Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Perasaan Yang Hilang


__ADS_3

"Nyonya bagaimana jika sebagai gantinya aku membayar semua belanjaanmu."


Wanita paruh baya di depan Devan menganga "Sungguh.." bukankah itu bagus dia tidak perlu kehilangan uang belanja bulanannya "Kau tidak akan kabur..?"


Devan menggeleng dan membuka dompetnya memberikan kartu namanya.


"Uwah, kau CEO.." Wanita paruh baya itu menatap kagum, sudah tampan, kaya, dia juga seorang pemimpin perusahaan. "Bagaimana jika sebagai gantinya kau jadi menantuku saja.." Wanita paruh baya itu tertawa mengedipkan sebelah matanya.


"Maafkan aku nyonya aku sudah menikah." Devan menunjuk Evelyn yang ada di luar "Dan istri tercintaku sedang menunggu." melihat tatapan Devan berubah tajam dan membuatnya tertawa canggung.


"Baiklah..haha.. asalkan kau sungguh membayar belanjaanku ya.." Devan menghela nafasnya dan menukar posisi nya.


...


Devan keluar dari Super market dan segera menghampiri Evelyn yang baru saja selesai dengan teleponnya "Sudah selesai?." Evelyn bangun dari duduknya.


"Bicara dengan siapa?" Tatapan Devan begitu tajam ke arah tangan Evelyn yang memegang ponselnya, seolah ingin menembus dan mengetahui siapa yang menghubungi Evelyn, hingga Evelyn mengeryit.


"Boni.." Devan memicingkan mata tak percaya.


"Sungguh?"


"Ada apa denganmu?"


"Bukan pria kan?" Evelyn terkekeh.


"Jika pun itu pria apa urusannya denganmu.."


"Kamu tahu perjanjian kita Eve.." desisnya, Evelyn mulai kesal, namun dia tahan.


Evelyn menghela nafasnya lalu menatap Devan "Dengar Dev, pengalaman mengajarkanku untuk lebih waspada pada setiap pria, karena mungkin saja pria itu akan sama sepertimu, menganggapku sebagai pela cur saja, tapi karena sekarang itu benar kenyataannya, aku juga tidak akan marah aku akan menerimanya, bukankah aku juga sedang menjadi pela curmu.."


"Eve.." Devan tercengang, kini rasa bersalah kembali mengerogotinya.


Evelyn menipiskan bibirnya, menyembunyikan tangannya yang mengepal di belakang punggung, "Sudah bukan?, ayo pulang."


Evelyn berjalan kearah mobil Devan, tak menghiraukan Devan mengikuti dengan dua bodyguardnya yang membawa semua belanjaan.

__ADS_1


Sekarang Devan tak tahu harus bagaimana, baru saja suasana mereka membaik, Devan sudah kembali membuat Evelyn kesal, Devan memaki dirinya kesal, hanya karena cemburu lagi- lagi dia membuat Evelyn marah.


Devan terus melihat ke arah Evelyn yang hanya diam dan melihat kearah jendela, sepertinya dia sudah benar- benar merusak suasana hati Evelyn.


Evelyn kesal, dia sungguh ingin marah tapi tertahan karena dia harus berusaha profesional. Hari ini Devan dua kali mengorek luka lamanya, membawanya kembali ke apartemen lama, membuatnya mengingat kenangan buruk di apartemen itu yang membuat hatinya sakit, dan Devan berkata seolah Evelyn bisa dengan mudah mencari kekasih, padahal dia berusaha sekuat tenaga untuk menjalani hidupnya yang bahkan tak berfikir untuk memiliki pria lain di hidupnya, bukankah Devan tahu alasannya, semua karena Devan, pria itu menjadikannya pela cur geratis yang membuat Evelyn jijik pada diri sendiri, lalu sekarang setelah dirinya sungguh menjadi pemuas nafsu para pria hidung belang, apakah masih ingin dirinya bermimpi bertemu kembali dengan cinta sejatinya..


Tidak, Evelyn bahkan tidak pantas untuk sekedar bermimpi memiliki kehidupan keluarga.


Akan seperti apa keluarganya kelak, dia bahkan tak percaya diri dengan dirinya yang seorang pekerja sekss apakah dia pantas?.


Bagaimana dengan tanggapan orang lain, mungkin orang akan bilang dia perempuan paling tidak tahu diri..


Maka dari itu Evelyn tak ingin menambah beban hidupnya dengan drama percintaan, apalagi cinta yang tak di restui karena dirinya yang seorang pela cur, tentu saja orang akan berpikir seribu kali untuk menjadikannya menantu, apalagi keluarga kaya seperti Willy dan Devan.


Evelyn hanya ingin hidup tenang, hingga dia menua dan mati.. tak ada pria dalam agendanya.


...


Acara memasak berjalan dengan lancar, tanpa hambatan.


Evelyn benar- benar memasak dan menyajikan dua menu di meja dalam tiga puluh menit.


Devan tak berani mendekat karena ucapannya tadi yang terlalu terbutakan cemburu membuatnya takut membuat suasana hati Evelyn semakin buruk.


Evelyn masih tersenyum di depannya, namun Devan tahu jika Evelyn menyembunyikan kemarahannya, dengan kata lain senyuman Evelyn padanya palsu..


Devan menyadari sejak Evelyn memutuskan untuk setuju dengan kontrak mereka Evelyn hanya sedang profesional dengan pekerjaannya, pekerjaan melayaninya dalam dua tahun.


Sifat manja..


Sifat nakal..


Dan senyuman Evelyn hanya kepalsuan.


Namun Devan berharap suatu saat dia bisa meluluhkan hati Evelyn dan merubah kepalsuan itu menjadi ketulusan.


"Bagaimana rasanya?" Evelyn tersenyum memiringkan wajahnya.

__ADS_1


Devan mengangguk "Enak sekali.." Devan kembali menyuapkan makanan buatan Evelyn yang memang enak, Devan tidak berbohong rasanya sangat enak, Devan bahkan tak percaya Evelyn bisa memasak seenak ini, hanya saja suasana hati Devan yang merasa bersalah membuat Devan terasa tercekat dalam setiap suapannya.


Memikirkan Evelyn hanya bersandiwara membuat hatinya sakit, sampai kapan Evelyn melakukan ini, apakah sungguh tiada maaf untuknya.


Devan masih duduk memperhatikan Evelyn yang merapikan meja makan, dan Devan tak di izinkan untuk membantu meskipun dia ingin.


"Aku akan meminta pelayan datang setiap pagi dan bersih- bersih.." Evelyn menoleh dan mengeryit.


"Bukankah aku sudah bilang aku bisa sendiri." Evelyn hanya tak ingin terlalu banyak berinteraksi dengan orang lain, dan menjalani penjara dua tahunnya dengan tenang.


Devan menarik tangan Evelyn dan membiarkan Evelyn jatuh di pangkuannya "Maaf.." Devan menyandarkan kepalanya di dada Evelyn.


"Aku hanya takut kehilangan kamu.. aku takut kamu berpaling pada pria lain, lalu pergi meninggalkan aku.." Devan mengeratkan dekapannya di pinggang Evelyn. "Aku cemburu melihatmu tersenyum bahkan tertawa saat bertelepon tadi."


Evelyn menghela nafasnya lalu tangannya mengelus rambut Devan "Bukankah aku milikmu, untuk saat ini.. dan aku ingat untuk tidak melanggar perjanjian."


Devan mendongak "Kenapa hanya saat ini..?. Eve, tidak bisakah kamu tetap bersamaku selamanya.. jangan tinggalkan aku lagi."


Evelyn menatap mata Devan yang memerah, pria ini di luar terlihat tegas dan dingin, tapi kenapa hanya untuknya dia berkaca- kaca dan ingin menangis.


Evelyn menggeleng "Tidak bisa."


"Kenapa?, kenapa tidak bisa.. Aku mencintaimu Eve.." Evelyn terkekeh. "Kamu belum memaafkan kesalahanku bukan, baiklah hukum aku, hukum aku selama kamu mau, tapi jangan tinggalkan aku, benci aku selamanya tapi tetap bersamaku."


"Semua tidak sesederhana itu Devan.."


"Jika ini rumit akan aku buat ini mudah, percayalah." Devan menggenggam tangan Evelyn lalu mengecupnya. "Aku akan lakukan apapun untukmu.."


Evelyn memejamkan matanya "Demi Damian, aku memaafkan kamu, bagaimana pun kamu tetap ayah dari putraku.."


"Tapi hanya sebatas itu."


"Eve,.." Evelyn memalingkan wajahnya tak ingin melihat tatapan Devan, namun Devan menangkup pipi Evelyn hingga dia kembali melihat raut Devan yang penuh permohonan.


"Lihat aku Eve!. Terlepas dari kesalahanku, katakan bahwa perasaan kamu sudah tidak ada, katakan bahwa kamu tidak mencintaiku lagi.. "


"Aku tidak mencintaimu lagi, perasaan ku sudah lama hilang."

__ADS_1


...


Belum bisa doble up apalagi crazy up.. tapi semoga kalian tetap setia.. 😘


__ADS_2