Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Ancaman Willy


__ADS_3

"Kau mengancamku tuan Willy?" Willy terkekeh lalu mengelus pipi Evelyn.


"Kamu takut?" Evelyn menelan ludahnya kasar, saat Willy menatapnya penuh keinginan, lalu mendekatkan wajahnya untuk mencium Evelyn, namun dengan cepat Evelyn menghindar dengan memalingkan wajahnya.


Willy menyeringai "Devan mengatakan kamu adalah istrinya, kau tahu saat mengingat fakta itu aku merasa terkhianati, bagaimana bisa kamu memilih Devan yang jauh di bawahku, saat aku menjanjikan kamu kebahagiaan yang pasti."


Willy meraih tangan Evelyn lalu mengecupnya "Aku memberi kesempatan kedua untukmu.. Aku tidak yakin apa yang Devan janjikan akan terlaksana tapi denganku hidup kamu akan lebih mudah."


Evelyn menarik kasar tangannya "Sekarang aku yakin keputusanku menolakmu itu adalah yang terbaik." Willy terkekeh.


"Kau yakin?, aku jadi penasaran apa yang akan Devan janjikan dengan dirinya sendiri yang lemah, apa yang akan kamu hadapi jika bersama dia, keluarganya, sekitarnya?."


Evelyn mengepalkan tangannya, ini bukan urusannya bahkan jika Devan bangkrut sekalipun, tapi kenapa mendengar Willy menjelekkan Devan membuatnya marah, Evelyn bahkan juga berpikir Devan tidak akan mampu meluluhkan keluarganya, tapi kenapa mendengarnya dari orang lain membuat hati Evelyn sakit.


Evelyn memejamkan matanya membayangkan Devan yang hancur dan tak bisa membuatnya di terima di keluarganya dan seketika hati Evelyn serasa di pukul batu besar.


"Kenapa anda berkata seolah anda tahu semua hal tentang aku dan Devan.."


Evelyn mendongak "Anda tak tahu apa yang terjadi antara kami.. Jika pun anda tahu, anda tidak berhak untuk menghakimi bahkan berkomentar."


"Benar, keputusanku memilih Devan sudah benar, dia bahkan bisa menerima masa lalu kelam ku, apa lagi yang aku harapkan."

__ADS_1


"Aku memang pernah menghabiskan waktu denganmu, tapi hanya sebatas pelanggan saja, tidak ada sesuatu yang berkesan dan patut untuk di kenang.. Dan aku yakin Dev tidak akan mempermasalahkannya." Evelyn menatap Willy yang terdiam"Dan satu lagi, ini bukan hanya tentang uang.." Evelyn menepuk dadanya "Tapi tentang hati, Cinta." kata- kata itu terucap tegas dari bibir Evelyn, hingga Willy hanya bisa mematung.


Evelyn menghela nafasnya, sebenarnya dia cukup kaget dengan apa yang dirinya sendiri ucapkan, Cinta?, sungguhkah cinta itu masih Evelyn harapkan?, bahkan setelah penolakannya terhadap Devan?. "Maafkan aku tuan, tapi aku tak ingin suamiku menunggu lama." Evelyn mendorong Willy dan segera keluar setelah membuka kunci.


Willy menyeringai di sudut bibirnya setelah mendengar pintu tertutup, merasakan hatinya yang kini sakit karena penolakan Evelyn, dan kenyataan bahwa wanita pujaannya itu kini telah menikah.


Kenapa Evelyn rela menjadi istri simpanan Devan sedangkan sudah jelas dia akan memberi status yang sah padanya, apa kelebihan Devan yang tidak dia miliki, Devan bahkan harus meminta bantuannya untuk investasi hanya demi bisa bersama Evelyn. Bukankah jika tidak ada campur tangannya Devan bukan apa- apa..


Saat Willy melihat Evelyn berdiri di hadapannya tentu saja dia terkejut, terlebih dengan status yang di sandangnya sebagai istri Devan.


Bagaimana bisa ini terjadi, bahkan di pertemuannya dengan Devan beberapa waktu lalu dia memuji wanita yang sama yang dia cintai sebagai wanita yang hebat dan mampu meluluhkan hati Devan, takdir macam apa ini?.


Selama makan malam berlangsung Willy beberapa kali memperhatikan Evelyn dan ingin sekali bicara dengan wanita itu, lalu saat Evelyn izin untuk ke toilet, saat itulah kesempatannya muncul. Willy berkata pada Devan jika dia akan menerima panggilan penting, dan pergi ke arah berlawanan dari kepergian Evelyn, namun sebenarnya tujuannya sama, Willy hanya perlu jalan memutar dan pergi ke toilet yang Evelyn tuju.


...


"Dev.." Devan mendongak melihat Evelyn berjalan ke arahnya.


"Sudah selesai?"


"Hum, bisakah kita pulang." Evelyn sungguh tak nyaman berada disana dan ingin segera pergi, apalagi dengan Willy yang mengganggunya.

__ADS_1


Ada apa dengan pria itu?, saat dia bertemu Willy dulu, pria itu sangat lembut dan terlihat seperti pria baik- baik, dan Evelyn pun mendoakan dia segera mendapat wanita yang baik untuk menjadi ibu dari anaknya, tapi hari ini kenapa Willy berubah menjadi menjijikan, bagaimana bisa dia membujuk istri orang untuk menjadi kekasihnya, ya.. Meskipun bahwa sebenarnya dia bukan istri Devan, tapi bukankah yang dia ketahui memang begitu.


Evelyn menelan ludahnya saat melihat Willy berjalan ke arah mereka "Ayolah Dev.."


"Hey, ada apa denganmu sayang, kita tidak boleh pergi begitu saja, bagaimana dengan tuan rumah." bisik Devan, saat melihat Willy semakin dekat "Duduklah dulu." Evelyn mengeluh dan mendudukkan dirinya di sebelah Devan.


"Maaf tuan Devan apa aku membuat kalian menunggu lama?." Willy menarik kursi, gerak geriknya seperti tak melakukan kesalahan, apa dia lupa apa yang baru saja dia lakukan padanya, Evelyn mengutuknya dalam hati.


Devan tersenyum "Tidak masalah tuan Willy.. Tapi aku dan istriku harus pamit sekarang."


Willy mengerutkan keningnya "Aku belum menghidangkan teh.."


"Maafkan kami, lain kali aku berjanji."


Willy menghela nafasnya "Baiklah, lain kali."


Willy mengantar Devan dan Evelyn hingga di depan teras lalu memasuki mobil.


Willy memberi isyarat kepada seorang pria yang berdiri tak jauh darinya untuk segera mendekat, dengan segera pria berstelan jas formal itu menunduk seolah dia sudah siap menerima perintah "Cari tahu hal sekecil apapun tentang mereka."


"Baik tuan." Willy berbalik dan memasuki vila seraya melepas kasar kancing atas kemejanya, tatapan matanya berubah tajam pertanda ada amarah disana.

__ADS_1


...


__ADS_2