Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Kesalahan Lagi


__ADS_3

Ada yang salah dengan dirinya dan Devan tahu itu, Evelyn menghubunginya jika dia sudah tiba di rumahnya, dan yang sebenarnya Devan sudah tahu dari pengawal yang mengawasi Evelyn dari jauh, jika Evelyn sudah tiba dengan selamat, tapi mendapat kabar langsung dari Evelyn membuatnya menghangat, semoga ini adalah awal baru untuk mereka.


Devan masih terus berpikir dan terus mengingat besok hari apa, tapi dia tidak juga ingat.


Pekerjaan yang menggunung menuntut Devan berusaha keras menyelesaikannya, targetnya untuk menyingkirkan Diana harus berhasil karena itu dia rela terbang ke Itali demi menemui tuan Willy, pria yang terkenal dengan investasi uangnya yang tidak main- main.


Pria itu menjadi incaran para pengusaha untuk merebut hatinya dan menjadikannya investor mereka, jika Devan bisa menariknya maka dia bisa menendang Diana dari kehidupannya, lalu hari ini kesempatan itu datang, pria itu mengundangnya untuk datang dan Devan langsung menyanggupinya.


Tapi sekarang ada yang mengganjal di hatinya tentang Evelyn, seperti rasa bersalah yang tiba- tiba muncul.


Devan kembali melihat Daren, putra tuan Willy yang tampan itu kembali merajuk, dan tuan Willy lagi- lagi membujuknya.


Terdengar perdebatan antara anak dan ayah itu, meski usia Daren masih lima tahun tapi bocah itu dengan pintar mendebat ayahnya.


"Ayolah Boy, sudah Dad bilang jika Dad lupa, apa yang harus dad lakukan..?"


"Bukankah sebagai gantinya Dad akan menggantikan dan memberi hadiah apapun yang kau mau."


"Sudah ku bilang berikan aku mom, seperti teman- temanku.." Willy menghela nafasnya.


"Ini tidak semudah kamu membeli mainan boy,."


"Itu karena Daddy terlalu kaku dan kejam, tidak ada wanita yang mau denganmu." Devan melihat bibir tuan Willy berkedut kesal, sungguh lucu mereke berdua.


Ada perasaan iri di hati Devan saat ini, andai dia punya kesempatan untuk berdebat dengan putranya, seperti tuan Willy.


"Lalu apa yang harus aku lakukan.."


"Tersenyumlah seperti pria yang manis." Daren melipat tangannya di dada, sangat menggemaskan, tatapan matanya menyipit menatap Willy penuh ancaman.


...


"Satu tips untuk mu tuan Devan, jangan sampai kau lupa ulang tahun anak atau istrimu, lihatlah anak itu masih saja merajuk.. dan dia ingin hadiah seorang Ibu." Willy kembali duduk di kursi, setelah membujuk Daren, jika dia akan bersikap manis seperti katanya.

__ADS_1


Devan tertegun sesaat lalu terkekeh menyembunyikan debaran di hatinya. "Akan aku ingat.." Dalam hati Devan meringis. Benar, dia juga lupa, seolah merasa diingatkan oleh tuan Willy, dia ingat sekarang besok adalah hari lahir Damian, Ayah macam apa dia ini tak ingat hari kelahiran anaknya sendiri. Pantas saja Evelyn terlihat sedih, Astaga..! dia baru saja melakukan kesalahan lagi.


"Tapi anda akan dengan mudah mendapat pasangan, aku yang laki- laki saja melihat anda sangat tampan, pasti banyak perempuan yang ingin bersanding dengan anda."


Willy terkekeh "Aku baru saja di tolak seorang wanita beberapa bulan lalu."


"Benarkah, aku tidak percaya, dia pasti wanita bodoh.." Willy tertawa.


"Tidak dia wanita satu- satunya yang membuatku kagum, bahkan meski dia menolak hatiku tetap menginginkannya."


"Aku sungguh penasaran dengan wanita yang berani menolak pria setampan dan semapan anda.."


Willy terkekeh, raut wajahnya sangat bahagia mengingat kenangan beberapa bulan lalu saat dia bertemu dengan Evelyn, meski sangat singkat tapi Willy sangat menikmatinya. "Aku rasa jika kau melihatnya kau pun akan jatuh cinta." kelakarnya.


Devan menggeleng "Tidak akan ada yang mampu membuatku jatuh sedalam- dalamnya selain kekasihku.." ucapnya dengan bangga, baginya hanya Evelyn yang selalu ada di hatinya dan wanita yang Devan rasa paling cantik dan berharga, tidak ada yang mampu membuatnya berjuang seperti saat ini.


"Ah, benar. Aku dengar kau sudah bertunangan.." Willy menganggukkan kepalanya.


"Aku belum mendengar kabar bahagia ini." Willy mengangkat alisnya.


Devan tersenyum penuh arti dan Willy segera mengerti jika wanita yang Devan maksud bukan Diana seperti yang dia tahu.


Tak banyak yang tahu jika Devan sudah bertunangan, hanya beberapa pengusaha dan Willy tentu saja, Willy harus tahu kepada siapa dia akan menanamkan uangnya, dan dia mengetahui jika Devan bertunangan dengan putri pengusaha kaya di negaranya, dan dari yang dia lihat sekarang Devan tidak menginginkannya.


"Dan aku sedang berusaha untuk membuatnya di akui.. dulu aku melakukan kesalahan dan dosa besar, dan aku sedang berusaha menebusnya sekarang, mengobati lukanya agar dia sudi kembali bersamaku." Willy segera mengerti jika wanita yang di cintai Devan bukan dari kalangan mereka, mengetahui itu Willy teringat Evelyn dia juga wanita biasa dan malah terkesan murah dimata orang lain, karena hanya seorang wanita panggilan, itukah alasan sebenarnya Evelyn menolaknya, dia mungkin beranggapan seluruh dunia akan menolaknya.


"Baiklah aku mengerti sekarang." Willy mengulurkan tangannya "Aku akan segera meninjau dan melihat apa kau menggunakan uangku dengan baik.."


Devan tersenyum lega, dan itu artinya Willy sudah setuju.


"Terimakasih tuan Willy.." satu rintangan sudah Devan lewati, dia bisa bebas dari Diana, dan dia akan berusaha keras untuk membuat Evelyn di akui.


"Jika berkenan, suatu hari aku ingin melihat seperti apa wanita yang membuat seorang Devan berusaha begitu keras hingga terbang ke Itali." Willy sungguh penasaran dengan sosok itu, wanita yang mampu membuat seorang pria berjuang keras. Untuk meninggalkan sponsor seperti perusahaan milik keluarga Diana memang tidak mudah, besarnya dana yang di kucurkan akan membuat Devan tak berkutik dengan perjodohan paksanya.

__ADS_1


Melihat perjuangan Devan membuat Willy tersenyum, haruskah dia juga berjuang untuk mendapatkan Evelyn..


...


Devan menatap gundukan tanah yang terbalut semen dan ukiran di atasnya, hatinya perih, ini adalah pertama kalinya Devan mengunjungi Damian, sejak dia tahu bahwa dia memiliki seorang putra yang telah tiada.


Devan pria pengecut, ya.. nyatanya dia tak berani datang karena dosanya pada Damian terlampau besar.


Jika saja Devan tau tentang Damian, dia akan berusaha keras agar anak itu tetap hidup dan memberikan perawatan terbaik, atau berobat ke berbagai negara, namun sungguhkah jika dia tahu lebih awal, takdir akan berbeda. Nyatanya tetap Tuhan yang berkehendak.


"Maafkan Daddy.." Devan berlutut di depan makam kecil Damian. "Maaf karena menyakiti mommymu, dan tak tahu tentang dirimu.."


"Tapi, Daddy bersumpah setelah ini Daddy akan membuat Mommymu bahagia." Devan mengerjapkan matanya yang tiba- tiba terasa basah.


Devan langsung datang saat menyadari jika hari ini adalah ulang tahun Damian, dan tak ingin membuat kesedihan lagi di hati Evelyn, Devan menyumbangkan satu mobil bok mainan dan pakaian anak, mengetahui itu adalah kebiasaan Evelyn untuk terus berdonasi setiap ulang tahun Damian, membuat Devan segera meminta Roger untuk menyiapkan semua.


Beruntungnya dia memiliki Roger yang cekatan, hingga Devan bisa mendahului Evelyn dan mengirim semuanya.


Devan masih duduk di sana menatap kosong tanah pemakaman yang sebagian berumput agak panjang.


"Kamu disini?."


Devan menoleh dan mendapati Evelyn berdiri di depannya. "Maaf aku baru menyadarinya.." Devan menunduk "Aku sungguh Ayah yang buruk."


Evelyn menghela nafasnya "Tidak apa, lagipula kamu tidak tahu sejak awal.. dan kamu baru tahu jika ada Damian sejak kita bertemu, meski begitu terimakasih sudah datang."


Devan mendongak dan menggenggam tangan Evelyn, lalu mengecupnya "Jadi semua hadiah itu dari kamu?"


Devan mengangguk "Untuk menebus segala hal, meski aku tahu itu semua belum cukup, tapi semoga Damian akan menyukainya."


Evelyn tersenyum.. "Lalu kamu datang apa perjalan bisnis kamu sudah selesai?."


Devan terkekeh "Berkat kamu, semuanya berjalan lancar.." Evelyn mengangkat alisnya merasa bingung, benar saat Devan membicarakan tentang Evelyn tuan Willy langsung antusias, dan seolah dia sedang beruntung tuan Willy langsung menyetujuinnya.

__ADS_1


__ADS_2