Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Hari Apa?


__ADS_3

"Jadi apa tujuanmu sebenarnya Eve, sengaja melakukan ini untuk menyingkirkan penjagaan.."


Evelyn tertegun.


"Katakan, aku akan mengabulkannya." mulut Evelyn terbungkam, benar dia tidak tulus tapi ternyata Devan mengetahuinya, dan pria itu bilang dia akan mengabulkannya.


"Kau yakin?"


"Humm" Devan mengangguk dan mengecup bahu Evelyn.


Evelyn menelan ludahnya gugup, bukankah ini yang dia inginkan dia akan membuat drama agar Devan mengizinkan apapun yang dia mau, dan sekarang Devan benar- benar akan mengabulkannya.


Meski kenyataan dia tahu bahwa Evelyn hanya membuat drama, tapi kenapa pria itu tidak marah dan membiarkan dirinya diliputi kebohongan Evelyn.


Bukankah Devan seperti sengaja terjun dalam jebakannya.


Evelyn terkekeh merasa bodoh dengan apa yang dia lakukan "Kenapa terkekeh seperti itu?"


"Aku hanya merasa bodoh, niatku sudah di ketahui rupanya."


Devan mengelus rambut Evelyn. "Kali ini aku akan mencobanya, asal kamu tetap bersamaku, lakukan apapun yang kamu mau.."


...


Evelyn menatap tiket pesawat yang baru saja dia dapatkan dengan senyuman.


Akhirnya dia bisa bebas menjalani hari- harinya tanpa ada pengawal di belakangnya, dan yang penting besok dia bisa pergi untuk menemui Boni dan pergi ke makam Damian.


Lusa adalah ulang tahun Damian yang selalu Evelyn rayakan dengan Boni, pergi ke makam dan berbagi dengan anak- anak yang punya penderitaan seperti Damian.


Meski tidak banyak Evelyn selalu menyumbangkan ke yayasan jantung untuk membantu memulihkan dan pengobatan mereka.


Dan kali ini berkat uang dari Devan dia bisa memberi lebih, dan semoga di atas sana Damian tersenyum melihatnya.


Dengan langkah ringan Evelyn keluar dari lift apartemen yang terasa sepi, sebab dia tak punya tetangga maka hanya dirinyalah yang ada disana.


Evelyn menghela nafasnya, bukankah ini sama saja seperti tinggal di rumah besar tanpa penghuni, menyeramkan.


Apa dia perlu ajak Boni untuk menjadi tetangganya, Evelyn menggeleng.


Tidak jangan sampai Boni terlibat dan lagi Evelyn ingin Boni fokus untuk kepindahan mereka satu setengah tahun lagi.


Karena Boni yang bersih keras ingin ikut, baiklah Evelyn akan bawa Boni juga, bukankah bagus punya teman serumah.


Tekad Evelyn masih sama pergi saat kontraknya berakhir, lalu bagaimana jika Devan berhasil dengan semua tantangannya.


Evelyn menghentikan langkahnya saat tiba di depan pintu Apartemen, menggeleng seraya tersenyum kecil.


Itu tidak mungkin.


Evelyn tahu, mereka punya harga diri yang tinggi dan angkuh, maka dia tidak akan pernah di terima di keluarga Devan.


"Kamu sudah pulang?"

__ADS_1


Evelyn mengeryit "Kamu datang, tidak bekerja?."


"Aku pulang untuk makan siang, tapi kamu tidak ada."


"Oh, ya. Aku ada sedikit urusan, baiklah tunggu sebentar aku akan buatkan makan siang untukmu."


Devan tertegun, apa dia baru saja melihat Evelyn tersenyum ceria, cantik sekali.


Devan tak berkedip menatap Evelyn yang mengeluarkan bahan makanan dari lemari sambil bersenandung, jadi sungguh Evelyn ingin kebebasan lihatlah dia terus tersenyum.


Bagus sekali, tidak masalah dan Devan hanya perlu bersabar menghadapi Evelyn.


"Kamu pergi kemana?"


Evelyn menghentikan gerakannya lalu meletakkan pisau yang sedang dia gunakan "Nah itu," Evelyn berjalan ke arah tas bahunya yang tadi di letakannya di meja makan.


Evelyn mengeluarkan sebuah tiket pesawat yang sudah dia beli "Aku akan pulang untuk beberapa hari."


Devan mengeryit tak suka "Apa?"


Evelyn berdecak "Kamu tahu lusa tanggal berapa?"


"15.." Jawabnya.


Evelyn mengangguk "Kamu tahu hari itu hari apa?."


Devan berfikir ada apa di hari itu, tanggal 15 bulan Juni, namun dia tak bisa memikirkan apapun kecuali jadwalnya yang memang sudah padat sejak esok.


Bahkan Devan sengaja makan siang dengan Evelyn hari ini karena dia akan pergi untuk beberapa hari melakukan perjalanan bisnis.


"Kamu tidak tahu?" Devan menelan ludahnya, apa dia melupakan sesuatu?. "Sudahlah.. yang penting aku sudah memberitahumu aku akan pulang untuk beberapa hari."


Devan mengangguk kaku "Tidak masalah, lagipula aku akan melakukan perjalanan bisnis beberapa hari ini jadi kamu bisa pulang dengan tenang."


Evelyn menipiskan bibirnya, Devan benar- benar tidak ingat hari lahir Damian, tapi tidak apa sejak awal Evelyn memang tidak berniat memberi tahunya, hanya saja dia butuh kepercayaan dan izin Devan, tapi kenapa mengetahui Devan tidak tahu tentang hari itu membuatnya sedih.


Evelyn menghela nafasnya lalu kembali ke konter untuk melanjutkan memasak, terserah yang penting Devan sudah tau dan memberikan izin untuk pergi.


Melihat mood Evelyn yang tiba- tiba berubah membuat Devan memutar otaknya, ada apa di tanggal itu, tapi masalah pekerjaan yang benar- benar banyak menyita pikirannya sekarang.


"Sayang, aku salah, aku tidak tahu hari apa itu?"


Devan berdiri dan memeluk Evelyn, Evelyn tersenyum "Tidak apa, duduklah aku akan selesaikan masakannya." Evelyn menyingkirkan tangan Devan di pinggangnya.


Devan menghela nafasnya "Aku akan berusaha mengingatnya." Devan memberikan kecupan di pucuk kepala Evelyn lalu kembali duduk di kursi makan.


...


"Kamu masih disini?" Evelyn baru saja keluar dari kamar mandi, dia pikir Dev sudah pergi. Usai memasak dan makan siang bersama Evelyn memilih membersihkan diri, dia kira Devan sudah pergi karena Evelyn bahkan berendam cukup lama di kamar mandi.


"Aku akan langsung melakukan perjalanan bisnis." Evelyn mengeryit saat melihat koper terbuka yang dia tahu milik Devan.


"Lalu..?"

__ADS_1


"Biasanya akan di siapkan oleh pelayan." Devan meringis melihat koper yang masih kosong "Hanya beberapa pakaian, yang penting.. tapi aku bingung akan membawa yang mana." Evelyn melihat lemari besar Devan terbuka menampilkan kemeja khasnya dan juga jas yang berjejer.


"Berapa hari kamu disana?." Evelyn meraih beberapa kemeja lalu melipatnya.


"Tiga, sampai empat hari." Devan tersenyum melihat Evelyn mulai memasukkan semua kebutuhannya ke dalam koper.


Sebenarnya Devan bisa pergi tanpa membawa apapun, dia dengan mudah akan mendapatkan semua kebutuhannya saat tiba di negara tujuan, tapi dia baru saja memiliki ide bagus untuk membuat Evelyn memperhatikannya, dan rupanya berhasil wanita itu tahu apa saja yang harus dia bawa.


Melihat itu membuat hati Devan terasa hangat.


Devan melihat Evelyn menutup kopernya setelah memastikan semuanya lengkap.


"Terimakasih, sayang." Devan memeluk Evelyn dari belakang dan merasakan aroma sabun yang masih melekat, karena Evelyn baru saja selesai dengan mandinya.


Tubuh Evelyn yang hanya di balut handuk kimono saja membuatnya terlihat seksii, dengan rambut tergelung oleh handuk hingga menyisakan tengkuk putih beraroma sabun itu begitu menggodanya.


Devan menjatuhkan bibirnya di punggung putih Evelyn, setelah menurunkan handuknya hingga kini punggung Evelyn setengah teebuka.


"Aku akan merindukanmu.." Devan mendekap semakin erat enggan melepaskan.


"Pergilah jika tidak kamu akan terlambat."


"Aku naik pesawat pribadi, tidak ada yang akan terlambat karena aku yang mengendalikannya."


Evelyn memutar matanya malas "Kamu tidak ingin ikut denganku, aku akan mengantarmu lebih dulu, setelah itu aku akan pergi."


Evelyn menaikan alisnya "Jangan konyol Dev, aku sudah membeli tiket, dan akan pergi besok pagi, lagi pula aku memesan kelas bisnis, itu cukup nyaman."


Evelyn membalik tubuhnya hingga kini terpampanglah wajah cantik yang sangat Devan cintai,


Devan mengecup bagian dada atas Evelyn yang terbuka, akibat tarikannya, mengecup lembut disana menyisakan basah dan gelenyar di tubuh Evelyn.


Devan mensejajarkan lagi tubuhnya lalu menangkup pipi Evelyn membuatnya mendongak hingga mengarah padanya, "Aku mencintaimu Eve.."


Evelyn tersenyum lalu mencium bibir Devan "Mau melakukannya sebelum pergi?" Evelyn menggerlingkan matanya.


Devan mengeluh dalam hati, bukan perkataan itu yang Devan harapkan.


Tapi mungkin sebuah balasan akan sulit di dapatkan.


Devan menggendong Evelyn dan membawanya ke arah ranjang.


"Bagaimana ini,.jika melakukan satu sesi saja akan kurang untukku."


Evelyn tertawa kecil lalu mengelus rahang Devan dan kembali mencium Devan dengan gerakan menggoda.


Kedua insan itu kembali bergulat dengan niat berbeda, Devan yang berusaha meraih kembali cinta Evelyn.


Sedangkan Evelyn hanya menganggap ini sebuah keharusan tanpa menggunakan perasaan, dia masih enggan untuk menerima kenyataan jika sebagian hatinya masih menghangat untuk Devan..


....


Like..

__ADS_1


Komen..


Vote...


__ADS_2