Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Selamat Tinggal


__ADS_3

Willy menatap ke luar jendela, dia sedang berada di pesawat untuk kembali pulang ke Italia,


Tatapan mata Willy menerawang jauh, benar apa yang Evelyn katakan, Willy masih mencintai istrinya, bagaimana tidak Joana adalah cinta pertamanya, dan mungkin akan menjadi cinta terakhirnya.


Joana adalah kehidupannya, kepergian Joana yang tidak terduga membuat Willy sangat kehilangan, jika saja Joana tidak meninggalkan buah cinta untuknya mungkin Willy memilih untuk menyusul pergi istrinya itu.


Tapi bahkan di saat terakhir Joana, dia justru mengkhawatirkan putra mereka "Will, jaga dia dengan baik.. Dia adalah cinta kita." mungkin karena dia tahu Willy tidak sanggup kehilangannya.


Joana adalah wanita yang ceria, di depannya Joana selalu berpenampilan menggoda, dia selalu mengatakan "Suamiku adalah pria tampan dan kaya raya, agar dia tak lari pada wanita lain aku harus bisa memuaskannya di rumah, dan diranjang." hingga saat melihat Evelyn, Willy tak bisa mengalihkan tatapannya dan merasa seperti telah melihat istrinya hidup kembali.


Evelyn yang menari dengan seksii dan senyuman menggoda, membuat Willy seketika mengingat istrinya, belum lagi raut wajah Evelyn yang sejak awal membuat Willy mematung seketika, wajah Evelyn sangat mirip dengan Joana.


Lamunan Willy teralihkan oleh ponselnya yang berdering, panggilan yang tak pernah ia abaikan namun kali ini Willy sedikit ragu untuk mengangkat teleponnya.


Ponselnya kembali berdering dan Willy pun memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.


"Kau mengabaikan aku Dad.." lihat baru satu kali Willy tak mengangkat panggilannya, putranya itu sudah merajuk seolah dia mengabaikannya.


"Ada apa Nak?" Willy mencoba bersabar.


"Bagaimana apakah ibu untukku sudah siap.." Willy memijat pelipisnya, apa apaan anaknya ini, memangnya dia adalah benda yang harus di siapkan.. "Kau tak menjawab, kau pasti gagal.. Ck.. Ya sudah biar aku sendiri yang akan mencarinya, kau sungguh payah Dad, lihat saja aku akan mendapatkan ibu untukku dengan segera.."


"Ini tidak semudah yang kau kira Son.." belum selesai Willy bicara Daren sudah kembali memotong ucapannya.


"Ya, ya, aku tahu. Kau tenang saja, bukan hanya ibu untukku, tapi dia juga akan menjadi istri untukmu, jadi selain memenuhi kriteria untuk menjadi ibuku, dia juga harus memenuhi kriteria untuk menjadi istrimu.."


Astaga.. Bukan itu maksud Willy.. "Bukan itu maksudku, kau bahkan belum bisa menilai mana yang tulus atau tidak."


"Aku sudah dewasa sekarang.."


"Umurmu baru lima tahun.."


"Umurku sudah lima tahun setengah, ulang tahunku enam bulan lalu, kau lupa?."

__ADS_1


"Aku tidak lupa.."


"Ya, jika kau lupa kau keterlaluan.." Willy mengingatnya sungguh, dia tidak akan lupa seperti kemarin hingga Daren merajuk dan berbuntut meminta mencarikan Ibu untuknya.


"Baiklah aku tutup teleponnya." tanpa menunggunya menjawab Daren sudah mematikan ponselnya, anak itu bahkan tak menanyakan kabarnya.


Willy menggeleng pelan, mengingat tingkah putra semata wayangnya itu.


Namun tak lama senyumnya terbit, benar hanya Daren yang mampu membuatnya tersenyum tulus..


Willy kembali melihat ke arah jendela, lalu menghela nafasnya "Selamat tinggal Eve, semoga kau selalu bahagia."


....


"Apa- apaan ini.." Devan membanting berkas pengalihan saham dari Willy yang di berikan secara cuma- cuma untuk Evelyn.


"Dia pikir aku tak bisa memberikannya untukmu, aku akan membelinya tapi dia menolak." Evelyn menghela nafasnya, bibirnya dia tipiskan untuk menyabarkan hatinya mendengar Devan yang terus menggerutu. "Aku tak terima aku akan membayarnya."


Evelyn yang diam tak menanggapi membuat Devan mengeryit "Kenapa hanya diam saja, kau tahu itu hanya alasannya saja untuk terus berhubungan denganmu, untuk adik dia bilang.." Evelyn menghela nafasnya kembali, Willy memang memberikan 6% itu dengan alasan "Anggap saja ini untuk adikku.." begitu katanya, dan Evelyn pun tak bisa menolak, sudah bagus Willy menyerah, dan dia hanya perlu menerimanya saja agar Willy tak tersinggung.


"Apa-apaan itu, tidak. Lebih bagus jika dia hilang dari muka bumi." Devan memasukkan ponsel Evelyn ke saku jasnya, agar Evelyn tak bisa menghubungi Willy..


Evelyn tersenyum "Sudah selesai, jadi ayo kita pulang." Evelyn sedang berada di kator Devan, beberapa jam lalu sebelum Willy pergi dia datang beserta pengacaranya dan memberikan saham yang dia beli beberapa hari lalu untuk Evelyn.


Jadi, mau tak mau Evelyn ikut ke kantor Devan untuk memberi tanda tangan, Willy berjanji ini terakhir kalinya dan dia tidak akan mengganggu Evelyn dan Devan lagi.


Devan menggandeng tangan Evelyn keluar dari ruangannya, namun saat melewati meja Tina, Devan mengeryit "Bau apa ini?" sontak saja perkataan Devan membuat Tina mencium badannya sendiri, dia tidak bau.. Parfumnya juga masih tahan lama, dan sejak tadi dia tak mencium bau apapun.


"Astaga, Tina parfummu sungguh menyengat." Devan menutup hidungnya "Kau membuatku mual.." Devan merasa akan muntah, dan dengan cepat dia berlari kembali ke ruangannya dan segera ke kamar mandi.


Evelyn melihat Devan berlaripun ikut panik dan mengejarnya begitu pun Tina.


"Dev kamu baik-baik saja." terdengar suara muntahan Devan yang semakin membuat Evelyn panik "Tina tolong ambilkan air hangat." Tina mengangguk dan Evelyn pun membuka pintu kamar mandi untuk membantu Devan.

__ADS_1


Evelyn memijat tengkuk Devan hingga Devan merasa lebih nyaman.


"Sudah, sudah.." Devan membasuh mulutnya.


Devan menghela nafasnya kenapa dia tiba- tiba pusing dan mual..


Saat Devan keluar dari kamar mandi Tina datang dan menyodorkan air minum hangat untuk Devan.


Devan yang melihat Tina mendekat pun segera menutup mulutnya karena tiba- tiba rasa mual itu kembali datang, dan benar saja Devan kembali memuntahkan isi perutnya.


Evelyn semakin khawatir saat Devan kembali muntah "Ada apa denganmu, haruskah kita menghubungi dokter.." wajah Devan pucat pasi, Evelyn pun memilih mengambil air dari tangan Tina yang masih mematung, apa dia sebau itu, hingga tuannya itu muntah saat dia mendekat.


Evelyn meringis tak enak hati melihat Tina yang terus menciumi ketiaknya. Tina pasti tersinggung.


"Tidak aku baik- baik saja.. Menjauh dari ku dan mulai besok jangan gunakan parfum itu lagi!" Devan berjalan melipir di belakang Evelyn dan menghindari Tina yang masih mengerjapkan matanya tak percaya.


...


Keesokan harinya Devan kembali muntah, hingga kini tubuhnya sudah lemas dan Devan memilih membaringkan dirinya di atas ranjang.


Semalam saat tiba di apartemen Evelyn bahkan memberikan obat, namun suhu tubuh Devan normal, hingga Evelyn mengira Devan hanya masuk angin biasa.


Tapi bangun tidur Devan kembali muntah, Dev yang sama sekali belum sarapan, terlihat kesakitan saat memuntahkan cairan kuning di pagi hari.


Evelyn yang melihat pun begitu khawatir dan memilih menghubungi dokter untuk memeriksa kondisi Devan.


Bel berbunyi, Evelyn yang menunggu dokter datang pun bergegas keluar kamar.


Evelyn membuka pintu dan membiarkan dokter untuk masuk "Silahkan Dokter, Dev sedang istirahat di kamar." Evelyn mengantar Dokter masuk namun saat akan mencapai kamar, bel pintu kembali berbunyi "Anda bisa masuk lebih dulu, aku akan melihat siapa yang datang."


"Baik Nona," Dokter memasuki kamar, sedangkan Evelyn kembali untuk melihat siapa yang datang.


Evelyn tertegun saat melihat siapa yang datang, dengan ragu Evelyn membuka pintu hingga pintu terbuka sepenuhnya.

__ADS_1


Evelyn masih diam membiarkan wanita paruh baya itu masuk ke apartemennya, wanita itu mengedarkan pandangannya hingga kini mata mereka saling bertatapan "Aku dengar Dev sakit.." Evelyn mengangguk, Evelyn memang menghubungi Tina dan mengatakan jika Devan tidak ke kantor karena sakit. "Apa kau tidak bisa mengurus suamimu sendiri, hingga dia sakit." Evelyn hanya menipiskan bibirnya melihat Mariane memasuki kamar.


__ADS_2