Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Bonus Chapter


__ADS_3

Bukan hidup Evelyn tanpa masalah, setiap hidup pasti memiliki masalahnya masing- masing. Begitupun Evelyn kisahnya tak selalu bahagia, hanya saja selalu ada jalan keluarnya terutama dia memiliki Devan dan orang tuanya yang senantiasa menjadi tameng untuknya.


Ingat Diana?, tunangan Devan yang berjanji akan memporak porandakan perusahaan Devan dan membalas perbuatan pria itu..


Diana benar- benar melakukannya, wanita itu membuat perusahaan Devan goyah, bahkan nyaris saja bangkrut, namun seperti apa yang Devan lakukan pada Willy, pria itu selalu punya jalan keluar, hingga perusahaan kembali stabil.


Tak cukup sampai disitu, Diana juga mengusik Evelyn dan menyebar luaskan profesi Evelyn dulu yang pernah menjadi wanita panggilan.


Namun Mariane berhasil membuat Diana bungkam dengan rahasia yang dirinya pegang, rahasia besar Diana yang tentu saja tak boleh di ketahui orang lain terutama kedua orang tuannya.


Diana tak berkutik, meski hatinya ingin membuat Devan dan Evelyn hancur dia hanya bisa menahannya karena ternyata mantan calon mertuanya itu melindungi wanita ja lang itu.


"Kau pikir aku mau menjadikanmu menantu dengan semua kenyataan ini."


"Sejak awal kami hanya memanfaatkanmu." Diana mengepalkan tangannya marah "Tapi jangan sangka kami juga tak tahu alasan kamu menerima perjodohan ini." Diana terdiam.


"Kau ingin Devan menanggung bayi yang bukan miliknya, cih.. mimpi saja."


Awalnya Diana memang menyukai Devan, dan saat dirinya di jodohkan tentu saja dia sangat senang mengetahui pria itu adalah Devan, Diana kira akan mudah mendapatkan Devan lalu menikah, namun ternyata Devan terus menghindar dan tak menginginkannya.


Diana semakin khawatir karena usia kandungannya semakin membesar, dan untuk menyembunyikan itu dari keluarganya Diana pergi beberapa bulan ke luar negeri hingga bayinya lahir, lalu Diana memasukkan bayinya ke panti asuhan agar keluarganya tak mengetahuinya, hingga kini keluarganya tidak tahu Diana pernah melahirkan dan memiliki bayi yang telah dia buang.


Diana yang punya kebiasaan keliling dunia hingga keluarganya tak menaruh curiga meski Diana tak pulang beberapa bulan kemudian.


Niat awalnya Diana memanfaatkan perjodohannya dengan Devan, agar bayinya memiliki ayah, namun Devan yang terus menolak pernikahan membuatnya tak memiliki pilihan lain selain melahirkan lalu membuangnya.


Diana juga tak bisa mengorbankan harga dirinya karena hamil tanpa memiliki suami.


Diana yang tak bisa diam karena perutnya semakin besar, untuk menggugurkan pun sudah terlambat, bayi dalam kandungannya sudah berbentuk.


Setelah melahirkan dan membuang bayinya Diana kembali mengejar Devan, dan berharap bisa meluluhkan hati Devan, namun hingga kini Devan terus menolaknya dan justru menikah dengan wanita panggilan..


"Jangan mengira kau lebih baik dari Evelyn, seorang ibu tidak akan pernah membuang anaknya sendiri, bahkan meski harus mengorbankan dirinya demi anaknya. Hanya wanita berhati iblis yang mampu melakukan itu." Dan saat melihat Evelyn, Mariane menyadari apa yang di lakukan Diana justru kebalikannya.

__ADS_1


Namun Mariane tidak kecewa karena sejak awal dia pun hanya memanfaatkan Diana.


Ya, Mariane akui bahwa memanfaatkan Diana juga bukan tindakan yang harus dia benarkan, karena itu juga sebuah kesalahan.


Dan biarlah itu menjadi dosanya, tanpa harus melibatkan Evelyn, tapi Diana mengusik Evelyn hingga mau tak mau Mariane membalas Diana.


"Aku akan menutup mulutku, dan menghapus semua bukti, dan membiarkan itu menjadi urusanmu, tapi jangan pernah mengusik keluargaku lagi." Diana tak punya pilihan lain selain mundur, jika orang tuanya tahu Diana menyingkirkan anaknya sendiri, mereka mungkin akan membunuhnya, yang lebih mengerikan mungkin Diana tidak akan bisa lagi hidup nyaman, karena sudah pasti semua fasilitasnya akan di cabut, bagi Diana hidup miskin lebih mengerikan daripada mati.


"Tapi saranku Diana. jangan sampai kau menyesal kelak, dengan apa yang sudah kau lakukan pada anakmu sendiri."


Diana pergi dengan acuh, tanpa peduli ucapan Mariane.


Mariane menghela nafasnya di satu sisi ada seorang ibu yang tega membuang anaknya demi kekayaan dan kekuasaan, di sisi lain ada ibu yang rela berjuang demi anaknya meski harus menjerumuskan diri ke lubang hitam.


...


Dua tahun kemudian..


"Kamu hanya perlu turunkan saja agar Alina tidak terjatuh." Evelyn tak menghiraukan dan melakukan kembali kegiatannya, namun tak lama kemudian Devan kembali berteriak..


"Lalu bagaimana dengan Elyna, dia memegang kakiku..!" Evelyn menghela nafasnya lalu menghentikan kegiatannya mengeringkan tubuh kecil yang baru saja dia mandikan.


"Oh, Bryan yang tampan." Evelyn mengecup gemas putranya, lalu membawanya keluar kamar mandi dan meletakkannya di atas karpet.


Evelyn terkekeh melihat kedua putrinya mengeroyok Devan yang sedang bersiap untuk bekerja bahkan kemejanya belum dia kancing sempurna.


Evelyn mengambil Elyna yang masih bergelayut seperti anak koala di kaki Devan dan meletakkannya di karpet di dekat Bryan, lalu Evelyn kembali mengambil Alina yang entah bagaimana caranya ada di pundak Devan dan berpegangan pada rambutnya.


"Bagaimana bisa kau ada di sini Baby.."


"Dia naik ke pundakku saat aku sedang duduk dan memintaku menjadi pesawat, tapi Elyna malah naik ke kakiku dan aku tak bisa bergerak, karena takut salah satu dari mereka jatuh."


Evelyn menggeleng melihat ketiga anaknya kini sudah berpencar dan kembali bermain, mereka memang baru saja bisa berjalan dan sedang aktif- aktifnya.

__ADS_1


Ya, Evelyn melahirkan tiga bayi kembar, dengan jenis kelamin dua perempuan dan satu laki- laki.


Awalnya Evelyn dan Devan tak tahu bahwa bayi yang di kandung Evelyn adalah bayi kembar, bahkan tiga sekaligus.


Di tiga bulan pertama Dokter tak mengatakan apapun saat mereka memeriksa kehamilannya, dan mengatakan Evelyn harus sungguh- sungguh memperhatikan kehamilannya dan memakan makanan sehat setiap hari, beruntung Evelyn memang tidak pernah mual dan muntah hingga dia tak masalah memakan apapun makanan yang di hidangkan mertuanya.


Evelyn juga tak menaruh curiga saat melihat perutnya lebih besar dari kehamilan pada umumnya yang masih berusia tiga bulan, Evelyn kira itu karena di terlalu banyak makan, bayangkan saja mertuanya menyiapkan sendiri setiap makanan yang harus dia makan, dan memastikan gizinya terpenuhi, hingga di bulan ke empat Evelyn kembali menemui dokter untuk memeriksakan kandungannya, terlebih mertuanya penasaran ingin mengetahui jenis kelamin yang katanya bisa terlihat di usia kandungan ke empat.


"Semua bagus, berat badanmu juga berhasil naik, aku sempat khawatir kebutuhanmu tidak terpenuhi dan membuat bayi- bayimu tidak terlahir dengan berat badan normal.. Tapi jika kamu terus mempertahankan.."


"Tunggu sebentar dokter, apa maksudmu dengan 'bayi- bayi'..?" Mariane mengerjapkan matanya, sedangkan Evelyn tertegun.


"Oh, apa aku tidak mengatakannya saat pemeriksaan terakhir kali.. Jika menantumu mengandung tiga bayi.."


"Ap..APA!!" Mariane memekik terkejut begitupun Evelyn.


Dokter meringis dan mulai menjelaskan apa yang terlihat di monitor, gambar hitam yang Evelyn sama sekali tak mengerti.


...


"Astaga.. Aku harus mempertimbangkan untuk tinggal bersama Mommy saja." Keluh Devan, melihat ketiga anaknya tak bisa diam. "Setidaknya Mom bisa membantumu." Evelyn tak percaya pada Baby sitter, terlebih banyak kasus, anak yang lebih dekat dengan Baby sitternya di banding orang tuanya. Maka Evelyn hanya menggunakan jasa pelayan untuk sesekali saja membantu.


"Terlebih aku juga jadi tak punya waktu lebih banyak denganmu.." Devan memeluk Evelyn yang masih memperhatikan ketiga bayinya.


"Aku rasa juga begitu." Bryan duduk di kursi bayinya dan bertepuk tangan seolah dia bangga bisa naik sendiri lalu duduk di sana.


Elyna berdiri meraih mainan di keranjang yang tersimpan di rak, lalu semua mainan jatuh, bahkan salah satu boneka menimpanya, beruntung itu keranjang boneka yang tidak akan melukainya saat terjatuh, tapi karena terkejut bayi itu tetap menangis.


Dan saat mendengar Elyna menangis Alina dan Bryan pun ikut menangis.


Evelyn dan Devan menghela nafasnya bersamaan.


"Baiklah sudah di putuskan." Evelyn mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2