
"Wanita jala ng itu kau anggap kekasih." Devan mengepalkan tangannya, ini yang dia takutkan keluarganya mengetahui tentang Evelyn dan kemudian mengusiknya "Sekali *** *** tetap saja ja lang, meski kamu membungkusnya dengan berlian tetap tidak akan menyamarkan auranya yang sudah banyak terjamah pria hidung belang." Bukan hal yang sulit bagi mereka untuk tahu siapa Evelyn dan latar belakangnya, bahkan Meriana tak menyangka jika wanita itu adalah kekasih Devan lima tahun lalu, dia kira Evelyn hanya sebatas mainan di kala Devan muda, maka itu orang tua Devan membiarkan anaknya berkeliaran dan menjadi kekasih Evelyn, Meriana semakin yakin saat gadis itu menghilang 5 tahun lalu tanpa kabar dan menemui Devan lagi, dia kira Devan benar- benar hanya menjadikannya mainan lalu dia tinggalkan, tapi nyatanya Devan kembali membawa Evelyn ke dalam hidupnya.
"Jika mom tahu, bagaimana Eve, harusnya Mom tahu juga bagaimana dengan Diana.." Devan menggeram menatap tajam wanita yang pernah melahirkannya itu, bagaimana mungkin perkataan itu keluar dari mulut Ibunya.
"Dan jika mom sudah tahu betul tentang Eve, bagaimana bisa mom mengabaikan apa yang dia lakukan adalah demi darah dagingmu sendiri." Meriana memalingkan wajahnya. "Dan itu semua karena aku."
"Aku tetap tidak akan menerimanya, menjadi bagian keluarga ini, silahkan jadikan dia simpanan, tapi jangan harap dia bisa di terima."
Devan mengangguk "Tidak masalah, aku tak perlu pengakuan dari kalian, tapi suatu hari kalian yang akan mencari Evelyn dan meminta maaf."
Goerge memejamkan matanya "Hentikan, Dev. Demi seorang perempuan kamu menentang kami."
"Aku tidak menentang, aku hanya ingin kalian mengerti aku tak menginginkan Diana, dan hanya Evelyn yang aku cintai."
Meriana mendecih "Cinta apa yang kau maksud, kamu hanya akan mempermalukan kami saja, menjadikan seorang jalaang sebagai kekasihmu."
"Mom salah, aku bukan hanya aka menjadikannya kekasih, tapi Eve akan menjadi ibu dari anak- anakku.."
Devan tak lagi peduli, teriakan ibunya dan memilih pergi dari ruangannya.
Mereka tiba- tiba datang saat Devan sedang bekerja, bukannya meringankan beban pekerjaannya, malah bicara tentang Diana.
...
Setelah berdebat dengan keluarganya Devan memilih pulang, baginya obat segala keresahan dan kemarahannya hanya Evelyn, Devan hanya membutuhkan Evelyn di sisinya barulah dia yakin semua akan baik- baik saja.
Melihat Evelyn yang sedang duduk di sofa dengan televisi menyala di depannya membuat Devan tersenyum, Devan bersandar di kusen pintu sambil terus menatap Evelyn yang tak menyadari kehadirannya.
Evelyn tertawa saat acara di televisi menampilkan sebuah acara komedi.
Evelyn menonton dengan sesekali memasukan keripik kentang ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Kamu sudah pulang?" Evelyn mengerutkan keningnya, merasa ada yang memperhatikan Evelyn melihat Devan berdiri di pintu dengan kedua tangan terlipat di dada "Ini belum jam makan siang?." biasanya Devan akan pulang di jam makan siang untuk makan bersama di apartemen, atau mereka akan pergi untuk makan di luar. Evelyn rasa dia juga belum lama menonton tv, tapi Devan sudah kembali.
Evelyn melihat ke arah jam dinding baru pukul sepuluh pagi, benar Devan baru pergi dua jam lalu, dan sekarang sudah kembali.
"Aku sedikit tak enak badan.." Devan duduk di sebelahnya dan menyandarkan kepalanya di pundak Evelyn.
"Kau sakit..?" Evelyn menyentuh dahi Devan lalu mengeryit "Tidak panas.."
"Aku tidak enak badan jika jauh darimu.." Evelyn mencebik, tapi tangannya bergerak mengelus punggung Devan.
"Aku tidak mau bertanya apa masalahmu, tapi jika kamu bicara aku akan dengarkan." Devan terkekeh, senang sekali rasanya bisa mendengar Evelyn peduli padanya, tapi Devan tak berencana memberitahu tentang orang tuanya yang tak menyukai Evelyn, bisa- bisa Evelyn ingin pergi bahkan sebelum masa dua tahun berakhir.
"Sepertinya kita butuh liburan, mau pergi ke suatu tempat?"
"Kamu yang ingin liburan, tapi bertanya padaku?"
"Aku bertanya apa ada negara yang ingin kamu datangi, maka kita akan pergi kesana."
Devan menegakkan tubuhnya "Astaga, Eve. Apa kamu tidak bosan tinggal di dalam rumah terus..?" Evelyn menggeleng.
"Aku tidak bosan, lagi pula aku tak hanya diam.." tentu saja Evelyn juga melakukan kegiatan seperti biasa, kegiatannya sehari- hari, pergi olah raga, berbelanja memasak bahkan membersihkan Apartemen, itu juga salah satu alasan Evelyn untuk tidak memperkerjakan pelayan, karena dia tak ingin mati bosan karena terkurung sebagai seorang simpanan. Evelyn nampak berpikir lalu berucap "Bagaimana jika ke Club malam, kita bisa menari dan minum disana" Evelyn mengedipkan mata menggoda.
Devan menghela nafasnya "Kemanapun, asal tidak ke club, dan aku ingin liburan." Devan beranjak ke arah kamar, sedangkan Evelyn hanya mengangkat alisnya.
"Tapi club malam cukup menghibur."
Evelyn memilih acuh dan melanjutkan acara menontonnya, kembali memasukan keripik kentang ke dalam mulut, namun tiba- tiba Evelyn menghentikan gerakannya dan menyusul Devan ke dalam kamar.
Devan melepas dasinya dan membuka kancing kemejanya, menandakan dia tak berniat kembali ke kantor, mengabaikan semua pekerjaannya Devan memilih meminta Roger mengurus semuanya dan mengirimkan file penting ke emailnya.
Devan menoleh ke arah ponselnya dan lagi- lagi Diana menghubunginya.
__ADS_1
Devan mendesah kesal, dia memilih mengabaikan dan kembali melanjutkan mengganti kemejanya dengan kaos lengan pendeknya , ponsel Devan kembali berdering menandakan ada pesan masuk Devan menoleh tanpa berniat membukanya dan hanya melihatnya dari layar yang masih menyala.
-Kau akan menyesal melakukan ini padaku, Devan.-
Lalu tak seberapa lama muncul kembali sebuah pesan..
-Siapa pun wanita itu aku akan mengejarnya hingga mati, kau salah menilaiku Dev!-
Devan menggenggam tangannya geram, coba saja jika Diana berani menyentuh Evelyn, akan dia buat Diana menderita hingga untuk bernafas saja dia tidak sanggup dan memilih untuk mati.
Devan menekan ponselnya lalu segera menghubungi Roger "Ro, kau ingat apa yang aku katakan kemarin?"
"Ya, tuan."
"Lalukan sekarang, aku ingin satu minggu lagi semua sudah selesai. Alihkan semua sahamku atas nama Evelyn."
"Baik Tuan." Tanpa bertanya lagi Roger memenuhi keinginan Devan.
Devan menghela nafasnya, untuk melindungi Evelyn, wanita itu harus punya kekuatan, selama ini di belakang orang tuanya Devan membeli sebagian saham perusahaan dengan uang hasil kerja kerasnya.
"Jangan sampai ada yang tahu tentang ini, kau mengerti!."
Tadinya Devan membeli hanya untuk memperkuat posisinya di perusahaan, namun saat bertemu dengan Evelyn, tujuannya berubah, yaitu untuk membuat wanita itu di akui dan juga terlindungi, tekad Devan sangat kuat untuk mempertahankan Evelyn, walau bagaimanapun caranya, tidak akan membiarkan Evelyn di rendahkan hanya karena mereka berbeda secara finansial.
Jika sampai keluarganya tahu tentang ini mereka akan menentang, namun sekali lagi Devan membeli ini dengan hasil keringatnya sendiri.
Maka tidak ada yang akan bisa mengambilnya, bahkan mengusiknya.
Devan tertegun saat berbalik melihat Evelyn yang berdiri terpaku di depan pintu.
"Apa yang kau lakukan?."
__ADS_1
...