
Devan mendorong keras tubuhnya yang menempel padanya, hingga sang wanita memekik.
"Apa yang kau lakukan!"
Devan mendengus "Harusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan, Diana!, beraninya kau menciumku."
Diana terkekeh "Bukankah wajar jika aku mencium tunanganku."
Devan mengusap bibirnya dengan sapu tangannya lalu membuangnya ke tempat sampah.
Diana terbelalak melihat apa yang dilakukan Devan, apa dirinya semenjijikan itu.
"Aku tidak punya waktu meladenimu." Devan melanjutkan langkahnya ke arah pintu, namun ucapan Diana membuat Devan menghentikan langkahnya..
"Daddy ingin kita melakukan konferensi pers tentang pertunangan."
Devan menatap tajam "Kau tahu ini hanya perjodohan bisnis!."
Diana mengedikkan bahunya "Katakan itu pada Daddyku. Dan ya, tentu saja itu di perlukan agar orang- orang tahu dua perusahaan besar akan bersatu"
Devan mengepalkan tangannya, Diana tahu untuk saat ini Devan tak bisa melawan, karena itu Diana tersenyum licik "Turuti saja, dan hidup bersamaku dengan bahagia."
Devan menaikan alisnya lalu menyeringai.. "Dalam mimpimu, dan aku belum setuju!"
Tak peduli dengan Diana yang meneriakinya Devan terus berjalan ke arah lift dan langsung diikuti Roger "Lain kali jangan biarkan dia masuk sembarangan!."
"Maaf saya lalai tuan, saya sedang fokus bekerja tadi." Roger menekan tombol lift untuk Devan.
Saat Devan memasuki lift dari arah ruangannya terlihat Diana berjalan cepat ke arahnya "Tunggu Devan!."
"Jangan biarkan dia mengikutiku!" Roger mengangguk dan segera menahan Diana.
"Minggir kau brengsek, beraninya kau menghalangiku!" tangan Diana menggapai pintu lift yang tertutup "Sial!, saat aku menikah dengan Devan akan ku buat kau di pecat."
Roger tak bergeming bahkan dia hanya menatap datar tunangan tuannya itu.
"Sialan, minggir kau!" dengan senang hati Roger menggeser tubuhnya dan membiarkan Diana pergi.
Diana menekan lift dan menunggu pintu kembali terbuka, berharap bisa mengejar Devan untuk pergi bersama, namun saat Diana tiba di lantai satu dia sama sekali tak melihat Devan.
__ADS_1
Kemana pria itu pergi..?
Sial, gagal lagi untuknya mengikuti pria itu.
...
Devan menatap sendu wajah sayu Evelyn yang tertidur, sepertinya gadis itu lelah menangis lalu tertidur, terlihat dari hidungnya yang masih merah dan matanya yang bengkak.
Hati Devan terenyuh, bagaimana caranya dia menghibur Evelyn, agar gadis itu melupakan kesedihannya karena tak bisa melihat orang tuanya.
Devan mengelus pipi merah Evelyn dengan lembut agar tidurnya tak terganggu, namun ternyata Evelyn malah mengerjapkan matanya dan terbangun "Aku membangunkanmu ya.." Devan tersenyum.
"Tidak masalah.." Evelyn mendudukkan dirinya dan melihat dirinya yang berantakan.
"Aku akan membersihkan diri dulu.." Evelyn berfikir mungkin sang tuan akan menggunakannya jadi dia harus membuat dirinya setidaknya rapi dan wangi, bukankah ini pertama kalinya dia akan di gunakan, saat Evelyn akan bangun Devan menahannya.
"Aku menginginkanmu, sekarang." Evelyn tertegun.
Devan tersenyum dia ingin berkata jika semuanya akan baik- baik saja dan orang tuanya kelak bisa bertemu lagi, namun dia sudah berjanji untuk tidak mengungkit masa lalu, dan juga kepergian orang tua Evelyn berawal dari kebejatannya, jadi Devan tak bisa berkata apapun sekarang, selain berkata 'aku menginginkanmu'.
Sebuah alasan untuk bisa memeluk Evelyn, memberi ciuman dan kehangatan. Devan harap itu membuat Evelyn melupakan kesedihannya.
"Ya.." Devan meraih jemari Evelyn lalu mengecupnya.
Evelyn tersenyum dan Devan di buat tak berdaya dengan senyumnya, entahlah yang pasti Devan tak berharap jika senyum Evelyn tulus, jelas sekali jika Evelyn sangat membencinya, tapi melihat Evelyn tersenyum membuatnya terpesona berkali- kali lipat.
Tangan Evelyn meraih jas Devan dan melepaskannya, lalu beralih ke dasi berakhir ke kancing kemeja yang masih terpasang rapi.
Gerak tangan Evelyn sungguh terampil seolah sudah di rancang untuk menggoda dan dengan gemulai bergerak naik ke pangkuan Devan dan merapatkan dirinya ke dada telan jang pria itu.
Devan mengecup dahi Evelyn lalu beralih ke mata dan kemudian bibir, sesaat mata keduanya beradu. Devan tak bisa membaca sorot mata Evelyn entah itu sebuah keikhlasan atau hanya sebuah tanggung jawab, namun melihat senyum Evelyn yang manis membuatnya bernafas lega, untuk saat ini Evelyn mungkin lupa akan kesedihannya.
Devan menyingkirkan rambut Evelyn yang tergerai berantakan menghalangi pipinya "Kau milikku.."
Evelyn terkekeh "Tentu, untuk dua tahun kedepan.."
"Aku tidak peduli, setidaknya dua tahun masih lama dan aku akan bisa membuatmu menjadi milikku selamanya."
Evelyn tertawa dengan leher yang mendongak saat Devan mengecupi lehernya "Coba saja jika kau bisa."
__ADS_1
"Kau meremehkan aku..?"
Evelyn menunduk dan menemukan wajah tampan Devan "Kau sangat tampan tuan," Evelyn mengelus dagu Devan.
"Tapi aku sedikit alergi dengan pria tampan."
"Benarkah..?" Evelyn terkekeh.
"Hmm.."
"Lalu bagaimana caranya menjadi jelek, seperti ini sudah jelek?" Devan menunjukan wajah konyol dengan mata melotot dan bibir di buat miring
Evelyn tertawa "Anda jadi terlihat lucu.."
"Apa lucu sudah masuk kriteriamu?" Evelyn menggeleng.
"Prinsipku adalah tidak jatuh cinta pada penyewaku."
"Jadi sia- sia saja menunjukkan wajah jelekku." Devan mencebik.
Evelyn terkekeh "Tapi tidak perlu khawatir tuan untuk dua tahun ini aku benar- benar milikmu."
Devan mengangguk "Jadi aku harus memanfaatkan waktuku dengan baik." rengkuhan di pinggang Evelyn mengerat.
Keduanya berbincang seperti baru berkenalan beberapa hari lalu, dan mulai percakapan yang ringan.
Devan merasa lega karena setidaknya suasana hati Evelyn bisa berubah meski kini dia sedang berperan untuk menyenangkan tuannya, tapi Devan tahu tertawanya tidak di buat-buat, terlihat dari matanya yang menyipit.
Evelyn merasakan degupan jantungnya ingin meledak saat Devan mendekapnya erat, tak dapat di pungkiri perasaan hangat mengalir di hatinya sedikit memberi ketenangan atas keresahan di hatinya, namun sebisa mungkin dia berusaha untuk tetap profesional, dan tentu saja dia tak boleh terjerat untuk kedua kalinya, tindakan masuk ke dalam lobang yang sama bukankah itu bodoh?.
Baginya Devan tetap pria brengsek..
Untuk saat ini lupakan kebencianmu Eve, terima kenyataan bahwa kau telah di beli, lalu selesaikan dan pergi.
....
Siap untuk adegan selanjutnya..?
Siapkan kipas yang besar biar tidak gerah 🤣🤣🤣
__ADS_1