Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Damian, Dan Daren


__ADS_3

Begitu keluar dari bandara Evelyn melihat Boni, gadis itu menyambutnya dengan ceria, melambaikan tangan dan berlari "Aku merindukanmu..." Boni memeluk Evelyn.


"Aku juga.."


"Bagaimana perjalanannya, apa menyenangkan?"


"Melelahkan.." keluhnya.


Boni tertawa dan menggandeng Evelyn pergi ke arah parkiran "Kau lapar?"


"Aku baru makan di pesawat, tapi aku rindu masakan Boni, lagi pula porsi di pesawat sangat sedikit."


"Baiklah, ayo kita akan makan malam dengan Udang asam pedas kesukaanmu.. aku juga sudah merapikan rumahmu."


Evelyn mengangguk dan masuk ke dalam mobil, mobil miliknya yang juga di rawat Boni. "Terimakasih sudah mengurus semuanya."


"Tidak masalah, terkadang aku juga tidur di rumahmu, untuk memastikan keamanan." Evelyn mengangguk penuh rasa terimakasih.


"Oh, ya.. kamu sudah menyiapkan semuanya?"


"Sudah selesai, aku juga menambahkan beberapa pakaian dan mainan anak, uang mu sekarang banyak ya.. bagus sekali. Apakah kamu berhasil menguras semua hartanya." Boni tertawa menggoda.


Evelyn hanya menghela nafasnya, Devan memang memasukan uang yang cukup besar ke rekeningnya, belum lagi kemarin malam sebelum pria itu pergi dia memberikan sebuah kartu untuknya.


"Untuk kebutuhan kamu.." padahal semua kebutuhannya sudah tercukupi dari uang yang Devan kirimkan ke rekeningnya setiap bulan.


"Baguslah, jika begitu besok kita tinggal berangkat saja.."


....


Evelyn dan Boni pergi ke makam Damian dengan membawa buket bunga mawar. Evelyn mendekat seraya tersenyum sendu menatap makam putra kecilnya.


"Hallo, sayang Mommy datang, selamat ulang tahun.. andai kamu masih disini, kamu mungkin bisa bermain, meniup lilin, dan memotong kue mu.." Evelyn meneteskan air matanya.


"Tapi Mommy tak boleh egois kan?, kamu pasti lebih bahagia di surga sana.. kamu tidak kesakitan lagi, dan tentunya Tuhan lebih sayang padamu di banding Mom.."


"Mommy bahagia, terimakasih sudah hadir dalam hidup Mommy meski hanya sebentar, tapi kamu sungguh berarti.."


Evelyn tersenyum "Mom pergi dulu, seperti biasa Mom akan mengunjungi teman- temanmu, tidurlah dengan nyaman.."


"Hallo Boy, kau ingat aku.." Boni tersenyum "Aku berjanji akan menjaga mommymu hingga dia menikah dan menemukan suami, jadi kau tenang saja.." Evelyn memukul pelan tangan Boni.


"Jangan dengarkan bibimu, Mom tidak akan menikah.."


"Hey, jangan bicara sembarangan, lagi pula mana mungkin aku hidup dengan mu sampai tua.."

__ADS_1


Evelyn mencebik "Tenang saja Mom mu akan memiliki suami dan melahirkan anak yang banyak."


"Sudah, ayo kita pulang.. kau ini.. Dami kami pergi dulu.. mommy menyayangimu." Evelyn berdiri dan meninggalkan Boni di belakang dengan terus menggerutu.


..


Evelyn dan Boni baru saja tiba di yayasan jantung anak yang setiap tahun mereka datangi, yayasan yang menaungi para penyandang sakit jantung bawaan namun tak memiliki biaya untuk berobat, kebanyakan mereka bahkan sengaja dibuang karena dianggap benalu dan merepotkan.


Dulu Evelyn juga beberapa kali menerima bantuan dari yayasan untuk pengobatan Damian, meski tidak sepenuhnya tapi Evelyn cukup terbantu.


Dan setelah Damian meninggal Evelyn menyempatkan diri untuk datang dan memberi donasi setiap hari lahir Damian, berharap Damian- Damian yang lain bisa terbantu, meski hanya sedikit. dan saat ini Evelyn kembali mendatangi yayasan dengan membawa beberapa mainan dan pakaian untuk anak- anak.


"Oh, Kalian sudah datang.." Kepala yayasan menyambut Evelyn dan Boni.


"Ya, Nyonya Mery.. apa kabar mu?" Evelyn memeluk Nyonya Mery.


Nyonya Mery tersenyum "Aku baik.. bagaimana kalian?." Nyonya Mery beralih memeluk Boni.


"Kami baik.."


"Mari masuk, mereka sudah menunggu." Nyonya Mery menggiring Evelyn dan Boni.


"Apakah ada orang lain?."


"Tidak, hanya anak- anak yang aku undang secara mendadak dan cukup antusias.. Ah, benar aku juga belum berterimakasih untuk hadiah dari kalian tadi pagi."


"Tadi pagi?" Evelyn menghentikan langkahnya. "Anda mungkin salah nyonya, hadiah kami bahkan masih ada di dalam mobil."


Kali ini nyonya Mery yang tertegun "Tapi tidak mungkin aku salah, aku bertanya pada kurir yang mengantar dan lihatlah semua mainan dan pakaian itu.." Nyonya Mery menunjuk tumpukan hadiah "Kurir jelas bilang ini di kirim atas nama Evelyn.."


Evelyn dan Boni saling menatap dengan mata mengerjap, hadiah itu sangat banyak, jika pun itu dari Evelyn tidak mungkin bisa sebanyak itu.


Tumpukan kado itu sudah seperti gunung saking banyaknya "Benar bukan?, mobil bok yang membawanya kemari, juga mereka memberikan ini.." Nyonya Mery memperlihatkan sebuah amplop jelas isinya sejumlah uang, dan dari tebalnya uangnya juga sangat banyak.


"Nyonya tapi aku, tidak merasa memberikannya. Aku bahkan baru tiba.."


"Seorang pria memberikan ini dan berkata, ini dari Ibu dan Ayah Damian, seingatku hanya satu Ibu dari Damian yang selalu datang setiap tahun, dan itu kau." Evelyn tertegun.


"Kau bilang ayah..?"


"Ya, pria itu bilang seperti itu."


"Seperti apa pria itu." Evelyn bertanya dengan jantung berdebar kencang.


"Dia berperawakan tinggi dan tampan... ah ya, ada tahi lalat di dekat matanya." Evelyn memejamkan matanya "Dia sungguh suamimu?"

__ADS_1


Evelyn menghela nafasnya, tak menjawab dan melihat ke arah Boni yang mengeryit bingung.


...


Kemarin..


Devan baru saja tiba di sebuah hotel tempatnya menginap, setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang dan baru tiba di siang hari.


Hari ini Devan akan menemui seorang pengusaha yang akan menjalin kerjasama dengannya di sebuah restoran, Devan merasa heran dengan pengusaha satu ini dia memilih restoran keluarga yang terdapat playground di dalamnya, tak seperti biasanya para pengusaha yang akan memilih club atau setidaknya cafe.


Devan melihat seorang pria tinggi tampan, dengan rahang tegas dan mata tajam, dari yang dia ketahui pria ini berumur tiga tahun di atasnya itu adalah seorang duda, dari informasi yang dia ketahui juga pria ini terkenal sangat arogan dan tegas.


Tapi di depannya kini Devan melihat seorang ayah yang penyayang terhadap putranya, dia dengan telaten menyuapi putranya yang Devan kira berumur 4 atau 5 tahun.


Melihat anak itu seketika Devan teringat Damian, jika saja Damian masih ada Devan juga akan memperlakukan anaknya dengan manja, dan tentu saja penuh rasa kebahagiaan.


Hanya saja..


Ah, sudahlah Devan merasa sangat sedih tapi dia juga tak boleh larut dalam kesedihan dan penyesalan, saat ini dia hanya harus fokus pada kebahagiaannya dan Evelyn.


Devan menoleh ke arah Roger "Apa Eve sudah berangkat?"


Roger mengangguk "Dari info yang saya dapat Nyonya sudan naik ke pesawat tuan." Devan mengangguk.


"Pastikan dia tidak tahu kalau diikuti."


"Baik tuan." Roger mengangguk, dan Devan melanjutkan langkahnya.


"Apakah, kami mengganggu tuan.." Devan menyapa dengan senyuman.


"Ah, Tuan Devan anda sudah datang.."


"Ya, maafkan aku apakah kita perlu menunda pembicaraan kita."


"Tidak duduklah kita sarapan bersama," Pria di depan Devan terkekeh "Anakku sedikit sulit makan, jadilah sarapan disatukan dengan makan siang." Devan tersenyum pukul sepuluh tiga puluh memang sudah tidak bisa di sebut sarapan.


"Ternyata anda tak seperti kata orang.."


Devan tersenyum "Kebanyakan mereka bilang anda menyeramkan, tapi aku melihat anda kebalikannya."


Pria di depan Devan menyeringai "Aku hanya harus menyesuaikan waktuku tuan Devan."


"Jika begitu aku tersanjung karena anda tidak memperlakukan aku seperti kebanyakan tuan Willy, melihatmu dari sisi lain membuat aku tersentuh sebagai seorang ayah.."


Willy kembali terkekeh "Daren pergilah bermain, Daddy harus bekerja." bocah kecil itu mengangguk patuh dan melesat ke area play ground bersama pengasuhnya dan beberapa bodyguard.

__ADS_1


"Hari ini dia sangat manja, karena kemarin di hari ulang tahunnya aku tidak bisa datang, jadi maafkan aku karena dia ingin ikut, dan terus menempel padaku."


__ADS_2