
Devan menggendong Evelyn yang tertidur setelah mabuk, keluar dari mobilnya lalu memasuki vila. Sejak Evelyn terus membujuknya untuk minum beberapa kali, Devan terus memberi izin hingga Evelyn tak kuat lagi untuk menegak minumannya dan akhirnya terkulai lemas.
Dalam perjalanan pulang Evelyn terus meracau hingga muntah dan akhirnya terdiam. Saat tak ada lagi pergerakan dari Evelyn barulah Devan menghela nafasnya, Evelyn tertidur.
Devan meletakkan Evelyn dengan perlahan di atas ranjang lalu melepas sepatunya dan menyelimuti tubuh Evelyn yang hanya berbalut gaun berkilau setengah paha, tanpa lengan yang begitu menonjolkan kemolekan tubuhnya.
Devan bersyukur bisa bergerak cepat menyewa seluruh club dalam hitungan satu jam saja, Devan bahkan sengaja mengulur waktu agar asistennya Roger bisa dengan segera mengosongkan club sebelum mereka datang.
Sepertinya niat Evelyn memang membuatnya kesal dengan cara bertingkah seperti wanita panggilan murahan karena itu dia meminta untuk pergi ke club lalu berpenampilan seperti sekarang.
Saat Devan melihat Evelyn keluar kamar dengan pakaian seksii, Devan langsung menghubungi Roger untuk menyewa satu club untuk dirinya dan Evelyn, hingga Evelyn bebas dari tatapan pria lain selain dirinya.
Dengan begitu rencana Evelyn kembali berhasil dia gagalkan.
"Berikan aku kain dan air hangat!" tanpa menoleh Devan tahu seorang pelayan siap melaksanakan perintahnya.
"Baik Tuan.."
Beberapa saat kemudian pelayan tersebut sudah kembali dengan kain kecil di tangannya dan air hangat di dalam baskom.
"Kau boleh pergi." setelah dirasa pelayan itu pergi Devan mulai melepaskan pakaian Evelyn lalu mencelupkan kain pada air hangat untuk menyeka tubuh Evelyn yang bau muntahan.
Dengan telaten Devan membersihkan tubuh Evelyn, tanpa rasa jijik sedikitpun. Bahkan Devan tak keberatan saat Evelyn justru memuntahkan isi perutnya di pakaiannya sekalipun.
Usai menyeka seluruh tubuh Evelyn, Devan kembali menyelimuti tubuh Evelyn tanpa repot mengenakan piyama.
Menyetel Ac lalu dia melenggang ke kamar mandi, kini gilirannya membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian Devan sudah kembali dalam keadaan segar, melepas handuk kimononya lalu naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya di sebelah Evelyn lalu memeluknya membiarkan tubuh polos mereka bersentuhan dan memberikan kehangatan alami dari kulit yang saling menempel menjalari mereka.
"Selamat tidur sayang.." Devan memberi kecupan di bibir Evelyn lalu memejamkan matanya.
.
.
.
Evelyn mengerang saat merasakan sinar matahari menerpa wajahnya, jendela balkon yang terbuka membuat matahari dengan bebas memasuki kamar dan membangunkannya.
Ugh..
__ADS_1
Evelyn bangun dan meremas rambutnya, rasa sakit di kepalanya akibat mabuk semalam baru terasa.
Merasakan selimut tertarik oleh pergerakan Evelyn Devan pun terbangun "Kamu sudah bangun?."
"Humm.." Evelyn hanya bergumam dengan tangan meremas rambut dan menundukan wajahnya "Silau, aku jadi semakin pusing.." keluhnya.
Devan bangun dan berjalan ke arah gorden lalu menutupnya hingga cahaya matahari terhalang dan suasana kamar menjadi redup.
Evelyn mendongak dan melihat Devan kembali berjalan ke arah ranjang, dengan tubuhnya yang telan jang Devan berjalan santai lalu menghampirinya.
Tiba- tiba pipi Evelyn terasa panas melihat pemandangan indah bak pahatan dewa yunani itu, meski cahaya matahari tak menerangi kamar namun Evelyn bisa melihat tubuh Devan dengan jelas, tubuh Devan tegap dengan otot- otot yang menonjol di beberapa bagian terlihat pas dengan postur tinggi tegap Devan, perut yang berbentuk kotak itu seolah menggodanya untuk dia raba.
Ada keinginan tersendiri untuk menyentuh bagian- bagian menggoda itu, merabanya dan mengelus permukaan kasar dan tegas tersebut, balum lagi belalai yang melambai tegas seiring langkah Devan, ukurannya yang cukup panjang meski tidak sedang tegang membuat Evelyn menelan ludahnya kasar, baru kali ini Evelyn menyadari jika tubuh Devan terlihat menggoda, bagaimana dia memasukannya ke dalam mulut dan meng ulumnya...Aiiisshh.
Evelyn menggeleng menyangkal lintasan pemikiran kotornya, bagaimana bisa dia berpikir seperti itu disaat pemandangan seperti Devan sudah biasa dia dapatkan dari para penyewanya, tapi entah mengapa melihat Devan, Evelyn merasa baru pertama kali melihatnya, malu tapi jusa ingin.
Evelyn pasti terlalu banyak minum semalam, hingga kini dia masih saja mabuk.
"Kamu baik- baik saja?" Devan berjongkok dan memegang dahi Evelyn. "Tidak panas.." Devan mengeryit bingung. "Mungkin karena terlalu banyak minum wajahmu jadi merah.." Astaga Devan pasti bisa dengan jelas melihat wajahnya. "Sudah ku bilang jangan mabuk, mau aku pesankan air lemon?"
Evelyn menggeleng lalu kembali membaringkan tubuhnya "Aku mau tidur sampai peningnya hilang."
Devan menarik Evelyn kembali bangun "Peningnya tidak akan hilang jika kamu kembali tidur, kepalamu akan semakin berat.." Evelyn tahu itu, tapi kepalanya sungguh pusing dan rasanya seperti di palu jika dia bangun. "Mau aku hilangkan peningmu?" Evelyn mengeryit saat Devan mendekatkan wajahnya lalu mencium bibirnya.
Devan melingkarkan tangan Evelyn ke lehernya dan kembali meraih bibir Evelyn, memperdalam ciumannya dengan menarik tubuh Evelyn merapat.
Engh..
Evelyn melenguh saat Devan meraba punggungnya yang polos di balik selimut, merasa selimut yang menutupi Evelyn mengganggunya Devan menurunkannya kebawah hingga kini terpampang dua bukit kembar yang berdiri menantang.
Kembali merapatkan diri kini Evelyn bisa merasakan dada keras Devan meyentuh dadanya memberikan gelenyar panas pada kegiatan mereka.
Tangan Devan bergerak memutar dan menelusup di balik celah tubuhnya lalu meremas sebelah gunung kenyal Evelyn dan membuat Evelyn semakin mengerang di balik ciumannya.
Devan memberikan remasan dan sesekali cubitan di pucuknya hingga membuat Evelyn menggeliat resah "Ah, kepalaku semakin sakit.." Evelyn mendongak saat Devan bergerak menuruni tengkuknya menelusuri leher hingga turun ke dada.
"Jangan ditahan, lepaskan semuanya sayang.." bisikan serak itu terdengar saat Devan mengu lum dan menye dot pucuknya hingga memberikan sensasi luar biasa.
Ah..
Devan mendorong Evelyn berbaring hingga Devan menjadi semakin berkuasa dalam menjelajahi tubuh itu, meremas dan mengelus setiap permukaan, hingga kini dihadapannya terhidang kelezatan yang sesungguhnya, Devan menghirup aroma memabukan itu sebelum menyesap dan mereguk cairan kelezatan yang sudah membasahi permukaan yang sejak awal tak menggunakan penghalang "Kamu sungguh lezat, sayang.."
__ADS_1
Slruuup..
Evelyn merasakan dirinya bergetar saat suara bibir devan menikmatinya.
Oh..
Evelyn melenguh saat jari Devan menelusup masuk dan bergerak maju mundur dengan pelan lalu semakin cepat, seiring kegiatan bibirnya yang tak berhenti bekerja menyentuh titik gspotnya.
"Ahhhhh.." Evelyn meremas sprei menahan segala gejolak dalam hatinya saat gelombang itu menghantamnya, bagaimana ini?, seharusnya ini adalah tugasnya sebagai wanita panggilan Devan, harusnya dia yang membuat Devan puas dengan segala perlakuannya, kenapa lagi- lagi dirinya yang mende sah karena belaian Devan dan kalah oleh sentuhan pria itu.
Sungguh sangat murahan kau Eve..
"Apa peningnya sudah hilang?" Devan mengusap bibinya yang basah akibat cairan yang baru saja Evelyn keluarkan.
Evelyn masih terengah "Aku rasa aku semakin ingin tidur.." Evelyn mengelus rahang Devan.
Devan terkekeh lalu menggenggam tangan Evelyn dan membawanya ke bibir untuk mengecupnya "Bagaimana ini, kamu tak boleh tidur dulu sebelum menidurkan milikku." Devan mengarahkan tangan Evelyn ke tubuhnya yang telah tegak sempurnanya hingga dia merasakan Evelyn meremasnya lembut.
"Setelah dia tidur bolehkan aku kembali tidur?"
Devan tertawa "Kamu sangat ingin tidur.."
"Sudah kubilang aku pening, dan setelah peningnya hilang kini aku lemas karena baru saja mencapai puncak.."
Devan mengecup dahi Evelyn "Jika begitu tak usah pedulikan aku, tidurlah.." Devan beranjak, tak ada gunanya memaksa Evelyn untuk menidurkan kembali tubuhnya, dia juga tak ingin Evelyn semakin kelelahan karena melayaninya.
Baru saja Devan menggeser tubuhnya tangan Evelyn menghentikannya.
"Kau akan bekerja?"
Devan menggeleng "Tidak, hari ini aku masih free.."
"Kalau begitu ayo tidur lagi.." Devan mengeryit.
"Aku sudah tidak mengantuk.."
"Jika begitu berbaring saja, temani aku.." Devan tersenyum melihat Evelyn yang lagi- lagi memberikan tatapan menggemaskan.
"Baiklah.." Devan kembali membaringkan tubuhnya di sebelah Evelyn lalu Evelyn mendekat dan mendesakkan tubuhnya merapat memeluk Devan.
"Tunggu, beri aku satu jam, setelah itu aku akan memuaskanmu.." Devan terdiam lalu memejamkan matanya.
__ADS_1
"Hmm tidurlah."