
"Nona kau sungguh berani." Tina bertepuk tangan, "Selama ini aku selalu merasa takut padanya, maka dari itu aku hanya bisa diam saat dia memaki ku."
Evelyn meringis dalam hati, mau bagaimana lagi, dia tak mungkin terlihat lemah di hadapan orang yang jelas menghinanya, dan Diana juga sedang bertujuan membuat hubungannya dan Devan rumit.
Dia sedang membuktikan jika dirinya lah yang lebih pantas bersama Devan bukan Evelyn.
"Apa ada masalah?" Devan muncul dengan mata yang dia paksa terbuka, Devan masih merasa pening namun dia juga tak bisa kembali tidur karena tidak ada Evelyn, rasa penasarannya mendengar suara di luar ruangannya membuat Devan memutuskan bangun, terlebih dia juga khawatir terjadi sesuatu pada Evelyn.
Evelyn menoleh "Ini belum dua jam kamu tidur."
"Aku mendengar suara keributan."
Evelyn menatap Tina lalu menggeleng saat Tina akan membuka mulutnya "Tidak kami.. Hanya sedang bergosip." Devan mengeryit dengan mata memicing "Sudahlah kamu kembali saja beristirahat." Evelyn membalik tubuh Devan dan mendorongnya masuk kembali ke dalam ruangannya.
"Tidak bisa aku harus mulai berkerja." Evelyn mencebik saat Devan melihat ke arah Roger lalu berkata.
"Kau membawakan yang aku minta, Ro?." Roger mengangguk, tadi dia akan menyerahkan berkas yang Devan minta namun Evelyn meminta agar dia tidak mengganggu Devan lebih dulu. "Bawa masuk ke ruanganku!." Perintahnya lalu Devan membawa Evelyn mengikutinya masuk.
"Aku kira terjadi sesuatu?" Devan membawa Evelyn kembali duduk di sofa.
"Tidak ada.. Emm aku akan ke toilet sebentar." Evelyn bangun dan pergi ke arah toilet.
Devan beranjak ke meja kerjanya saat Roger datang dan membawa berkas yang dia minta "Kita hanya perlu tanda tangan Nona, sebagai pemilik saham yang sah. Setelah itu semua bisa teratasi." Devan mengangguk.
"Apa tuan Willy sudah bisa di hubungi?."
"Asisten tuan Willy mengatakan jika tuan Willy akan hadir di rapat pemegang saham sekaligus pelengseran jabatan anda, barulah dia akan memutuskan apa yang akan dia lakukan selanjutnya." Kabar ini baru Roger dapatkan saat istirahat makan siang tadi, dan Roger tidak menyangka jika tuan Willy akan berbalik arah, entah apa yang terjadi dengan pria itu.
Devan mendegus "Harusnya sejak awal aku tidak perlu membuang waktuku, mendatanginya." Devan memijat pelipisnya, kepalanya sungguh pusing sekarang.
__ADS_1
"Apa ada masalah serius?" Evelyn berdiri mematung di depan pintu toilet, obrolan Devan dan Roger tentang Willy membuat Evelyn penasaran dengan apa yang di lakukan Willy untuk mengusik hubungannya dan Devan, pria itu sungguh membuat Evelyn muak.
"Tidak, tapi kami butuh bantuanmu." Devan menunjukan berkas yang di bawa Roger.
"Apa ini?" Evelyn memang sempat mengenyam bangku kuliah, tapi hanya sedikit pengertiannya tentang berkas dan tulisan yang ada di dalamnya, Evelyn juga melihat namanya sebagai pemilik beberapa persen saham, Evelyn mengerjapkan matanya lalu melihat Devan.
"Ini sungguh milikmu sayang."
Evelyn melipat tangannya di dada "Aku memang tidak mengerti dengan semua ini, lalu aku semakin tak mengerti bagaimana bisa aku menjadi pemilik 15% saham perusahaan ini.. Dan sekarang kau meminta aku tanda tangan.. Aku tidak sebodoh itu bukan?"
Devan melihat ke arah Roger dan meminta pria itu untuk memberi Devan waktu untuk menjelaskan semuanya pada Evelyn.
Roger mengangguk dan keluar dari ruangan Devan.
"Kemari aku akan jelaskan." Devan menarik Evelyn duduk di pangkuannya.
"Saat Tuan Willy menarik investasinya, ada gosip yang beredar jika saham kami mengalami penurunan, maka para pemegang saham yang tak tahu apapun itu mendesakku untuk turun jabatan, mereka kira itu juga yang menjadi alasan tuan Willy menarik investasinya.
"Dan aku hanya bisa mencari dukungan dari pemegang saham yang masih mendukungku, dan kami akan melakukan voting apakah aku akan lengser atau tidak, maka aku juga butuh kamu sebagai pemilik 15% saham untuk mendukungku.. Sisanya aku punya 30% saham keluargaku, jadi kita hanya membutuhkan setidaknya 6% saja untuk mengamankan posisiku."
"Baiklah, aku mengerti. Tapi yang aku maksud kenapa tiba- tiba aku punya 15% yang kau bilang itu."
"Itu milikku, aku beli secara diam- diam, tadinya memang untuk aku gunakan suatu saat nanti, tapi kamu tahu jika untuk bersama kamu aku juga butuh perjuangan.."
"Jangan bilang ini agar keluarga kamu tidak berani meremehkanku?"
"Hmm.." Devan mengangguk. Evelyn merasakan jantungnya berdebar kencang, demi agar bersamanya Devan memberikan semua miliknya untuk menyetarakan kedudukan mereka. Evelyn tak tahu berapa banyak dari 15% yang Devan berikan, tapi melihat betapa besarnya perusahaan Devan andai dia hanya memiliki 5% saja sudah pasti dia tidak akan hidup susah, dan Devan memberikan semua itu untuknya, Devan sungguh berjuang untuknya, demi agar keluarganya menerimanya.
Dan sekarang dia juga hanya menambah masalah Devan karena hubungannya dengan Willy membuat Devan semakin kesusahan.
__ADS_1
"Aku mengerti, tapi aku rasa apa yang kamu lakukan akan semakin membuat keluargamu membenciku.. Aku pasti dikira memerasmu, mengeruk hartamu.." Evelyn menghela nafasnya.
"Untuk apa kamu memeras suamimu sendiri.." Evelyn mencebik.
"Kamu terus bilang suami, istri.. Suami, istri, Sudahlah hentikan."
Devan terkekeh "Aku memang suamimu, kita memang sudah menikah, dan milik suami itu berarti milik istrinya."
Evelyn terkekeh, menganggap perkataan Devan sebagai candaan, "Aku bahkan tak tahu kapan kita menikah.."
"Ingat kontrak yang kamu tanda tangani?" Evelyn mengeryit mengingat saat dia diminta Tina untuk menandatangani surat kontrak dua tahun melayani Devan yang Evelyn kira memang tak masuk akal, karena lembaran kertas itu ada sekitar 10 lembar, dan karena melihat tulisan yang banyak membuatnya pening, Evelyn minta Tina untuk menjelaskan poin pentingnya saja, dan Tina hanya menyebutkan poin yang bahkan tak satupun Devan lakukan, apanya yang merahasiakan identitas, Devan bahkan tanpa malu membawanya ke tempat umum, dan Evelyn mengerti ternyata semuanya hanya bualan.
"Aku menyelipkan dokumen pernikahan di dalamnya.." Evelyn membelalakan matanya "Ya, aku tahu aku curang, tapi semua adil dalam cinta, bukan begitu.."
Evelyn masih diam "Aku juga tak mungkin memasukimu setiap hari tanpa ikatan yang jelas, aku justru ingin kamu menjadi milikku seutuhnya tanpa menyakiti kamu, bahwa kamu bukan pel acur yang sedang melayani majikannya, tapi kamu seorang istri yang sedang melayani suaminya, dan itu tidak akan pernah menjadi dosa bagi kita." Evelyn merasakan dadanya sesak bukan main, selama ini dia hanya menganggap dirinya terikat kontrak dengan Devan dan sungguh hanya melayani penyewanya, tapi Devan jelas menghargainya bukan hanya sebagai wanita tapi dia menjadikannya istri sah demi agar mereka tidak mengulangi dosa yang sama.
Sekarang Evelyn tak tahu harus berkata apa, Evelyn merasa beruntung memiliki Devan, dia sungguh membuatnya lepas dari jerat dunia malamnya.
"Kenapa menangis, kamu terharu.." Devan terkekeh mengusap air mata Evelyn.
"Bukankah aku bilang aku tidak akan melepasmu dengan mudah, bahkan jika kamu ingin menggugat cerai juga aku tidak akan menceraikanmu sampai mati.." Evelyn mencebik memukul bahu Devan.
"Sepertinya aku harus membatalkan rencana kepindahanku dengan Boni.." Evelyn menggosok hidungnya yang mulai berair.
Devan tertawa "Ya, karena kamu terikat denganku seumur hidup." Evelyn menyandarkan kepalanya di dada Devan, mengangguk dan memeluk Devan. "Aku kira kamu akan membenciku, saat tahu aku menjebakmu."
Evelyn menggeleng "Tidak masalah, aku juga punya 15% saham karena jadi istrimu.." Devan tertawa, tawa yang menular pada Evelyn.
Devan mengeratkan pelukannya saat Evelyn kembali menangis, "Sudahlah.. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku, karena perjuanganku masih panjang untuk membuatmu di terima.." Evelyn mengangguk tapi kali ini dia akan ikut berjuang.
__ADS_1
"Biar aku yang mengurus tuan Willy."
"Dev, berjanjilah tidak akan marah padaku jika aku menceritakannya.."