
Evelyn menatap Ibunya yang tertidur di sebelahnya, mata Andrea terlihat sembab akibat terus menangis saat Evelyn menceritakan kisah hidupnya hingga kehilangan Damian dulu, tentu saja dengan menutup kenyataan bahwa dirinya menjadi pekerja sekss demi kehidupannya dan kesembuhan Damian, dan sepanjang Evelyn bercerita Ibunya itu terus menangis.
Entah bagaimana kelak jika orang tuanya tahu bahwa dia harus menjual dirinya sendiri demi hidupnya, mungkin mereka akan membenci Evelyn bahkan jijik padanya, Evelyn ingin menceritakan semuanya tapi Evelyn tak ingin kehilangan pelukan orang tuanya kembali setelah sekian lama.
Andrea tidur dengan memeluk Evelyn, dia meminta izin Devan untuk tidur bersama malam ini sebelum mereka kembali pulang, bagaimanapun masa lalu, Devan adalah suami Evelyn sekarang maka itu orang tua Evelyn tak bisa mencegah putrinya untuk pergi, bahkan jika mereka ingin.
Evelyn menghela nafasnya, lalu menyingkirkan pelan tangan Andrea agar tidak membangunkan ibunya itu, Evelyn harus melihat luka Devan yang belum sempat di obati karena pukulan yang di terimanya dari sang ayah.
Evelyn membuka pintu perlahan lalu menutupnya kembali.
"Kami akan sering berkunjung.." Evelyn melihat Devan sedang duduk di kursi santai di teras rumah dengan ayahnya.
"Tentu saja, setelah sekian lama kami bertemu kembali.." Sepertinya Ben sudah mulai berdamai dengan hatinya, mau bagaimana lagi, Evelyn juga sudah menikah dengan Devan, dan pria brengsek ini sekarang adalah menantunya.
"Aku harap kau selalu menjaganya, meski aku sedikit tak rela Evelyn menikah denganmu, tapi ini sudah jalanNya, aku hanya berharap Eve kami selalu bahagia."
Devan mengangguk "Aku akan selalu menjaga dan mencintainya.." Evelyn bisa merasakan ketulusan dari janji Devan.
"Ya, aku berusaha untuk percaya padamu.." Ben bisa melihat jika Devan memang mencintai putrinya.
Evelyn menghela nafasnya memilih untuk pergi ke arah dapur dan menyiapkan air hangat untuk mengompres luka Devan.
__ADS_1
Evelyn mengambil kotak obat meski Evelyn baru datang tapi Evelyn tahu di mana kotak obat terletak, dan ibunya sejak dulu selalu menyimpannya di dapur di atas lemari, kebiasaannya sejak di rumah lama mereka, dan benar saja Evelyn hanya perlu sedikit berjinjit dan mendapatkannya.
Saat Evelyn menghampiri Devan, ayahnya sudah tidak ada "Kemana Ayah?" Devan menoleh.
"Ayah berkata akan memeriksa ternak.." Evelyn mengangguk.
"Kemarilah aku akan mengobati luka mu.."
Devan melihat baskom berisi air hangat di tangan Evelyn. "Aku tidak apa- apa.. Hanya dua pukulan."
"Tapi pukulan Ayah cukup keras." Evelyn duduk di sebelah Devan.
"Bisakah jangan bicarakan masa lalu lagi.." Evelyn mulai membersihkan luka Devan.
Devan mendesis, rahangnya memang sedikit sakit, pukulan Ayah Evelyn memang sangat keras, tapi Devan juga tidak boleh lemah, ini bahkan tidak sepadan dengan dosa yang telah dia lakukan di masa lalu.
"Dev, bagaimana bisa kamu mencintaiku.. Bahkan setelah tahu aku bukan wanita yang baik.."
"Entahlah, yang aku tahu aku sangat bahagia saat kamu berada di sisiku, kamu tak tahu aku menjalani empat tahun penuh kesakitan karena kehilangan jejakmu."
"Atau ini hanya karena rasa bersalahmu.."
__ADS_1
Devan menggeleng, "Jika benar begitu, maka aku tak perlu memikirkan kamu terus menerus, tapi yang ada di pikiranku adalah bagaimana caranya agar kamu tetap berada di sisiku, selamanya dan membahagiakan kamu."
"Aku seorang wanita panggilan.." Evelyn berkata lirih, seolah takut ada yang mendengarnya, dan kenyataannya Evelyn memang menyembunyikannya dari orang tuanya.
"Bukankah begitulah cinta, tidak peduli siapa kamu.. Aku bahkan merasa malu pada diriku jika harus menghakimimu, aku juga bukan orang baik, kamu bahkan melakukannya demi anak kita.." Devan menggenggam tangan Evelyn "Percayalah padaku, aku akan melakukan apapun untukmu.. Kali ini biarkan aku yang berjuang."
Evelyn menatap tangannya yang di genggam Devan, lalu mendongak menatap mata Devan "Aku percaya."
Devan tertegun "Aku akan percaya.. Tapi aku mohon jangan sakiti aku lagi.." Devan tersenyum, dan mengangguk dengan keyakinan penuh.
"Ya, ya sayang.." Devan mengecupi tangan Evelyn "Aku berjanji.." Devan mengusap air matanya "Astaga, aku sangat bahagia.." Evelyn terkekeh melihat Devan sangat bahagia hingga pria itu meneteskan air matanya..
Benar, kali ini Evelyn akan mencobanya, membuka hatinya kembali untuk Devan.
Sepenuh hatinya..
"Bukankah itu berarti perjanjiannya berakhir?" Evelyn terdiam.
Ah, benar surat kontraknya..
Evelyn mengangguk, dan senyum lebar Devan semakin nampak.
__ADS_1