Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Memohon Maaf


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya tengah menatap kosong pada jendela kamarnya, kedua tangannya menggenggam sebingkai wajah gadis berseragam jonior high school, gadis itu tampak masih murni dengan senyum polosnya, matanya berbinar cerah sambil menunjukkan sebuah piala menandakan gadis itu telah memenangkan sebuah kejuaraan.


"Kau masih melihat foto itu.."


"Aku tidak mungkin melupakan putriku."


"Lalu apa kau lupa siapa yang mengusirnya." pria paruh baya itu duduk di sebelah sang istri.


"Aku tidak lupa, bahkan aku sangat menyesal, kenapa aku harus membiarkan dia pergi begitu saja." wanita paruh baya itu meneteskan air matanya, menyesali sikap gegabahnya dulu ketika membiarkan putrinya pergi begitu saja, dia mengabaikan bahwa putrinya adalah satu-satunya Putri kesayangannya, namun hanya karena egonya dia tega mengusir putrinya sendiri hanya karena dia mengandung di luar nikah, putrinya Evelyn mengandung akibat pergaulan bebasnya, dan bukankah harusnya yang disalahkan adalah dirinya karena tidak bisa menjaga putrinya sendiri.


"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri Andrea, kamu mendidiknya sudah sangat baik.."


"harusnya aku sebagai kepala keluarga yang disalahkan, dia juga putriku.. aku juga merindukannya."


"Haruskah kita kembali ke kota itu, mungkin saja Evelyn mencari kita.." Ben menatap sang istri dengan sendu.


"Mungkinkah setelah 5 tahun berlalu.." Sebenarnya hari itu setelah Evelyn pergi Ben keluar rumah untuk mencari putrinya , namun lama mencari Ben tak juga menemukan Evelyn.


Ben tak tahu siapa saja teman yang Evelyn miliki, dia tak tahu harus mencari kemana, dan saat itulah dia merasa dia ayah yang buruk.


Ben tahu istrinya nanti akan menyesal setelah anaknya itu pergi, dan ternyata hingga kini istrinya terus saja masih meratapi foto masa kecil Evelyn.


Saat itu kemarahan masih menyelimuti Andrea, egonya yang kuat membuatnya memutuskan untuk pergi dari kota itu dan melupakan segalanya.


Ben kira setelah beberapa hari Andrea akan luluh dan merindukan putrinya kembali, namun hingga mereka memutuskan untuk pergi pindah dari kota itu, Andrea tak juga menyebut nama putrinya.


Mereka bahkan mendatangi kampus untuk memindahkan putrinya yang sebenarnya hanya tinggal status, karena putri mereka telah pergi entah ke mana.


Andrea merasa malu hingga dia memilih untuk mengajak suaminya pergi pindah dari kota itu, namun baru saja menginjakkan kaki di Kota Roma, Andrea tiba-tiba menangis mengingat Evelyn.


Seolah baru menyadari bahkan terbebas dari jerat rasa egonya, Andreas sungguh ingin bertemu kembali dengan Evelyn. Memeluk gadis itu dan berkata maaf.


Di kawasan kota itu Andrea dan keluarganya dikenal bersahaja, Meski bukan dari keluarga kaya dan terkenal, mereka dikenal sebagai keluarga yang menjunjung tinggi harga diri dan moral.


Hingga saat mengetahui Evelyn hamil, Andrea merasa terhina oleh putrinya sendiri, Putri yang dikenalnya amat lugu dan baik, ternyata mencoreng nama baik keluarganya sendiri.

__ADS_1


Namun ternyata rasa itu hanya sesaat, tergantikan rasa penyesalan akibat mengusir putrinya sendiri.


Andrea menyesal..


Seharusnya dia tak perlu melihat pandangan orang lain, Bagaimana bisa dia mengusir Evelyn saat dirinya sedang mengandung.


Bagaimana keadaan putrinya saat itu..


"Mungkin dia sudah menikah dengan lelaki itu, kekasihnya."


"Kita hanya perlu mendoakan agar Eve tetap bahagia." Ben mengusap pucuk kepala istrinya.


"Jangan bersedih lagi, sudahlah aku harus pergi memberi makan ternak kita." Ben juga bersedih dia selalu ingat kepada putrinya tetapi, Ben selalu berusaha kuat demi istrinya.


Andrea mengangguk membiarkan Ben pergi,setelah beberapa saat menenangkan diri Andrea pun mengikuti Ben ke arah belakang rumahnya.


Mereka memiliki beberapa ternak, setelah memutuskan pindah Ben menutup bisnis konveksinya dan memutuskan untuk beternak, apalagi di kawasan itu setiap orang memiliki ternaknya masing-masing.


Apalagi dengan begitu Andrea memiliki kegiatan selain hanya memikirkan Evelyn.


"Rumputnya habis aku akan mengambil kembali dari gudang." kata Ben sambil mendorong gerobak rumputnya.


Saat terdengar suara mobil berhenti Ben sedang memasukkan rumput ke dalam gerobak "Mobil siapa itu?"


"Entahlah Beberapa hari lalu juga ada mobil berhenti di depan rumah kita, tapi hanya berhenti lalu pergi lagi."


"Coba kau lihat siapa tahu itu tamu untuk kita." Andrea mengangguk dan segera pergi untuk melihat mobil siapa yang berhenti itu.


Saat keluar dari gudang rumput Andrea melihat dua orang memasuki teras rumahnya "Kalian mencari seseorang?"


Kedua orang itu menoleh dan melihat ke arah Andrea, Andrea tertegun saat melihat salah satu diantara mereka "Eve..?"


Evelyn berkaca-kaca melihat ibunya, "Ibu.."


"Eve, itukah kau?" Andrea berjalan pelan menghampiri Evelyn, seluruh tubuhnya terasa lemas ketika melihat Evelyn berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Andrea menangkup pipi Evelyn dengan derai air mata "Oh, Eve kau menemukan kami, maafkan Aku Eve.. Maafkan Ibumu ini.." Evelyn tak menyangka saat bertemu dia akan di sambut bahkan di peluk oleh ibunya.


Hilang sudah bayangan ketakutan Evelyn ,Evelyn memeluk ibunya mereka berdua menangis melepaskan Rindu, dari arah gudang Ben muncul, pria itu menghentikan langkahnya saat melihat sang istri memeluk seseorang.


"Sayang?" Andrea menoleh dan tersenyum.


"Lihatlah Eve kita sudah datang, Suamiku Evelyn datang.." Ben menatap Evelyn dengan pancaran rindu, bagaimana tidak 5 tahun mereka tidak bertemu.


"Eve.."


"Ayah.." Evelyn menghambur memeluk sang Ayah, sedangkan Ben mengelus rambut panjang Evelyn.


"Maafkan Ayah, Nak.." Evelyn menggeleng.


"Tidak, akulah yang bersalah.. Maafkan aku Ayah.."


"Bagaimana kau menemukan kami."


"Aku menemui tetangga, dan mereka memberitahuku, maafkan Aku Ibu, aku sungguh tak berani datang.. Aku takut Ibu dan Ayah semakin tersakiti."


"Ibu merindukanmu, tapi Ibu tak tahu harus mencari kemana, bagaimana keadaanmu selama ini.." Andrea meneliti Evelyn, gadis kecilnya banyak berubah wajahnya cerah bermake up natural, sangat cantik dan terlihat dewasa.


"Aku.. Baik- baik saja." Evelyn tersenyum lega, "Terimakasih telah memaafkan aku Ibu.." Andrea mengangguk.


"Lalu dimana cucuku, kau sudah melahirkan.." Andrea melihat sekitarnya namun tak menemukan siapapun kecuali pria yang sejak tadi berdiri di belakang Evelyn, apa dia suaminya.


Melihat Evelyn hanya diam, membuat Ben bicara.. "Masuklah, dahulu.. Kita bicara di dalam." Ben mendorong pelan bahu Evelyn dan Andrea untuk memasuki rumah.


"Mari tuan, silahkan.." Ben mempersilahkan Devan yang sejak tadi menyaksikan keharuan antara Evelyn dan orang tuanya.


Devan hanya terdiam, menatap interaksi antara Ibu dan anak itu, lama berpisah tentu saja mereka saling merindu, betapa jahatnya dia dulu, andai dia tahu lebih awal..


Perkataan yang terus Devan ulangi, saat mengingat kesalahannya terdahulu, tapi masa lalu tak bisa di ulangi, Devan hanya berharap dia bisa memperbaiki semuanya.


Devan tersentak saat Evelyn menarik tangannya agar mengikuti mereka masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Devan bahkan tertegun saat melihat Evelyn tersenyum seolah berkata 'Terimakasih' padanya, tapi apa yang dia lakukan memangnya.


...


__ADS_2