
Devan dan Evelyn baru saja tiba di Roma di siang hari, setelah semalaman penuh menempuh perjalanan. Di dalam pesawat Evelyn habiskan untuk beristirahat, sebab sebelum keberangkatan mereka Devan terus saja menyerangnya hingga dia kelelahan.
Hingga akhirnya Evelyn benar- benar mengaku kalah barulah Devan melepaskannya.
Evelyn menggeliatkan tubuhnya saat melihat pemandangan kota Roma dari balkon kamar mereka, "Indah bukan?" Devan memeluk Evelyn dari belakang lalu mengecup tengkuk Evelyn.
"Humm, bagaimana bisa kamu dapat kamar sebagus ini, bahkan kita mendadak untuk datang." Evelyn melihat hamparan gedung berbentuk bangunan kuno di sepanjang penglihatannya.
"Hotel ini milik rekan bisnisku," Evelyn mengangguk, tentu saja itu salah satu keuntungan yang Devan peroleh.
"Apakah disana air mancur yang terkenal itu..?" Evelyn menunjuk dengan antusias sebuah taman air mancur yang di kerumuni pengunjung, kamar yang mereka tempati memang ada di lantai teratas hotel hingga bisa melihat pemandangan cukup luas.
"Yap,"
"Aku ingin kesana, orang bilang jika kita melempar koin di Trevi dengan tangan kanan melewati bahu kiri, impian kita akan segera terkabul. Selain itu, jika melempar dua koin maka akan segera menemukan jodoh dan jika melempar sebanyak tiga koin berarti akan segera menikah." Devan mengerutkan kening tak suka mendengar perkataan Evelyn yang terakhir, jodoh?, menikah?. Jelas Evelyn hanya akan melakukan keduanya dengan Devan, untuk apa harus melempar koin lagi.
"Itu hanya mitos, kau tidak akan menikah lagi.." Devan mendengus dengan kata- kata ambigunya.
"Kita akan tahu saat sudah melakukannya apakah benar itu hanya mitos.."
"Tentu, tapi nanti setelah kita istirahat." Devan mengelak, selain karena lelah dia juga tidak akan membiarkan Evelyn melakukan permohonan.
"Ayolah Dev, aku sudah istirahat selama di pesawat."
"Tapi tetap saja, bagaimana kalau kamu merasa jetlag nanti, sekarang ayo tidur!"
"Kalau begitu, kau tidur saja. Aku akan pergi sendiri bukankah jaraknya sangat dekat."
"Apa kamu sudah hapal bahasa disini?" Evelyn menghela nafasnya lalu menunjukan ponselnya.
__ADS_1
"Aku bisa bertanya pada si pintar." Zaman sudah canggih kini kita bisa berada dimanapun dan bertanya tentang terjemahan bahasa apapun yang kita mau hanya dari sebuah ponsel, tentu saja Evelyn juga sudah mempersiapkan semua seandainya dia bisa datang ke sana.
Devan menggeleng "Tidak aku akan mengantar kemanapun kamu mau, tapi tidak sekarang." Devan membaringkan tubuh Evelyn disusul dirinya yang berbaring menyamping setelah melepas kaosnya hingga kini bertelanjang dada dan memeluk Evelyn.
Evelyn men desah pasrah lalu memejamkan matanya.
...
Evelyn menyingkirkan pelan tangan Devan, saat pria itu benar- benar tidur Evelyn bangun lalu bergegas membersihkan diri, bagaimana bisa dia tidur setelah semalaman dia tidur dalam pesawat.
Evelyn tidak boleh menyiakan kesempatan untuk mencari kedua orang tuanya, dan mencari tahu di mana alamat itu tepatnya berada.
Keluar dari hotel, Evelyn mencari taksi yang akan membawanya ke alamat yang dia cari, Evelyn berjalan tanpa halangan entah kemana perginya dua bodyguard yang mengikuti mereka tadi.
Evelyn bicara menggunakan aplikasi penerjemah dari ponselnya "Bisakah kau antar aku ke alamat ini?"
Dalam dua jam Evelyn akan kembali dan Devan hanya akan tahu jika dia pergi ke air mancur.
Sepanjang perjalanan Evelyn memperhatikan sekitar tanpa melewatkan moment untuk menghapal semua jalan yang dia lewati, Evelyn membaca semua plang yang ada di persimpangan jalan hingga perjalanan kini memasuki sebuah jalan kecil pedesaan.
Taksi yang Evelyn tumpangi berhenti di sebuah rumah sederhana namun tak bisa di bilang kecil juga, rumah satu lantai itu cukup luas namun hening seperti tak berpenghuni.
"Pak kau yakin ini tempatnya?"
Sang supir mengangguk lalu menunjuk sebuah papan yang bertuliskan sebuah nomer yang sama seperti alamat yang tertera di selembar kertas yang di pegang Evelyn.
...
Devan terbangun saat tak merasakan Evelyn di sisinya, mengerjapkan matanya lalu terduduk dengan terkejut saat merasa sekitarnya hening.
__ADS_1
"Eve.." Devan memanggil namun tak mendengar suara Evelyn.
Devan menurunkan kakinya dan menemukan sebuah catatan kecil di atas nakas.
_Aku pergi jalan- jalan, jangan khawatir aku segera kembali 😘_
Devan tersenyum saat melihat emoticon cium di ujung kalimat lalu mencari ponselnya untuk menghubungi Evelyn, namun beberapa kali ponselnya tersambung Evelyn masih mengabaikannya dan tak menjawab panggilannya.
Devan menekan kembali ponselnya dan kini menghubungi bodyguardnya "Kalian mengawasi Eve."
"Maaf tuan, bukankah anda bilang kalian akan istirahat lebih dulu." Devan memijat keningnya, ya dia kira Evelyn akan menurut, tapi ternyata dia sudah pergi dan bagaimana jika Evelyn tersesat nanti.
"Bersiap sekarang kita pergi ke Trevi." Devan mematikan ponselnya dan mendesah lelah.
Cukup lelap dia tertidur hingga tak menyadari kepergian Evelyn, mungkin karena kelelahan, bahkan di dalam pesawat, saat Evelyn tertidur, Devan harus bekerja karena file yang di kirimkan Roger padanya, dan juga karena untuk beberapa hari ke depan dia tak bisa pergi ke kantor, tentu saja untuk menghindari orang tuanya yang tidak akan berhenti begitu saja untuk mengusiknya.
Tiba di lobi hotel kedua bodyguard Devan sudah siap dengan sebuah mobil di sebelah mereka.
Dengan sigap seorang bodyguard membuka pintu dan Devan masuk tanpa hambatan, di susul dengan keduanya memasuki mobil dan mulai melaju.
Jarak dari hotel dan air mancur Trevi tidak terlalu jauh, bahkan jika berjalan kaki hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja, namun Devan berencana membawa Evelyn sekaligus jalan- jalan lalu makan malam.
Dalam perjalanan Devan kembali menghubungi Evelyn namun kali ini Evelyn menjawab panggilannya.
"Dimana kamu?."
"Aku di Trevi dan aku akan melempar koin ketiga ku jika kamu tidak menghubungiku."
"Jangan coba- coba Eve!."
__ADS_1