelan minumannya, lalu tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Bolehkah satu kali lagi..?" Devan terkekeh saat melihat lagi- lagi tatapan Evelyn penuh permohonan, terlihat sangat menggemaskan.


...


__ADS_2