Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Makan Malam


__ADS_3

Evelyn sedang bersiap untuk pergi ke jamuan makan malam dengan rekan bisnis Devan yang katanya juga pemilik hotel yang mereka tinggali.


Evelyn baru saja selesai mandi dan kini tengah mengenakan gaunnya.


Devan sendiri sudah siap dan kini pria itu tengah mengenakan jam tangannya di tangan sebelah kiri untuk menyempurnakan penampilannya.


Devan menoleh melihat Evelyn yang kesusahan meraih resleting di punggungnya, resleting panjang itu berada di pinggang Evelyn hingga Evelyn kesulitan untuk menggapainya "Jika tidak bisa melakukannya sendiri kenapa tidak minta bantuan.." Evelyn tertegun saat Devan berada di belakangnya, Devan mengecup bahu Evelyn saat dia berhasil menaikan resletingnya.


Evelyn menahan nafasnya saat Devan mengecupnya lama hingga menyisakan bekas kemerahan di bahunya yang terbuka.


Gaun mode sabrina itu melekat indah dan membentuk tubuh Evelyn, pinggang ramping Evelyn tercetak di balik gaun pas body berwarna hitam itu, nampak seksi sekaligus elegan.


Rambut Evelyn sudah tergelung menyisakan anak rambut yang sengaja di biarkan agar nampak natural.


"Kamu meninggalkan bekas." Evelyn mencebik, menyembunyikan hatinya yang berdebar.


Evelyn menatap mata sayu Devan dari cermin dimana mereka berdiri, Evelyn selalu bisa menyembunyikan hatinya, namun detak jantungnya tak dapat di sembunyikan dari jarak ini, Devan memeluknya dari belakang melingkarkan tangannya di pinggang Evelyn dengan matanya yang tak lepas darinya.


"Ini tanda agar rekan bisnisku tak melihatmu.."


Evelyn terkekeh "Tidak semua pria terpesona padaku seperti kau."

__ADS_1


"Kau tahu itu, dan ingat!" itu sebuah peringatan dari Devan, matanya menatap tegas hingga Evelyn merasa benar- benar dimiliki.


"Tapi hatiku tetap tidak bisa tenang, bagaimana lagi, kamu cantik sekali malam ini." Devan meraih tengkuk Evelyn dan mengarahkan ciuman di bibirnya, mel umatnya lembut dengan sedikit sesapan.


Tak dapat di pungkiri perasaan hangat selalu mengalir dalam hatinya, tapi Evelyn selalu mencoba mengelak, dan perasaan ini entah sampai kapan bisa bertahan.


Dia hanya perlu menunggu wadah itu meluap hingga tak dapat lagi menampung rasa yang di pendamnya.


Dan Evelyn harap saat itu terjadi semuanya sudah usai.


"Ayo berangkat." Devan menggenggam tangan Evelyn keluar dari kamar.


Sepasang kaki bertahtakan sepatu hak tinggi itu mengikuti langkah Devan memasuki lift dan keluar dari hotel.


Tangan Devan melingkar di pinggang Evelyn dan tak berniat melepaskan hingga mereka tiba di lobi dan memasuki mobil.


Mobil yang Devan tumpangi melaju dengan kecepatan normal, masih dengan dua orang bodyguard yang menjelma menjadi supir Devan sekaligus, pergi ke arah vila tuan Willy dimana jamuan makan malam diadakan.


Tiba disana mereka disambut dengan pelayan yang berjejer dan memberi hormat pada mereka, jumlah pelayan yang berbaris mungkin lebih banyak dari pelayan yang Evelyn temui di vila Devan saat pertama kali datang.


Vila ini juga lebih mewah, dan jelas memiliki desain berbeda dengan vila Devan, meski sama- sama bagus Evelyn tak bisa memungkiri jika rekan bisnis Devan ini punya selera yang bagus.

__ADS_1


Devan masih tak mau melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Evelyn hingga mereka melihat seorang pria yang sedang memunggungi dan terlihat sedang berbicara dengan ponselnya.


Beberapa saat mereka menunggu hingga sang pemilik tubuh berbalik dan membuat senyum Devan terkembang, sedangkan Evelyn dibuat membeku saat melihat siapa pria di depannya.


Evelyn tidak akan lupa dengan satu- satunya pria yang memperlakukannya dengan lembut, meski hanya tiga hari tapi Willy membuatnya merasa dihargai sebagai seorang wanita. Meski tak masuk akal pria itu melamarnya hanya dalam satu kali pertemuan, dan tentu saja Evelyn menolaknya.


Evelyn tertegun, begitupun Willy yang beberapa saat tak bisa mengatupkan rahangnya, lalu terlihat raut wajah pria itu mendatar dan berekspresi seperti biasanya "Selamat datang tuan Devan."


Evelyn menelan ludahnya, hampir satu tahun bukan tidak mungkin Willy juga melupakannya, tapi melihat dari raut wajahnya Evelyn yakin Willy masih mengingatnya.


"Kenalkan ini Evelyn istriku.." Evelyn menoleh ke arah Devan dengan tatapan bingung, bagaimana bisa Devan memperkenalkan dirinya sebagai istrinya, perasaan aneh mulai merambati hati Evelyn. Ini begitu rumit, bagaimana bisa dia dulu menolak Willy dan kini di kenalkan sebagai seorang istri dari Devan.


Willy terkekeh, "Aku tidak menyangka ternyata istrimu sungguh cantik tuan Devan, aku rasa aku menarik kata- kata ku tempo hari.." Willy menjeda ucapannya, lalu matanya menatap Evelyn dengan lembut "Aku rasa dia lebih cantik dari wanita yang menolakku beberapa bulan lalu."


"Kata- katamu membuat aku cemburu tuan Willy.."


Degh..


Jantung Evelyn berdebar kencang, kenapa dia serasa seperti wanita yang sedang selingkuh sekarang.


...

__ADS_1


__ADS_2