
Devan mengeratkan pelukannya di tubuh Evelyn yang tertidur pulas, setelah dari pemakaman Devan ikut ke rumah Evelyn dan memutuskan menginap, awalnya Evelyn melarang, tapi Devan yang keras kepala tak bisa di bantah, hingga akhirnya pria itu ikut tidur di kasur yang ukurannya lebih kecil dari ranjangnya, namun ada Evelyn di pelukannya cukup untuk Devan.
Ada Evelyn membuatnya bahagia dimana pun dia berada, lagi pula tidur di ranjang kecil membuatnya bisa memeluk Evelyn semalaman.
Devan mengedarkan pandangannya meneliti seluruh kamar Evelyn ruangan yang di dominasi dengan warna putih itu terlihat rapi dan bersih khas Evelyn yang Devan tahu, Evelyn suka warna putih bahkan untuk pakaian yang Evelyn kenakan dulu lebih banyak warna putih dan krem, hingga kini wanita itu berubah menyukai warna mencolok seperti merah, dan juga pakaian yang terbuka, sering melekat di tubuhnya. Devan menghela nafasnya hingga tatapannya jatuh pada gambar wajah Damian, putranya.
Devan tersenyum lalu mengecup dahi Evelyn, "Aku akan membuat mommu segera hamil agar kau bisa memiliki adik.." gumamnya pelan, hingga Evelyn tak mendengarnya.
Lalu tiba- tiba dahi Devan mengeryit, sudah enam bulan kebersamaan mereka dan saat melakukannya Devan tak pernah memakai pengaman, lalu kenapa Evelyn tak juga mengandung?.
Apakah Evelyn yang menggunakan pencegah kehamilan.
Devan menghela nafasnya, tentu saja itu akan Evelyn lakukan, mengingat wanita itu tak ingin hidup selamanya bersama Devan.
Devan memikirkannya sekarang, dan itu satu- satunya cara agar Evelyn tetap bersamanya, yaitu membuatnya hamil dan melahirkan anaknya, dengan begitu dia tidak akan bisa lari lagi. Ya, meski kini Evelyn juga tak bisa lari dengan mudah karena Devan mengikatnya sangat kencang.
Devan terkekeh, saat keluguan Evelyn masih ada, dan dia tak menyadari kesalahannya, sikap ceroboh yang Evelyn lakukan sepertinya sudah mendarah daging, meski pembawaannya sudah berubah tapi Evelyn tetap Evelynnya yang dulu.
Si lugu, manis dan sedikit ceroboh, tapi sosok itulah yang Devan rindukan, meski begitu, apapun keadaan Evelyn Devan tetap menginginkannya.
Dirasa tak juga mengantuk Devan bangun dan menyingkirkan pelan tangan Evelyn yang melingkar di pinggangnya, hari sudah mulai terang, cahaya matahari mulai menyinari dan Devan akan membuat sarapan.
Menyibak selimut dan mengecup dahi Evelyn lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
.
.
Evelyn menggeliat di balik selimut tebal yang menutupinya, mengerjapkan mata lalu menguap, Evelyn melihat ke arah samping ranjangnya sudah tidak ada Devan disana, jadi dia memutuskan untuk bangun.
Mengenakan kembali lingerienya , lalu membalutnya dengan cardigan berbahan satin berkilau, namun cukup tipis hingga tak bisa menyembunyikan jika di dalamnya Evelyn tak mengenakan apapun.
Rumah Evelyn tidak luas maka saat keluar kamar dia langsung menemukan Devan yang sedang memasak di konter dapur.
__ADS_1
Pria itu mengenakan celemek untuk menutupi dada telannjang nya dan bawahannya hanya di balut celana kain selutut. Rambut pria itu masih basah hingga tak bisa menyembunyikan jika dia baru saja mandi.
Evelyn ingin tertawa melihat penampilan yang terbiasa rapi itu kini berdiri di dapur dengan tanpa kemeja membalut tubuhnya, meski sudah biasa melihat tubuh itu telannjang tapi memperhatikan punggung bidang itu membuat Evelyn tersenyum.
Tak dapat di pungkiri rasa hangat menjalari hatinya, hingga Evelyn memutuskan untuk mendekat.
Devan tertegun saat merasakan belaian di punggungnya lalu tangan itu bergerak melingkari pinggangnya, hingga sosok itu muncul memiringkan kepalanya dan tersenyum "Kau memasak.." Jantung Devan berdebar kencang melihat raut wajah cantik dengan rambut berantakan dan tergerai khas bangun tidur. "Kali ini aku yang harusnya tidak percaya kamu melakukan itu.." Evelyn melihat sup jagung yang mendidih dan menguarkan aroma lezat.
"Masakan ku tak kalah enak dengan masakanmu sayang, jadi duduklah.. Tunggu aku menghidangkannya.." Devan berdehem "Kau tahu, sentuhan tanganmu yang lembut membuatku memikirkan kita tak perlu makan dan sebagai gantinya aku akan memakanmu." Evelyn menyeringai.
"Mau melakukannya, lagi?" tawar Evelyn, tangannya di perut Devan bergerak perlahan meraba gundukan yang ternyata sudah menegang "Astaga, kamu sungguh hor ny, aku bahkan hanya memelukmu.." Evelyn terkekeh lalu meremasnya dan mendengar Devan berdecak lalu mendes ah.
"Sayang, kau sungguh ingin aku memakanmu.."Devan berdesis dengan menahan has ratnya.. Mereka butuh makan setelah energi mereka habis untuk bercinta semalam.
Evelyn tertawa dan langsung melepaskan tangannya, lalu mundur.
Devan menghela nafasnya lalu menuangkan sup jagung ke dalam mangkuk kecil dan menyiapkan piring untuk meletakkan roti bakar di atasnya.
"Kami?"
"Aku akan makan dengan tanganmu." Devan membuka mulutnya dan menunggu Evelyn menyuapinya.
Evelyn menggeleng lalu memotong roti mencelupkannya ke sup jagung yang masih mengepul hangat.
Meniup beberapa kali Evelyn menyodorkannya ke mulut Devan.
"Hmmm, ternyata benar ini enak.." Evelyn mengangguk sambil mengunyah merasakan gurihnya sup jagung di padu dengan roti bakar yang renyah.
Devan mengangguk "Aku sudah bilang.."
"Ya, aku tahu tuan sempurna.. Kau bisa melakukan apapun.." Devan terkekeh lalu mengecup dahi Evelyn.
Adegan manis itu berlanjut bahkan hingga mereka kembali ke apartemen Devan, hari demi hari Devan lewati dengan bahagia dan berharap Evelyn juga merasakannya, bukan hanya sekedar peranannya saja, Devan tak menyangka Evelyn berubah semakin manis.
__ADS_1
Niat Devan masih sama untuk membuat Evelyn hamil dan dia tak bisa pergi, setelah di perhatikan Evelyn selalu meminum obat pencegah kehamilannya setiap malam, dan Devan segera mengkonsultasikan dengan dokter untuk menggantinya dengan penyubur kandungan, beruntungnya ternyata ada bentuk dari obat tersebut yang sama seperti obat pencegah kehamilan milik Evelyn.
Katakan dia licik dan menghalalkan segala cara tapi Devan tidak akan menyerah hingga Evelyn tetap bersamanya.
Devan kembali di sibukkan dengan pekerjaannya, dan kini dia berhasil menendang Diana, Devan tahu Diana murka namun dia abaikan, bahkan keluarganya pun tak menyetujui saat Devan mengembalikan semua dana yang keluarga Diana gelontorkan untuk perusahaannya, lengkap dengan denda yang harus dia bayarkan.
"Apa yang kau lakukan Nak, kau membuang kesempatan emas untuk membuat perusahaan kita melesat tinggi." George mendatangi Devan saat anaknya itu bahkan tak meminta persetujuannya untuk, mengembalikan investasi keluarga Diana.
"Perusahaan kita bukan perusahaan hampir bangkrut dan membutuhkan sumbangan Dad.."
George menghela nafasnya "Tidak hanya itu, dengan kita bersatu dengan perusahaan Robert, maka kita akan semakin berkuasa." Devan menggeleng.
"Aku sudah menemukan gantinya, jadi tenang saja, Dan juga aku tak ingin menikah dengan wanita yang tidak aku cintai."
"Omong kosong!" Meriana menggeram melihat Devan selalu bersih keras untuk menolak perjodohannya.
"Kau bahkan tak memiliki kekasih, setidaknya cinta bisa tumbuh saat kalian sudah menikah kelak."
"Siapa bilang aku tidak memilikinya."
Meriana mendengus, "Wanita jala ng itu kau anggap kekasih." Devan mengepalkan tangannya, ini yang dia takutkan keluarganya mengetahui tentang Evelyn dan mengusiknya "Sekali *** *** tetap saja ja lang, meski kamu membungkusnya dengan berlian tetap tidak akan menyamarkan auranya yang sudah banyak terjamah pria hidung belang."
...
Like..
Komen..
Vote..
Cangkir kopiku masih kosong, boleh di isiโ๐
๐น๐น๐น๐น
__ADS_1