Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Keinginan Evelyn


__ADS_3

Devan melihat Evelyn duduk di sebuah bangku panjang dan menatap ke depan dimana air mancur yang masih saja ramai di datangi pengunjung untuk melempar koin.


"Sudah berapa koin yang kamu lempar," Devan berkata dengan tajam, hingga Evelyn terkekeh.


Jelas sekali Devan takut Evelyn melempar tiga koin lalu dia akan segera menikah, meski sebenarnya Devan juga tidak perlu cemas karena Evelyn tidak akan mudah menikah begitu saja.


"Jika bisa aku akan datang setiap hari dan memohon agar keinginanku segera di kabulkan."


Devan mendengus "Lalu apa keinginanmu?" Evelyn menyipitkan matanya.


"Itu rahasia.. Jika aku bicara maka doa ku tidak akan terkabul."


"Kamu tinggal minta padaku, aku akan berikan." Evelyn tersenyum lalu menatap kembali air mancur Trevi di depannya.


Beruntung saat Devan menghubunginya Evelyn sudah dalam perjalanan pulang, hingga Devan tak curiga, namun Evelyn tak berani mengangkat panggilannya hingga dia benar- benar tiba di air mancur.


Evelyn menghela nafasnya, dia teringat saat kedua matanya melihat Ibunya yang sedang mendorong rumput dan pergi ke belakang rumahnya, dari yang Evelyn tahu dari supir taksi di daerah itu hampir semua orang bekerja sebagai peternak, apa mereka jatuh miskin hingga mereka harus bekerja keras, dulu meski hidup sederhana tapi orang tuanya tidak pernah mengerjakan pekerjaan kasar, Ayahnya memiliki sebuah bisnis konveksi meski tidak terlalu besar tapi berhasil membiayai hidup mereka bahkan kuliah Evelyn, meski tidak lulus karena Evelyn yang membuat mereka kecewa dengan hamil di luar nikah dan terusir. Mengingat kenangan itu lagi- lagi Evelyn merasakan sakit di hatinya, andai dulu dia tidak menjadi bodoh dan terjerat dalam nafsu sesaat lalu mengecewakan orang tuannya, mungkin kini dia sudah bekerja dan membuat orang tuanya bangga.


'Ibu, Ayah maafkan aku.' Evelyn ingin datang dan berlutut memohon maaf tapi dia takut, takut terusir dan membuat kenangan buruk kembali di benak mereka, dan membuat mereka bersedih.


"Sekarang kamu mau kemana?" perkataan Devan menarik kembali Evelyn dari lamunannya.


"Hmm aku lapar." Tidak, Evelyn tidak lapar, dia bahkan tak merasa bernafsu untuk makan sebenarnya, tapi dia juga tak ingin bepergian, niatnya datang ke sana juga bukan untuk jalan- jalan atau berlibur seperti kata Devan, tapi Evelyn hanya ingin melihat orang tuanya.


"Baiklah ayo kita makan malam." Devan menggenggam tangan Evelyn dan menariknya, namun Evelyn tak bergerak.


"Aku ingin melempar satu koin ke dalam air mancur.."


"Eve.. Sudah berapa koin yang kau masukan." Evelyn tertawa, dia tahu Devan takut dengan mitos yang beredar namun Evelyn juga tidak peduli meski dia memasukan tiga koin pun menikah bukan keinginannya, dan sejak datang Evelyn belum melempar koin sama sekali, karena Devan lebih dulu datang.


"Sttt diamlah!." Evelyn berjalan ke arah air mancur dan merogoh sakunya mencari sebuah koin.

__ADS_1


"Aku mohon, berikan aku keberanian untuk bertemu mereka." Evelyn bergumam dalam hati, lalu melempar koin tersebut.


Sungguh mati Devan sangat penasaran dengan apa permintaan Evelyn, hingga wanita itu memejamkan mata dengan tulus sebelum melempar koinnya ke dalam kolam.


Devan bisa melihat setitik air mata Evelyn jatuh sebelum mata itu kembali terbuka, dan tersenyum.


Evelyn kembali berjalan ke arah Devan lalu menggandeng tangannya "Ayo.. Restoran apa yang akan kita datangi."


...


Devan mengajak Evelyn makan malam di sebuah restoran tak jauh dari air mancur Trevi, tak ingin membuat Evelyn menunggu lama karena lapar, Devan memilih restoran yang paling dekat yang bisa mereka tempuh.


Hingga Evelyn menghabiskan makanannya Devan tak henti memperhatikan Evelyn "Kenapa memperhatikanku seperti itu?"


"Memang kapan aku tidak memperhatikanmu." Evelyn berdecak.


Devan menggenggam tangan Evelyn "Dengar Eve, aku tahu kau masih belum percaya padaku, tapi bisakah kita saling berbagi.. Aku sungguh ingin membuat kamu bahagia."


Evelyn tertegun, tapi bagaimana bisa Devan membuat keberaniannya muncul.. Dia hanya ingin bertemu dan memeluk ibu dan ayahnya.


Melihat raut penuh keringat ibunya membuat Evelyn ingin menangis.


Evelyn memang berniat hanya ingin melihat dari jauh, namun saat setelah melihat tiba- tiba keserakahannya muncul, dia begitu ingin memeluk kedua orang tuannya.


Evelyn tersenyum lalu menyingkirkan tangan Devan "Aku ingin ke toilet."


Melihat punggung Evelyn menjauh Devan hanya bisa menghela nafas pasrah, Evelyn masih belum membuka hati untuknya, jadi pasti dia tidak akan mengatakan apapun keinginannya.


Saat Evelyn tak terlihat lagi, seseorang menepuk pundak Devan hingga Devan menoleh "Oh, benar aku kira aku salah melihat, ternyata benar kau.." seorang pria berstelan formal di ikuti beberapa orang di belakangnya menyapa Devan.


Sontak saja Devan berdiri dan tersenyum "Hallo tuan Willy."

__ADS_1


"Bagaimana kau menyukai kamarnya.."


"Terimakasih atas jamuannya tuan Willy, beruntung anda menghubungi di waktu yang tepat, jadi kami tak perlu kerepotan mencari hotel lagi."


"Tidak usah sungkan, hotelku juga ada di beberapa negara lain, jika ada negara yang ingin kau kunjungi beritahu aku.."


"Terimakasih.." Devan juga tak mungkin terus merepotkan tuan Willy, hanya kebetulan saat mereka akan berangkat tuan Willy menghubunginya, dan Devan berkata bahwa dia dalam perjalanan menuju Roma, lalu tuan Willy menawarkan hotel yang cukup strategis untuk mereka, sebuah kebetulan lagi jika Willy memang sedang berada di ibu kota Italia tersebut, hingga kini mereka bisa bertemu.


"Kalian sedang makan malam?" Willy melihat sekitarnya namun tak menemukan wanita diantara mereka.


"Istriku sedang ke toilet.." Devan melihat ke arah toilet dan Evelyn belum juga muncul.


"Baiklah, lain kali aku akan mengundangmu untuk jamuan makan malam di villaku.. Aku sungguh penasaran pada wanita yang sudah membuat kau tergila- gila."


Devan terkekeh "Anda di larang jatuh cinta padanya." Devan berkata dengan nada bercanda, hingga Willy hanya bisa tertawa.


"Tapi aku yakin dia tidak semempesona wanita yang menolakku.." kedua nya tertawa, tawa yang cukup elegan hingga tak membuat sekitarnya bergeming.


"Baiklah, luangkan waktumu untuk datang ke vila ku tuan Devan, dan ingat aku memaksa."


Devan mengangguk seraya terkekeh "Tentu, dengan senang hati tuan." Willy pergi setelah kembali menepuk pundak Devan.


Mata Evelyn melihat punggung seorang pria duduk di kursinya lalu sebelum Evelyn semakin dekat pria itu sudah bangun dan pergi, Evelyn tak bisa melihat wajah pria itu hingga pria itu pergi, namun dia merasa punggung itu familiar. "Siapa?" tanyanya saat tiba di kursi dan kembali duduk.


"Pemilik hotel yang kita tempati.."


"Oh, bukankah kita harus berterimakasih?" Evelyn ingat kamar yang mereka tempati sangat lengkap dan bagus, belum lagi ini mereka dapat dengan geratis, bukankah mereka memang harus berterimakasih.


Devan mengangguk "Ya, dan kita di undang untuk makan malam lain waktu.."


"Oh, baiklah."

__ADS_1


...


__ADS_2