
Evelyn dan Devan melambaikan tangannya ke arah Andrea dan Ben, setelah drama tangis Andrea dan Evelyn yang kembali pecah sebab mereka akan kembali berpisah, akhirnya Evelyn dan Devan diizinkan untuk pulang dengan sebuah janji, jika mereka akan sering berkunjung.
Dan Ben tahu jika itu bukan masalah besar untuk Devan, di lihat dari penampilan, mobil bahkan dua orang pria berbadan besar yang sejak semalam menjaga mereka, Devan bisa dengan mudah untuk datang tanpa memikirkan uang untuk ongkos pesawat.
Jadi jika hanya sekedar janji untuk sering berkunjung bisa dengan mudah Devan penuhi.
Devan menyandarkan kepala Evelyn di pundaknya bibirnya tak henti tersenyum, mengingat jika Evelyn kini telah menerimanya kembali.
Tangan mereka saling bertaut, meski suasana hening tanpa kata, tapi Evelyn dan Devan sedang menikmati kebersamaan mereka.
Perjalanan panjang itu tak terasa hingga mereka kembali melewati air mancur, pada saat itu Evelyn menegakkan tubuhnya "Bolehkah aku turun sebentar?" Devan mengeryit.
"Biarkan aku melempar satu koin lagi.." Evelyn memelas agar Devan mau menghentikan mobil dan menunggunya sebentar.
"Baiklah.." Evelyn tersenyum lalu keluar dari dalam mobil, setelah Devan meminta supir untuk berhenti.
Devan mengikuti langkah Evelyn memasuki kerumunan, Evelyn bahkan tak peduli dengan seseorang yang baru saja menyenggol bahunya, hingga Devan kini berdiri tepat di belakang Evelyn dan melindunginya.
Saat tiba di dekat air mancur Evelyn membalik tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Devan.
Evelyn tertegun dengan jantung berdebar kencang melihat Devan melindunginya dari beberapa orang yang melewatinya, bahkan hampir menubruknya. Punggung Devan bahkan bergeming saat seseorang tak sengaja menyenggolnya. Evelyn tersenyum, sekarang dia yakin dengan apa yang dia inginkan, doa apa yang akan dia panjatkan di depan Trevi.
Evelyn memejamkan matanya, kali ini Devan melihat Evelyn tersenyum sebelum melempar koin dan mau tak mau senyum itu menular di bibir Devan.
Evelyn membuka matanya setelah berhasil melempar koin dan kembali melihat Devan di hadapannya.
"Kali ini apa yang kau minta?" Devan tersenyum, matanya menatap penasaran.
"Kebahagiaanku.." Evelyn menggandeng tangan Devan dan keluar dari kerumunan untuk kembali ke arah mobil mereka.
"Apa aku termasuk di dalamnya?"
Evelyn mengangguk "Tentu saja.." Devan mengeratkan genggaman tangan mereka.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan selalu bersamamu agar kamu selalu bahagia."
....
Apartemen Devan..
Evelyn membuka koper, mengeluarkan pakaiannya, dan memilah pakaian kotor dan bersih untuk dia rapikan.
"Hentikan istirahatlah dahulu, kamu tidak lelah.." Devan membaringkan tubuhnya di ranjang lalu menepuk tempat di sebelahnya "Kemarilah, kita istirahat sebentar.." Evelyn tersenyum dan merangkak naik dan berbaring di sebelahnya. "Pejamkan matamu, ayo tidur." Devan mengusap lembut dahi Evelyn berulang- ulang agar wanita itu tertidur, namun baru saja Evelyn menutup matanya ponsel Devan berdering.
Dengan enggan Devan mengangkat panggilan saat tahu siapa yang menghubunginya.
"Harusnya hari liburku sampai hari ini Ro.." Kata Devan kesal, pasalnya dia baru saja akan tidur tapi Roger menghubunginya, bahkan saat liburan kemarin Devan tak sepenuhnya libur dia juga mengerjakan pekerjaan yang tak bisa dia serahkan kepada Roger.
"Tuan, ada masalah serius.." Devan mengerutkan keningnya "Tuan Willy menarik investasinya.. "
"Apa?" Devan tercengang, bagaimana bisa pria itu menarik investasinya, sedangkan saat bertemu kemarin pria itu nampak baik- baik saja, apa dia membuat kesalahan, seingatnya tidak. saat mereka pulang dari makan malam, tuan Willy nampak baik- baik saja.. Bagaimana sekarang jika keluarganya tahu dia baru saja kehilangan uang banyak.
"Ada apa?" Evelyn tak bisa tak bertanya melihat Devan panik.
"Tidak ada, jangan khawatir aku segera kembali.." Devan mengecup dahi Evelyn, namun saat Devan akan pergi Evelyn mencegahnya dengan menahan pria itu.
"Saat kamu bicara begitu, aku semakin khawatir."
"Ini masalah pekerjaan dan bukan masalah besar.."
"Lalu kamu sangat panik, kamu ingat kita akan memulainya dari awal?." Devan menghela nafasnya lalu berkata.
"Tuan Willy akan menarik investasinya.." Evelyn tertegun.
"Kamu bilang ini bukan masalah besar?."
"Tentu, tapi aku membutuhkan investasi tuan Willy." Bagaimana Devan harus menjelaskannya jika dia butuh tuan Willy agar bisa bersama Evelyn.
__ADS_1
"Dan itu berarti ini masalah yang penting." Devan menghela nafasnya lalu mengangguk.
"Tapi jangan khawatirkan aku.. Istirahatlah, aku segera kembali." Devan mengecup dahi Evelyn lalu pergi.
Evelyn masih mematung di tempatnya, memikirkan kemungkinan yang terjadi karena dirinya, Willy sungguh membuat masalah, apa yang diinginkan pria itu, apa ini ancaman Willy padanya beberapa hari lalu, jika benar bukankah pria itu kekanakan karena mencampur adukkan pekerjaan dan masalah pribadi.
...
Baru saja Evelyn menerima Devan kembali, masalah Willy muncul, mereka bahkan belum menghabiskan waktu bersama sejak mereka pulang dari Roma, menghabiskan waktu sebagai sepasang kekasih yang sesungguhnya.
Sejak hari itu Devan belum kembali ke apartemen, sudah satu minggu Devan tak pulang dan Evelyn semakin khawatir benarkah pria itu baik- baik saja, seperti yang selalu dia katakan dalam pesannya.
Ya, meski Devan tak pernah muncul tapi pria itu selalu mengiriminya pesan, bahkan meski sebentar Devan selalu menghubunginya, dan dia selalu berkata semua baik- baik saja. Tapi tetap saja rasa khawatir Evelyn lebih besar mengingat Willy bukan pria sembarangan.
Evelyn terduduk di sofa dengan tatapan kosong, pandangannya tak bisa fokus pada televisi yang menyala dan terus memikirkan Devan, kekhawatiran Evelyn semakin menjadi saat seharian ini Devan belum juga menghubunginya, apa pria itu sungguh sibuk seharian ini.
Bagaimana kehidupan Devan di kantor, apa pria itu tidur dengan nyenyak, atau bahkan hanya fokus bekerja saja, bagaimana dengan makanannya, apa pria itu makan dengan teratur.
Evelyn bergerak dengan gelisah, lalu tatapannya tertuju pada konter dapur, Evelyn menghela nafasnya lalu bergerak untuk memasak, Evelyn akan mengantarkannya ke kantor Devan, berharap bisa bertemu dan melihat bahwa Devan baik- baik saja.
Dan semoga ini keputusan yang benar, mengingat besar kemungkinan Evelyn bisa bertemu dengan keluarga Devan disana, jadi Evelyn merasa ini juga tindakan yang cukup ekstrim untuknya, apa yang akan dia lakukan jika dia bertemu dengan keluarga Devan, terutama ibu dari pria itu.
Evelyn teringat pertemuannya dengan Ibu Devan saat dirinya baru menjadi kekasih Devan dulu, tatapan wanita itu tentu saja begitu merendahkan Evelyn, sedangkan dia berdiri angkuh dengan segala kemewahan yang melekat di tubuhnya, "Aku tidak akan berkata banyak, tapi nikmatilah sebelum kamu di tendang, jangan berharap kamu bisa bertahan di sisi putraku." Dan Evelyn mengerti ucapan wanita paruh baya itu sekarang, yang ternyata Devan hanya memanfaatkannya lalu membuangnya.
Dan ucapan itu berarti juga, meski seberapa keraspun kamu berusaha kamu tidak akan di terima, tentu saja melihat kondisi Evelyn saat itu.
Namun saat itu Evelyn juga tak mau berpikir terlalu jauh karena dirinya juga tengah menikmati masa muda nya dan merasakan jatuh cinta pada seorang pria yang tak lain adalah Devan, dan andai dia tidak hamil mungkin dia juga tidak berharap lebih pada Devan yang nyatanya membuat kecewa.
Tapi sekarang, apa yang dia lakukan bukan hanya sekedar hubungan anak muda , namun hubungannya dan Devan sekarang adalah untuk menata masa depan lalu 'kelak bagaimana' Bukan 'bagaimana kelak'.
Evelyn beberapa kali menghela nafasnya lalu berkata pada supir yang siap mengantarnya kemanapun dia pergi.
"Aku ingin pergi ke kantor Devan, bisakah kau mengantarku?"
__ADS_1