
Sejak hari itu Devan hanya kembali saat dia menginginkan Evelyn, lalu pergi setelah puas, Devan masih memperlakukan Evelyn dengan kasar saat mereka bergulat di atas ranjang, dan Evelyn hanya diam dan menerimanya.
Sesekali juga Devan memintanya hanya melakukan oral dengan mengu lum dan meng hisap tubuhnya, lalu meninggalkan Evelyn dengan mulut penuh cairan tubuhnya.
Persis seperti ja lang, tapi bukankah itu kenyataannya.
Seperti hari ini, pria itu datang dengan keadaan mabuk dan memaksanya menelan semua cairan miliknya setelah memintanya mengoralnya, Evelyn merasakan rahangnya nyeri karena terlalu lama menganga dan memasukan tubuh Devan di mulutnya.
Seperti biasa pria itu akan pergi setelah puas, meninggalkan Evelyn dengan keadaan tidak pantas.
Evelyn masih berlutut dengan sisa- sisa cairan Devan di sudut bibirnya, mengusapnya dengan ujung lengannya, Evelyn terkekeh lalu kekehan tersebut berubah jadi tawa kecil, tak lama kemudian Evelyn tertawa terbahak.
Lihatlah, siapa yang menjijikan ini..
Dan lihatlah sang pencinta yang awalnya bersih keras ingin kembali dan mengatakan begitu mencintainya, namun rupanya lagi- lagi menggoreskan luka.
Tapi sayang sekali, meski hati Evelyn terasa sakit dan hancur sekalipun, dia tetap tidak akan menyerah dan memohon untuk kembali pada pria itu.
Bertahan, atau mati. Tidak ada kata untuk menyerah biarkan semua rasa benci menguasai hati Devan agar dengan mudah semuanya di akhiri jika kontrak mereka harus berakhir.
Ini lebih baik, batin Evelyn meyakini.
Tawa Evelyn kini berubah menjadi isakan kecil, sepertinya jika tidak bisa bertahan Evelyn akan gila.
Maka dari itu untuk menjaga kewarasannya Evelyn mencoba bangun dengan sisa kekuatannya lalu pergi ke kamar mandi.
Terhitung sudah enam bulan sejak kontrak mereka, kini Evelyn mulai terbiasa hidup sebagai seorang simpanan yang hanya tersembunyi dan terkurung di apartemen itu.
Air mengucur menuruni tubuh Evelyn menyapu dari kepala hingga kaki, menyamarkan air mata yang mengalir deras.
Evelyn mengigit tangannya menjerit tertahan meluapkan kesakitannya.
Setelah puas menangis Evelyn keluar dengan handuk membalut tubuhnya dan mengenakan pakain.
Membuka pintu kamar dengan lebih segar meski matanya menyisakan kemerahan akibat tangisannya, Evelyn berjalan ke arah meja bar lalu menyalakan mesin pembuat kopi.
Menunggu beberapa menit hingga air kehitaman pekat itu mengisi cangkirnya hingga penuh, mematikan mesin kopi Evelyn berjalan ke arah sofa dan mendudukan dirinya lalu menyalakan televisi, Evelyn sesekali menyeruput kopinya.
Sekilas pergerakan Evelyn terlihat normal, namun jika di telaah, Evelyn bahkan tak mendengar suara dari jendela dunia itu, bahkan tatapan matanya terlihat sangat kosong.
Bibir Evelyn tersenyum namun entah karena apa.
Meraih ponselnya Evelyn mengetikkan sesuatu.
-Boni kamu sudah menyiapkan semuanya?-
__ADS_1
Tak menunggu lama Boni pun membalas pesannya..
[Tentu saja, kapan kamu datang?]
-Aku akan berusaha untuk datang, tapi jika tidak, kamu bisa memulainya tanpa aku, mohon bantuannya ya.-
[Kamu tidak akan datang?, yang benar saja Eve!, kamu tidak merindukannya.]
-Aku bilang 'Jika'.-
[Lalu jika kamu tidak datang?.]
-Maka kamu harus memulainya tanpaku, tapi aku berjanji aku akan berusaha datang.-
[Baiklah aku menunggumu.]
Evelyn mematikan layar ponselnya lalu menghela nafasnya, bagaimana caranya agar Devan memberikan dia izin untuk pergi beberapa hari dan bertemu Boni.
Mereka kini berada di negara berbeda, dan butuh waktu untuk Evelyn mencapai negara pelarian sekaligus rumah kecilnya.
Tapi Devan tak pernah mengizinkannya keluar apartemen, meski Devan tak pernah mengatakannya secara gamblang melarangnya keluar, namun dua orang bertubuh besar itu selalu menegakkan tubuhnya saat Evelyn keluar dari pintu, bahkan hanya sekedar ke mini market Evelyn selalu diikuti.
Jadi melarikan diri bukan rencana yang bagus, meski mungkin dia bisa kabur, secepat kilat Devan akan menemukannya.
Evelyn pergi bukan untuk jalan- jalan sekitar apartemen lalu pulang di sore hari.
Jadi pilihannya hanya satu meminta Devan untuk mengizinkannya pergi beberapa hari dan tanpa pengawal.
Evelyn bangun mengedarkan pandangannya menelusuri setiap sudut apartemen.
...
Devan menengadah menatap langit- langit, kepalanya yang mendongak bertumpu pada sandaran kursi kerjanya.
Devan menghela nafas berkali- kali, rautnya terlihat lelah dan tertekan, apa yang sedang dia lakukan sekarang, bukankah ini keinginan Evelyn, jadi untuk apa merasa bersalah.
Devan berjanji untuk meluluhkan hati Evelyn, namun usahanya sia- sia belaka, semakin hari Evelyn semakin membencinya, apalagi Devan merasakan sakit begitu dalam ketika melihat raut Evelyn terlihat baik- baik saja dengan perlakuan kasarnya.
Inikah yang Evelyn inginkan?.
Devan melihat Evelyn sedang duduk di sofa ruang televisi, dari layar laptopnya. Sesekali Evelyn menyeruput kopinya dengan mata mengarah ke televisi, terlihat begitu tenang dan nyaman.
Apakah Evelyn lebih suka di perlakukan kasar, karena itu Evelyn bahkan seperti tak terpengaruh akan kegiatan mereka yang baru saja mereka lakukan, lebih tepatnya dirinya yang mendesak mulut Evelyn untuk melahap tubuhnya, hingga menyemburkan cairan itu ke dalam mulut Evelyn, Evelyn bahkan menelannya saat Devan mengatupkan mulutnya menahan agar semuanya tertelan.
Devan merasa dia pria paling brengsek, setelah melakukan itu hingga Evelyn sedikit terbatuk dia pergi begitu saja.
__ADS_1
Devan menggertakkan giginya hingga terdengar bunyi gemelutuk menahan amarah, sampai kapan Evelyn mampu bertahan.
Devan hanya perlu satu kata dari Evelyn, maka dia akan kembali memperlakukannya seperti seorang ratu.
Tapi ego Evelyn ternyata sangat tinggi, dia begitu tak ingin kembali dan hidup bersamanya.
Devan mengeryit saat melihat Evelyn memegang pinggiran sofa saat dia berdiri, lalu terjatuh.
"Eve.." Devan bergegas keluar dari ruang kerja nya dan pergi ke apartemen di sebelahnya. Ya, selama ini Devan tinggal di apartemen sebelah. Mengawasi Evelyn dan memastikan perempuan itu baik- baik saja dari cctv yang terpasang di seluruh ruangan kecuali di kamar mandi.
Devan membuka pintu apartemen dan melihat dua bodyguardnya langsung sigap berdiri lalu memberi hormat.
Tanpa menghiraukan mereka Devan segera masuk dan masih melihat Evelyn terduduk di lantai memegang perutnya.
"Ada apa denganmu?" Devan menatap khawatir dan berjongkok di hadapan Evelyn.
"Ada yang sakit?, katakan padaku!."
Evelyn menghela nafasnya "Aku tidak percaya ini.." Evelyn terkekeh "Kamu benar- benar menjadikan aku tawanan.."
Devan mengernyit lalu melihat Evelyn mendongak "Kamu pura- pura."
"Awalnya aku kira tidak mungkin kamu melakukan ini padaku, kamu mengawasiku?" Devan memejamkan matanya. "Kamu tidak percaya kalau aku tidak akan lari?."
"Seperti rasa benci kamu, kamu bahkan tak ingin terus bersamaku, bukankah ada kemungkinan kamu akan melarikan diri." Devan mendatarkan wajahnya, benar dia tak ingin Evelyn lari, tapi di balik itu dia juga ingin memastikan bahwa Evelyn selalu baik- baik saja, dia bahkan rela membeli satu lantai gedung berisi enam apartemen untuk membuat Evelyn tetap aman.
Evelyn mengangguk "Apa jika aku bersumpah, kamu tetap tidak percaya?"
Damian mengerutkan keningnya "Aku bersumpah demi tuhan, aku tidak akan lari.. sampai kontrak kita selesai."
Degh..
Devan mengepalkan kedua tangannya.
"Jadi bisakah perlakukan aku layaknya manusia, tolong singkirkan dua orang penjaga itu." Evelyn menunjuk ke arah dua pengawal yang mengikuti Devan tadi karena khawatir melihat Devan berlari masuk ke dalam.
Devan terkekeh "Kamu mengatakan aku tidak memperlakukan kamu seperti manusia?, sungguh kamu mengatakan itu Eve?, aku memperlakukan kamu seperti ratu, tapi kamu tidak menerimanya!, dan memilih menjadi ja lang" Devan menggertakan giginya. "Kamu selalu berprasangka buruk dengan rasa khawatirku, kamu selalu menganggap aku buruk dalam segala hal!."
"Tidak kah kamu benar- benar memaafkan aku Eve?, bagian mana yang kamu bilang kamu memaafkan aku, jika kamu saja tidak percaya padaku!."
.....
Like..
Komen..
__ADS_1
Vote..