Kisah Belum Usai

Kisah Belum Usai
Devan Kalah..?


__ADS_3

Devan menatap Willy dengan amarah tertahan di dadanya, wajahnya terlihat datar namun hatinya sungguh bergejolak ingin sekali menghajar Willy, setelah mendengar cerita Evelyn tentang penyewa tiga hari penuh yang ternyata adalah Tuan Willy membuat Devan geram, bagaimana bisa Evelyn dan Willy bersikap biasa saja saat mereka makan malam tempo hari, berakting seolah mereka tak saling mengenal.


Devan mendengus mengingat ucapan Willy tentang seorang wanita yang menolaknya, dan siapa yang menyangka jika wanita itu adalah wanita yang sama dengan yang Devan sebut istrinya, Evelyn.


Willy menyeringai, melihat raut wajah Devan yang datar namun Willy bisa membaca dari kepalan tangan Devan yang terlihat memutih akibat kerasnya kepalan tersebut. Devan sedang marah.


Bagaimana tidak, Willy menarik investasinya hanya satu bulan sejak perjanjian di sahkan.


Willy duduk dengan santai melihat jalannya rapat pemegang saham, dengan agenda pelengseran jabatan Devan.


Willy begitu bersemangat untuk datang, bukan untuk melihat jalannya rapat yang jelas sangat membosankan, tapi karena wanita yang duduk di sebelah Devan Evelyn.


Evelyn nampak cantik dan anggun dengan pakaian semi formalnya dress bunga- bunga dengan rok span hitam, juga sepatu high heels berwarna hitam pula membalut kakinya, rambut panjang Evelyn di ikat kuda menambah kesan anggun, wanita itu memang sudah anggun dari sananya hingga apapun yang dia kenakan nampak cantik dan berkelas, bahkan meski barang murahan sekalipun.


Apalagi, yang Evelyn kenakan kini adalah brand- brand ternama yang jelas pemberian dari Devan, dari yang Willy lihat pria itu sungguh memanjakan Evelyn.


Willy menyanggah dagunya dengan kedua tangan yang dia kepalkan, tatapannya tak lepas dari Evelyn yang menunduk sesekali melihat ke arah dimana orang tuan Devan berada, wanita itu nampak sedang gugup saat ini.


Dan seperti perkiraan Willy, Evelyn memang sedang gugup mengingat dia duduk di antara semua pemegang saham dan salah satunya adalah orang tua Devan yang jelas sejak tadi menatapnya dengan pandangan mencibir.


Evelyn menghela nafasnya untuk meredakan detak jantungnya, Evelyn tahu Devan sedang marah padanya karena dia yang menceritakan tentang Willy yang menyewanya selama tiga hari penuh, tapi seperti apa yang Devan katakan mereka akan membicarakan lagi setelah masalah di kantor selesai, jadi Evelyn kembali menunduk melihat tangannya yang di genggam Devan, meski Devan sedang marah tetap saja dia tak mengabaikan Evelyn yang kini berada di lingkungan asing, terutama Evelyn yang mendapat tatapan tajam dari kedua orang tuanya.


Evelyn menyadari Willy terus memperhatikannya, namun Evelyn tak berniat menoleh bahkan menyapa sekalipun, Evelyn akan mengabaikan semua hal dan hanya fokus pada kisahnya dan Devan, fokus agar orang tua Devan menerimanya.

__ADS_1


Devan mengeraskan rahangnya saat melihat Willy yang terus memperhatikan Evelyn, tatapan Willy begitu memuja dan seperti apa yang Evelyn katakan Willy adalah salah satu pria yang dengan serius menawarkan kebebasan bagi Evelyn, dan bahkan melamar Evelyn untuk menjadi istrinya. Seketika Devan tak peduli meski dia di lengserkan sekalipun, yang dia inginkan saat ini adalah pergi dari hadapan Willy saat ini juga menyembunyikan Evelyn dan membuatnya tak bisa di lihat siapapun.


Devan kesal bukan main, bukan hanya Willy, namun tatapan para pria hidung belang yang ada di sekitarnya kini tertuju pada Evelyn, apa salah satu dari mereka juga pernah menyewa Evelyn, mungkin saja bukan?, atau bahkan mereka adalah salah satu yang pernah melamar Evelyn untuk menjadikannya istri simpanan.


Sial..


Devan semakin terbakar, dengan kemungkinan- kemungkinan yang lainnya, bagaimana jika kelak dia juga bertemu dengan orang macam Willy, yang juga pernah menyewa Evelyn.


Lalu orang itu juga bertingkah semenyebalkan Willy saat ini, apakah dia sanggup.


Perdebatan di depan sana Devan hiraukan, mereka terus saling menyanggah dan membela Devan,sedangkan Devan sendiri tak peduli, lalu bagaimana lagi.. Devan bahkan nyaris tak bisa berfikir jernih sekarang.


Devan menghela nafasnya "Apa kalian sudah selesai?, kapan akan dilakukan voting?, jika terus berdebat apa kalian tak takut uang kalian justru berkurang, aku rasa nilai saham kita akan benar- benar turun jika kalian terus saja bicara omong kosong." Devan tak tahan lagi, Devan mengerti sekarang, ini adalah siasat Willy untuk mengusiknya, menarik investasi, menyebarkan rumor bahwa perusahaan sedang dalam masalah. Tapi Devan tidak akan biarkan pria itu menang, siapa dia beraninya menggoyahkan perusahaannya, dan Devan yakin jika Willy sengaja mempermainkannya terlebih pria itu tahu alasan Devan membutuhkan investasi darinya.


Suara yang mereka dapatkan seri dengan masing 47% suara, kini tinggal 6% pemilik saham yang belum memberikan suara, Devan mendengus sekarang dia tahu orang- orang itu tak pernah menghargai usahanya, mereka bahkan tak membelanya dalam keadaan Devan terdesak seperti sekarang.


"Kini tinggal 6% yang perlu kalian dapatkan, dan pemiliknya tuan Anderson baru saja menjual miliknya pada orang lain." Daddy Devan berbicara dengan wajah datarnya, selama masa jabatannya dulu, dia baru kali ini di perlakukan seperti ini dan dia amat marah pada putranya itu karena sudah menyingkirkan Daddy Diana yang jelas berguna untuk membelanya di saat- saat seperti sekarang.


Willy berdiri dan meletakkan sebuah berkas di atas meja, "Kalian mungkin berpikir bagaimana bisa aku hadir disini.. Tentu saja bukan karena aku seorang investor yang akan menarik kembali investasinya."


"Bagi yang tidak mengenalku, perkenalkan aku Willy Mikhael Wilson.."


"Tentu kami tahu siapa anda tuan." George tersenyum, siapa yang tidak mengenal triliuner dari Italia tersebut, Willy terkenal dengan gelontoran uangnya tak main- main pada perusahaan- perusahaan besar di dunia, dia berinvestasi seperti beramal pada orang miskin.

__ADS_1


Willy terkekeh "Benar, aku sangat tersanjung, tapi demi hadir disini aku baru saja membeli 6% saham milik tuan Anderson." Devan mendongak, sedangkan Evelyn menegang.


Bagaimana bisa Willy melakukan itu, sudah jelas jika Willy tidak akan berpihak pada Devan, dan itu berarti Devan akan kalah, Willy sungguh- sungguh akan membuktikan jika Devan tak mampu memperjuangkannya, dengan lengsernya Devan jelas orang tua Devan akan semakin menentang hubungannya dengan Evelyn.


Evelyn menelan ludahnya melihat Willy menyeringai ke arahnya, Sungguh Evelyn tidak menyangkan jika Willy akan melakukan hal sejauh ini untuk membuat Devan kalah.


Evelyn menatap kecewa pada Willy, dan Willy hanya tersenyum seolah tatapan kecewa Evelyn tidak berpengaruh padanya.


"Bagaimana ini?" Evelyn berkata pelan mengeratkan genggaman tangannya, Devan menoleh merasakan tangan basah Evelyn menandakan Evelyn sangat gugup. "Ini semua terjadi karena aku.. Jika saja.." Devan meremas tangan Evelyn untuk menghentikan ucapannya, Devan tak ingin Evelyn menyalahkan dirinya hanya karena ancaman Willy, tentu saja Evelyn menceritakan semuanya termasuk ancaman Willy yang mengatakan akan membuktikan jika dirinya tidak ada apa- apanya di bandingkan Willy.


"Tidak masalah, semua akan baik- baik saja.." Devan menenangkan Evelyn.


Evelyn berkaca- kaca, andai Devan mengizinkannya untuk bicara dengan Willy, mungkin saja dia bisa membujuk Willy untuk berhenti, meski kemungkinan Willy menyerah sangat kecil, tapi setidaknya Evelyn sudah mencoba, tapi setelah Devan tahu pria itu justru menolak idenya untuk bicara dengan Willy.


"Tidak masalah asal kamu terus bersamaku, aku tidak peduli dengan semua ini.." Evelyn tersenyum haru, lagi- lagi Devan membuatnya terkesan, pria itu bahkan rela menukar jabatannya demi agar bisa bersamanya.


Evelyn menegakkan punggungnya menatap lurus pada Willy menunggu apa yang akan dilakukan pria itu, Jika Devan saja tidak peduli dengan semua ini untuk apa Evelyn takut, memang apa yang akan Willy buktikan, pada siapa pria itu membuktikannya, tak peduli apapun kali ini Evelyn hanya menginginkan Devan bersamanya, meski mungkin tanpa restu dari orang tua Devan sekalipun.


...


Like..


Komen..

__ADS_1


Vote..


__ADS_2