
(Yang tak cukup Umur di harap mundur, yang suaminya lagi kerja jangan dulu baca, tunggu paksunya pulang dulu, karena berindikasi memberikan hawa panas dan membakar 🤣)
.
.
.
Seperti apa mengungkapkan perasaan?.
Entahlah, Devan tidak yakin.
Jika dulu dia menjerat Evelyn dengan kata- kata manis membuat wanita itu tersipu dan tertunduk malu, lalu menjeratnya dalam sebuah kenikmatan yang tak semestinya mereka lakukan, entah bagaimana harusnya sekarang.
Evelyn yang hari ini terbentuk karena dirinya di masa lalu, dan gadis ini sedang membentengi hati padanya.
Dan sangat sedikit kesempatan untuk Devan bahkan nyaris tidak ada, tapi dengan sekuat tenaga Devan akan berusaha untuk memiliki kembali Evelyn dan kali ini dengan cara yang tulus meski dengan sedikit kebohongan, sedikit? Devan meringis bisakah ini di sebut sedikit?... tapi Devan ingin membuat Evelyn tahu bahwa dirinya benar- benar menginginkannya bukan hanya untuk sekedar merenggut sesuatu yang berharga karena penasaran dan pergi.
Devan akan memulainya dengan memiliki tubuhnya kemudian hatinya.
Dua tahun..
Devan tersenyum dalam hati..
Evelyn benar- benar miliknya sekarang, dan tidak akan dia biarkan wanita di dekapannya pergi entah itu sekarang atau pun dua tahun lagi.
Devan menarik dress Evelyn hingga kini Evelyn hanya menggunakan kedua benda sebagai menutup titik sensitifnya saja.
"Kamu tahu rasanya aku ingin marah mengingat semua pria menyentuhmu.." Devan meremas kedua benda yang masih tertutup di hadapannya.
Evelyn terbahak "Jadi harusnya kau menyewa gadis yang masih murni tuan.. bukan wanita bekas sepertiku.."
"Kamu tahu aku tak peduli Eve.. aku juga bukan pria yang baik, tapi tenang saja aku akan menghapus jejak mereka dalam dirimu." Devan melepas penutup atas Evelyn dan mulai menikmatinya.
Evelyn melenguh dengan kepala yang menengadah saat Devan menikmati pucuk kemerahan miliknya, dengan membusungkan dadanya membiarkan Devan menyesap dan meng ulumnya dengan lembut.
Devan mendekap Evelyn dan merapatkan diri mereka. Evelyn sudah polos sepenuhnya sedangkan Devan masih mengenakan celana kainnya.
Evelyn melingkarkan tangannya di bahu Devan yang terbuka dan masih membiarkan pria itu menikmati kedua buah dengan ujung kemerahan itu lalu beralih ke tengkuknya.
Evelyn memejam gelombang itu ada lagi, getaran di hatinya yang tiba- tiba saja menghangat saat kecupan demi kecupan dihadiahi di tubuhnya.
__ADS_1
Evelyn sudah terbaring dengan Devan yang mengungkungnya, Devan yang menjamahnya, kembali.
Setelah sekian lama perasaan itu ia lupakan bahkan di pupuk dengan kebencian, tapi nyatanya kenapa dia datang begitu cepat dan serasa masih sama.
Perlakuan ini sama seperti dulu Devan melakukannya, lembut dan membuai. Evelyn merasakan bulu bulu halusnya berdiri saat Devan menjamahnya semakin agresif dengan nafas yang memburu, terlihat sekali pria itu juga sangat menginginkan lebih, jadi Evelyn membalik keadaan dan mendorong Devan dengan mata yang menaut memberikan godaan.
Tangan lentik Evelyn meraba lembut membuat Devan melenguh, dalam posisinya sekarang Evelyn bisa merasakan benda itu mengeras di bawah bo kongnya.
Evelyn melu mat bibir Devan dengan tangannya yang mulai sibuk di bawah sana membuka sabuk dan meloloskan sang tubuh yang sudah menegak sempurna.
Devan mengeram saat Evelyn berhasil menggenggamnya, dan menaik turunkan tangannya.
"Oh.." Devan mendongak saat Evelyn bergerak semakin bawah memberikan kecupan dan sesekali gigitan di permukaan kulitnya.
"Eve.." Devan menunduk dan melihat Evelyn yang tanpa malu- malu memasukan dirinya ke dalam bibir mungilnya, jika dulu Evelyn akan menunjukan pipi merah merona, namun yang di lihat Devan saat ini hanya kerlingan nakal menggoda..
Devan tertegun, tapi juga tak bisa menolak apa yang Evelyn tawarkan padanya, Devan memejamkan matanya dengan perasaan campur aduk, gelisah.. marah, namun yang paling membuat Devan merasa dirinya benar- benar menjijikan adalah dia tak bisa menahan gairahnya, meski dia tahu Evelyn mungkin hanya menganggapnya seorang tuan yang harus di layaninya.
Astaga..
Dia sangat lemah..
Evelyn melenguh, dengan kaki merapat seolah menahan Devan jangan beranjak dari sana.
Devan pun semakin menekan dirinya di sana sesekali dia akan mengigit sebuah tonjolan kecil disana dan membuat Evelyn semakin melengkungkan tubuhnya.
Oh..
Ah..
Dalam batin Devan ia sudah tak peduli, jika ini lebih mirip seperti kompetisi siapa yang lebih kuat dan bertahan dalam perasaan, Devan segera menyentak dirinya dan memasuki Evelyn.
Oh..
Devan melenguh dengan segenap jiwanya, ini rasanya masih sama..
Bagaimana bisa Evelyn masih terasa sama, setelah sekian lama dia berpisah, dengan para pria yang menjamahnya, tapi Evelyn seolah sudah dirancang menjadi miliknya, di dalam sana miliknya terasa pas dan mengerat menyentuh titik paling dalam dan hangat.
Devan memberikan ciuman di bibir Evelyn, dengan lembut tanpa mengurangi dan menambah kecepatannya memacu di bawah sana.
Evelyn merasakan gerakan tegas itu begitu menyentuhnya hingga bagian yang terdalam pada dirinya.
__ADS_1
Enggghhh
Evelyn merasakan dirinya menggelinjang hanya dalam beberapa hentakan Devan yang begitu tegas menusuknya.
Devan menyeringai puas saat melihat Evelyn menggelepar lemas, satu kecupan dia daratkan di dahi yang penuh keringat itu "Aku belum menghapus semuanya sayang.."
Devan membalik tubuh setengah lemas Evelyn dan mulai kembali mendorong dirinya membuat Evelyn kembali melenguh.
Devan menahan tubuh Evelyn saat akan ambruk kedua tangannya menahan Evelyn dengan sesekali meremas benda kenyal yang menggantung indah bak bola yang memantul menjanjikan kesenangan dan kepuasan.
Evelyn menengadah saat Devan kembali memberi kecupan- kecupan lembut di bahu dan belakang lehernya.
Devan merasakan dirinya semakin berdenyut dan terjepit saat untuk kedua kalinya Evelyn mencapai puncaknya.
Devan menggerakkan dirinya semakin cepat saat dorongan itu semakin kuat memberikan janji kepuasan yang akan segera di raihnya.
Ahhhh
Lenguhan panjang mengalun dari bibir Devan di sertai senyum puas, karena setelah sekian lama Devan merasakan kembali Evelyn.
Devan mengecup bahu Evelyn lama lalu bergumam.
"Aku mencintaimu.."
Evelyn merasakan air mata menetes begitu saja, namun tak ingin terlihat lemah Evelyn hanya memalingkan wajahnya.
...
Waduh... siapa yang sekarang lagi pasang kipas..🤭🤭🤭
Percayakah kalian aku ngetik ini cuma setengah jam, di saat biasanya aku membutuhkan waktu berjam- jam takut ada yang terlewat.
Dasar otak mesum, giliran tulis beginian lancar banget🤣
Boleh lempar Hadiah...
🌹🌹🌹🌹🌹
Hatur tengkyu
😘😘😘
__ADS_1