
"Apa yang Mom lakukan?" protes Devan saat Mommynya mengepak pakaian Evelyn dan memasukkannya ke dalam koper.
"Untuk kali ini dengarkan Mom, Dev.." Devan memelas sedangkan Evelyn memilih berdiri menunduk di depan pintu.
Devan masih terduduk lemas setelah serangkaian pemeriksaan yang dia lakukan, punggungnya dia sandarkan di sandaran ranjang.
"Mom please.."
"Dengar Dev, Mom tahu yang terbaik untukmu.." Mariane menatap Evelyn, lalu menghela nafasnya.
"Kenapa diam saja, ayo pergi!" Evelyn mengangguk dan hendak mengambil koper miliknya. "Apa yang kau lakukan!"
Evelyn mendongak menatap Mariane yang menatapnya tajam "Aku.. Mengambil koper ku, nyo..nya." Evelyn terlihat gugup.
Mariane memberi tatapan tajam.
"Mom, jangan menatapnya seperti itu.." Devan kembali bicara.
Evelyn menelan ludahnya kasar "Mom.." Mariane kembali menghela nafasnya.
"Biasakanlah!" Evelyn mengangguk.
"Jangan bawa itu biar pengawal yang membawanya!" Mariane menunjuk koper milik Evelyn yang berisi pakaian dan keperluan Evelyn. "Jangan membawa yang berat- berat."
"Mom, katakan kau bercanda."
"Dengar Dev, istrimu sedang hamil dan aku akan memastikan dia sehat selama mengandung bayimu.." Devan menghela nafasnya, setelah melakukan serangkaian pemeriksaan hingga membawa Devan ke rumah sakit, dokter mengatakan jika Devan tidak sakit, dan dokter yang memeriksakannya justru menyarankan Evelyn lah yang harus di periksa, dan kecurigaan dokter terbukti saat Evelyn di nyatakan hamil.
Dan kondisi Devan saat ini adalah sindrom cauvade, sindrom ibu hamil yang di rasakan suaminya di saat si istri sedang mengandung. Sangat jarang namun itu juga benar terjadi, sindrom dimana si istri yang mengandung tapi justru si suami yang mengidam, ingin makan pedas, makan asam, muntah dan sebagainya.
Sontak saja kenyataan yang di dengar Mariane dari dokter membuatnya antusias, dia yang awalnya datang untuk menjenguk sekaligus mulai berdamai dengan Devan tak menyangka jika kedatangannya membuka hati untuk Evelyn sudah membawa kebahagiaan bahkan dia baru saja mulai.
Wanita paruh baya itu langsung memeluk Evelyn dan mengecup dahinya, Evelyn yang terkejut hanya bisa tertegun dengan perlakuan Mariane yang tak pernah di sangkanya.
Awalnya Evelyn tak berharap lebih dari orang tua Devan, meski dia mungkin tak mendapat restu Evelyn berjanji akan terus bersama Devan.
Namun kini Evelyn masih tak percaya jika Ibu Devan yang sombong itu memeluknya dan mendesaknya memanggil Mommy, dan Evelyn yang belum terbiasa pun hanya bisa berdiri gugup.
__ADS_1
"Mom.." tentu saja Devan belum percaya jika Mommynya sudah menerima Evelyn dia khawatir Mommynya akan bertindak seperti mertua- mertua di dalam novel yang membenci dan menyiksa menantunya.
"Anak kurang ajar, kau tak percaya Ibumu sendiri.." Evelyn meringis saat melihat Mommy Devan memukul bahu Devan keras, padahal kondisi Devan sedang lemas karena baru saja kembali muntah. Mariane berencana membawa Evelyn dan Devan pindah ke rumah mereka agar bisa mengawasi kesehatan Evelyn dan memastikan semua kebutuhan Evelyn saat hamil terpenuhi, namun Devan tetap belum percaya Mommynya bisa berubah secepat itu. "Aku juga akan menjaganya, dia sedang mengandung penerusku..!" Mariane berkata angkuh, tentu saja dia juga tak mungkin menunjukan kelemahannya, dia adalah wanita kaya yang punya ego yang tinggi.
Mariane memejamkan matanya lalu berkata "Maafkan aku Eve.." Evelyn dan Devan tertegun "Aku terlalu egois.."
Mariane menghela nafasnya agar dia tak menangis, namun beberapa saat kemudian air mata akhirnya menetes saat Evelyn memeluknya "Aku percaya Mom.." Mariane menangis tanpa kata, dan meski begitu Devan dan Evelyn mengerti jika Mariane tidak akan bicara lebih lanjut.
Itu sudah cukup..
....
Evelyn tak berharap lebih, bisa di terima saja sudah cukup, namun yang Evelyn dapatkan justru sangat lebih dari bayangannya.
Mommy Devan memanjakannya dan memperlakukannya bak ratu, dia tak boleh melakukan apapun dan hanya menikmati masa kehamilannya dengan rasa bahagia.
"Waktumu minum susu.." Mariane benar- benar memastikan semua kebutuhannya terpenuhi.
"Terimakasih Mom.." Evelyn meneguk susunya yang di bawakan Mariane, ini adalah bulan ketiga Evelyn tinggal di rumah keluarga Devan, dan orang tua Devan memperlakukannya dengan baik.
"Apa hari ini Dev akan pulang.."
"Dev bilang dia akan membawa kejutan?" Evelyn mengangguk.
"Ya, aku juga penasaran." Mariane tersenyum.
"Hallo jagoan nenek, kau tumbuh sehat bukan di dalam sana." Mariane mengelus perut Evelyn.
"Tentu saja, berkat neneknya sendiri yang memastikan kesehatannya." Mariane terkekeh.
"Bulan depan bisa di lihat jenis kelaminnya bukan?" Evelyn mengangguk.
"Kau ingin apa?, laki- laki atau perempuan?"
"Apapun itu aku akan menerimanya, justru aku takut Mom mengharapkan jenis kelamin tertentu,.. Aku harap apapun jenis kelaminnya Mom tetap menyayanginya."
Mariane menipiskan bibirnya, dia tahu sudut hati Evelyn mungkin masih belum percaya dengan kesungguhannya. "Aku percaya padamu Mom.. Hanya aku tak tahu, pemikiran orang kaya kadang selalu diluar dugaan, terkadang mereka menginginkan jenis kelamin tertentu dn saat itu tidak tercapai mereka tidak menyayanginya."
__ADS_1
"Aku bahkan tak berhak meminta, mengingat jika aku ini bukan nenek yang baik.." Evelyn menggenggam tangan Mariane. "Kau nenek yang baik, juga ibu yang baik.."Mariane tersenyum, dan yang Mariane sadari sejak kehadiran Evelyn dirumahnya dia lebih banyak tersenyum dan bahagia.
...
Evelyn tak menyangka kejutan yang Devan bawa adalah kedua orang tuanya, Devan sengaja menjemput orang tua Evelyn untuk menggelar pesta kehamilan Evelyn.
Karena pernikahan mereka yang tidak di rayakan jadi Mariane mengusulkan agar menggelar pesta kehamilan saja untuk Evelyn.
Tak hanya orang tua Evelyn, Devan juga mengundang Boni, hingga kini Boni sudah berada di depannya "Oh, lihat siapa yang bilang tidak akan menikah, tahu- tahu aku di undang untuk pesta kehamilan." Evelyn terkekeh.
"Ya, aku di jebak, jika tidak aku pasti sudah datang menjemputmu." Evelyn berbisik penuh candaan sedangkan Devan menatap tajam.
"Dan kemana pun kau pergi aku akan mengejarmu.." Evelyn tertawa dan menggandeng tangan Devan.
Menyandarkan kepalanya, dan melihat sekelilingnya, orang tuanya sedang mengobrol dengan orang tua Devan, mereka nampak tersenyum dan sangat bahagia.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian, aku akan pergi menikmati makanan , dan siapa tahu aku bisa menggaet pria tampan." Evelyn tertawa melihat Boni yang sudah melesat pergi.
Dan kini tinggal Evelyn dan Devan, "Terimakasih.." Evelyn mengecup pipi Devan.
"Untuk?"
"Untuk segalanya.. Kau adalah pria terbaik yang di kirim tuhan untukku.."
Devan tersenyum dan mengecup dahi Evelyn "Dan terimakasih sudah bersedia kembali merajut kisah kita yang belum usai."
"Mau berdansa?" Evelyn mengangguk dan Devan menggandeng Evelyn ke arah lantai dansa.
Semua bayangan buruk Evelyn tentang sebuah hubungan tidak terjadi, tentu saja kerena perlindungan yang Devan lakukan hingga Evelyn tak perlu takut menghadapi dunia di luar sana.
"I love you.." Evelyn memeluk Devan dalam gerakan dansa, kepalanya dia sandarkan di dada Devan dengan tangan yang dia lingkarkan di bahu Devan, terasa hangat dan nyaman.
"I love you to Honey.." tentu saja Evelyn tak ragu lagi dengan kata- katanya, melegakan memang menghapus kebencian di masa lalu, dan kini hidupnya lebih bahagia, bebas mencintai tanpa takut penghakiman orang lain.
Tentu saja karena pria itu adalah Devan.
..
__ADS_1
End..