Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Permohonan Maaf


__ADS_3

Ketakutan Evelyn tidak terjadi, Devan benar saat dia berkata "Tidak ada orang tua yang benar- benar marah pada anaknya Eve, kasih sayang mereka tidak akan terhapus begitu saja hanya karena satu kesalahan." Evelyn tertegun.


"Tuhan pun memaafkan umatnya, bagaimana mungkin orang tuamu tidak." Evelyn merasa tertohok, kata- kata Devan mungkin tidak tertuju padanya, tapi Evelyn menyadari jika dirinya juga melakukan hal yang sama pada Devan, hatinya yang sulit memaafkan, membuatnya seolah benar- benar seperti manusia paling suci, benar Tuhan saja memaafkan umatnya, lalu kenapa Evelyn begitu sulit memaafkan Devan, memang siapa dirinya?.


"Kita hadapi ini, aku akan membuat kamu di terima kembali." Evelyn melihat tangannya terus di genggam Devan seolah pria itu ingin menguatkannya.


Lagi- lagi Evelyn merasa malu, selama ini Devan berjuang dengan tulus untuk membuat Evelyn memaafkannya, namun yang Evelyn lakukan justru menutup hatinya karena kemarahannya di masa lalu.


Sepanjang langkah kakinya Evelyn terus menatap genggaman tangan Devan hingga mereka berdiri di depan pintu orang tuanya.


Genggaman tangan Devan seolah menguatkannya, dan memberikannya keberanian, entah Evelyn akan terusir oleh orang tuanya, Evelyn tak takut lagi, selama dia bisa melihat mereka itu sudah cukup.


Setelah itu dia akan pergi dan berjanji akan memperbaiki hubungannya dengan Devan, dan memperlakukan pria itu dengan tulus.


...


Evelyn duduk di sofa di ruang tamu, Ibunya tak melepaskannya dan terus berada di sampingnya, mengelus rambut Evelyn dan memeluknya, sedangkan ayahnya pergi untuk mengambil minuman.


Evelyn masih belum bicara tentang putranya, Damian. Dia masih memikirkan apa yang harus dia jelaskan pada Ibu dan Ayahnya.


Devan sendiri terus tersenyum seolah menenangkan Evelyn dan dengan gerak mulutnya Evelyn membaca 'Semua akan baik- baik saja.' hingga Evelyn mengangguk, Dia akan percaya Devan kali ini.


"Minumlah, Tuan." Ben menyimpan nampan berisi minuman dan meletakkan gelas minuman di depan Devan.


"Jangan panggil aku tuan, Ayah. Aku Devan suami Evelyn." Devan berdiri.

__ADS_1


Evelyn menatap tak percaya pada Devan, kenapa pria itu terus berkata dia suaminya pada semua orang. Tidak masalah jika itu orang lain, tapi kali ini Devan berkata pada Ayah dan Ibunya dan bukankah itu sebuah kebohongan.


"Harusnya aku datang lebih awal, maafkan aku.. Jika aku tahu keberadaan kalian lebih awal aku akan memperkenalkan diriku sejak awal." Ayah dan Ibu Evelyn jelas terkejut, dan semakin terkejut saat Devan menjatuhkan dirinya dan berlutut di depan orang tua Evelyn.


"Apa yang kau lakukan, bangunlah." Ben menyentuh pundak Devan.


"Maafkan aku, karena aku putri kalian menjalani hidup yang menyedihkan, dia harus berjuang sendiri untuk hidupnya dan putra kami.." Devan menelan ludahnya kasar, setiap kali dia mengingat Damian hatinya begitu sakit, mengingat bagaimana anaknya itu kesakitan membuat Devan terus merasakan perasaan bersalah "Andai aku menemukan Eve lebih awal.. Mungkin Damian putra kami masih akan selamat." Ben dan Andrea saling menatap lalu melihat Evelyn yang menatap Devan dengan tatapan tak percaya.


"Tapi setelah ini aku berjanji, aku akan membahagiakan putri kalian.."


Hening..


Tak ada suara sama sekali selain deru nafas masing- masing, hingga Devan kembali bicara..


Bugh..


"Itu, artinya kau tidak bertanggung jawab atas Evelyn.." dada Ben bergemuruh, jadi selama ini putrinya menderita di luar sana.


"Maafkan aku.."


Bugh..


Ben, kembali memukul Devan, dan Devan hanya diam tak melawan.


Saat Ben akan melayangkan kembali pukulannya Evelyn segera menahan Ayahnya "Tidak, Ayah. Dev tidak tahu aku mengandung.."

__ADS_1


"Dia tidak tahu, dan aku juga tidak memberi tahunya.." Evelyn memeluk ayahnya.


"Kenapa?, bukankah kau bilang kalian saling mencintai.." itu yang Evelyn katakan saat kehamilannya di ketahui, mereka melakukannya karena cinta.


"Evelyn datang, tapi saat itu aku bercinta dengan wanita lain.."


"Dev!!" Evelyn menatap Devan dan memohon agar dia berhenti bicara, namun Devan bergeming dan kembali bicara.


"Karena itu Eve pergi tanpa memberitahuku, tapi saat aku kehilangan Evelyn aku baru menyadari kesalahanku.. aku begitu mencintainya, tapi terlambat, Evelyn sudah pergi jauh. Hingga beberapa bulan lalu aku kembali menemukannya.."


"Brengsek!." Ben akan kembali menerjang Devan namun Evelyn kembali menahannya.


"Tidak Ayah, aku mohon hentikan."


"Aku bersalah, Dev juga.. Harusnya kami tidak melakukan itu.. Maafkan kami.." Evelyn menangis dan memeluk ayahnya erat.


"Lalu kau mencintai pria brengsek.." Ben mengusap wajahnya kasar.


"Maafkan aku.. Aku sungguh menyesal." Devan menunduk, dia tidak akan melawan, harusnya sejak dulu dia di hajar oleh ayah Evelyn.


"Semua sudah berlalu ayah.." Ben menghela nafasnya lalu duduk di sofa mencoba menenangkan diri.


Andrea masih mematung melihat apa yang terjadi begitu cepat dan dia hampir tak mengerti dengan apa yang Devan katakan.


....

__ADS_1


__ADS_2