
"Kamu selalu berprasangka buruk dengan rasa khawatirku, kamu selalu menganggap aku buruk dalam segala hal!."
"Tidak kah kamu benar- benar memaafkan aku Eve?, bagian mana yang kamu bilang kamu memaafkan aku, jika kamu saja tidak percaya padaku!."
Evelyn tertegun..
"Aku hanya perlu satu kata dari kamu, maka aku akan melakukan segalanya, menghentikan kegilaan ini, karena jujur saja ini menyiksaku."
"Kamu fikir apa yang aku rasakan saat aku menyiksamu, aku merasakan sakit yang sama."
"Jika kamu berpikir ini bisa menghukumku, selamat kamu berhasil.. aku tersiksa saat harus menganggap kamu *** ***.."
"Aku memang ja lang..."
"Tidak!" Devan menghentakkan tinjunya di lantai, hingga buku- bukunya membiru akibat hantaman yang keras "Kamu tetap berharga untukku, tidakkah kamu mengerti." Evelyn mengerjapkan matanya saat melihat tangan Devan membiru dengan bercak kemerahan, Evelyn mengepalkan tangannya saat tangan itu ingin meraih dan memastikan Devan baik- baik saja.
"Aku juga bukan orang baik, Eve. Kamu tahu aku juga bukan pria baik yang hanya menyentuh satu wanita, lalu apa salahmu?, kamu bahkan berjuang demi putra kita." Devan menunduk "Akhiri ini Eve, aku mohon."
"Katakan jika kamu tidak suka di perlakukan seperti ja lang, aku akan menghentikannya."
Evelyn diam, dan merasakan hatinya semakin berdenyut, rasa sakit yang datang bukan lagi karena kenyataan jika dia memang ja lang dan memang pantas di perlakukan seperti itu, tapi sakitnya karena Devan tidak juga berhenti dengan cinta semu yang dia katakan, Evelyn pikir dalam enam bulan ini rasa cinta Devan akan berubah menjadi rasa jijik atau benci, namun pria itu masih saja meneriakkan bahwa dia mencintainya.
Tidakkah dia mengerti jika semua benar- benar tidak semudah itu, selain rasa sakit hati Evelyn yang membuatnya bertekad jika dirinya tidak akan memasukan cinta pria dihatinya, tapi karena mereka benar- benar berbeda.
Ini sudah rumit sejak awal..
"Katakan, dan hentikan aku Eve.. aku lihat.. meski kamu mengatakan benci.. di sini kamu masih menyimpan rasa yang sama." Devan menunjuk dada Evelyn "Katakan padaku, Eve!."
"Apa yang kamu harapkan dari hubungan ini Devan?."
"Kamu selalu berkata bahwa kamu ingin memiliki aku selamanya, sadarkah kamu apa yang kamu katakan.."
"Kamu mungkin hanya terobsesi denganku, atau rasa bersalah yang hadir saat kamu mengkhianatiku, hingga kamu ingin menebusnya."
"Aku tidak begitu Eve.."
"Begitukah? lalu apa yang terjadi selanjutnya? sudah kamu pikirkan apa yang akan terjadi jika kamu mempertahankan aku? semua konsekuensi yang akan kamu tanggung, kamu sudah pikirkan itu?"
"Kamu tahu satu hal, meski aku sudah berubah dan berhenti dari dunia gelapku, tetap ada bekas disana."
"Eve.." Devan menatap nanar Evelyn.
__ADS_1
"Dan itu tidak bisa terhapus."
"Aku tidak peduli.."
"Lalu bagaimana dengan keluarga kamu?" Devan terdiam beberapa saat lalu menjawab.
"Aku akan membuat mereka menerima kamu."
Evelyn terkekeh "Benarkah, lalu bagaimana dengan tunanganmu?" Devan menghela nafasnya.
"Aku tahu, kamu akan mengetahuinya meski aku tidak memberitahu secara langsung.."
"Ya, dan aku mengetahuinya dari orang lain.. menurutmu apa yang aku rasakan saat mengetahui pria yang mengejarku sudah bertunangan?."
"Eve, dia tidak penting. Pertunangan kami adalah pertunangan bisnis dan aku tidak menginginkannya.."
"Benar bukan, bahkan aku tidak ada apa- apanya dibanding tunangan kamu.." Evelyn menghela nafasnya "Ayo buat kesepakatan Dev."
Devan mengusap wajahnya kasar "Apa lagi ini Eve.." Devan mengeluh, Evelyn tidak habisnya membuat kesepakatan, Devan hanya ingin Evelyn menerimanya kembali itu saja, tapi wanita itu terus berkelit dan menghindar.
"Buktikan jika kamu benar- benar mencintaiku.. buktikan jika kamu bisa membuat keluarga kamu, dan seluruh dunia setuju dengan hubungan kita, jika kamu bisa melakukan itu maka aku akan menerima kamu.." Evelyn mendongak menatap mata Devan "Tapi jika kamu tidak bisa melakukan itu hingga waktuku habis maka kamu harus membiarkan aku pergi, dan kita selesai."
Devan tahu ini akan sulit, apalagi keluarganya justru memilih wanita yang menguntungkan bagi perusahaan untuk menjadi jodohnya, Devan memang sejak awal menolak perjodohannya dengan Diana, tapi dia tak bisa membantah dan bertekad akan memutuskan pertunangan nya dan Diana dengan pembuktian jika tanpa sokongan keluarga Diana dia tetap bisa memajukan perusahaan.
Evelyn mengangguk "Selama itu, aku ingin hidup dengan caraku. Biarkan aku bebas menjalani hidupku tanpa pengawal."
Devan menggeleng "Itu tidak bisa."
"Aku tidak akan lari.. Astaga.."
"Sudah aku bilang ini bukan hanya karena itu, Eve.."
"Baiklah, jika begitu biarkan mereka mengikuti saat aku akan keluar, tapi tidak usah membuat mereka terus berdiri di depan pintu, itu membuatku risi. Dan apa yang akan di katakan tetangga."
Devan terkekeh "Aku sudah membeli satu lantai ini.. jadi kamu tidak perlu memikirkan tetangga." Evelyn membelalakan matanya "Satu unit di gunakan pengawal untuk tinggal, agar mereka bisa gantian berjaga lebih cepat." Evelyn menelan ludahnya, keterlaluan. Devan membuang uangnya hanya untuk penjagaan yang konyol.
"Kau menghabiskan uangmu dengan percuma.."
"Ini tidak percuma.. lagi pula uangku masih banyak, tidak akan habis."
Evelyn bangun dengan mulut menggerutu "Banyak, astaga.. dia membeli satu lantai apartemen dan berkata uangnya masih banyak.."
__ADS_1
Devan tersenyum dan mengikuti Evelyn "Jadi dramanya sudah selesai..?" Evelyn masih berjalan pergi ke arah kamar, hingga Devan menghentikannya, tangan Devan merengkuh pinggang Evelyn "Maafkan aku.." Devan mengecup bahu Evelyn. "Aku berjanji akan segera menjadikan kamu milikku, dan aku pastikan kita akan bersama." Devan mengeratkan pelukannya.
Evelyn menumpukan tangannya di kedua tangan Devan yang melingkari pinggangnya.
'Pelan- pelan, Eve.' batinnya berbisik.
"Aku akan ambil kotak obat.." Devan menunduk melihat tangannya yang terluka, dia bahkan tak merasakan sakit meski ada bercak darah disana.
Evelyn mendudukan dirinya di sebelah Devan dan mulai membersihkan luka pria itu, Evelyn masih tidak bicara dan hanya fokus mengobati luka Devan, hingga sebelah tangan Devan menyampirkan rambut Evelyn.
Evelyn mendongak dan melihat Devan yang tersenyum lembut padanya.
Tidak ada kata terucap dari bibir keduanya, Evelyn dan Devan hanya diam menatap mata masing- masing "Apa yang sedang kita lakukan, sebenarnya.." Evelyn tak menjawab dan kembali mengobati luka Devan.
"Sudah selesai.." Evelyn memasukan kembali obat ke dalam kotak dan menutupnya.
Evelyn bangun dan akan menyimpan kembali kotak obat, namun Devan segera meraihnya, hingga wanita itu jatuh di pangkuannya "Eve..."
Evelyn tersenyum "Dev, berikan hakku untuk hidup bebas, kemana pun aku mau. Aku berjanji aku akan selalu ada saat kamu menginginkan aku.."
"Ayolah, Eve.. kenapa kamu selalu bicara seolah aku hanya ingin kamu untuk sesaat.."Evelyn menggeleng.
"Tidak bukan seperti itu, kamu tahu semakin kamu mengekang semakin aku ingin berontak.. aku berjanji aku akan baik- baik saja.." Evelyn mengigit bibirnya gugup, dia harus mengakhiri keposesifan Devan yang semakin mengekanganya agar dia bisa pergi menemui Boni.
Evelyn menghela nafasnya lalu berusaha bangun, namun Devan masih mendekapnya erat. "Kamu marah lagi!"
"Sudahlah Dev untuk apa bicara jika kamu tidak mau mendengarku." Evelyn memalingkan wajahnya "Lakukan apapun yang kau mau."
"Baiklah, aku akan menghentikan penjagaan.." Evelyn menaikkan alisnya, menunggu reaksi Devan selanjutnya, hingga pria itu menekan ponselnya dan mendekatkan ke telinganya.
"Tarik semua bodyguard yang ada di apartemen, hingga aku perintahkan kembali jangan ada yang mengganggu Eve.."
"Kau senang.." Devan menutup panggilannya dan menatap Evelyn.
"Ya,." Evelyn tersenyum.
"Jadi apa tujuanmu sebenarnya Eve, sengaja melakukan ini untuk menyingkirkan penjagaan.."
...
Like..
__ADS_1
Komen..
Vote..